Bagaimana Dampak Komunikasi Hangat Orang Tua terhadap Kesehatan Mental Anak?


(sumber : IDN Times)

Keluarga merupakan tempat pertama seorang anak mendapatkan pendidikan mental.

Peran orang tua sangat penting dalam membangun karakter seorang anak. Salah satu metode pendidikan anak ketika dalam kandungan sampai dewasa adalah komunikasi. Komunikasi antara orang tua dan anak dapat menjadi jembatan orangtua mengetahui kondisi psikologis dan mengetahui karakter mental seorang anak.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang salah satunya adalah lingkungan keluarga.

Kehangatan komunikasi antara orangtua, baik ibu maupun ayah, dibangun bukan pada bentuk percakapan formal ataupun singkat. Kehangatan komunikasi perlu dibangun orang tua dengan anak melalui pertemanan tanpa melangkahi norma yang ada. Orang tua dapat menyelami kehangatan komunikasi ini dengan berbagi rasa melalui curhatan anak. Anak mulai sedari kecil bercerita mengenai segala hal yang di lakukan di hari ini, perasaan yang dialami anak, disuka dan tidak disuka anak. Tidak sedikit ditemui kondisi kesehatan mental anak yang mengalami kecemasan tinggi akibat ketakutan bila melakukan kesalahan, tempramental yang tinggi apabila keinginan tidak dipenuhi bahkan cenderung depresi apabila mengalami kegagalan dan antisosial ketika merasa tidak dapat bersosialisasi dengan baik. Hal tersebut berdampak besar pada kehidupan anak di masa yang akan datang, apabila tidak ditangani sedari kecil melalui komunikasi hangat tersebut. Bahkan kondisi kesehatan mental tersebut sering ditemui terjadi pada kawan di masa dewasa.

Para ahli memandang bahwa pengalaman awal bagi individu sangat menentukan kondisi mental di kemudian hari.

Rasa kecemasan yang tinggi akibat ketakutan bila melakukan kesalahan dapat diminimalisir dengan komunikasi pentingnya salah agar kita menjadi benar. Sebagai contoh kasus, ketika seorang anak perempuan berusia tiga tahun bermain dengan alat rias ibunya kemudian merusak alat rias tersebut maka terdapat dua tindakan pertama ibunya yang dapat dilakukan yaitu marah atau berkomunikasi. Apabila ibu tersebut melakukan tindakan pertama marah, maka kemarahan yang terjadi hanya lima menit tersebut dapat menentukan kondisi psikologis anak 22 tahun yang akan datang. Biasanya yang terjadi apabila ibu mengalami kondisi marah, anak berusia tiga tahun akan cenderung mendengarkan kemarahan ibunya tanpa mengetahui kesalahan seperti apa yang dilakukannya. Ini akan menjadikan anak tersebut pada usia 25 tahun cenderung takut melakukan kesalahan dalam segala bentuk pekerjaan. Hal tersebut akan berbeda apabila ibu mengambil tindakan berkomunikasi dengan hangat dengan anak tersebut. Berkomunikasi mengenai alat rias tersebut seberapa penting untuk ibunya, kesalahan apa yang telah dilakukan, mengajari anak untuk meminta maaf, pernyataan ibu tersebut memaafkan kesalahan anak tersebut dan mengingatkan anak untuk tidak mengulanginya lagi. Kehangatan komunikasi yang berlangsung hanya selama lima menit ini akan membentuk anak tersebut pada usia 25 tahun menjadi pribadi yang dapat mengevaluasi kesalahan sendiri saat bekerja, siap menerima saran dari rekan kerja, berani berinovasi dalam bekerja dan dapat berkomunikasi dengan baik dengan rekan kerja. Tindakan lima menit orang tua kepada anak dapat mengubah masa depan anak.

Rasa tempramental yang tinggi apabila keinginan tidak dipenuhi dapat diminimalisir dengan komunikasi pentingnya bersabar dalam setiap kondisi agar bisa menikmati proses kesuksesan. Sebagai contoh kasus seorang anak usia tiga tahun meminta kepada ayahnya untuk membeli mainan namun ayah tersebut tidak membawa uang, anak tersebut menangis keras. Seorang ayah pada kondisi tersebut dihadapkan diantara dua tindakan yaitu marah atau berkomunikasi. Apabila ayah tersebut melakukan tindakan pertama marah, maka kemarahan yang terjadi hanya lima menit tersebut dapat menentukan kondisi psikologis anak 22 tahun yang akan datang. Pada kasus tersebut biasanya yang terjadi apabila ayah mengalami kondisi marah yaitu anak terus menangis keras tanpa mengetahui alasan ayahnya tidak membelikan mainan tersebut. Ini akan menjadikan anak tersebut pada usia 25 tahun cenderung tidak dapat menerima kegagalan dalam pekerjaan bahkan berujung depresi dan tidak solutif dalam menghadapi setiap masalah yang datang. Hal tersebut akan berbeda apabila ayah tersebut mengambil tindakan berkomunikasi dengan hangat dengan anak tersebut. Berkomunikasi dengan memeluk hangat anak tersebut mengenai mainan mana yang dia inginkan, alasan menyukai mainan tersebut, alasan ayah tidak membelikan mainan karena tidak membawa uang, dan meminta anak tersebut untuk tidak menangis keras apabila meminta mainan cukup dengan wajah tersenyum.

Kehangatan komunikasi yang berlangsung hanya selama lima menit saja akan membentuk kondisi mental anak dimasa yang akan datang.

Kehangatan komunikasi yang berlangsung hanya selama lima menit ini akan membentuk anak tersebut pada usia 25 tahun menjadi pribadi yang dapat menerima kegagalan dalam bekerja, memiliki semangat juang untuk bangkit kembali dari kegagalan dan memiliki sikap solutif dalam setiap masalah yang dihadapi.

Rasa antisosial ketika merasa tidak dapat bersosialisasi dengan baik dapat diminimalisir dengan komunikasi pentingnya berani berinteraksi agar hidup merasa hidup. Sebagai contoh kasus seorang anak usia tiga lebih memilih untuk menikmati tumpukan buku mewarnai sepanjang waktu dibanding keluar rumah untuk bermain dengan teman sebaya. Orang tua pada kondisi tersebut dihadapkan diantara dua tindakan yaitu menganggap biasa atau berkomunikasi. Apabila orang tua melakukan tindakan pertama menganggap biasa, maka sikap acuh yang terjadi tersebut dapat menentukan kondisi psikologis anak 22 tahun yang akan datang. Pada kasus tersebut biasanya yang terjadi apabila orang tua mengalami acuh yaitu anak akan menganggap dia tidak perlu bersosialisasi. Ini akan menjadikan anak tersebut pada usia 25 tahun cenderung tidak dapat bekerja secara tim, cenderung antisosial, dan kesulitan untuk berkomunikasi melalui diskusi. Hal tersebut akan berbeda apabila orang tua mengambil tindakan berkomunikasi dengan hangat dengan anak tersebut. Berkomunikasi dengan hangat anak tersebut mengenai kesukaannya mewarnai, bercerita anak tetangga juga suka mewarnai, bercerita mengenai permainan yang sama keseruannya dengan mewarnai, keseruan bermain dengan teman, dan kesediaan orang tua untuk mengajari anak bersosialisasi dengan teman sebayanya. Kehangatan komunikasi yang berlangsung hanya selama lima menit ini akan membentuk anak tersebut pada usia 25 tahun menjadi pribadi yang dapat bekerja dengan tim, kooperatif dalam pekerjaan, menjadi kawan yang memiliki keseruan, dan mampu mengungkapkan pendapat dalam tim.

Kehangatan komunikasi yang berlangsung hanya selama lima menit saja akan membentuk kondisi mental anak dimasa yang akan datang.

Pentingnya dampak komunikasi hangat antara orang tua dan anak berdasarkan contoh kasus diatas maka perlu dijalinnya kembali komunikasi tersebut, karena pendidikan mental pertama anak terjadi ketika komunikasi pertama terjadi. Jika memandang dampak positif pendemik Covid-19 dimana para orang tua dirumahkan dan melakukan isolasi mandiri maka saat ini adalah nikmat dan karunia Allah SWT dalam merangkai komunikasi hangat dengan anak-anak tercinta dimana biasanya waktu terenggut oleh hiruk pikuk pekerjaan.Meluangkan waktu selama lima menit saja dengan berkumpul, bermain, dan bercerita untuk membangun komunikasi hangat orang tua dan anak. Menciptakan komunikasi hangat orang tua kepada anak selama lima menit dapat menentukan kondisi kesehatan mental anak di masa yang akan datang.

Mari para orang tua kita berkomunikasi hangat dengan anak-anak tercinta, sealyaknya kita berkomunikasi dengan harta terberharga kita dan investasi termahal kita di dunia.