© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana cara yang benar dalam menghadapi fitnah?

Fitnah

Fitnah adalah perkataan bohong yang mencelakakan orang, atau maksud-maksud yang tidak baik, dari fitnah itu terhadap sasaran atau yang difitnah.

Bagaimana cara yang benar dalam menghadapi fitnah ?

1 Like

Jika berbagai fitnah terjadi di hadapan seorang muslim, maka tidak ada yang lebih tepat dalam membendungnya kecuali dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, karena itulah pokok utama dari dasar-dasar agama dan juga manhaj penutup para nabi dan rasul terlebih lagi ketika terjadi perselisihan.

Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah, seluruhnya menunjukkan dasar ini. Allah subhanahu wata’aala berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. Al-Imran ayat: 103].

Al-Kirmani Rahimahullah mengatakan: Yang dimaksud dengan tali Allah adalah Al-kitab dan Sunnah dan yang dimaksud dengan Kitab adalah Al-Qur’an yang bacaanya merupakan ibadah. Dan yang dimaksud dengan Sunnah adalah apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah Sholallahu’alaihi wasallam baik berupa ucapan beliau, perbuatan, ketetapan dan keinginan yang belum sempat beliau laksanakan.

Ibnu Bathol Rahimahullah mengatakan: Tidak ada keselamatan bagi seseorang kecuali dengan berpegang teguh kepada kitabullah atau kepada Sunnah Rasulullah Sholallahu’alaihi wasallam atau kepada kesepakatan ulama tentang makna salah satu keduanya.

Allah subhanahu wata’aala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS. An-Nisaa: 59].

Dalam ayat yang mulia di atas Allah subhanahu wata’aala memerintahkan untuk mengembalikan apa-apa yang diperselisihkan manusia dari masalah pokok agama dan cabangnya kepada Allah dan rasulNya. Karena di dalam keduanya terdapat putusan dari semua masalah yang diperselisihkan, baik yang disebutkan secara langsung atau umum atau melalui syarat dan peringatan atau melalui kesimpulan pemahaman makna, atau dengan kiasan yang serupa dengannya, karena bangunan agama itu tegak di atas Al-Quran dan Sunnah. Iman tidak akan lurus kecuali dengan keduanya, maka oleh karena itu kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah merupakan syarat keimanan.

Sesungguhnya masalah-masalah yang diperselisihkan umat Islam baik mengenai pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya, apabila tidak dikembalikan kepada Al-Qur’an dan hadits yang sahih, maka kebenaran di dalamnya tidak akan jelas. Bahkan orang-orang yang berseteru itu, tidak memilik landasan dalam pendapat mereka, dan kemungkinan sebagian dari mereka mendzalimi yang lain baik itu dalam bentuk ucapan seperti mengkafirkan dan menyebutkan yang lain fasik atau mendzalimi dengan perbuatan, misalnya dengan memukul atau membunuhnya. Lalu fitnah mana yang lebih dahsyat dari fitnah ini? Na’uudzubillah.

Di dalam hadits Irbath bin Syariah RadhiAllahu’anhu, dia meriwayatkan Rasulullah Sholallahu’alaihi wasallam pernah menasehati kami dengan suatu nasehat yang membuat air mata kami berlinang dan hati-hati kami bergetar, kami pun mengatakan, Wahai Rasulullah, sesungguhnya nasehat ini seperti nasehat orang yang akan mengucapkan selamat tinggal, karena itu berilah wasiat kepada kami, beliau pun bersabda:

“Sungguh aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang putih yang terang benderang, malamnya seperti siangnya, tiada yang menyimpang darinya setelahku kecuali akan binasa, barangsiapa di antara kalian yang hidup setelahku maka akan mendapati perselisihan yang banyak. Oleh karena itu hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnahku yang kalian ketahui walaupun engkau dipimpin oleh seorang budak habayah. Karena sesungguhnya seorang mukmin ibarat unta yang telah dimasukkan tali pelana di dalam hidungnya, kemanapun tali pelana itu diarahkan dia akan tunduk (manut).”

Diriwayatkan dari Imam Azzuhri Rahimahullah bahwasanya beliau telah mengatakan:

“Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan.”

Karena berpaling dari Al-Qur’an dan sunnah serta menyelisihi keduanya akan menyebabkan terjadinya fitnah dan mendatangkan bencana.

Tidaklah ada suatu fitnah yang menimpa kaum muslimin setelah zaman Rasulullah Sholallahu’alaihi wasallam kecuali disebabkan karena mereka menyelisihi perintah Rasulullah Sholallahu’alaihi wasallam atau mereka meninggalkan salah satu sunnah diantara sunnah-sunnah beliau Sholallahu’alaihi wasallam.

Oleh karena itu bersungguh-sungguh dalam berpegang teguh dengan sunnah untuk diri sendiri menjadi hal yang sangat luar biasa. Dari Ibnu Mas’ud RadhiAllahu’anhu ia mengatakan Rasulullah Sholallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Orang yang berpegang teguh dengan sunnahku ketika terjadi perselisihan dalam umatku seperti halnya orang yang menggenggam bara api.”

Sumber : Dr. Hamad bin Nasr bin Abdurrahman Al-Amr, Menangkal berbagai macam fitnah dengan al-qur’an dan sunnah. Diterjemahkan Oleh Isnan Efendi Abu Abdus Syahid

Dengan adanya berbagai fitnah yang menimpa umat, sebagai umat Islam hendaknya kita mempunyai cara tertentu untuk menyikapi fitnah-fitnah tersebut, diantaranya sebagai berikut:

1. Sabar

Sabar termasuk salah satu tiang iman dan juga salah satu komponen budi pekerti mulia (akhlāq al-karīmah) yang harus dimiliki oleh setiap mukmin Muslim. Syarif Alī bin Muhammad Al-Jurjani dalam Kitab Al-Ta’rifat memberikan definisi sabar itu sebagai: “Meninggalkan rintihan dan pengaduan terhadap penderitaan yang dialaminya.”

Dalam pengertian umum yang dimaksud dengan sabar bukanlah berarti menyerah begitu saja kepada keadaan. Bukan demikian pengertian sabar dalam konotasi dengan *akhlāq al-karīmah. Juga bukan sabar namanya, jika menerima saja apa yang ada tanpa melakukan ikhtiar untuk mencari jalan keluar. Tapi yang dinamakan sabar dan kesabaran yakni berikhtiar terus sampai berhasilnya suatu cita-cita, dengan ketetapan hati yang teguh, tak menghiraukan pekerjaan itu berat atau ringan.

Sabar seperti disebutkan dalam hadits riwayat Imam Tabrani adalah bagian dari iman. Sabar terhadap keinginan hawa nafsu jahat adalah menjaga kesucian diri (iffah). Dan sabar terhadap sesuatu yang tidak disukai adalah ridha. Seseorang yang berlaku sabar atas nikmat Allah adalah seseorang yang memiliki kepribadian kuat dan bijak. Orang yang sabar dalam menyimpan rahasia adalah orang yang dapat dipercaya. Dan sabar dalam kehidupan duniawi adalah zuhud.

Kata sabar tersebutkan dalam Al-Qur‟an (tidak kurang dari 99 kali pada berbagai ayat). Dan diantaranya dikaitkan dengan pahala yang besar. Dan lebih-lebih sikap sabar itu harus diterapkan dalam tiga perkara. a) ketika menerima musibah atau malapetaka, b) kemelaratan dan, c) di waktu perang (Q.S. 2/Al-Baqarah: 177). Para ahli filsafat Islam kemudian memperluas bidang itu menjadi beberapa bidang, di mana setiap Muslim hendaknya bersikap sabar, di antaranya yaitu:

  • Sabar di saat mendapat musibah

Musibah, malapetaka atau cobaan yang ditimpakan Allah kepada hamba-Nya bermacam-macam bentuknya. Dan musibah itu sebenarnya merupakan semacam sarana penguji iman.

  • Sabar dalam konteks ibadah

  • Sabar pada waktu berhadapan dengan maksiat

  • Sabar atas kemilaunya duniawi

Apabila sabar merupakan kebutuhan dasar bagi umat manusia pada umumnya, maka sifat itu jauh lebih menjadi kebutuhan dasar bagi orang-orang mukmin. Karena ahli iman dalam sisi tertentu jauh lebih berat menghadapi sikap menyakitkan, ujian dan cobaan pada harta, diri mereka sendiri, dan semua miliknya yang berharga. Alam semesta menghendaki mereka memiliki musuh-musuh yang akan memperdayanya dan menanti-nanti marabahaya menimpanya.

Demikian pula Allah menjadikan iblis sebagai musuh Nabi Adam As, Namrudz menjadi musuh Nabi Ibrahim As, Fir‟aun sebagai musuh Nabi Musa As, dan Abu Jahal beserta antek-anteknya sebagai musuh Nabi Muhammad Saw.

2. Memohon ampunan dan taubat

Dalam bahasa Al-Qur’an memohon ampunan disebut "istighfār”. Maksudnya adalah memohon ampunan Allah atas segala dosa yang terlanjur diperbuat, termasuk yang di dalamnya memohon agar Allah berkenan melindungi dirinya dari perbuatan dosa.

Istighfār adalah sesuatu yang sangat penting bagi manusia. Bukan saja karena manusia mempunyai khas yang lebih besar untuk berbuat dosa, tetapi juga karena Allah Swt berulangkali memerintahkan baik melalui firman-firman-Nya dalam Al-Qur‟an maupun melalui lisan utusan-Nya (Rasulullah Saw).

Di dalam Al-Qur‟an Surat Al-Zumar ayat 53 Allah menyerukan hamba-Nya supaya beristighfar demikian:

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. al-Zumǎr, 39:53)

Taubat berarti menyesal atas terjadinya suatu dosa, menyesal yang disertai upaya dan harapan semoga Allah berkenan memaafkan, mengampuni dan menghapus suatu dosa yang terlanjur dikerjakan. Istighfǎr dan taubat adalah dua hal yang senantiasa disebutkan secara barengan dalam Al-Qur‟an. Setelah memerintahkan istighfǎr, senantiasa Allah menyusulnya dengan perintah bertaubat. Antara lain Allah berfirman:

“Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.”
(Q.S. Hud: 90)

Taubat yang dikehendaki al-Qur‟an, tampaknya bukan sekedar mengucapkan kata-kata penyesalan, tetapi lebih dari itu yakni taubat yang didasari oleh kesadaran yang mendalam dan disertai pula dengan hati yang ikhlas. Taubat yang demikian dituntut oleh Allah dengan firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni- murninya.” *(Q.S. At- Tahrīm: 8)

3. Menjaga Persatuan dan Kesatuan Umat

Apabila setiap manusia menyadari bahwa dirinya mempunyai asal usul yang satu, yaitu keturunan Adam dan Hawa, dan mempunyai Tuhan yang satu, yaitu Allah Swt, tentulah tidak sulit diajak menjaga kesatuan umat.

Umat Islam khususnya, dan manusia pada umumnya, dilarang untuk bercerai berai, saling bermusuhan, dan sebagainya. Semua umat manusia, meskipun tampaknya bersuku-suku, berbangsa-bangsa, namun pada hakekatnya mereka adalah satu umat (ummatan wāhidah).

Umat Islam, diidentifikasikan oleh Allah sebagai umat yang bersaudara. Mereka dituntut berjalin dan membentuk satu kesatuan, bila yang satu sakit maka yang lain ikutpula merasakannya. Ibarat satu bangunan, yang satu menguatkan yang lain, dan yang lain menguatkan yang satu.

Berbicara tentang perwujudan persatuan dan kesatuan, ada beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan, yaitu Pertama, memilih pemimpin umat yang beragama Islam. Kedua, waspada terhadap fitnah/hasut. Ketiga, segera menyelesaikan perselisihan yang timbul di kalangan umat. Keempat, saling menjaga perasaan sesama umat.

4. Memahami Ayat-Ayat Allah

Kitab Suci Al-Qur‟an menyebut alam semesta dan segala yang ada, termasuk manusia, sebagai ayat, yaitu tanda-tanda dari kekuasaan Allah Swt. Sebagai ayat, alam semesta dan jagat raya sesungguhnya mengabarkan dan memperlihatkan eksistensi dan realitas Tuhan. Allah berfirman:

“Kami akan memperlihatkan tanda -tanda Kami di segenap cakrawala dan dalam diri mereka sendiri, sampai jelas buat mereka bahwa Dia adalah Mahabesar." (Q.S. Fussilat: 53)

Setiap Muslim diperintahkan untuk memahami ayat-ayat Allah itu. Menurut Al-Qur’an, pemahaman tersebut harus diarahkan, setidak- tidaknya untuk mencapai tiga tujuan.

  • Pertama, mengetahui dan memahami keberadaan alam semesta sebagai ayat (Q.S. Al-An’ǎm, 6: 97).
  • Kedua, mengambil pelajaran dan ibarat (Q.S. Al-Naḥl, 16: 13).
  • Ketiga, mengenal Allah (Q.S. Al-Naḥl, 16: 79) dan bertaqwa kepada-Nya (Q.S. Yūnus, 10: 6).

Menurut Murata, sebenarnya ada dua jenis ayat yang diperlihatkan Tuhan kepada manusia. Pertama, petunjuk dan wahyu Allah Swt yang disampaikan kepada Nabi-nabi. Kedua, karya dan ciptaan Allah yang berwujud alam semesta dan jagat raya. Dengan begitu, sebagaimana setiap sepotong kayu atau firman disebut ayat, maka demikian juga setiap sepotong dan sejengkal dari alam raya adalah ayat.

Setiap Muslim sesungguhnya diperintahkan oleh Allah untuk memahami dan mencari kebenaran melalui kedua ayat di atas. Kebenaran yang didapat dari kedua ayat itu diyakini tidak akan mengalami kontradiksi, karena keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah Swt. Sebagai sumber segala kebenaran.

5. Istiqomah, Mawas diri dan Uswah

Menghadapi berbagai macam taktik dan strategi musuh untuk menghancurkan umat Islam, ada beberapa alternatif pemecahan diajukan orang. Ada yang menonjolkan masalah pentingnya persatuan umat, pembentukan jamaah dan imamah serta melaksanakan dengan konsekuen semua petunjuk dasar ajaran Islam (Al-Qur’an). Semua upaya pemecahan itu dapat ditempuh.

Namun dalam tulisan ini akan dikemukakan tiga macam sikap yang harus diperhatikan dan diamalkan oleh umat Islam, dalam menghadapi tantangan dan pergeseran nilai yang terjadi di kalangan umat Islam.

  • Pertama, membentuk dan membina pribadi yang teguh pendirian, tidak goyah oleh bujuk rayu materialis. Muslim yang teguh, kuat memegang prinsip itu, dalam bahasa Al-Qur’an disebut istiqomah. Nabi Saw diperintahkan Allah untuk mempermaklumkan kepada manusia bahwa beliau manusia seperti halnya manusia lain, hanya saja mendapat wahyu; dan beliau memegang akidah dan bertuhan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan disuruhnya umat ini beristiqamah kepada-Nya.

  • Kedua, menyiapkan generasi yang dadanya penuh dengan cahaya keimanan, yang siap membela kebenaran wahyu Ilahi dan selalu melalukan tindakan preventif, memelihara diri dari anasir yang diancam malapetaka atau api neraka, Nabi Ibrahim memberi teladan kepada kita untuk berdo‟a kepada-Nya agar Allah menjauhkan kita dari tingkah laku penyembahan berhala. Dan perintah memelihara diri dan keluarga dari api neraka.

  • Ketiga, mampu menjadikan diri kita sebagai panutan serta teladan kepada pihak lain, kepada anak dan isteri, tetangga, kolega, dan sebagainya. Karena Nabi Saw pun diutus Allah untuk menjadi teladan bagi umat manusia. Yakni keteladanan bahwa umat Islam adalah umat yang disiplin, ulet, sabar, bersih, mencintai ilmu, penuh toleransi, saling asih, cinta persatuan, dan sebagainya.82

6. Introspeksi Diri

Introspeksi (mu ḥāsabah al-nafs) dapat dipahami sebagai evaluasi internal, yaitu koreksi terhadap diri sendiri. Introspeksi, karenanya merupakan suatu sikap dan sekaligus tindakan yang sangat terpuji. Introspeksi menjadi sangat penting karena setiap individu berpeluang dan berpotensi untuk melakukan kesalahan dan kekhilafan.

Dalam Al-Qur‟an, Allah Swt mengingatkan agar kita senantiasa melakukan introspeksi diri. Firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al- Mujāhadah:18)

Dalam ayat ini, ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh orang- orang beriman:

  • Pertama, taqwa kepada Allah Swt., bahwa taqwa dalam ayat ini, diungkapkan dua kali. Taqwa sebagai sikap hati-hati dari akibat-akibat buruk terkandung di dalamnya makna introspeksi diri.

  • Kedua, kita disuruh berpikir jangka panjang dan jauh kedepan. Rencana tentang masa depan ini harus didasarkan pada hasil evaluasi terhadap berbagai program dan aktivitas kita pada masa lalu. Jadi, di sini terdapat pula pesan evaluasi dan introspeksi diri.

  • Ketiga, kita harus menyadari bahwa Allah Swt selalu melakukan pengawasan terhadap semua aktivitas kita. Di sini juga terkandung makna dan pesan untuk melakukan evaluasi dan introspeksi diri.

Imam Ghazǎli, melalui kitabnya Ihyā Ulūm al Dīn, menganjurkan agar introspeksi itu dilakukan berkenaan dengan tiga hal berikut ini:

  • Pertama, introspeksi terhadap kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Di sini, menurut al-Ghazǎli, bila seorang ternyata telah melalaikan suatu kewajiban, maka ia harus segera mengganti dan menambalnya dengan berbagai kebajikan lain.

  • Kedua, introspeksi terhadap dosa-dosa (al-ma‟āshī). Dalam kaitan ini, seseorang menurut al-Ghazǎli, harus mengingat dan menyadari dosa- dosa yang pernah dilakukan untuk kemudian bertaubat. Ia harus menyesali dosa-dosanya itu dan harus berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak mengulanginya lagi.

  • Ketiga, introspeksi terhadap usia yang sudah dilalui.