Bagaimana hubungan Hubungan antara Kepribadian Agreeableness (Kebaikan Hati) dan Forgiveness (Pemaafan)?

Hubungan antara Kepribadian Agreeableness (Kebaikan Hati) dan Forgiveness (Pemaafan)

Kepribadian agreeableness (kebaikan hati) memegang peran penting pada proses pemaafan seseorang.

Bagaimana hubungan Hubungan antara Kepribadian Agreeableness (Kebaikan Hati) dan Forgiveness (Pemaafan) ?

Hubungan antara Kepribadian Agreeableness (Kebaikan Hati) dan Forgiveness (Pemaafan)


Kepribadian agreeableness (kebaikan hati) memegang peran penting pada proses pemaafan seseorang. Proses pemaafan yang dilakukan seseorang dengan kepribadian agreeableness (kebaikan hati), dilakukan karena orang tersebut mampu memahami situasi yang sulit ketika terjadi konflik dengan orang yang ada disekitarnya. Sikap tersebut muncul karena kepribadian agreeableness mengandung sifat-sifat terpuji diantaranya altruism , empati, peduli terhadap orang lain dan murah hati, sehingga secara otomatis individu tersebut memiliki kelembutan dan kebaikan hati terhadap orang lain (McCullough, 2001).

Menurut Costa, dkk (1991) diketahui bahwa terdapat enam dimensi agreeableness (kebaikan hati) yaitu trust (percaya), straightforwardness (terus terang), altruism (mementingkan orang lain), compliance (ramah tamah), modesty (kerendahan hati), dan tender-mindedness (kepedulian kepada orang lain yang diarahkan oleh perasaan).

Adanya hubungan kepribadian agreeableness (kebaikan hati) dan pemaafan dapat dilihat dari kepercayaan ( trust ) yang dibangun oleh individu pada orang lain. Contohnya saja ketika dalam hubungan persahabatan terjadi pertengkaran. Salah satu dari dua orang yang bertengkar itu memiliki sifat kebaikan hati berupa rasa percaya pada temannya. Maka secara kognitif dirinya akan bisa langsung memaafkan kesalahan temannya tersebut. Karena menurut penelitian Utami (2015) dikatakn bahwa seseorang yang memberikan maaf kepada sahabatnya sendiri, dikarenakan adanya rasa percaya satu sama lain dari awal hubungan persahabatannya.

Adanya rasa percaya tidak terlepas dari sikap individu yang mau berterus terang, terbuka atau berkata jujur ( straightforwardness ) dengan permasalahan yang dihadapi. Sikap berterus terang menjadikan seorang individu dengan kepibadian agreeableness (kebaikan hati) lebih terbuka secara emosional sehingga tidak terdapat tekanan batin dalam dirinya ketika akan memaafkan pelaku. Menurut penelitian Erikson (McCrae & Costa, 2003) straightforwardness atau berterus terang akan melepaskan emosi, membuat orang mudah percaya, menjadi orang yang sederhana dalam berperilaku dan tentunya akan mudah memaafkan. Bagi mahasiswa sangat diperlukan sifat straightforwardness , apalagi tidak sedikit mahasiswa yang bertikai karena kurangnya rasa ketidak terbukaan atau ketidak jujuran dengan sesama mahasiswa lainnya. Sehingga ketika mahasiswa dapat berkata jujur dan berterus terang pada setiap permasalahan yang terjadi dengan rekannya, secara emosional dan interpersonal akan memiliki kecenderungan untuk menumbuhkan perilaku memaafkan terhadap yang menyakitinya.

Individu yang dapat berterus terang dan terbuka dengan kepribadian agreeableness (kebaikan hati) yang dimilikinya, akan memiliki sikap altruism atau bisa dikatakan lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Ketika ada teman melakukan kesalahan pada teman yang lain, dan teman yang menjadi korban memiliki kepribadian altruism , maka secara interpersonal dirinya akan merasa bertanggung jawab secara moral agar dirinya tidak menyakiti perasaan pelaku, dan berfikir harus segera maafkannya. Sejalan dengan hal tersebut menurut penelitian Ashton (McCullough, 2001) bahwa sifat altruism secara tidak langsung membuat individu memiliki tanggung jawab moral yang tinggi pada orang lain dan memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk berbagi kepada sesama, sehingga secara interpersonal dan kognitif orang yang disakiti akan memikirkan perasaan pelaku, sehingga dari situ akan muncul perilaku untuk memaafkan.

Selain altruism dimensi lain yang ada pada kepribadian agreeableness (kebaikan hati) adalah sikap ramah tamah kepada orang lain atau disebut compliance , individu dengan sikap ramah tamah cenderung tidak keras kepala dan tidak suka bertengkar. Ketika seorang mahasiswa bertengkar dengan sahabatnya sendiri dan keduanya keras kepala maka yang akan terjadi adalah tidak akan ada pemaafan karena keduanya berfikir dirinya tidak bersalah, sehingga tidak ada yang mengalah. Berbeda halnya ketika salah satu memiliki sifat kepribadian compliance maka yang akan terjadi adalah penyelesaan permasalahan dengan kepala dinging dan baik-baik yang nantinya akan berdampak positif bagi keduanya. Dalam penelitian John & Srivastava, (1999) cara menyelesaikan masalah adalah dengan kepala dingin dan penuh pertimbangan, jangan sampai ada yang tersakiti. Oleh sebab itu adanya sifat compliance pada seseorang, membuat orang tersebut secara kognitif selalu berfikir positif dan dalam bertindak penuh dengan pertimbangan agar tidak menyakiti orang lain. Sehingga dari situ akan ada perilaku pemaafan.

Dimensi kepribadian agreeableness yang lain adalah modesty atau disebut dengan rendah hati. Individu yang memiliki kerendah hatian akan memposisikan dirinya sama dengan orang lain, merasa tidak lebih pintar, tidak suka pamer tentang kelebihan yang dimilikinya, sangat sederhana dan selalu menjaga perilaku dan lisannya. Seorang mahasiswa yang memiliki sikap modesty dalam diri pasti akan berperilaku baik, sehingga saat menghadapi konflik secara emosional dirinya akan lebih memikirkan perasaan orang lain dan dari situlah timbulah pemaafan (Costa dkk, 1991).

Individu dengan kepribadian agreeableness juga memiliki sikap tendermindedness atau disebut dengan sikap simpati. Individu tersebut memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang di sekitarnya. Rasa peduli lebih diarahkan oleh perasaannya, baik dalam membuat penilaan atau menentukan sikap dalam situasi (Costa dkk, 1991). Ketika mahasiswa dihadapkan dengan sebuah konflik baik itu dalam menentukan sikap dan menyikapi situasi, karena mahasiswa tersebut memiliki sikap tender-mindedness maka secara emosional mahasiswa tersebut akan mementingkan orang lain, tidak egois dan mudah luluh. Sehingga sikap tender-mindedness ini membuat dirinya merasa simpati dan lebih peduli yang membuatnya akan mudah untuk memaafkan orang yang menyakitinya. Di katakan bahwa antara tender-mindedness atau rasa simpati memiliki hubungan yang positif dengan pemaafan (Bajwa & Khalid, 2014).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki kepribadian agreeableness (kebaikan hati) yang tinggi, akan meningkatkan perilaku pemaafan dan menyelesaikan setiap permasalahan dengan baik tanpa meninggalkan rasa sakit hati (dendam), serta memudahkan orang tersebut dalam kehidupan bersosialisasinya.