Bagaimana cara pengobatan kelainan Seksual Fetisisme ?

sex
kejiwaan

(Alex Pratama) #1

fetisisme

Fetisisme adalah seseorang yang mencari gairah seksual melalui suatu obyek. Macam-macam obyek fetisisme ini banyak sekali, akan tetapi secara umum yang paling populer bagi penderita fetisisme adalah pakaian dalam perempuan dan juga sepatu wanita.

Bagaimanakah cara Pengobatan Kelainan Seksual Fetisisme?


(Fariza Khansa Yuan) #3

Secara umum, penanganan seseorang yang mengalami gangguan fetisisme adalah dengan terapi. Psikoterapi berorientasi tilikan adalah pendekatan yang paling sering digunakan untuk mengobati parafilia. Pasien diberi kesempatan untuk mengerti dinamikanya sendiri dan peristiwa-peristiwa yang menyebabkan perkembangan parafilia. Psikoterapi juga memungkinkan pasien kembali meraih harga dirinya dan memperbaiki kemampuan interpersonal dan menemukan metoda yang dapat diterima untuk mendapatkan kepuasan seksual. Terapi kelompok juga beguna.

  1. Terapi Seks
    Terapi seks adalah pelengkap yang tepat untuk pengobatan pasien yang menderita disfungsi seksual tertentu dimana mereka mencoba melakukan aktivitas seksual yang tidak mentimpang dengan pasangannya.

  2. Terapi Perilaku
    Digunakan untuk memutuskan pola parafilia apa yang dipelajari. Stimuli yang menakutkan, seperti kejutan listrik atau bau menyengat, telah dipasangkan dengan implus tersebut, yang selanjutnya menghilang. Stimuli dapat diberikan oleh diri sendiri dan digunakan oleh pasien bilamana mereka akan bertindak atas dasar implusnya.

  3. Terapi Obat
    Antiandrogen, seperti cyproterone acetate di Eropa dan Medroxyprogesterone acetate (Depo-Provera) di Amerika Serikat, telah digunakan secara eksperimental pada parafilia hiperseksual. Beberapa kasus telah melaporkan penurunan perilaku.

Sedangkan untuk fetisisme sendiri, telah ada eksperimen untuk menguji hipotesis dari fetisisme. Untuk menguji hipotesis pembelajaran ini (dalam eksperimen yang akan dianggap tidak etis dengan standar saat ini), salah satu kelompok peneliti melaporkan bahwa mereka dapat mengondisikan subjek laki-laki untuk menjadi fetis (Rachman, 1966; Rachman & Hodgson, 1968).

Dalam salah satu penelitian tersebut, peneliti memperlihatkan kepada subjek laki-laki gambar telanjang dari wanita yang hamper tak berbusana (stimulus tak terkondisikan) dipasangkan dengan bot berbalut bulu (stimulus yang dikondisikan) dan menggunakan suatu apparatus untuk mengukur respons ereksi subjek laki-laki. Setelah mengulang-ulang pemasangan gambar wanita dan sepatu bot (dan aksesoris kaki lainnya), subjek laki-laki menjadi terangsang hanya dengan melihat aksesoris kaki (stimulus terkondisikan). Menghilangkan perilaku ini kemudian dicapai dengan secara berulang memperlihatkan sepatu dan bot tanpa gambar wanita. Setelah itu, subjek kehilangan ketertarikan terhadap objek tersebut yang tidak lagi memiliki asosiasi seksual.

Hal yang sama kontroversialnya dengan penelitian ini adalah memberikan seorang model untuk melakukan treatmen terhadap fetisis dan peneliti menyatakan bahwa extinction dan metode perilaku lainnya adalah strategi treatmen yang efektif. Salah satu teknik tersebut adlah terapi aversif yang dilakukan dengan member hukuman kepada fetisis, seperti memakan obat penyebab muntah atau dihipnotis agar merasa muak saat melakukan mastrubasi dengan objek fetisismenya.

Pengkondisian kembali orgasmik (orgasmic reconditioning) adalah metode perilaku lainnya yang didasarkan pada proses belajar kembali. Dalam prosedur untuk menangani parafilia ini, individu dipaksa untuk merangsang dirinya dengan suatu fantasi terhadap objek yang tidak dapat diterima, kemudian melakukan mastrubasi sambil melihat stimulus seksual yang tepat seperti gambar pasangan dewasa. Jika rasangannya menurun, maka ia boleh difantasi lagi dengan objek yang tidak dapat diterima, namun ia hanya boleh mencapai orgasme saat focus pada stimulus yang dapat diterima. Pada saat itu, individu diharapkan semakin berkurang ketergantungannya pada objek yang tidak dapat diterima dan semakin meningkat kepuasan seksualnya saat distimulasi dengan objek yang dapat diterima.


(Abercio Hafizhan Wibowo) #4

Untuk mengatasi ganguan seksual fetisisme, dapat dilakukan dengan cara terapi dan pengobatan.

Terapi

Ada dua perawatan terhadap fetishisme yang mungkin, yaitu ; terapi kognitif dan psikoanalisis.

  1. Terapi Kognitif
    Terapi ini berupaya mengubah perilaku pasien tanpa perlu menganalisis bagaimana dan penyebab timbulnya fetishisme itu. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa fetishisme merupakan hasil kondisi atau penanaman kesan. Terapi ini tidak mampu mengubah preferensi seks pasien, namun hanya bisa menekan akibat perilaku yang tak diinginkan.

    Satu terapi yang mungkin dilakukan adalah pembentukan kondisi aversif, di mana pasien dikonfrontasikan dengan fetishnya, dan secepat dimulainya rangsangan seks, dipaparkan pada stimulus yang tidak menyenangkan. Dilaporkan bahwa pada saat lebih dini, stimuli sakit berupa kejutan listrik telah digunakan sebagai stimulus aversif. Dewasa ini, stimulus aversif yang umum dipakai adalah foto-foto yang menggambarkan hal yang tidak menyenangkan seperti menyakiti alat kelamin.

  2. Psikoanalisis
    Terapi psikoanalisis ini berupaya untuk menempatkan pengalaman trauma bawah sadar yang menyebabkan awal timbulnya fetishisme. Dengan membawa pengetahuan bawah sadar pada suara hati, lalu mendorong pasien mampu bekerja dengan traumanya secara rasional dan emosional, ia akan terbebas dari masalahnya. Tidak seperti halnya terapi kognitif, psikoanalisis ini menangani penyebabnya itu sendiri. Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan pada analisis proses ini,mencakup terapi bicara, analisis mimpi, dan terapi bermain. Mana metode yang akan dipilih tergantung pada permasalahan itu sendiri, sikap dan reaksi pasien terhadap metode tertentu, serta edukasi dan preferensi ahli terapi.

Pengobatan

Perawatan farmasi terdiri dari berbagai jenis obat yang dapat menghambat jumlah steroid seks melebihi jumlah testosteron yang dimiliki pria dan estrogen yang dimiliki wanita. Dengan memotong tingkat steroid seks, hasrat seksual berkurang. Dengan demikian, sesuai dengan teori, pasienbisa mencapai kemampuan mengontrol fetish dan secara masuk akal memproses pemikirannya tanpa terganggu oleh rangsangan seksual.

Juga, penerapan ini bisa melegakan pasien dalam kehidupan sehari-hari, dengan membantu si pasien untuk bisa mengabaikan fetishnya dan kembali kerutinitas sehari-hari. Penelitian lain mengasumsikan bahwa fetish bisa berupa cacat obsesif-kompulsif (godaan yang sangat mengganggu, pent.),dan memandang penggunaan obat-obatan psikiatri (serotoninmencerdaskan penghambat dan pemblokir dopamin) untuk pengontrolan parafilia yang mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi. Meskipun riset berkelanjutan menunjukkan hasil positif dalam studi kasus tunggal dengan sebagian obat, misalnya topiramate, belum ada satupun pengobatan yang dapat menangani fetishisme itu sendiri. Karena itu, perawatan fisik hanya cocok untuk mendukung salah satu metode psikologi.