Bagaimana Diagnosis Strongiloidiasis?

Untuk memastikan apakah seseorang terkena infeksi cacing Strongyloides atau tidak Bagaimana Diagnosis Strongiloidiasis?

image

Untuk memastikan apakah seseorang terkena infeksi cacing Strongyloides atau tidak dapat dilakukan langkah-langkah berikut ini:

  1. Aspirasi duodenal. Metode ini dilakukan dengan mengambil cairan dari duodenum, kemudian dianalisis di laboratorium untuk mendeteksi keberadaan cacing Strongyloides.
  2. Tes cairan tubuh. Cairan tubuh seperti ingus, ludah, dan cairan paru-paru dapat diambil untuk mendeteksi keberadaan larva cacing terutama Strongyloides stercoralis.
  3. Tes Darah. Tes darah untuk menghitung kadar sel darah putih, terutama eosinofil, dapat dilakukan pada pasien yang diduga mengalami strongiloidiasis. Pada infeksi strongiloidiasis akut dan kronis, akan terjadi peningkatan jumlah eosinofil. Peningkatan eosinofil dapat terjadi sekitar 10-80 persen pada infeksi strongiloidiasis akut. Sedangkan pada penderita strongiloidiasis kronis, peningkatan eosinofil hanya terjadi sewaktu-waktu (intermittent). Pemeriksaan kultur darah sangat dianjurkan bagi penderita strongiloidiasis, karena biasanya juga terdapat koinfeksi dengan bakteri coli, Klebsiella, dan bakteri enterik lain.
  4. Tes antigen. Tes antigen yang diambil dari darah dapat menunjukkan terjadinya infeksi cacing Strongyloides pada pasien. Akan tetapi, metode tes antigen tidak dapat membedakan infeksi yang sedang terjadi saat ini atau yang pernah terjadi sebelumnya.
  5. Studi sampel feses. Larva cacing Strongyloides akan ikut terbawa bersama feses keluar dari tubuh manusia. Feses dari penderita strongiloidiasis dapat diuji dengan menggunakan mikroskop untuk mengamati keberadaan larva cacing stercoralis dan telur cacing S. fulleborni. Untuk memperoleh hasil pengamatan sampel feses yang akurat, diperlukan setidaknya tiga kali pemeriksaan dengan menggunakan tiga sampel feses yang diambil pada waktu berbeda. Hal tersebut bertujuan agar hasil studi feses lebih akurat karena cacing Strongyloides hanya bertelur pada waktu tertentu saja.
  6. Kultur sampel feses. Tujuan dari metode diagnosis ini adalah untuk mendeteksi keberadaan cacing dengan membiakkan larva atau telur dari feses pada medium khusus untuk cacing. Cacing Strongyloides dapat bermetagenesis menjadi cacing yang hidup bebas dan dapat dibiakkan di kultur.