Bagaimana Dampak Psikologis Masyarakat Indonesia Terhadap Berita Mengenai Wabah Covid-19 Yang Beredar Di Media Sosial?

image

"A negative mind will never give you a positive life” - Ziad K. Abdelnour

Pada awal tahun 2020, dunia dikejutkan dengan munculnya suatu wabah pneumonia misterius yang pertama kali terjadi di kota Wuhan, China. Wabah tersebut membawa pemerintah China mengambil langkah cepat untuk mengetahui penyebab dari wabah pneumonia dengan melakukan penelitian. Hasil penelitian Zhou et al . (2020), menunjukkan bahwa wabah pneumonia tersebut disebabkan oleh suatu virus baru dari famili Coronaviridae dan diduga berkaitan dengan kasus SARS (2002) dan MERS (2012). Pada tanggal 11 Februari 2020, World Health Organization (WHO) secara resmi memberi nama virus baru tersebut yaitu 2019-nCoV dan nama penyakit yang dibawa oleh virus tersebut diberi nama COVID-19. Tetapi, nama virus itu sendiri telah direvisi oleh Komite Taksonomi Virus Internasional menjadi SARS-Cov-2 dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kekeliruan atau stigma pada kelompok atau negara tertentu.**

Kasus pertama COVID-19 di Indonesia diawali dengan ditemukannya dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang positif COVID-19 pada tanggal 2 Maret 2020. Berdasarkan data dari situs covid19.go.id, sampai dengan 19 April 2020, telah dikonfirmasi sebanyak 6.575 kasus positif, 686 orang sembuh, dan 582 orang meninggal dunia. Kabar terbaru mengenai peningkatan jumlah kasus positif dan jumlah korban meninggal dunia akibat COVID-19 selalu di update di media sosial. Hal ini jelas dapat mempengaruhi psikis masyarakat Indonesia. Selain itu, banyaknya berita hoax yang beredar di media sosial mengenai COVID-19 dapat menimbulkan kecemasan dan ketakutan publik mengenai COVID-19 karena tidak semua masyarakat dapat menyaring informasi yang mereka terima. Berdasarkan hasil studi pustaka yang telah dilakukan, ada dua hal yang menyebabkan mudahnya masyarakat Indonesia dalam menerima berita hoax yaitu kurangnya minat baca dan kurangnya kemampuan untuk berpikir kritis.

Berita hoax yang berkaitan dengan pandemi COVID-19 dapat mengubah persepsi yang dimiliki oleh seseorang sehingga menimbulkan rasa takut dan kecemasan yang berlebihan. Berdasarkan hasil studi pustaka yang telah dilakukan, baik berita fakta maupun berita hoax dapat mempengaruhi psikologis pada sebagian masyarakat dengan timbulnya rasa cemas berlebihan yang kemudian dapat mempengaruhi kondisi fisiologis. Salah satu gangguan psikologis di masyarakat yang dapat mempengaruhi kondisi fisiologis adalah gangguan psikosomatik. Dilansir dari Britannica.com, gangguan psikosomatik merupakan kondisi dimana tekanan psikologis dapat menganggu fungsi fisiologis sehingga menimbulkan gejala suatu penyakit. Gangguan psikosomatis di tengah wabah COVID-19 dapat mengakibatkan munculnya gejala semu yang mirip dengan infeksi SARS-Cov-2 seperti demam, sesak nafas, batuk, pilek, dan sakit tenggorokan.

Selain gangguan psikosomatis, adanya stigma negatif terhadap Orang Dalam Pengawasan (ODP) dan pasien yang sudah dinyatakan sembuh dapat menimbulkan gangguan psikososial. Menurut Reasoa et al . (2019), gangguan psikososial diartikan sebagai perubahan dalam kehidupan individu, baik secara psikologis maupun secara sosial yang akan mempengaruhi kualitas hidup suatu individu. Munculnya stigma sosial dan diskriminasi pada ODP dan pasien yang sudah dinyatakan sembuh dapat mempengaruhi kehidupan orang-orang di sekitarnya, misalnya pasangan, keluarga, bahkan tenaga medis yang menangani wabah COVID-19.

Stigma sosial akan mengakibatkan terjadinya diskriminasi yang ditandai dengan tindakan untuk tidak mengakui atau tidak mengupayakan pemenuhan hak-hak dasar individu atau kelompok, sebagaimana selayaknya manusia yang bermartabat. Menurut Saya, stigma sosial yang dialami oleh ODP dan pasien yang sembuh, beserta keluarga akan mempengaruhi harga diri mereka dengan membatasi kemampuan diri untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Stigma yang berkembang di masyarakat dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang COVID-19. Kurangnya pemahaman masyarakat ini berhubungan erat dengan rendahnya minat baca dan ketidakinginan untuk mencari fakta yang berkaitan dengan apa yang sudah mereka baca atau dengar.

Untuk mengatasi gangguan psikologis tersebut, Penulis menganjurkan untuk kita semua agar tidak mudah terpengaruhi oleh berita mengenai wabah COVID-19, baik berita yang bersifat faktual maupun berita hoax , salah satunya adalah dengan mulai meningkatkan minat baca dan rasa ingin tahu yang lebih guna menghindari miskonsepsi dari berita yang sudah kita terima. Selain itu, pastikan juga kita dapat melakukan hal-hal produktif untuk mengalihkan isi berita mengenai COVID-19 sehingga pikiran kita tetap positif dan tidak merasakan rasa takut ataupun rasa cemas yang berlebihan.

Ketidakmampuan masyarakat Indonesia dalam menyaring informasi yang beredar mengenai wabah COVID-19 dapat mempengaruhi psikologis masyarakat Indonesia yang pada umumnya gangguan psikologis tersebut berupa gangguan psikosomatis dan gangguan psikososial. Hal tersebut dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang COVID-19. Hal tersebut berhubungan erat dengan rendahnya minat baca dan ketidakingintahuan untuk mencari fakta yang berkaitan dengan apa yang sudah mereka baca atau dengar.

Dari hal-hal yang telah Penulis sampaikan di atas, Penulis dapat memahami bahwa kita menginginkan untuk hidup dalam keadaan yang aman dan sejahtera, tetapi perlu kita ketahui bahwa kejadian seperti ini menuntut kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, selalu besyukur, berfikir positif, dan bisa lebih peduli dengan keadaan orang lain tanpa terkecuali. Penulis berharap kita selalu diberikan kesehatan dan perlindungan dalam kondisi yang seperti ini dan juga Penulis berharap bahwa tulisan ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua, terutama dalam memahami isi dan mencari fakta yang berkaitan dengan wabah COVID-19 sehingga tidak terjadi miskonsepsi yang akan memberikan dampak negatif bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sumber:

  • Encyclopaedia Britannica. 2020. “Psychosomatic Disorder”. Psychosomatic disorder | Mental Health, Stress & Anxiety | Britannica (Diakses pada tanggal 17 April 2020).
  • Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. 2020. “Data Sebaran”. https://www.covid19.go.id/ (Diakses pada tanggal 17 April 2020).
  • Kementerian Kesehatan RI. 2012. Buku Pedoman Penghapusan Stigma & Diskriminasi Bagi Pengelola Program, Petugas Pelayanan Kesehatan Dan Kader. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung.
  • Reasoa, M. S., Y. Y. Ranimpi., R. Rr. M. D. Kurniasari., dan F. D. Fretes. 2019. Respons Psikososial Dan Kesejahteraan Psikologis Pasien Filariasis Di Kota Ambon. Jurnal Psikologi Ulayat. 10(10): XXX-XXX.
  • WHO. 2020. “WHO Director-General’s remarks at the media briefing on 2019-nCoV on 11 February 2020”. WHO Director-General's remarks at the media briefing on 2019-nCoV on 11 February 2020 (Diakses pada tanggal 17 April 2020).
  • Zhou, P., X. L. Yang., X. G. Wang., B. Hu., L. Zhang., W. Zhang., H. R. Si., Y. Zhu., B. Li., C. L. Huang., H. D. Chen., J. Chen., Y. Luo., H. Guo., R. D. Jiang., M. Q. Liu., Y. Chen., X. R. Shen., X. Wang., X. S. Zheng., K. Zhao., Q. J. Chen., F. Deng., L. L. Liu., B. Yan., F. X. Zhan., Y .Y. Wang., G. F. Xiao., dan Z. L. Shi. 2020. A Pneumonia Outbreak Associated With A New Coronavirus Of Probable Bat Origin: Article. Nature Research. 579: 270-271.
5 Likes

Sangat berguna sekali ini, saya juga sering merasakan hal takut dan cemas dalam menghadapi wabah Covid ini. Terimakasih , tulisan ini sangat membantu saya dalam menghadapi wabah ini.

1 Like

Dari artikel ini saya dapat memahami bahwa kondisi psikologi seseorang ternyata berdampak pada imunitas tubuhnya. Good information. Terimakasih :smile: teruslah menebar kebaikaan.

1 Like

Pemaparan nya sudah struktural dan objektif. Kurangnya minat baca menjadi salah satu penyebab masih rendahnya literasi bahasa. Sangat bermanfaat, lanjutkan :+1:. Semoga bumi kita sehat kembali, amin.

1 Like

Bener banget, kurangnya minat baca menjadi kelemahan kita untuk menumbuhkan jiwa sehat mental. Andai minat baca sudah terpupuk dan diiringi pemikiran kritis, informasi apapun pasti akan disikapi dengan bijaksana

1 Like