Bagaimana caranya berlaku adil dalam memimpin?

image

Kepemimpinan berhubungan erat dengan ilmu dan seni, untuk bisa mempengaruhi sekaligus menggerakkan orang lain. Dengan begitu, muncul kepercayaan, kepatuhan, respek dan kemauan.

Salah satu caranya adalah dengan berlau adil ketika menjadi seorang pemimpin.

Bagaimana caranya berlaku adil dalam memimpin ?

“Some traits are more important than others. When it comes to leadership, the ability to judge situations and people with fairness is essential because it shows them how you value them. There’s many examples in history of leaders who took advantage of the people they were leading, things hardly ever worked out in their favor. The leaders who are fair to people, are the ones who are loved and remembered.”

Fair yang di dalam bahasa Indonesia berarti Adil. Adil adalah menempatkan sesuatu hal pada tempatnya sesuai dengan kadar dan porsinya masing-masing. orang yang adil adalah orang yang sesuai dengan standar hukum baik hukum agama, hukum positif (hukum negara), maupun hukum sosial (hukum adat) yang berlaku.

Dengan demikian, orang yang adil selalu bersikap tidak memihak kecuali kepada kebenaran. Bukan berpihak karena pertemanan, persamaan suku, bangsa maupun agama. keadilan adalah milik seluruh umat manusia tanpa memandang suku, agama, status jabatan ataupun strata sosial.

Perilaku adil merupakan salah satu tiket untuk mendapat kepercayaan dari orang lain. Dan sebagai pemimpin adil itu sangat penting, jika pemimpinnya adil maka bawahan atau rakyatnya akan percaya kepada pemimpinnya.

Pemimpin yang adil tahu pekerjaan dan perlakuan apa yang sekiranya pantas diberikan kepada bawahannya atau rakyatnya. kemampuan, memberi kesempatan yang sama, memberikan proses banding yang adil.

Sebagai pemimpin yang adil, maka seharusnya memberikan rasa aman kepada orang lain dengan sikap ramah,sopan dan santun, menjadi teladan dan menciptakan suasana yang kondusif,tenteram serta rukun, tidak sombong atau angkuh , tidak membuat kerusakan, permusuhan dan kedengkian, tidak mendahulukan emosi didalam menghadapi masalah.

Semakin kesini pemimpin yang adil seluruhnya semakin sulit ditemui, namun masih ada tokoh pemimpin islam yang mendunia dan terkenal dengan keadilannya, yaitu Umar bin Abdul Aziz.

Umar diangkat menjadi Gubernur Madinah oleh Khalifah Al- Walid. Umar membentuk sebuah dewan yang kemudian bersama-sama dengannya menjalankan pemerintahan provinsi. Masa di Madinah itu menjadi masa yang jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, dimana keluhan-keluhan resmi ke Damaskus berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah, dan banyak orang yang berimigrasi ke Madinah dari Iraq, mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam.

Umar sudah memiliki reputasi yang tinggi pada masa itu. Saat memimpin Madinah, Umar sempat memugar dan memperluas bangunan Masjid Nabawi. Sejak masa kepemimpinannya, Masjid Nabawi memiliki menara dan kubah.

Adil, jujur, sederhana, tidak pernah mau menerima hadiah dari siapapun dan bijaksana. Itulah ciri khas kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Pada era kepemimpinannya, Dinasti Umayyah mampu menorehkan tinta emas kejayaan. Umar bin Abdul Aziz awal memerintah pada usia 36 tahun.

Umar begitu mencintai dan memperhatikan nasib rakyat yang dipimpinnya. Ia beserta seluruh keluarganya rela hidup sederhana dan menyerahkan harta kekayaannya untuk kas Negara. Umar pun dengan gagah berani serta tanpa pandang bulu memberantas segala bentuk praktik korupsi.

Tanpa ragu, Umar membersihkan harta kekayaan para pejabat dan keluarga Bani Umayyah yang diperoleh secara tak wajar. Ia lalu menyerahkannya ke kas negara. Semua pejabat korup dipecat. Langkah itu dilakukannya demi menyejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Baginya, jabatan bukanlah alat untuk meraup kekayaan, melainkan amanah dan beban yang harus ditunaikan secara benar.

Tak seperti penguasa kebanyakan yang begitu ambisi mengincar kursi kekuasaan, Umar justru menangis ketika tahta dianugerahkan kepadanya. Ia dengan rendah hati berkata, ‘’Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah terlebih dulu dan tak pernah aku memintanya. Sesungguhnya aku mencabut bai’at yang ada dilehermu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki.”

Umar pun bekerja keras membaktikan dirinya bagi rakyatnya. Pada era kepemimpinannya, Dinasti Umayyah meraih puncak kejayaan. pemerintahannya berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mengkondisikan negaranya.
Keadilan, kebijaksanaan dan kesederhanaan hidupnya pun tak kalah dengan pemimpin sebelumnya. Umar hanya memerintah selama tiga tahun kurang sedikit. Ia meninggal karena diracun oleh pembantunya.

Pemerintahannya sangat menakjubkan. Kejujuran, keadilan, kebijaksanaan serta kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz dalam memimpin rakyat dan umat sudah sepantasnya ditiru oleh para pemimpin lainnya.

Referensi :