© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana dampak terjadinya pemanasan global?

pemanasan global

Global warming (pemanasan global) adalah peningkatan suhu rata-rata di atmosfer dan permukaan bumi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.

Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.

Cuaca


Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya Matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan.

Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

Tinggi muka laut


Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.

Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.

Pertanian


Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung- gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

Hewan dan tumbuhan


Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Kesehatan manusia


Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.

Sumber Energi Listrik Terancam


Kurangnya air akibat musim kemarau yang panjang bisa berdampak terhadap ketersediaan sumber energi. Turbin-turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) tentu tidak akan berfungsi optimal jika ketinggian air di waduk-waduk atau danau tidak mencukupi. Kurangnya daya listrik, tentanu akan berdampak terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari di tingkat rumah tangga dan sektor industri.

Ekosistem Laut Terancam


Global warming juga mengancam kekayaan ekosistem laut. Seorang ilmuwan bernama Rod Fujita mengatakan bahwa terumbu karang bisa ikut menjadi korban pemanasan global. Penambahan suhu akan menyebabkan pemutihan (bleaching) terumbu karang, yaitu lepasnya algae zooxanthellae, sumber makanan dan pemberi warna, yang biasanya hidup di dalam terumbu karang. Jika sumber makanannya hilang, lama kelamaan terumbu karang pasti akan mati. Padahal, terumbu karang adalah rumah untuk beragam kehidupan di dalam laut.

Tingkatkan Angka Kematian


Suhu yang semakin tinggi akan meningkatkan angka kematian, khususnya penderita gangguan jantung, karena sistem kardiovaskuler mereka harus bekerja ekstra keras untuk menjaga suhu tubuh sepanjang waktu. Serangan gelombang panas (heat wave) yang terjadi di Eropa pada tahun 2003 dan Chicago USA pada tahun 1995 adalah satu fenomena alam yang paling mengancam. Gelombang panas ini membuat ratusan orang tewas, tanaman mati kekeringan dan menimbulkan kebakaran hebat di berbagai tempat.

Suhu yang panas juga akan meningkatkan konsentrasi ozon di bagian bawah yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Lapisan ini dikenal sebagai smog, yang relatif tidak bergerak bercampur dengan nitrogen oksida dan berbagai zat berbahaya lainnya. Smog dapat menyebabkan asma pada anak-anak, merusak jaringan paru- paru, menimbulkan penyakit saluran pernapasan dan jantung dan pada akhirnya mengakibatkan kematian.

Dampak-dampak ini memang sering dikatakan sebagai ”diperkirakan”, tetapi perubahan pola cuaca, intensitas hujan dan musim kering, serta peningkatan bencana sudah mulai kita rasakan sekarang, tidak perlu menunggu 2030 atau 2050. Kalau peningkatan suhu rata-rata bumi tidak dibatasi pada 2 derajat Celcius maka dampaknya akan sulit dikelola manusia maupun alam!

Dampak Pemanasan Global


Timbulnya isu pemanasan global, karena dampaknya yang sangat besar, dan seandainya hal tersebut betul terjadi, akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut, yang secara langsung baik cepat atau lambat akan menimbulkan dampak-dampak turunannya :

  1. Perubahan iklim

    Para pakar lingkunagan sependapat bahwa pemanasan global akan menyebab-kan terjadinya perubahan iklim sedunia. Karena kenaikan suhu udara di permukaan bumi, maka laju penguapan air akan meningkat, dengan demikian jumlah awan dan hujan secara umum akan meningkat; dan menyebabkan distribusi curah hujan secara regional akan berubah. Di suatu daerah tertentu jumlah hujannya naik, akan tetapi di beberapa tempat lainnya akan mengalami penurunan.

    Di Asia Tenggara, curah hujan akan bertambah; sedangkan di wilayah Indonesia bagi daerah-daerah yang memiliki curah hujan tinggi, penambahan curah hujan akan menimbulkan bahaya banjir dan meningkatnya erosi. Sedangkan kenaikan suhu udara karena pemanasan global akan mempersulit masalah kekurangan air (defisit air) di daerah tertentu. Mencermati pernyataan Scneirder (1989), terhadap perubahan suhu udara, kecende-rungan yang kini dirasakan telah menjadi kenyataan.

    Di beberapa kota di Indonesia, pada tahun 1970-an rata-rata suhu udara di Jakarta tercatat berkisar antara 24 derajat C dan 26 derejat C, dan kini telah berubah antara 28,12 derajat C dan 30,26 derajat C; di Bogor tercatat berkisar antara 24,09 derajat C dan 25,11 derajat C, kini telah berubah antara 25,14 derajat C dan 27,31 derajat C, sedangkan di kota Bandung tercatat berkisar antara 18,11 derajat C dan 23,15 derajat C, dan kini telah berubah antara 24,28 derajat C dan 26,22 derajat C. Perubahan suhu udara di beberapa kota juga berpengaruh terhadap kelembaban relatif, yang cenderung turun rata-rata dari ketiga kota 6,23% hingga 8,35%.

    Perkiraan lainnya yang menyertai perubahan iklim di Asia Tenggara, menurut Scneirder (1989), naiknya frekuensi dan intensitas badai. Indonesia saat ini masih beruntung karena terletak di luar daerah badai topan; namun demikian apakah badai yang berlangganan di bagian wilayah Filipina akan bergeser kearah selatan. Terhadap perubahan curah hujan, nampaknya juga mulai dirasakan pengaruh-pengaruhnya.

    Walaupun curah hujan meningkat dan ditandai dengan peningkatan genangan (banjir), akan tetapi neraca keseimbangan air setiap tahunnya memperlihatkan defisit air yang semakin berkelanjutan. Suatu contoh S. Ciliwung di Kota Depok, pada tahun 1970-an, pada bulan kering (Agustus), tercatat memiliki debit >413 m3/detik; namun kini pada bulan yang sama hanya memiliki debit 32,44 m3/detik; S. Serayu di Rawalo (Jembatan Cindaga), pada bulan Juli tercatat memiliki debit 1.843 m3/detik, dan kini pada bulan yang sama hanya memiliki debit 169,65 m3/detik, dan kemungkinan juga terjadi pada beberapa sungai lainnya. Contoh isu di atas, memperlihatkan adanya perubahan-perubahan yang terjadi akibat pemanasan global dimuka bumi ini.

  2. Kenaikan Permukaan Laut

    Beberapa pendapat juga masih mempersoalkan ketidak pastian yang besar sebagai akibat dari pemanasan global; walaun di beberapa tempat secara nyata telah dirasakan akibat-akibatnya. Suatu prediksi para pakar lingkungan, permukaan air laut akan naik setinggi satu meter sejak tahun 2045, dan akan terlihat efektif pada tahun 2060. Kenaikan air laut diduga disebabkan oleh beberapa hal antara lain :

    • Adanya kenaikan suhu air laut, hingga menyebab-kan pemuaian di atas permukaan; dan menyebabkan volumenya bertambah

    • Melehnya es abadi di benua Antartika, dan pengunungan-pegunungan tinggi

    • Kenaikan air laut juga disebabkan turunnya permukaan tanah sebagai akibat dari proses geologi. Sebagai akibat kenaikan permukaan air laut, menyebabkan :

      • Terendamnya daerah-daerah genangan (rawa), seperti di daerah pasang surut Pulau Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian Selatan dan Irian Jaya bagian Barat
      • Meningkat dan meluasnya intrusi air laut yang menyusur melalui badan-badan sungai pada saat musim kemarau.

    Suatu pendapat para pakar lingkungan bahwa peranan fungsi jasa biologis, ekologis dan hidrologis komunitas vegetasi hutan dinilai mampu dalam mengendalikan degradasi lingkungan yang erat kaitannya dengan pemanasan global. Atas dasar itulah dalam paparan ini juga akan diungkap fenomen pelestarian hutan. Adapun keterkaitan dengan makna pemberdayaan masya-rakat dalam kaitannya dengan pelestarian hutan, dimaksudkan untuk memacu keperduliannya untuk ikut berkiprah dalam pelestarian lingkungan melalui pembudidayaan hutan; karena hutan merupakan sumber oksigen yang sangat esensial dibutuhkan oleh setiap insan manusia, dan atau kehidupan lainnya.

Referensi :

  • Waryono, T. (2011). Upaya Pemberdayaan Masyarakat dalam Pelestarian Hutan sebagai Pencegah Pemanasan Global. FMIPA dan Pengelola Hutan Kota. Universitas Indonesia .