Bagaimana cerita singkat tentang film Bulan Terbelah di Langit Amerika?

Bulan Terbelah di Langit Amerika

Bulan Terbelah di Langit Amerika mengisahkan tentang kelanjutan petualangan Hanum dan Rangga dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa yang berlanjut hingga ke Amerika Serikat.

bercerita tentang hanum, seorang jurnalis indonesia yang menemani suaminya sekolah di wina mendapatkan tugas dari bosnya, gertrude robinson untuk membuat sebuah artikel berjudul “would the world be better without islam” untuk koran mereka yang sudah semakin bangkrut. Gertrude meminta hanum untuk mewawancarai dua narasumber dari pihak muslim dan non muslim yang telah dipilihkan ke amerika serikat. Mereka adalah para keluarga korban wtc 11 september di new york.

Sementara itu rangga, suami hanum diminta bosnya, professor reinhard untuk ke washington mengikuti sebuah konferensi internasional di bidang bisnis yang akan mengetengahkan seorang filantropi dunia bernama brown phillipus tentang strategi the power of giving. Brown, diagendakan akan memberikan pidato di sebuah acara bernama the heroes, dimana banyak orang berderma untuk kemanusiaan. Brown dikenal menjadi filantropi selama 8 tahun terakhir. Baik hanum dan rangga mengalami depresi sendiri-sendiri terhadap tekanan pekerjaan dan tugasnya selama di new york, ketika mereka memutuskan untuk mencari narasumber terbaik bagi tugas hanum. Hanum bersikeras bahwa dia tidak akan menggunakan narasumber pilihan gertrude sementara rangga yang sangat menyayangi istrinya dan menginginkan perjalanan ke as sebagai tamasya selain konferensi mendesak agar hanum mengikuti kata-kata gertrude agar mempercepat tugas berakhir.

Hanum akhirnya menemukan michael jones, satu narasumber dari non muslim yang kurang menyetujui adanya pembangunan masjid ground zero di dekat areal tersebut. Pencarian terhadap satu narasumber lagi akhirnya berakhir tak karuan ketika berada di peringatan 11 september di kompleks ground zero (titik ketika wtc runtuh yang saat itu masih dalam konstruksi). Sebuah kerusuhan kecil terjadi dan memisahkan hanum yang tidak paham jalanan dengan rangga. Hanum terlunta-lunta di nyc tanpa paspor dan apapun sementara rangga terlanjur menuju washington setelah hanum meminta untuk segera mengejar registrasi konferensi yang hampir ditutup.

Hanum akhirnya berlindung di sebuah masjid yang dijadikan isu kerusuhan karena dibangun dekat dengan lokasi gz. Ia bertemu dengan julia collins, seorang muallaf yang memiliki nama azima hussein. Rangga tak sengaja bertemu dengan phillipus brown dan melakukan wawancara cepat tentang mengapa brown menjadi seorang filantropi. Sebuah kejadian yang dialami rangga dan hanum secara tak terduga akan mempertemukan jones, julia, dan brown dalam sebuah pertemuan manis yang menggetirkan ketika brown mengisahkan apa yang melandasinya menjadi seorang filantropi dunia pada acara the heroes.

Bulan terbelah disini berarti filosofis dimana menjadikan cerita orang-orang yang terpisah oleh karena “permintaan mereka” sendiri. Namun tuhan mempersatukan mereka kembali dalam balutan kasih sayang yang selama ini tercerai berai oleh karena tragedi 11 september untuk menjawab “no” pada pertanyaan “would the world be better without islam”.

Film religi yang diataptasi dari Novel ini bisa disebut sekuel dari 99 Cahaya di Langit Eropa buku best seller dan versi filmnya juga sangat sukses.

BTdLA 2015, kisah ini di mulai dari Hanum dan Rangga yang tak sengaja ditugaskan pada waktu bersamaan oleh masing-masing atasannya, Rangga dapat tugas dari Profesor membujuk mr Philipus Brown, seorang milyader Amerika agar mau diajak ke Wina untuk wawancara sebagai syarat calon gelar doktor Rangga, dan Hanum dapat tugas dari kantor berita tempat ia bekerja untuk mewancarai Azima Hussein yang diduga Muhammad Hussein suaminya salah satu bomber WTC, apalagi sang suami keturunan timur tengah, dan pekerjaannya sebagai relawan NGO terkait dengan Kabul, Afganistan, Iraq dan negara-negara perang kawasan teluk.

Film ini juga disuguhi hubungan menarik antara Rangga dan Stefan teman akrabnya sejak di Prancis. Yang saya sukai adalah canda-candaan keduanya serta jawaban lugas dan cerdas Rangga.

Dalam BTdLA tak lupa menyuguhkan bagaimana keadaan traumatis warga Amerika paska tragedi WTC juga kebencian mereka kepada hijab, muslim dan Arab. Tekanan yang luar biasa itu bahkan membuat Azima istri Muhammad Hussein mengganti namanya jadi Julia, ia menyembunyikan hijabnya dibalik wig (rambut palsu) demi memudahkan pekerjaannya sebagai pemandu wisata di New York.

Julia dikenal sangat tertutup pada wartawan, tak mau wawancara prihal suaminya, Hanum yang ditugaskan mewancarai Julia awalnya kesulitan, tapi akhirnya berhasil membujuk, salah satu quote Haum yang membuat Julia luluh adalah berikut:

Islam yang berarti kedamaian justru membuat hidupmu berantakan, bahkan suamimu dianggap teroris. Kamu kehilangan kepercayaan sebagai muslim.

Dari wawancaranya Hanum menemukan pesan suara pesan terakhir sang suami via telfon saat tragedi WTC terjadi, Hussein juga sempat mengatakan bahwa ia ingin memberikan sesuatu kepada istrinya, tapi hingga saat ini Azima tak tahu pemberian apa yang dimaksud suaminya.

Sarah anak Hussein juga memberikan CD rekaman hadiah yang diberikan sang Ayah saat ulang tahunnya tepat sehari sebelum WTC meledak. Videonya berisi bagaimana sang ayah seseorang yang sangat penyayang.

Sementara Rangga melihat rekaman dari kuliah umum Mr Brown menjawab pertanyaan menarik Rangga, “Akankah Dunia lebih Baik Tanpa Islam” dari pidato itu Rangga menemukan nama Hassan sebagai seorang yang mengubah arah hidup Philipus Brown dan Morgan Stanway -kantor mr Brown.

Rangga mencari daftar korban tewas di gedung WTC kenyataannya tak ada nama Hassan, kemudian Rangga memeriksa CD yang diberikan Sarah pada Hanum, dan mengejutkan di bagian terakhir video itu menampilkan saat saat Hussein menerima telfon dari Kabul serta paket yang tertera jelas bertuliskan To Ibrahim Hussein Brown’s Morgan Stanway Project.

Dari dugaan Rangga, ternyata Hassan yang disebut dalam pidato Mr Brown adalah Ibrahim Muhammad Hussein sosok muslim yang diduga pelaku terorisme WTC.
Ending

Cerita semakin menarik, Rangga mengirimkan email ke Mr Philipus Brown foto Hussein, dari situ mr Brown baru tahu Hassan yang ia kira memiliki nama Ibrahim Hussein. Rangga pun mendapat balasan email berupa undangan di acara penerimaan Hero Of The Years, tentunya dia senang karena undangan ini sekaligus ia berkesempatan wawancara.

Brown pidato, acaranya disiarkan melalui TV, saat itu Julia dan Hanum yang tengah bersama turut menyaksikan. Jantung berdetak, air mata deras mengalir… Di saat mr Brown menyebutkan sebuah nama Hussein, seseorang yang harusnya paling layak mendapatkan penghargaan, karena telah menyelamatkannya, serta menyelamatkan orang lain hingga bahkan dirinya tak selamat dari tragedi.

Misteri akhirnya terkuak, keyakinan Sarah bahwa ayahnya bukanlah teroris terbukti malam itu. Mata Azima atau Julia berkaca-kaca penuh haru kebanggaan.

Akankah dunia akan lebih baik tanpa islam?”

Sebuah pertanyaan yang sederhana, namun sempurna mengikat ide cerita yang patut saya beri dua jempol. Padat, fokus, dan meaningful. Saya pikir tim pembuatan film (yang mungkin sama dengan film 99 cahaya di Langit Eropa) berhasil menjadi tim yang BIJAKSANA. Penokohan yang kuat dan membawakan perannya dengan pas, yang membuat cerita ini menjadi sangat fokus. Benang merah antar setiap tokoh dan kejadian saling mengikat, sehingga tidak ada scene yang terbuang sia-sia, semua berharga.

Dari segi sinematografi, tentu tidak perlu diragukan lagi, manuver teknik pengambilan gambar sangat berkelas dan konsisten. Serta sound yang balance dan mampu memainkan adrenalin penonton. Mungkin hanya sedikit teknik editing yang masih sangat terlihat kurang ‘real’ pada scene Mr Brown yang berusaha mencegah Anna untuk terjun dari WTC yang setengah hancur. Tentu dimaklumi, karena membuat film dengan editing yang real seperti Fast To Furious memerlukan dana yang tidak sedikit. Namun, untuk film indonesia, saya pikir tidak terlalu menganggu.

Hal yang menarik menurut saya adalah apa yang dimunculkan di awal dan diakhir, ada kesatuan yang dipecah secara cerdas. Sehingga jika anda menonton dengan cermat, akan terlihat bahwa ide cerita ini dibuat sangat matang. Logika berpikirnya sangat masuk dan bagi saya cukup bisa disandingkan dengan beberapa film internasional. Pada awal film diputar, penonton dipaksa untuk menelan kenyataan tentang seorang tokoh kunci dalam film ini, ada rasa kecewa dan mulai menebak “Apa sebenarnya yang terjadi?” Sehingga saat itu sayapun mulai fokus menonton untuk mencermati setiap ditailnya. Mengumpulkan yang tercecer untuk membuat satu pemahaman yang baik terhadap esensi yang disajikan dalam film ini. Dan bagi saya awal film dimulakan dengan sesuatu yang epik, menarik, dan membuat penonton harus menyelesaikan film ini tanpa menguap dan terkantuk.

Esensi film ini begitu menancap dalam hati saya sebagai seorang muslim. Membangkitkan kebanggaan saya sebagai muslim yang memiliki pandangan berdasarkan alquran. Bahwa islam adalah agama yang damai, dan alquran mengajarkan itu. Banyak pesan moral yang disampaikan dalam film ini. Hal yang membuat saya kembali memberi 2 jempol adalah karena film ini mengangkat isu Suriah dan isu diskriminasi terhadap umat muslim. Dan yang terpenting adalah menegaskan bahwa islam bukan agama teroris. Mengapa terpusat pada kata ‘teroris’? Karena isu inilah yang melekat pada agama yang saya yakini. Ada rasa kecewa, namun tentu tidak seburuk itu. Sepanjang saya mengamati dari beberapa film yang saya tonton, terutama serial NCIS buatan Amerika, disana mereka menunjukkan bahwa yang namanya teroris itu tidak melulu berkaitan dengan islam dan umat muslim. Banyak kepentingan yang mendorong terorisme terjadi. Jika anda dapat belajar lebih dalam untuk melihat, maka anda akan paham, bahwa sebenarnya islam dan ummatnya patut dicintai oleh seluruh penghuni bumi ini.

Sumber : https://www.mashamam.com/2017/01/review-film-bulan-terbelah-dilangit-amerika-2015/