Bagaimana Jika Kita Shalat Salah Arah Kiblat?

Shalat

Bagaimana jika kita shalat salah arah kiblat?

Para ulama menegaskan bahwa menghadap kiblat termasuk syarat sah shalat. Allah berfirman,

Dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya (QS. al-Baqarah: 150).

Oleh karena itu, orang yang tidak mengetahui arah kiblat maka wajib berusaha untuk mencari tahu arah kiblat. Hal ini bisa dilakukan dengan bebecara cara:

  1. Bertanya kepada penduduk setempat atau orang yang tahu.
  2. Jika tidak mungkin untuk bertanya maka bisa menggunakan tanda-tanda alam. Seperti sinar matahari, arah angin, dsb.

Dan jika dua cara di atas tidak memungkinkan maka shalat menghadap ke arah manapun berdasarkan dugaan kuat bahwasanya arah itu adalah kiblat.

Jika ternyata arah yang dia pilih itu salah, artinya tidak menghadap kiblat – padahal dia telah berusaha mencari arah kiblat semampunya – apakah shalatnya harus diulangi?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini,

Pertama, shalatnya wajib diulangi secara mutlak. Ini pendapat madzhab Syafiiyah.

Pada pembahasan tentang aturan menghadap kiblat ketika shalat, An-Nawawi mengatakan,

Orang yang shalat (ke arah kiblat) berdasarkan ijtihad, kemudian dia tahu ternyata itu salah, maka dia wajib mengqadha, menurut pendapat yang kuat. Dan ketika dia tahu kesalahannya di tengah shalat, wajib mengulangi dari awal. (al-Minhaj, hlm. 24).

Kedua, shalatnya sah dan tidak perlu diulangi. Ini pendapat madzhab Hanafi dan salah satu pendapat dalam madzhab hambali.

Dalam kitab al-Ikhtiyar – kitab madzhab hanafi – dinyatakan,

Jika ada orang tidak tahu arah kiblat dan tidak ada seorangpun yang bisa ditanya, maka dia bisa berijtihad (dalam menentukan kiblat), dan shalatnya tidak perlu diulang, meskipun arah kiblatnya salah. Jika dia tahu kesalahan arah kiblat di tengah shalat, maka dia langsung berputar (ke arah yang benar) dan melanjutkan shalatnya. Dan jika dia shalat tanpa berusaha mencari arah kiblat yang benar, lalu ternyata salah, maka wajib mengulangi shalatnya. (al-Ikhtiyar li Ta’lil al-Mukhtar, hlm. 4).

Ketiga, dibedakan antara kondisi safar dan mukim. Ini pendapat sebagian ulama Hambali.

Al-Mardawi mengatakan,

Pendapat yang kuat dalam madzhab hambali, bahwa orang yang bisa melihat, ketika dia shalat dalam keadaan mukim, kemudian salah kiblatnya, maka dia wajib mengulang shalatnya secara mutlak. Dan inilah pendapat yang dipegangi para ulama madzhab. Dan ada riwayat dari Imam Ahmad bahwa dia tidak perlu mengulangi shalat, jika dia salah setelah berijtihad (berusaha mencarinya). Imam Ahmad berdalil dengan kejadian shalat di masjid Quba. (al-Inshaf, 2/15).

InsyaaAllah pendapat yang lebih kuat adalah pendapat hanafiyah dan Imam Ahmad, bahwa dia tidak perlu mengulangi shalatnya, jika sebelumnya dia telah berijtihad, dengan berusaha mencari arah kiblat.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma menceritakan:

Kami pernah dalam suatu perjalanan, tiba-tiba kami diliputi awan gelap. Kemudian masing-masing memilih arah kiblat dan arah kiblat kami berbeda-beda. Seseorang di antara kami membuat garis di depannya supaya tahu ke arah mana ketika shalat. Ketika di pagi hari, kami melihat garis yang dibuat semalam. Ternyata kami shalat tidak menghadap kiblat. Kejadian ini kami sampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam [tetapi beliau tidak menyuruh kami mengulangi shalat]. Beliau bersabda: “Shalat kalian sudah benar.” (HR. Daruqutni 101 & dishahihkan Al Albani).

Dalam hadis lain, dari Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Kami pernah safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memasuki malam yang gelap. Kami tidak tahu, di mana arah kiblat. Akhirnya masing-masing kami shalat sesuai arah keyakinannya. Ketika pagi hari, kami ceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu turun firman Allah,

Kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah (QS. Al-Baqarah: 115)

(HR. Turmudzi 345 dan dihasankan al-Albani).

Harus Bertanya…

Bagi musafir, selama dia tidak yakin dengan arah kiblat dan memungkinkan baginya untuk mengetahui arah kiblat dengan bertanya, namun dia tidak mau bertanya, sehingga shalatnya tidak menghadap kiblat maka shalatnya batal dan harus diulangi.

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,

Wajib bagi orang yang bertamu di rumah seseorang, dan dia hendak shalat sunah, hendaknya dia bertanya tentang arah kiblat. Jika tuan rumah memberi tahu, dia bisa shalat ke arah yang disarankan. Karena ada sebagian orang yang gengsi atau malu – dan ini malu yang tidak tepat, sehingga tidak mau bertanya tentang kiblat. Seharusnya dia bertanya arah kiblat, sehingga pemilik rumah memberi tahu.

Terkadang ada orang yang gengsi, lalu dia shalat ke arah sesuai dugaannya, kemudian dia diberi tahu bahwa itu bukan arah kiblat, dalam kondisi ini, dia wajib mengulangi shalatnya. Karena dia bersandar kepada dasar yang tidak diterima secara syariat. Dan orang yang bersandar kepada dasar yang tidak diterima secara syariat maka ibadahnya tidak diterima. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapa yang melakukan amalan, tidak ada dasarnya dari kami, maka amal itu tertolak.’ (HR. Muslim).

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)