Bagaimana Juicero, startup yang didanai Google, bisa gagal?

Juicero

Juicero adalah sebuah start up yang mendapatkan pendanaan 120 Juta Dollar dari berbagai investor terkemuka di silicon valley, seperti Alphabet Inc. (perusahaan induk Google), dan Kleiner Perkins Caufield & Byers. Bagaimana sebuah startup dengan pendanaan yang begitu besar, dari investor terkemuka tetap bisa mengeluarkan produk gagal, bahkan sampai membuat start-up tersebut tutup?

2 Likes

Juicero merupakan salah startup yang berasal dari San Francisco, produk ini diciptakan sebagai press juicer (produk pemeras juice). Produk ini di launching sekitar tahun 2016 dan dibandrol dengan harga $400 yang terbilang sangat mahal. Doug Evans, merupakan founder dan CEO dari juicero, gagasan produk ini sangatlah gemilang karena produk ini merupakan sebuah terobosan baru dibidang makanan dengan teknologi yang terbilang baru, sehingga membuat para investator tidak ragu untuk menginvestasikan asetnya pada produk startup satu ini. Tidak dipungkiri karena melihat keunikan produk ini yaitu :

  • dengan gagasan sebuah produk yang dapat terhubung dengan internet dan dapat merubah seuah paket siap saji yang berisikan buah yang sudah di cincang dan sayuran yang dirubah menjadi juice dan dengan kualitas yang sangat berkualitas
  • customer dapat mencoba produk juice ini akan tetapi harus membeli sepaket dengan produk juicero sehingga bisa mendapatkan unsqueezed fruit bagnya, dimana paket tadi kita letakkan pada mesin juicero, kemudian dilanjutkan dengan menekan tombolnya, dan dalam hitungan menit kita dapat menikmati minuman yang menyegarkan dan sehat.

sehingga tak heran seperti Sillico Valley mau menginvestasikan sejumlah $120 untuk produk ini, karena mengingat produk ini yang sangat baru dan menjanjikan di dunia teknologi.

Namun sayangnya produk ini tidak bisa survive untuk waktu yang lama dan dapat dikatakan gagal. Mengapa demikian?? .


Sebuah media informasi mengeluarkan sebuah artikel yang menyatakan “kita tidak membutuhkan alat dengan harga $400 tersebut, namun kita bisa menggunakan tangan kosong untuk mendapatkan minuman dengan kualitas yang sama”. Berikut fakta yang membuat kegagalan produk juicero ini gagal di pasaran:

  • Konsumen menemukan bahwa dapat meremas paket juice dari juicero yang akan kita minum dengan tangan kosong, dan dapat mencapai hasil yang serupa dengan menggunakan mesin juicero.
  • Dengan percobaan menggunakan juicero dan tangan kosong, ditemukan bahwa dengan menggunakan tangan dapat menghasilkan jumlah jus dengan kapastas yang hampir sama dan terkadang waktu yang dibutuhkan lebih cepat daripada menggunakan mesin juicero.
  • Didalam mesin Juicero terdapat alat yang dapat digunakan untuk membaca QR code yang terletak pada belakang kemasan juice nya yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi kualitas dari produk dan tanggal expired nya. Namun pada kenyataannya, expiration date dari produk tersebut sudah terdapat pada kemasan pack juice nya tanpa harus menggunakan QR code yang hanya dapat digunakan ketika menggunakan mesin juicero.
  • Produk juicero yang sekarang (sudah di launching) tidak sesuai dengan apa yang diusulkan oleh Evan di awal, produk yang sekarang (mesin juicero) lebih berukuran besar dibanding sebelumnya. Sehingga membuat setidaknya 2 investor yang menarik saham untuk investasi produk juicero ini, karena tidak sesuai dengan kesepakatan awal.
  • Sebagian investor mengatakan bahwan Evan tidak menjelaskan bahwa paket jus yang ada tidak membutuhkan perangkat pemeras seperti juicero yang dibandrol dengan harga tinggi tersebut, dan bisa saja produk tersebut dipasarkan tanpa perangkat pemeras tersebut.

Note :

  • Dari data diatas dapat saya simpulkan bahwa mengapa produk juicero ini gagal adalah yang pertama kurangnya quality control terhadap produk, seperti contohnya pada pemilihan packaging nya. Alangkah lebih baik, apabila ketika kita menjual sebuah produk yang mengharuskan menggunakan produk tersebut, maka buatlah konsumen untuk bergantung menggunakan produk tersebut, sehingga konsumen tidak memiliki pilihan lain untuk tidak menggunakannya, namun juicero disini melakukan kesalahan, karena ternyata produk juice nya tersebut dapat dinikmati oleh konsumen dengan hanya menggunakan tangan kosong kita saja, sehingga masyarakat akan cenderung memilih menggunakan cara yang dianggap lebih praktis dan tidak membutuhkan biaya yang besar.
  • Apalagi jika mengingat awal gagasan dibentuknya startup ini adalah untuk kemajuan bidang teknologi dibidang makanan, juicero dianggap sebagai terobosan baru, namun kurangnya ketelitian membuat produk ini gagal di pasar. Karena dari segi lainnya seperti pemiihan bahan baku dan lain sebagainya, juicero sudah mengedepankan kualitas produk yang sangat baik yang beda dari lainnya.

sumber :

  1. https://www.vox.com/new-money/2017/4/19/15357290/juicero-400-machine-hands
  2. http://www.businessinsider.com/juicero-raises-120-million-2015-1/?IR=T
  3. https://www.bloomberg.com/news/features/2018-02-13/instagram-photo-park-takes-fomo-to-a-new-level

Juicero, sebuah produk yang dirilis oleh salah satu startup di Sans Fransisco, yakni Juicero Inc. Founder dari Juicero, Jeff Dunn mengklaim bahwa Juicero dapat jauh lebih memudahkan orang-orang yang ingin membuat jus. Pasalnya, tanpa perlu mengupas, membersihkan –segala rangkaian kegiatan ketika ingin membuat jus, Dunn justru membuat jus perasan yang dikemas dalam kemasan/pak (seharga $5 - $8, yang hanya bisa didapatkan di Juicero dan tidak terjual secara terpisah dengan Juicero), dan Juicero (alat seharga ratusan dollar) akan memerasnya. Dengan harga $699 (pada awal perilisan) dan turun menjadi 300 sekian dollar pada bulan ketiga. Beberapa investor dari Juicero melihat atau lebih tepatnya menyadari ada sesuatu yang aneh pada Juicero. April 2017, web Bloomberg memberikan ulasan mengenai Juicero, dengan tanggapan; “Mengapa harus menghabiskan ratusan dolar jika diperas menggunakan tangan bisa, dan bahkan lebih cepat?”. Melihat hal tersebut, banyak orang-orang yang secara masif berpendapat serupa dan akhirnya pada tanggal 1 September 2017, Juicero merilis press di lamannya mengenai penghentian produksi Juicero, a.k.a tutup.

Melihat fenomena tersebut, bahwa fungsi, fitur, atau kemampuan sangatlah penting untuk dipertimbangkan sebelum pembuatan sebuah produk. Untuk sebuah alat atau juicer , founder menuturkan bahwa “Juicero’s mission is to make it dramatically easier and more enjoyable to consume more fresh, raw fruits and vegetables”, -yakni memudahkan, menurut saya agak sedikit berlebihan, Juicero membuat permasalahan yang seharusnya sederhana dipecahkan menjadi luar biasa kompleks.

Dalam perhitungan sederhana, benar jika mesin atau Juicero telah memecahkan permasalahannya, namun masalah tersebut masih sangatlah sederhana. Misal kita tidak perlu membersihkan juicer, memotong buah atau sayur terlebih dahulu, namun dengan $699 + perasan jus yang seharga $5 - $8 –yang mana jus dalam kemasan itu dengan sangat mudah diperas atau dituang kedalam gelas tanpa menggunakan Juicero (menggunakan tangan kosong –bare hands), apakah itu sebuah solusi? Tentu bukan mengingat biaya yang harus dikeluarkan jauh lebih besar dari fungsi yang dihadirkan atau ditawarkan.

Mengapa pada saat itu ada beberapa atau bahkan banyak orang yang menggunakan produk Juicero?

Ada beberapa istilah dan teori yang mengacu pada orang-orang yang menyadari bahwa produk atau sesuatu yang dibeli menciptakan ketidaknyamanan (misal dari sisi kesehatan, biaya, dsb) namun mereka tetap membeli atau mengonsumsinya.

Cognitive Dissonance mengacu pada situasi yang melibatkan sikap, kepercayaan, atau perilaku yang saling bertentangan. Ini menghasilkan perasaan tidak nyaman yang menyebabkan perubahan pada salah satu sikap, kepercayaan, atau perilaku, dimana perubahan tersebut ditujukan untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mengembalikan keseimbangan, dll.

Selain itu, terdapat pula teori Sunk Cost Fallacy yang merupakan kecenderungan yang lebih besar untuk tetap melanjutkan sesuatu (berupa perilaku) setelah investasi uang, usaha, atau waktu telah dilakukan.

Mengapa Juicero sampai menutup startup-nya yang baru 6 bulan berjalan?

Tingkat kepercayaan dari pelanggan Juicero menurun drastis, atau bahkan menghilang. Klaim yang dihadirkan belum dapat memenuhi kebutuhan pelanggannya (dalam hal ini) yang sesuai dengan harganya. Keberlanjutan sebuah fungsi dari suatu produk tidak dapat dimanipulasi, orang akan cepat meninggalkan atau tidak lagi memakai sebuah produk jika mereka sadar atau merasa bahwa produk ini tidak sesuai (dalam banyak pertimbangan; harga, fungsi) atau tidak benar-benar memenuhi kebutuhannya, atau tidak benar-benar memecahkan permasalahannya.

Referensi :

Pada 1 September, Juicero Inc., sebuah perusahaan yang menjual alat pemeras buah dengan WI-Fi seharga $699 mengumumkan bahwa perusahaan tersebut akan tutup selamanya.

Kehancuran Juicero sudah dapat diduga. Kolapsnya adalah konsekuensi dari harga yang tidak sustainable, headline berita yang tidak menyenangkan, dan peluncuran produk yang tidak mulus. Setelah menarik pendanaan sekitar 134 juta dolar, dari investor besar seperti Google Ventures dan Kleiner Perkins Caufield & Byers, juicero merugi 4 juta dolar setiap bulannya.

Beberapa bulan sebelum tutup, beberapa investor juicero telah kehilangan kepercayaan pada pemeras buah itu, yang disebut-sebut oleh pendirinya, Doug Evans, sebagai mesin kuat yang mampu meremas potongan buah dan sayuran yang dikemas dalam sebuah kantong menjadi jus segar. Pada bulan April, Bloomberg melaporkan bahwa setidaknya dua pendukung Juicero terkejut saat mengetahui bahwa kemasan buah milik startup tersebut tidak memerlukan pemeras juicero karena saat diremas dengan tangan, kemasan buah tersebut tetap menghasilkan segelas jus penuh, sama seperti saat menggunakan mesin pemeras juicero

Berita tersebut benar-benar menghancurkan citra juicero. Sebuah negosiasi pendanaan senilai sekitar $ 55 juta dirumorkan gagal.

4-5 persen pemilik mengembalikan mesin mereka dalam jangka waktu 30 hari sejak pembelian mereka.

Namun, juicero juga membela produknya, dengan mengatakan bahwa meremas kemasan buah tersebut dengan tangan menghasilkan user experience yang buruk. Namun kemudian juicero juga menawarkan pengembalian dana 100% kepada pelanggan yang tidak puas dengan alat pemeras buah tersebut.

Beberapa orang pun kemudian penasaran kenapa sebuah pemeras buah memiliki harga semahal itu. Ben Einstein, seorang venture capitalist, adalah salah satunya. Setelah dibongkar, ternyata cara kerja alat tersebut sangat kompleks, jauh melebihi dari apa yang seharusnya dibutuhkan. Kompleksitas ini diperkirakan timbul karena tidak adanya constraint biaya pada tahap perancangan. Einstein menyarankan, jika juicero melakukan implementasi yang lebih murah dan sederhana, diperkirakan mesin tersebut akan menghasilkan kualitas jus yang sama, namun dengan harga beberapa ratus dolar lebih murah.

Kompleksitas yang tidak diperlukan ini diperkirakan timbul karena tidak adanya constraint biaya pada tahap perancangan.

Pada akhirnya, sebagai langkah terakhir untuk mencoba menyelamatkan perusahaan, juicero menurunkan harga alat pemeras buah tersebut menjadi 399 US dolar di bulan januari 2017. Penurunan harga ini 12-18 bulan lebih cepat dari yang direncanakan dikarenakan penjualan yang lambat dengan harga yang terlalu mahal sebelumnya.

Namun ternyata hal tersebut belum cukup untuk menyelamatkan juicero, hingga pada tanggal 1 september 2017 perusahaan tersebut menghentikan penjualan, dan membeli kembali alat pemeras yang sudah dibeli pelanggannya. Saat ini Juicero masih menunggu pembeli potensial yang akan membeli perusahaan tersebut beserta hak kekayaan intelektual nya.

Sumber:

  1. https://en.wikipedia.org/wiki/Juicero
  2. https://www.bloomberg.com/news/features/2017-09-08/inside-juicero-s-demise-from-prized-startup-to-fire-sale

Juicero mungkin adalah startup dengan kisah paling memilukan. Bagaimana tidak, startup ini hanya hidup tak sampai satu setengah tahun. Juicero sendiri adalah perusahaan produsen juicer yang memudahkan penggunanya memeras sari buah atau sayur jadi sebuah minuman. Investor pun tertarik. Berbagai nama besar seperti Google Ventures dan juga Campbell Soup Company, ikut mendanai Juicero dengan total hampir 1,5 trilyun Rupiah. Naasnya, Juicero mengalami penurunan drastis pasca dapat review jelek dari Bloomberg, yang menyebut bahwa membuat jus tak perlu menggunakan alat yang seharga hampir 5 juta Rupiah seperti Juicero, namun cukup dengan “memerasnya dengan tangan.” Akhirnya, perusahaan ini bangkrut dengan lama waktu berdiri hanya 16 bulan saja.

Bisa kita simpulkan juicero munken kurang berhati-hati dalam membuat solusi, dari perbandingannya metode untuk membuat jus dengan metode tradisional mungkin hanya memerlukan biaya untuk membeli blender yang seharga 200 sampan 800 ribu Sudah bisa untuk membuat jus yang mungkin memang kita tidak mengetahui kandungan gizi yang telah dihancurkan Oleh blender, akan tetapi dengan perbandingan harga yang diberikan oleh juicero yang membuat para konsument berfikir 2 atas 5 kali lipat untuk mendapatkan sebuah alat yang digunakan untuk

Sumber :
https://www.bloomberg.com/news/videos/2017-04-18/do-you-need-a-400-juicer-video