Bagaimana hubungan antara ilmu psikologi dan ilmu sastra?

Psikologi

Ilmu psikologi banyak digunakan dalam karya-karya sastra, terutama yang bersifat non fiksi. Bagaimana hubungan kedua ilmu tersebut ?

Novel sebagai salah satu genre sastra merupakan konstruksi kehidupan imajinatif yang di dalamnya terjadi peristiwa dan terdapat perilaku yang dialami dan dilakukan manusia sebagai tokoh cerita. Pengarang dalam karya fiksi lazimnya berusaha mengungkapkan sisi kepribadian sang tokoh. Oleh sebab itu, mudah dipahami bahwa terdapat hubungan yang tak terpisahkan antara sastra –terutama karya fiksi (cerita pendek dan novel) dan drama- dengan psikologi.

Menurut Robert S. Woodworth dan Marquis DG (dalam Sobur, 2003), psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas atau tingkah laku individu dalam hubungan dengan alam sekitarnya. Bagi Kartono (1996), psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang tingkah laku dan kehidupan psikis (jiwa) manusia. Jiwa secara harfiah berarti daya hidup. Oleh karena jiwa merupakan pengertian yang abstrak, maka orang cenderung mempelajari bentuk tingkah laku manusia sepanjang hidupnya.

Psikologi merupakan ilmu jiwa yang menekankan perhatian studinya pada manusia terutama pada perilaku manusia (human behavior or action). Hal ini dapat dipahami karena perilaku merupakan fenomena yang dapat diamati dan tidak abstrak. Adapun jiwa merupakan sisi dalam (inner side) manusia yang tidak teramati tetapi menampakkannya, tercermati dan tertangkap oleh indra, yaitu lewat perilaku (Siswantoro, 2005).

Psikologi merupakan suatu ilmu yang menyelidiki dan mempelajari tentang tingkah laku atau aktivitas-aktivitas manusia, tingkah laku serta aktivitas-aktivitas itu merupakan manifestasi hidup kejiwaan (Walgito, 1997). Psikologi meliputi ilmu pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah yang dimufakati sarjana psikologi pada zaman ini. Psikologi modern memandang bahwa jiwa dan raga manusia adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, kegiatan jiwa tampak pada kegiatan raga (Gerungan, 1996). Gerungan (1996) lebih lanjut mengemukakan bahwa psikologi menguraikan dan menyelidiki kegiatan-kegiatan psikis pada umumnya dari manusia dewasa dan normal, termasuk kegiatan-kegiatan pengamatan, intelegensi, perasaan, kehendak, motif-motif, dan seterusnya.

Kartono (1990) berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang tingkah laku dan kehidupan psikis (jiwa) manusia. Perkataan tingkah laku, perilaku (human behavior or action), atau perbuatan mempunyai pengertian yang luas, yaitu tidak hanya mencakup kegiatan motoris saja seperti berbicara, berlari, melihat, mendengar, mengingat, berpikir, berfantasi, pengenalan kembali penampilan emosi-emosi dalam bentuk tangis atau senyum, dan seterusnya. Kegiatan berpikir dan berfantasi misalnya, tampaknya seperti pasif belaka. Namun demikian, keduanya merupakan bentuk aktivitas, yaitu aktivitas psikis atau jiwa. Psikologi menurut Siswantoro (2005) merupakan ilmu jiwa yang menekankan perhatian studinya pada manusia terutama pada perilaku manusia (human behavior or action). Hal ini dapat dipahami karena perilaku merupakan fenomena yang dapat diamati dan tidak abstrak. Adapun jiwa merupakan sisi dalam (inner side) manusia yang tidak teramati tetapi menampakkannya, tercermati dan tertangkap oleh indra, yaitu lewat perilaku.

Sastra menyajikan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat dengan orang- orang, antar manusia, antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Oleh karena itu, memandang karya sastra sebagai penggambaran dunia dan kehidupan manusia, kriteria utama yang dikenakan pada karya sastra adalah kebenaran penggambaran, atau yang hendak digambarkan (Pradopo, 1994).

Semi (1993) menyatakan, pendekatan psikologis menekankan analisis terhadap karya sastra dari segi intrinsik, khususnya pada penokohan atau perwatakannya. Penekanan ini dipentingkan, sebab tokoh ceritalah yang banyak mengalami gejala kejiwaan. Secara kategori, sastra berbeda dengan psikologi, sebab sebagaimana sudah kita pahami sastra berhubungan dengan dunia fiksi, drama, esai yang diklasifikasikan ke dalam seni (art) sedang psikologi merujuk kepada studi ilmiah tentang perilaku manusia dan proses mental. Meski berbeda, keduanya memiliki titik temu atau kesamaan, yakni keduanya berangkat dari manusia dan kehidupan sebagai sumber kajian.

Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan (Endraswara, 2003). Psikologi sastra mengenal karya sastra sebagai pantulan kejiwaan, pengarang akan menangkap gejala kejiwaan itu kemudian diolah ke dalam teks dan dilengkapi dengan kejiwaannya. Proyeksi pengalaman sendiri dan pengalaman hidup di sekitar pengarang akan terproyeksi secara imajiner ke dalam teks sastra. Orang dapat mengamati tingkah laku tokoh-tokoh dalam sebuah roman atau drama dengan memanfaatkan pengetahuan psikologi. Andai kata ternyata tingkah laku tokoh-tokoh tersebut sesuai dengan apa yang diketahuinya tentang jiwa manusia, maka dia telah berhasil menggunakan teori-teori psikologi modern untuk menjelaskan dan menafsirkan karya sastra (Harjana, 1985).

Psikologi sastra diartikan sebagai lingkup gerak jiwa, konflik batin tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra. Dengan demikian pengetahuan psikologi dapat dijadikan sebagai alat bantu dalam menelusuri sebuah karya sastra secara tuntas (Jatmanto, 1985). Tugas psikologi adalah menganalisis kesadaran kejiwaan manusia yang terdiri dari unsur-unsur struktural yang sangat erat hubungannya dengan proses-proses pancaindera. Kaitannya dengan psikologi sastra, Wellek dan Warren (1990) mengemukakan bahwa karakter dalam cerita novel-novel, lingkungan, dan plot dalam cerita fiksi (cerita pendek/novel dan drama) yang terbentuk sesuai dengan kebenaran dalam psikologi. Hal itu wajar sebab kadang-kadang ilmu jiwa dipakai oleh pengarang untuk melukiskan tokoh-tokoh serta lingkungannya.

Hubungan antara psikologi dengan sastra adalah bahwa di satu pihak karya sastra dianggap sebagai hasil aktivitas dan ekspresi manusia. Di pihak lain, psikologi sendiri dapat membantu pengarang dalam mengentalkan kepekaan dan memberi kesempatan untuk menjajaki pola-pola yang belum pernah terjamah sebelumnya. Hasil yang dapat diperoleh adalah kebenaran yang mempunyai nilai-nilai artistik yang dapat menambah koherensi dan kompleksitas karya sastra tersebut (Wellek dan Waren, 1989).

Ada hubungan tak langsung yang fungsional antara psikologi dan sastra karena manusia dan kebudayaan menjadi sumber dan struktur yang membangun solidaritas antara psikologi dan sastra. Misal, kearifan kejiwaan dalam sastra dan juga makna kehidupan seperti yang diungkapkan oleh sastra (Jatman, 1985). Secara lebih tegas, psikologi dan sastra memiliki hubungan fungsional, yakni sama-sama berguna untuk sarana mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Perbedaannya adalah bahwa gejala kejiwaan yang terdapat dalam sastra adalah gejala kejiwaan dari manusia-manusia imajiner, sedangkan dalam psikologi adalah manusia -manusia riil dalam kehidupan masyarakat nyata (Aminuddin, 1990 ). Namun demikian, keduanya dapat saling melengkapi dan saling mengisi untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap kejiwaan manusia karena terdapat kemungkinan apa yang tertangkap oleh sang pengarang tidak mampu dinikmati oleh psikolog atau sebaliknya.

Psikologi sastra merupakan pendekatan yang menekankan pada hakikat dan kodrat manusia. Melalui tinjauan psikologi akan tampak bahwa fungsi dan peran sastra adalah untuk menyajikan citra manusia yang seadil-adilnya dan sehidup-hidupnya. Paling sedikit melalui tinjauan psikologi sastra akan dapat dijelaskan bahwa karya sastra pada hakikatnya bertujuan untuk melukiskan lingkungan manusia (Hardjana, 1994). Siswantoro (2004) mengemukakan bahwa psikologi sastra mempelajari fenomena kejiwaan tertentu yang dialami oleh tokoh utama dalam karya sastra ketika merespon atau bereaksi terhadap diri dan lingkungannya. Dengan demikian gejala kejiwaan dapat terungkap lewat tokoh dalam sebuah karya sastra.

Orang dapat mengamati tingkah laku tokoh-tokoh dalam sebuah novel atau drama dengan memanfaatkan pengetahuan psikologi. Andai kata ternyata tingkah laku tokoh-tokoh tersebut sesuai dengan apa yang diketahuinya tentang jiwa manusia, maka dia telah berhasil menggunakan teori-teori psikologi modern untuk menjelaskan dan menafsirkan karya sastra (Harjana, 1985).

Psikologi sastra memiliki peran penting dalam pemahaman sastra. Menurut Semi (dalam Endraswara, 2008), ada beberapa kelebihan penggunaan psikologi sastra yaitu :

  1. psikologi sastra sangat sesuai untuk mengkaji secara mendalam aspek perwatakan
  2. pendekatan psikologi sastra dapat memberikan umpan balik kepada penulis tentang permasalahan perwatakan yang dikembangkannya
  3. psikologi sastra sangat membantu penelaah dalam menganalisis karya sastra dan dapat membantu pembaca dalam memahami karya sastra

Dari fungsi-fungsi tersebut, dapat diketengahkan bahwa daya tarik psikologi sastra adalah pada masalah manusia yang melukiskan potret jiwa. Tidak hanya jiwa sendiri yang muncul dalam sastra, tetapi juga dapat mewakili jiwa orang lain. Setiap pengarang sering menambahkan pengalaman diri dalam karyanya. Namun, pengalaman kejiwaan pribadi itu sering kali dialami orang lain pula. Kondisi ini merupakan daya tarik penelitian psikologi sastra.

Adapun tujuan kajian psikologi sastra adalah memahami aspek- aspek kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya sastra (Endraswara, 2008). Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian dalam kaitannya dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh fiksional yang terkandung dalam karya.

Perilaku manusia tidak lepas dari aspek kehidupan yang membungkusnya dan mewarnai perilakunya. Cerpen sebagai bentuk sastra, merupakan jagad kehidupan imajinatif yang di dalamnya terjadi peristiwa dan perilaku yang dialami dan diperbuat manusia yang disebut dengan tokoh (Siswantoro, 2005). Selain apa yang telah disebutkan di atas, sastra juga sebagai “gejala kejiwaan” yang di dalamnya terkandung fenomena-fenomena yang menampak lewat perilaku tokoh-tokohnya. Karya sastra dapat didekati dengan menggunakan pendekatan psikologi karena antara sastra dengan psikologi memiliki hubungan lintas yang bersifat tak langsung dan fungsional. Bersifat tak langsung, artinya hubungan itu ada karena baik sastra maupun psikologi memiliki tempat berangkat yang sama, yakni kejiwaan manusia. Pengarang dan psikolog sama-sama manusia biasa. Mereka mampu menangkap keadaan kejiwaan manusia secara mendalam. Hasil penangkapannya itu setelah mengalami proses pengolahan diungkapkan dalam bentuk sebuah karya.

Sebagai disiplin ilmu, psikologi sastra dibedakan menjadi tiga pendekatan, yaitu:

  1. pendekatan ekspresif, yaitu kajian aspek psikologis penulis dalam proses kreativitas yang terproyeksi lewat karya sastra
  2. pendekatan tekstual, yaitu mengkaji aspek psikologi sang tokoh dalam sebuah karya sastra
  3. pendekatan reseptif pragmatik yang mengkaji aspek psikologi pembaca yang terbentuk setelah melakukan dialog dengan karya yang dinikmati serta proses kreatif yang ditempuh dalam menghayati teks (Aminudin, 1990).

Penelitian psikologi sastra dilakukan dengan dua cara. Pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi kemudian diadakan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu memutuskan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori psikologi yang dianggap tepat untuk melakukan analisis psikologis terhadap gejala-gejala kejiwaan dan perilaku para tokoh dalam sastra (Ratna, 2004).

Dapat disimpulkan bahwa psikologi sastra dapat diartikan sebagai suatu cara analisis berdasarkan sudut pandang psikologi dan bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu saja membahas tentang peristiwa kehidupan manusia yang merupakan pancaran dalam menghayati dan menyikapi kehidupan. Di sini fungsi psikologi itu sendiri adalah melakukan penjelajahan ke dalam jiwa/batin tokoh-tokoh yang terdapat dalam karya sastra dan untuk mengetahui lebih jauh tentang seluk-beluk tindakan manusia dan responnya terhadap tindakan lainnya.

Psikologi sastra merupakan sebuah pendekatan dalam pengkajian karya sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan para tokoh. Dalam perspektif psikologi sastra, karya sastra merupakan pantulan atas gejala kejiwaan manusia. Pengarang akan menangkap gejala kejiwaan itu kemudian direfleksikan ke dalam teks sastra setelah diolah dengan pengalaman kejiwaan sendiri dan pengalaman hidup di sekitar pengarang. Kesemuanya itu kemudian diproyeksikan secara imajiner ke dalam teks sastra.

Psikologi dengan sastra memiliki hubungan yang integral meskipun hubungan tersebut bersifat tidak langsung. Sastra berhubungan dengan dunia fiksi, drama, puisi, esai yang diklasifikasikan ke dalam seni, sedangkan psikologi merujuk kepada studi ilmiah tentang kejiwaan dan perilaku manusia. Meskipun berbeda, keduanya memiliki titik temu atau kesamaan, yakni keduanya berangkat dari manusia dan kehidupan sebagai sumber kajian. Objek kajiannya sama- sama manusia/tokoh tetapi psikologi mengkaji fenomena kejiwaan dan perilaku manusia dalam kehidupan masyarakat yang nyata (riil) sedangkan psikologi sastra mengkaji fenomena kejiwaan dan perilaku tokoh cerita dalam dunia imajinatif.