© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana cara pencegahan HIV/AIDS?

Kenakalan remaja akhir-akhir ini marak terjadi. Salah satu akibat dari kenakalan remaja ialah penyakit HIV/AIDS. Lalu bagaimana cara pencegahan HIV/AIDS?

Pencegahan HIV/AIDS


Dalam upaya menurunkan risiko terinfeksi HIV, berbagai organisasi kesehatan dunia termasuk Indonesia menganjurkan pencegahan melalui pendekatan ABCD, yaitu:

  1. A atau Abstinence, yaitu menunda kegiatan seksual, tidak melakukan kegiatan seksual sebelum menikah.
  2. B atau Be faithful, yaitu saling setia pada pasangannya setelah menikah.
  3. C atau Condom, yaitu menggunakan kondom bagi orang yang melakukan perilaku seks berisiko.
  4. D atau Drugs, yaitu tidak menggunakan napza terutama napza suntik agar tidak menggunakan jarum suntik bergantian dan secara bersama-sama.

Upaya pencegahan juga dilakukan dengan cara memberikan KIE (Komunikaasi, Informasi, dan Edukasi) mengenai HIV/AIDS kepada masyarakat agar tidak melakukan perilaku berisiko, khususnya pada remaja.

Ada lima tingkat pencegahan (Five level prevention) menurut Level & Clark, yaitu:

  • Promosi kesehatan ( health promotion )
  • Perlindungan khusus ( spesific protection )
  • Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)
  • Pembatasan cacat (disabaliyi limitation)
  • Rehabilitasi (rehabilitation)

Dalam proses pencegahan terhadap semakin meluasnya epidemi HIV/AIDS, semua elemen dari masyarakat bertanggung jawab terhadap proses pencegahan. Yang bertanggung jawab terhadap pencegahan persebaran HIV/AIDS adalah :

  1. Individu
    Seseorang harus mengadopsi gaya hidup dan perilaku yang sehat dan mengurangi risiko penularan HIV. Orang terinfeksi HIV harus menjadi orang yang bertanggungjawab untuk menjamin bahwa mereka untuk seterusnya tidak akan menyebarkan virus ke orang lain.

  2. Keluarga
    Keluarga harus mengadopsi nilai-nilai peningkatan kesehatan. Keluarga harus memberikan pemahaman dan rasa simpati serta perlindungan untuk menolong anggota keluarga yang divonis orang terinfeksi HIV dalam menghadapi situasi yang tidak normal dan memaksimalkan potensi kesehatan untuk mempertahankan diri dari infeksi yang lain.

  3. Masyarakat
    Masyarakat harus menghindari sikap diskriminasi terhadap orang terinfeksi HIV dan meningkatkan suasana lingkungan yang mendukung dengan norma sosial yang bersifat melindungi. Masyarakat juga harus berusaha keras meminimalkan kemiskinan yang cenderung memperburuk situasi.

  4. Petugas kesehatan
    Petugas kesehatan memiliki tanggung jawab ganda terhadap penyediaan perawatan dan konseling terhadap orang terinfeksi HIV. Mereka harus menyediakan tindakan pencegahan yang sesuai untuk mencegah penyebaran infeksi ke klien yang lain dan diri mereka sendiri.

  5. Media
    Media masa memiliki peran yang dengan mudah dapat dijangkau oleh banyak pembaca dan murah dalam menyampaikan informasi tentang HIV/AIDS. Bersama dengan media dalam bentuk lain, media masa bisa efektif menimbulkan kepedulian masyarakat tentang HIV/AIDS. Bagaimanapun, media masa harus bertanggungjawab dalam melaporkan informasi tentang HIV/AIDS, menghindari ketidakakuratan yang mana mungkin menghasilkan perbedaan persepsi dan membutuhkan klarifikasi.

  6. Ahli Kesehatan dan LSM
    Para ahli kesehatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dapat membantu menyebarkan informasi yang benar tentang HIV/AIDS dengan melakukan proses pembelajaran di masyarakat. Dengan melibatkan masyarakat umum, LSM dapat menjadi penghubung antara ahli kesehatan dan masyarakat (WHO, 1992).

Pencegahan HIV diantara penjaja seks dan pelanggan PS:

Banyak proyek yang menemukan bahwa aktivitas pencegahan HIV diantara penjaja seks, pelanggan PS, dan pasangannya adalah paling efektif ketika paket intervensi mencakup paling sedikit tiga elemen:

  1. Pesan informasi dan perubahan perilaku.
  2. Promosi kondom dan membangun keterampilan.
  3. Pelayanan IMS.

Pencegahan HIV pada remaja:

  1. Merubah perilaku dan sikap adalah lebih mudah jika dimulai sebelum pola dibentuk.
  2. Sumber kekuatan pencegahan berada didalam dirinya sendiri.
  3. Sering dan mudah dijumpai dalam jumlah besar.

Pencegahan HIV dan Pengguna napza suntik:

  1. Program penjangkauan masyarakat berbasis komunitas sebaya.
  2. Meningkatkan akses untuk alat suntik yang steril dan kondom.
  3. Meningkatkan akses untuk perawatan ketergantungan obat, khususnya metadon (Tim, Brown. et. all. 2001).
2 Likes