Bagaimana cerita dalam film Tears of The Sun?

Tears of The Sun

Film ini disutradarai oleh Antoine Fuqua, yang juga pernah menyutradarai film King Arthur, Brooklyn’s Finest, Hunter Killer, dan Training Day. Dibintangi oleh aktor kawakan Bruce Willis sebagai Letnan A.K. Waters dan Monica Bellucci sebagai Dr Lena Kendricks.

Dikisahkan dalam film ini, Letnan A.K. Waters yang diperankan oleh Bruce Willis merupakan seorang komandan pada kesatuan elit Navy Seal, AS yang diperintahkan oleh atasannya Kapten Bill Rhodes (Tom Skerritt) untuk misi kemanusiaan yakni masuk ke negara Nigeria dan mengeluarkan warga negara asing dari negara tersebut ke negara terdekat yang relatif aman di perbatasan yaitu Kamerun. Hal ini dilakukan karena di Nigeria tengah terjadi konflik etnis yang mengarah ke perang saudara. Tidak semata-mata konflik etnis, tetapi juga telah mengarah ke tindakan makar terhadap pemerintahan yang berkuasa, yaitu Presiden Samuel Azuka.

Rupanya Presiden Azuka ini bukan hanya presiden bagi rakyat Nigeria, tetapi juga merupakan raja suku Ibo yang berdomisili di bagian selatan Nigeria. Sementara itu para pemberontak dipimpin oleh Mustafa Yakubu mengusai wilayah bagian utara, yang berusaha menggulingkan kekuasaan Presiden Azuka. Kudeta pun akhirnya terjadi, keluarga presiden termasuk Presiden Asuka akhirnya tewas dalam kudeta itu. Setelah presidennya tewas, kediktatoran Mustafa Yakubu makin merajalela. Pembersihan etnis Ibo dilakukan dengan cara kekerasan. Tentu saja warga sipil ketakutan, agar tidak dibunuh mereka melarikan diri mengungsi ke wilayah perbatasan. Akibatnya para warga asing yang menjalankan misi kemanusiaan dan keagamaan dan kebetulan tengah berada di area konflik pun kebingungan dan berusaha menyelamatkan diri. Inilah awal mula misi penyelamatan yang diemban oleh Letnan A.K. Waters.

Oleh Kapten Bill Rhodes, Waters hanya ditugaskan untuk mengekstradisi seorang tenaga medis berkebangsaan Amerika yang bernama Dr. Lena Kendricks (diperankan oleh Monica Bellucci), seorang pastor dan dua orang biarawati disana dan menghindari kontak senjata dengan pihak yang sedang bertikai. Sebagai prajurit yang loyal, Waters mematuhi perintah atasannya itu. Meskipun demikian seluruh tim yang dikomandani Waters diberi persenjataan yang lengkap. Akhirnya tim penyelamat yang terdiri dari Slo, Flea, Lake, Sutra, Zee, Doc, dan Red yang dipimpin Letnan Waters ini pun diberangkatkan dari kapal perang USS Harry Truman yang berlayar diperairan Afrika menuju ke daerah konflik.

Sampai di lokasi ternyata tidak semudah yang dikira Waters. Dr. Lena yang harusnya diselamatkan justru menolak diekstradisi karena lebih memilih tinggal di semacam rumah sakit darurat dengan para pengungsi dan pasiennya yang tentunya sangat membutuhkan tenaganya. Dokter cantik itu hanya mau diselamatkan jika tim Waterspun mau membawa serta para pengungsi dan pasien yang tengah dirawatnya ke tempat yang aman yaitu di perbatasan. Disinilah perang batin Waters mulai diuji, antara mematuhi perintah komandan yang hanya perlu menyelamatkan target utama seorang dokter atau menuruti permintaan dokter itu yang ingin membawa rombongan yang jumlahnya lumayan besar.

Tapi tugas tetap harus dijalankan. Karena lokasi yang aman jaraknya kurang lebih 12 kilometer dari tempat itu, maka akhirnya diputuskan untuk membawa para pengungsi dan pasien yang masih mampu berjalan saja. Sementara yang sudah tidak mampu berjalan tetap ditinggal di rumah sakit itu bersama para misionaris. Tepat ketika fajar menyingsing, mereka mulai menjalankan misi itu. Dengan menembus hutan rombongan pengungsi yang dikawal pasukan Letnan Waters berjalan menuju ke perbatasan. Ketika malam tiba, mereka tidak bisa beristirahat terlalu lama karena pasukan pemberontak ternyata terus mengejar mereka. Pada akhirnya sampailah mereka di titik penjemputan helikopter yang akan membawa Dr. Lena dan tim. Rupanya ini adalah ide awal dari pasukan Waters. Mereka sengaja membawa para pengungsi itu sekedar agar Dr. Lena mau diekstradisi. Dengan susah payah Letnan Waters memaksa Dr. Lena masuk helikopter, walaupun Dr. Lena sekuat tenaga meronta tetap tak mampu menandingi tenaga seorang tentara bernama Waters itu. Sementara para pengungsi dibiarkan tetap tinggal dihutan.

Begitu helikopter terbang dan melintas di atas sebuah desa, barulah Letnan Waters dan pasukannya melihat dengan mata kepala sendiri. Para pemberontak tidak saja menghancurkan desa itu, tapi juga membunuh penduduknya. Menyadari bahwa perbuatan yang dilakukannya salah, akhirnya Letnan Waters dan pasukan menyuruh pilot untuk memutar kembali haluan menuju ke para pengungsi yang tadi ditinggalkannya. Sebagian pengungsi diangkut oleh helikopter dan sisanya diputuskan akan dikawal oleh pasukan Letnan Waters hingga ke perbatasan.

Begitu melintasi sebuah desa, lagi-lagi rombongan pengungsi yang dikawal oleh pasukan Letnan Waters dan Dr. Lena melihat kebrutalan para pemberontak. Mereka dengan kejam menyiksa dan membunuh rakyat suku Ibo, bahkan tidak segan-segan memperkosa para wanitanya. Disinilah keputusan Letnan Waters dan pasukannya makin kuat untuk mengawal para pengungsi hingga ke perbatasan. Tak lupa diapun melapor ke komandannya Kapten Rhodes bahwa pasukannya tidah hanya mengekstradisi Dr.Lena, tapi bersamanya pula saat itu ada sejumlah pengungsi yang perlu dikawal dengan selamat hingga ke perbatasan. Kapten Rhodes tetap pada pendiriannya bahwa target utama pasukan Waters hanya menyelamatkan Dr. Lena, bukan para pengungsi. Sementara Letnan Waters pun juga tetap bersikukuh akan mengawal para pengungsi. Apalagi ketika satu persatu pasukannya ditanya akan kesanggupan mereka mengawal para pengungsi sampai di perbatasan. Satu persatu pasukannya menyatakan siap dan tidak menganggap lagi para pengungsi sebagai beban mereka.

Yang mengherankan bagi pasukan Waters ini, setiap pergerakan mereka dengan mudah dapat dilacak oleh para pemberontak. Melalui scan monitor satelit terlihat posisi para pemberontak yang semakin mendekat ke mereka. Disinilah Slo curiga bahwa diantara para pengungsi pastilah ada yang membawa peralatan yang bisa mengirimkan sinyal ke para pemberontak. Kecurigaan pasukan Waters ternyata benar, ada seorang pengungsi bernama Gideon yang berusaha melarikan diri saat hendak digeledah. Akhirnya Gideon pun ditembak dan dia pun mengakui kalo dia terpaksa melakukan hal itu karena keluarganya sedang dalam penyanderaan para emberontak. Disinilah akhirnya juga diketahui bahwa di dalam rombongan para pengungsi ini terselip seorang yang akan terus diburu oleh para pemberontak dimana pun dia berada. Dia adalah Arthur Azuka (Sammi Rotibi), putra Presiden Samuel Azuka yang berhasil selamat. Sebagai satu-satunya putra presiden yang selamat, otomatis dia merupakan pewaris utama yang sah dan berhak menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin suku Ibo.

Karena posisi yang kian dekat, pertempuran pun tak bisa dihindari. Pasukan Waters berusaha menghalau para pemberontak dengan peralatan yang tersedia. Sepanjang pertempuran ini, Waters banyak kehilangan anggota pasukannya, diantaranya adalah Slo, Flea, Lake, dan Sutra. Disinilah terlihat bagaimana pasukan Waters begitu gigih melindungi para pengungsi. Mereka tidak peduli lagi nyawa mereka begitu dekat dengan kematian. Di tayangan ini tampak seorang pasukan Waters yang justru balik arah demi menyelamatkan seorang pengungsi wanita yang tergencet pohon yang tumbang, walaupun usahanya sia-sia karena dia sendiri bersama pengungsi itu pun akhirnya tewas tertembak pemberontak. Jujur saya mulai haru disini. Adegan demi adegan menegangkan mulai tampak di segmen ini. Saling serang terjadi silih berganti. Waters, Red, dan Zee juga terluka di adegan ini. Tapi mereka tetap bersemangat membawa para pengungsi hingga perbatasan. Mendekati perbatasan, kondisi semakin kacau balau. Di sisa-sisa tenaganya, tak lupa Waters meminta bantuan pesawat tempur guna menghalau para pemberontak yang kian mendekat. Akhirnya datanglah bantuan dua pesawat tempur yang memporakporandakan para pemberontak. Walaupun terluka, Waters dan beberapa pasukannya berhasil membawa sisa para pengungsi sampai di gerbang perbatasan Kamerun. Di gerbang perbatasan Waters dan pasukannya yang selamat telah disambut oleh komandan mereka Kapten Rhodes.

Disinilah adegan mengharukan kembali terjadi. Bagaimana para pengungsi begitu senang bisa bertemu kembali dengan para anggota keluarga yang lebih dulu mengungsi. Merekapun merayakan kebebasan mereka dari para pemberontak dengan bernyanyi bersama sambil mengelilingi Arthur Azuka. Mereka merasa Arthur lebih pantas sebagai kepala suku yang mewarisi sifat-sifat ayahnya. Dengan mengangkat tangannya sambil berseru “Merdeka!”, Arthurpun larut dalam suka cita kemenangan bersama para pengungsi lainnya. Sementara Waters dan anggota pasukannya yang terluka segera dilarikan dengan helikopter guna mendapatkan perawatan. Ceritapun diakhiri dengan epilog yang manis dari Edmund Burke, “The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing”.

Referensi

https://www.kompasiana.com/edikusumawati/tears-of-the-sun-film-perang-berbalut-kemanusiaan_5509cee8813311e805b1e3a8