Bagaimana Dampak Implementasi Diplomasi Publik Indonesia Melalui Pariwisata Halal?

Dampak Implementasi Diplomasi Publik Indonesia Melalui Pariwisata Halal

Strategi Pengembangan sektor pariwisata halal di Indonesia dalam dinamikanya banyak memberikan dampak positif seperti halnya meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan Muslim untuk berwisata halal di Indonesia.
Bagaimana Dampak Implementasi Diplomasi Publik Indonesia Melalui Pariwisata Halal?

Dampak Implementasi Diplomasi Publik Indonesia Melalui Pariwisata Halal


Strategi Pengembangan sektor pariwisata halal di Indonesia dalam dinamikanya banyak memberikan dampak positif seperti halnya meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan Muslim untuk berwisata halal di Indonesia. Pada tahun 2013 jumlah wisatawan Muslim yang datang sebanyak 1,7 juta dan meningkat menjadi 2,2 juta pada 2015. Dengan perolehan tersebut memberikan kontribusi lebih dari 20% dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia (Yudvi, 2017). Di sisi lain, dengan adanya pengembangan sektor wisata halal tersebut membuat banyak negara-negara ingin berinvestasi di Indonesia. Selama ini negara-negara Timur Tengah masih berada di papan tengah daftar peringkat negara-negara yang menanamkan modalnya di Indonesia. Apabila merujuk pada data rencana investasi yang dirilis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) periode Januari-Desember 2015, Iran menempati peringkat ke-8 dengan nilai rencana investasi Rp 50 triliun, Yordania di peringkat ke-16 dengan nilai investasi Rp 3,3 triliun, Uni Emirat Arab berada di peringkat-19 dengan nilai rencana investasi Rp 2,5 triliun kemudian Saudi Arabia menempati peringkat ke-22 dengan nilai Rp 1,6 triliun baru diikuti oleh negaranegara Timur Tengah lainnya dengan menanamkan investasi properti (Liputan6.com, Sektor Pariwisata RI Jadi Incaran Investor Timur Tengah, 2016).

Di samping mendapatkan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan Muslim dan banyaknya investor yang menanamkan modal, Indonesia dengan mengembangkan wisata halalnya juga berhasil meraih berbagai macam penghargaan internasional. Seperti halnya pada World Halal Tourism Award (WHTA) di Uni Emirat Arab pada tahun 2015, Indonesia berhasil meraih tiga penghargaan dari lima belas kategori. Kementerian Pariwisata yang hadir sebagai delegasi Indonesia menerima penghargaan World’s Best Family Friendly Hotel yang diwakili oleh Sofyan Hotel Jakarta, World ’s Best Halal Honeymoon Destination yang dimenangkan oleh Lombok dan World ’s Best Halal Tourism Destination yang juga dimenangkan oleh Lombok (Kemenpar, Siaran Pers: Menjadikan Indonesia Sebagai Destinasi Favorit Wisata Halal, 2016).

Dalam dinamikanya, prestasi yang diraih dari sektor pariwisata halal mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2016 Indonesia di nobatkan menjadi pemenang dalam World Halal Tourism Award 2016 yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Indonesia berhasil meraih dua belas penghargaan dari enam belas kategori yang di lombakan. Berikut dua belas penghargaan Indonesia di ajang World ’s Halal Tourism Award 2016 (Ibo, 2016).

  1. World’s Best Airline for Halal Travellers - Garuda Indonesia.

  2. World’s Best Airport for Halal Travellers - Sultan Iskandar Muda International Airport, Aceh Indonesia.

  3. World’s Best Family Friendly Hotel - The Rhadana Hotel, Kuta, Bali, Indonesia.

  4. World’s Most Luxurious Family Friendly Hotel - Trans Luxury Hotel Bandung Indonesia.

  5. World’s Best Halal Beach Resort - Novotel Lombok Resort & Villas, Lombok, NTB.

  6. World’s Best Halal Tour Operator - Ero Tour, West Sumatera Indonesia

  7. World’s Best Halal Tourism Website www.wonderfullomboksumbawa.com, Indonesia.

  8. World’s Best Halal Honeymoon Destination - Sembalun Village Region, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia

  9. World’s Best Hajj & Umrah Operator - ESQ Tours & Travel, Jakarta, Indonesia.

  10. World’s Best Halal Destination - West Sumatera, Indonesia.

  11. World’s Best Halal Culinary Destination - West Sumatera, Indonesia

  12. World’s Best Halal Cultural Destination - Aceh Indonesia.

Dengan melihat dari prestasi-prestasi yang di dapatkan oleh Indonesia dalam pariwisata halal, membuat wisata halal Indonesia menjadi mulai bergengsi dan dikenal secara luas. Secara global, menurut Global Muslim Travel Index (GMTI) yang merupakan indeks paling komprehensif mengukur kualitas dan kuantitas wisata halal di berbagai negara memaparkan bahwa pada tahun 2016 posisi pariwisata halal Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia dengan skor 70,6 (GMTI, 2016). Peringkat tersebut meningkat pada tahun 2017, Indonesia menduduki posisi ke-3 dunia dengan jumlah skor 72,6 sebagai destinasi pariwisata halal terbaik dari kategori negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) (GMTI, Global Muslim Travel Index , 2017).

Dalam hal ini, peringkat wisata halal Indonesia masih kalah dengan Malaysia. Malaysia berhasil mempertahankan posisinya di puncak peringkat teratas sebagai destinasi utama pada pasar wisata Muslim dengan mendapat skor 80,6, diikuti oleh Uni Emirat Arab dengan skor 72,8. Selain Malaysia, Uni Emirat Arab dan Indonesia, negara-negara lainnya yang menjadi tujuan wisata Muslim traveler adalah Singapura. Singapura memegang skor tertinggi untuk destinasi negara non-OKI dengan skor 66,2, diikuti oleh Thailand, dan Inggris (GMTI, Global Muslim Travel Index , 2017). Walaupun demikian, Pemerintah yang dalam hal ini adalah Kementerian Pariwisata terus berupaya untuk kemajuan sektor pariwisata halal Indonesia dengan melakukan berbagai langkah-langkah diplomasi publik kepada dunia Internasional dengan masifnya promosi yang dilakukan.

Dengan prestasi-prestasi yang diraih oleh Indonesia seperti yang telah dipaparkan di atas, membuat citra Indonesia semakin baik dan dikenal oleh banyak negara di dunia. Hal tersebut dapat membangun pandangan negara-negara global menjadi lebih positif terhadap Indonesia yang mengakibatkan negara-negara tersebut akan menjalin hubungan kerjasama yang lebih baik. Hal tersebut dapat dilihat bagaimana selain negara-negara Timur Tengah yang menamkan modal di Indonesia, banyak negara lain juga yang investasi menanamkan modalnya baik dari berbagai sektor.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, jumlah penanaman modal asing (PMA) tumbuh 12 persen khusus di tahun 2017 menjadi Rp111,7 triliun bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016. Sementara itu, khusus Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), jumlahnya tumbuh 16,8 persen menjadi Rp 64,9 triliun dari total realisasi investasi di tahun 2017 sebesar Rp176,6 triliun. Di sisi lain, pertumbuhan penanaman modal sepanjang 2017 juga telah menyerap tenaga kerja dari Indonesia sebanyak 286.497 orang. Bila dirinci, proyek PMDN menyerap pekerja sebanyak 109.711 orang dan PMA sebanyak 176.786 orang.

Asal negara yang menanamkan modal di Indonesia paling besar berasal dari Singapura sebesar US$2,5 miliar atau berkontribusi 30,1 persen, di susul Jepang US$1,1 miliar atau setara dengan 13,3 persen, dan China sebanyak 9,6 persen atau setara US$800 juta. Kemudian, Amerika Serikat mengalirkan investasi sebesar US$600 juta dengan tingkat kontribusi 7,2 persen, dan komposisi paling kecil dari Korea Selatan sebesar US$400 juta. Secara keseluruhan, mayoritas realisasi invetasi, baik PMA dan PMDN periode kuartal 2017 menyasar sektor usaha listrik, gas, dan air. Nilai investasi untuk sektor tersebut tercatat sebesar Rp 2,21 triliiun. Hal itu kemudian diikuti dengan sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran sebesar Rp19,9 triliun, industri logam, mesin, dan elektronik Rp18,9 triliun, pertambangan Rp18,2 triliun, dan industri kimia serta farmasi Rp16,3 triliun (CNNIndonesia.com, 2017).

Selain itu juga dengan baiknya citra yang dihasilkan, semakin dapat menarik minat para wisatawan mancanegara untuk datang ke Indonesia. Di sini kita dapat melihat secara umum jumlah total masuknya wisatawan mancanegara secara keseluruhan dalam 2 tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 2016, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 12 juta. Jumlah kunjungan tersebut mendapatkan peningkatan pada tahun 2017, yaitu mencapai 14,04 juta kunjungan atau naik 21,88 persen (Bps.go.id, 2018).

Lebih khusus kita akan melihat bagaimana peningkatan jumlah kunjungan wisatawan Timur Tengah ke Indonesia khususnya di Bali. Berikut kita lihat bagaimana perbandingannya: Pada periode Januari-Juli 2016, jumlah wisatawan mancanegara asal Timur Tengah sekitar 17.000 kunjungan. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat selama Januari-Juli 2017 hingga mencapai sekitar 35.000 (cnnindonesia.com, 2017). Dengan demikian, di sini dapat dilihat bagaimana dampak signifikan yang dihasilkan dari kedatangan raja Salman ke Indonesia yang mengakibatkan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan asal Timur Tengah.

Selanjutnya kita akan melihat dalam Partisipasi Indonesia pada Moscow Halal Expo (MHE) 2017 di Sokolniki Exhibition Center , kegiatan dengan dukungan penuh dari Pemerintah Rusia. Dengan partisipasi Indonesia dalam acara tersebut membawakan hasil yang cukup signifikan bagi Indonesia di buktikan dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan Rusia ke Indonesia pada tahun 2017 mencapai 52% terhitung sebanyak 81,804 wisatawan (PPHI, 2017).

Dalam dinamikanya, dengan berjalannya kegiatan kepariwisataan di Indonesia seperti yang telah di jelaskan di atas, terhitung dari tahun 2014 sektor pariwisata memberikan banyak sumbangsih terhadap peningkatan devisa negara dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. PDB yang dihasilkan dari pariwisata nasional tiap tahunnya selalu mengalami peningkatan dan memberikan sumbangan besar kepada negara. Pada tahun 2014, nilai PDB yang dihasilkan sebesar 419,08 triliun rupiah, jumlah tersebut mengalami peningkatan di tahun 2015 dengan nilai PDB yang dihasilkan mencapai 476,48 triliun rupiah. Lebih lanjut pada tahun 2016 PDB yang 49 dihasilkan dari sektor pariwisata mencapai 500,19 triliun rupiah (Kemenpar, Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata Tahun 2016, 2017).