Bagaimana Jika Calon Pasangan Hidupmu Adalah Seorang Pengikut Gerakan Childfree?

Kalo aku sih, no berat, ya. Ya meskipun aku tau alasan dibalik beberapa orang akhirnya memutuskan untuk menjadi childfree, tapi kalo itu calon pasanganku, aku memilih untuk tetap tidak. Karena aku sendiri sangat menyukai anak kecil, ngga tau, anak kecil tuh bikin happy aja rasanya. (iya soalnya masih kecil, gatau kalo gede gimana wkwkwk :rofl:) Meskipun begitu, nanti ketika mereka dewasa, aku akan menjadikannya sebagai kawan. Seperti ayah dan ibuku, mereka berdua sangat akrab dengan anak-anaknya, apalagi ayah sama kakak & adikku, udah kaya temen nongkrong! :laughing: :+1: Kalo aku sama ibu, cenderung seperti teman curhat, layaknya sahabat. Berkaca dari keluargaku ini lah, aku merasa, bahwa nantinya jika sudah berkeluarga, aku ingin adanya kehadiran anak di tengah-tengah keluargaku kelak.

Eitsss, meskipun aku bilang no berat, bukan berarti aku membenci gerakan ini Justru, aku sangat paham mengapa beberapa waktu terakhir ini banyak orang-orang yang akhirnya memilih untuk childfree. No worries, don’t judge the others, mereka yang lebih tau apa alasannya.

Bagaimana dengan kamu? Bagaimana jika calon pasanganmu adalah seorang pengikut gerakan Childfree?

Ilustrasi:

Suara Hati Dia yang Tetap Memilih Childfree. Meski Dianggap Egois dan Menolak Rezeki

1 Like

Saya tidak masalah dengan hal ini karena saya sendiri juga memilih untuk childfree. Ada banyak faktor yang menjadi alasan seseorang memilih untuk childfree. Mempunyai anak merupakan tangung jawab yang besar. Bisa saja orang itu belum siap secara finansial atau mental. Bisa juga orang itu memang tidak ingin mempunyai anak.

Kalo aku si mungkin akan kuberi pengertian wkwk, karena menurut ku keluarga akan lebih seru dan lengkap jika ada kehadiran anak, sama seperti keluarga ku sekarang ada mama, papa, kakak dan adik rumah terasa ramai dan lebih seru terlebih ketika sedang berlibur atau menghabiskan waktu bersama hal ini akan menjadi momen yang sangat luar biasa indahnya.

Ketika menemui fenomena childfree, keheranan barangkali akan menjadi respons yang dominan. Mengapa menikah jika kemudian tidak memiliki anak?

Hal ini ini tidak terlepas dari perspektif budaya kolektif kita. Kultur masyarakat menuntut atau mengharapkan seseorang yang telah memasuki usia dewasa untuk menikah dan setelah menikah akan ditanyakan tentang kehadiran anak.

Seperti yang dijelaskan di atas, ada beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Salah satu alasan yang menarik yakni berkaitan dengan isu atau permasalahan lingkungan. Populasi penduduk bumi yang semakin meningkat, tetapi tidak sejalan dengan ‘kesehatan’ bumi dan ketersediaan pangan. Hingga childfree akhirnya dipilih sebagai langkah yang dapat ditempuh.

Ini kembali ke prinsip masing-masing, sih. Menurutku, kalau hubungannya masih biasa saja dan belum pernah ada omongan untuk jenjang yang lebih serius, ya why not ladeni saja dan diajak berdiskusi? Aku pribadi tidak menganut childfree, tapi yang namanya hubungan pasti ada naik dan turunnya, ada sedih dan bahagianya, ada risiko dan konsekuensinya. Aku punya prinsip kalau berhubungan dengan orang, harus siap terima sakit hati. Kalau ternyata si calon punya prinsip yang berbeda denganku, dan prinsip tersebut tidak dapat diubah sama sekali, ya berarti aku harus siap sakit hati dan pergi meninggalkannya. Ini dilakukan kalau sudah ada tanda-tanda mau diajak ke jenjang yang lebih serius, ya. Tapi kembali lagi ke poin awal, kalau hubungannya masih biasa saja, kenapa tidak dijalani dulu? Berdiskusi bersama dan dilihat bagaimana enaknya?