© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana cara Menuliskan Berita yang Baik dan Benar?

Bagi siswa yang masih pemula dalam hal menulis berita, mungkin belum sepenuhnya paham mengenai bagaimana cara menulis sebuah berita. Perlu diketahui, orang yang membuat berita disebut sebagai jurnalis. Jika seorang blogger dituntut dapat menulis artikel yang baik, maka seorang jurnalis dituntut untuk dapat menghasilkan sebuah berita yang baik, faktual dan menarik dalam bentuk tulisan.

Bagaimana cara menuliskan Berita yang baik dan benar?

Hal yang paling perlu untuk diperhatikan dalam menulis sebuah berita adalah jurnalis harus memperhatikan prinsip 5W1H. Prinsip 5W1H meliputi What (apa), When (kapan), Who (siapa), Where (dimana), Why (mengapa), dan How (bagaimana). Lalu pertanyaanya, bagiamana cara menuangkan prinsip 5W1H ke atas kertas, sehingga menghasilkan berita yang baik?

  • What, yaitu tentang apa yang terjadi, peristiwa apa, dan apa yang terlihat.
  • When, yang menjelaskan tentang kapan peristiwa itu terjadi.
  • Who, yang menjelaskan tentang siapa saja yang ada dan terlibat dalam peristiwa tersebut.
  • Where, yaitu dimana peristiwa tersebut terjadi atau berlangsung.
  • Why, yang menyatakan tentang kenapa peristiwa tersebut terjadi, atau bisa juga alasan tentang terjadinya peristiwa.
  • How, menjelaskan tentang bagaimana proses rangkaian terjadinya peristiwa tersebut.

Setelah memahami apa itu 5W1H, sebaiknya juga memperhatikan beberapa hal berikut selama menulis berita:

  1. Tulislah berita dengan jujur. Jangan pernah memutar balikan fakta yang ada. Jangan pernah membohongi pembaca anda. Berbohong dalam tulisan adalah dosa terberat bagi seorang jurnalis.

  2. Perhatikan penggunaan tanda baca koma. Penggunaan tanda baca koma sangatlah penting. Apabila anda salah meletakan tanda baca koma mungkin saja isi dari berita anda akan menjadi salah tafsir.

  3. Tulislah berita dengan logis. Berita juga harus ditulis dengan logis.

  4. Utamakan penggunaan kalimat aktif, serta pemilihan kata yang tepat.

  5. Catat dengan detail, dengarkan dan rekam. Jangan hanya mengandalkan pada pendengaran saja. Tidak ada orang yang bisa mengingat dengan tepat 100% apa yang telah didengarnya. Sebaiknya tulislah hal-hal penting yang anda dapatkan. Selain ditulis sebaiknya juga anda rekam. Karena datanya akan lebih akurat.

  6. Tulislah dalam kalimat yang lengkap, jelas serta jernih.

  7. Fokuslah pada topik berita yang ditulis. Saat menulis sebuah berita fokuslah hanya pada satu topik, jangan melebar kemana-mana. Ini akan membuat tulisan anda menjadi tidak jelas.

  8. Tulislah berita secara proporsional dan jangan berlebihan.

  9. Periksa kembali kalimat kutipan, pernyataan dalam rekaman dan konfirmasi

  10. Patuhilah kode etik jurnalistik yang melarang wartawan melakukan plagiat. Mematuhi kode etik jurnallistik yang ada dalah hal paling penting dlam menulis sebuah berita.

Teknik penulisan berita adalah cara yang digunakan oleh reporter dalam menulis suatu laporan tentang suatu peristiwa yang telah terjadi. Untuk mempermudah pesan sampai pada masyarakat maka digunakan semacam cara atau teknik dalam penulisan berita. Teknik yang sering digunakan meliputi:

Struktur Penulisan Berita

Sebagaimana penulisan pada umumnya, berita juga ditulis dengan menggunakan struktur atau bagian-bagian seperti judul, teras berita, tubuh, dan penutup. Untuk berita langsung (straight news), judul dipandang sebagai inti teras berita. Selanjutnya, teras berita (terutama untuk berita langsung atau berita ringan yang merupakan side bar, atau news feature) adalah sari berita yang dituliskan pada alinea pertama. Tubuh berita adalah bangunan utama yang memuat semua rincian informasi yang diberitakan.

Jika teras berita yang menarik sudah dapat ditulis, kemudian disusul penulisan tubuh berita. Pada bagian inilah rincian peristiwa yang akan diberitakan, disajikan secara lengkap. Seluruh fakta disampaikan melalui kata demi kata dalam suatu urutan logis.

Seluruh fakta adalah jawaban atas pertanyaan enam pokok jurnalistik (5W+1H), dan jawaban inilah yang disampaikan secara bertahap. Satu alinea mengandung satu kesatuan pokok pikiran yang didukung fakta-fakta. Penutup suatu berita adalah alinea terakhir. Pada alinea inilah pembaca disadarkan bahwa tidak ada lagi informasi yang belum ia ketahui.

Struktur penulisan berita pada umumnya dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu, piramida, piramida terbalik, dan kronologis.

1. Piramida

Pada penulisan dalam bentuk piramida, penulisan dilakukan dengan mengetengahkan informasi yang kurang penting menuju yang paling penting. Jadi, klimaksnya berada pada bagian akhir, misalnya berupa kesimpulan, analisis, maupun evaluasi dari reporter. Penulisan dengan struktur semacam ini dilakukan pada beberapa media massa. Televisi pun menggunakan model semacam ini khususnya pada program Current Affair, misalnya siaran langsung upacara kenegaraan, laporan perang dari medan pertempuran dan lain-lain.

Bentuk dari penulisan piramida ini jika digambarkan akan seperti skema di bawah ini:

penulisanberita modelpiramida

Teknik atau cara penulisan pada model ini, penyajiannya tidak terikat pada waktu atau timeless, karena kapan saja berita ini disajikan akan tetap menarik.31 Setidaknya uraian berita semacam ini masih memiliki nilai aktualitas karena masih terkait dengan peristiwa atau pendapat pokok. Uraian berita yang disajikan dengan teknik piramida ini adalah yang termasuk kategori news magazine atau berita berkala, feature atau laporan, berita ringan dan human interest yang tidak memiliki nilai berita tinggi, tetapi sangat menarik.

2. Piramida Terbalik

Teknik dan cara penulisan jenis piramida terbalik ini hanya untuk menyajikan berita-berita yang memiliki news value (nilai berita) tinggi. Penyajiannya pun harus secepat mungkin. Dengan kata lain penyajiannya sangat terikat pada waktu (time concern).

Pada model ini penyajian beritanya diawali dari yang terpenting menuju yang kurang penting.

Menurut Deddy, bentuk piramida terbalik didesain terutama untuk penulisan berita televisi dengan tujuan siaran tunda. Tujuan dari penulisan jenis ini adalah agar berita menjadi lebih menarik sehingga pemirsa atau pembaca bisa langsung memperoleh isi berita yang paling inti. Berita-berita yang pantas disajikan dengan cara piramida terbalik adalah berita-berita yang masuk dalam kategori news bulletin, seperti hard news, soft news, straight news, spot news, dan human interest yang memiliki nilai berita tinggi.

Jika digambarkan maka bentuk dari piramida terbalik ini adalah seperti berikut:

penulisan berita piramida terbalik

Dalam pramida terbalik urutan penyajiannya adalah sebagai berikut:

  • Kalimat 1: Berisi inti berita, atau yang lazim disebut dengan lead atau teras berita. Termasuk juga judul berita (head line)
  • Kalimat 2: Berisi hal-hal yang sangat dekat hubungannya dengan kalimat 1 dan yang sangat mendukung kalimat 1.
  • Kalimat 3: Berisi hal-hal yang mendukung kalimat 2
  • Kalimat 4: Berisi kalimat yang mendukung kalimat 3
  • Kalimat 5: Berisi kalimat yang relevan dengan isi berita.

Pada media televisi, judul beritanya sering terlihat pada tulisan yang terpampang beberapa detik pada saat pembacaan berita. Tulisan tersebut dihasilkan melalui Chargen (character generator) atau sering juga disebut dengan Video Type Writer.

Judul berita sering kali dibacakan lebih awal dan dimasukan ke dalam rangkuman topik berita.

Teras berita merupakan lead berita atau kalimat pembuka dalam penulisan berita. Dalam teras berita unsur-unsur yang harus dipenuhi adalah yang berkaitan dengan siapa (who), apa (what), dan kapan (when). Namun demikian, unsur-unsur tersebut bukan sesuatu yang mutlak, tapi bisa saja berubah, sesuai dengan kepentingan isi informasi.

3. Kronologis

Penulisan jenis ini tidak melandasi diri pada mana yang terpenting dan mana yang kurang penting. Hal ini karena setiap kalimat yang dituliskan memilki bobot yang sama, sehingga dalam penulisannya harus runtut.

Skema di bawah ini menggambarkan pengertian tersebut:

penulisan berita modelkronologis

Untuk menambah daya tarik, peranan gaya bahasa sangat penting. Dengan gaya bahasa yang baik dan beragam seolah dapat membawa pembaca, pendengar, dan pemirsa ke tempat kejadian perkara. Biasanya tulisan kronologis dipakai untuk pembahasan sains, teknologi, kedokteran dan sebagainya.

Penulisan jenis piramida, piramida terbalik, maupun kronologis seperti yang telah dijelaskan di atas dapat digunakan pada media massa cetak maupun elektronik. Namun untuk media televisi, faktor sinkronisasi harus diperhatikan, mengingat berita televisi harus menyesuaikan antara gambar dengan narasinya.

Formula Penulisan Berita

Kita pasti pernah mendengar istilah 5W+1H. 5W+1H ini merupakan unsur klasik dalam penulisan berita. Dengan menggunakan konsep ini semua elemen dalam sebuah berita akan terpenuhi. Istilah ini meliputi: What (apa), Who (siapa), Where (di mana), When (kapan), Why (mengapa), dan How (bagaimana).

Dengan rumusan ini, sangat mudah melihat sebuah berita, apakah secara teknis data-data dalam berita itu telah memenuhi persyaratan. Untuk mengujinya cukup dengan mengajukan pertanyaan:

  1. apa permasalahan atau kejadian yang terdapat dalam berita?,
  2. siapa yang diberitakan dalam berita itu?,
  3. di mana terjadinya peristiwa itu?,
  4. kapan terjadinya peristiwa itu?,
  5. mengapa terjadi peristiwa itu?,
  6. bagaimana terjadinya peristiwa itu?.

Berita yang baik harus memuat jawaban dari enam pertanyaan di atas. Artinya, data-data jawaban dari enam pertanyaan itu harus terdapat dalam berita. Jika itu telah ada, barulah dapat dikatakan bahwa berita tersebut telah memenuhi persyaratan teknis. Jika jawaban dari enam pertanyaan itu tidak lengkap maka berita itu akan membingungkan masyarakat, karena data-datanya tidak tersaji dengan sempurna. Rumusan tersebut juga digunakan untuk penulisan media elektronik, namun perlu ditambah lagi dengan suatu formula lain agar memudahkan pengertian bagi pemirsa televisi. Pendekatan tersebut disebut juga dengan istilah Easy Listening Formula.

Formula untuk menuju easy listening tersebut bermacam-macam, namun salah satu yang mudah diingat dan banyak diaplikasikan oleh media televisi adalah formula yang diketengahkan oleh Soren H. Munhof dalam “Five Star Approach To News Writing” dengan akronim ABC-SS yaitu singkatan dari Accuracy (tepat), Brevity (singkat), Clarity (jelas), Simplicity (sederhana), Sincerity (jujur).

1. Accuracy (tepat)

Penulisan berita harus tepat. Maksudnya bahwa penulisan berita harus sesuai dengan konteks permasalahan. Pemilihan atau penempatan orang-orang yang akan diwawancarai sebagai sumber berita harus sesuai dengan alur berita yang akan disajikan.

Transkrip hasil wawancara atau pemilihan materi yang akan diungkap juga harus tepat sesuai dengan pokok bahasan.

2. Brevity (singkat)

Pengertian brevity di sini adalah singkat. Tujuannya agar penulisan berita dimedia televisi cukup singkat tidak perlu panjang-panjang. Setiap item berita di televisi biasanya paling panjang mencapai 3 menit, tetapi pada umumnya tidak lebih dari 1,5 menit sampai 2 menit. Durasi sependek itu harus sudah termasuk “sound bite” atau cuplikan inti wawancara jika ada dan apabila dianggap menarik untuk ditampilkan.

Meskipun singkat, bukan berarti akan menghilangkan esensi peristiwa dalam setiap penyajian liputan berita tersebut. Maka dari itu salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan hal itu adalah menggunakan kata ganti yang lebih pendek, namun dengan tidak menyalahi kaidah-kaidah tata bahasa yang berlaku.

3. Clarity (jelas)

Menulis berita pada media televisi juga harus jelas (clarity). Artinya informasi tersebut jangan sampai membingungkan pemirsanya. Kejelasan harus disebut dalam penyebutan nama, istilah asing atau lafalnya. Bangunan kalimat juga harus jelas antara paragraf satu dengan paragraf lainnya dan antara kalimat satu dengan kalimat lainnya harus saling mendukung. Dengan demikian kontinuitas penulisan antara satu masalah dengan masalah lainnya akan lebih runtut dan mudah dipahami.

4. Simplicity (sederhana)

Kesederhanaan (simplicity) merupakan saran lainnya untuk diikuti dalam teknik penulisan berita. Pemirsa memiliki latar belakang yang berbeda-beda baik dari segi pendidikan, sosial, ekonomi, maupun budayanya. Meskipun demikian mereka memiliki hak yang sama dalam mendapatkan informasi tanpa dibedakan latar belakang tersebut. Untuk mengatasinya yaitu melalui pendekatan penulisan sederhana. Tidak perlu menulis sesuatu yang terlalu ilmiah, istilah-istilah asing yang tidak diketahui masyarakat. Kecuali memang karena sesuatu hal yang tidak mungkin untuk dihindarkan, misalnya memang belum ada kata terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

5. Sincerity (jujur)

Selain persyaratan tersebut, seorang penulis berita juga dituntut sifat kejujurannya (sincerity). Hal ini diperlukan agar informasi tentang peristiwa yang terjadi dapat ditulis apa adanya atau objektif. Tidak ditambah-tambah, apalagi dengan memasukkan opini pribadi reporter yang bersangkutan. Pengertian jujur juga termasuk tidak memasukan ide atau gagasan, namun mengandung kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan.

Dengan kata lain, kejujuran disini mengandung pengertian untuk tidak memanipulasikan informasi akibat faktor-faktor tertentu, misalnya atas permintaan sumber berita dengan imbalan atau kompensasi uang, barang, atau hal-hal lain yang menjerumus untuk meng-kebiri informasi. Apabila itu terjadi maka selain akan merugikan kredibilitas reporter, masyarakat juga akan merasa sangat dibohongi. Dampak yang lebih parah lagi adalah hilangnya kepercayaan terhadap media yang bersangkutan.

Keselarasan atau Sinkronisasi

Keselarasan atau sinkronisasi yaitu kesesuaian antara gambar dengan narasi dari sebuah berita. Di dalam media televisi, sajian informasi atau penulisan narasi dan gambar harus selaras antara satu dengan yang lainnya. Misal: apabila penulisan narasi di dalam naskah menguraikan tentang produksi pertanian, maka visualnya haruslah juga tentang pertanian.

Teknik penulisan secara sinkron semacam ini bisa dimulai dari penulisan naskah terlebih dahulu atau dengan cara lain yaitu gambar disunting terlebih dahulu kemudian penyusunan narasi dibuat belakangan. Dalam berita televisi, unsur visual bukan hanya sekedar unsur tambahan atau dukungan pada berita verbal. Unsur visual justru memiliki nilai berita yang lebih tinggi dan lebih obyektif. Oleh karena itu angel (sudut pengambilan gambar) dari cameraman setidaknya bisa menjelaskan suatu peristiwa yang terjadi.

Untuk mendapatkan kesesuaian antara gambar dengan narasi diperlukan kerjasama secara terus menerus antara reporter dengan cameraman. Dengan kata lain reporter dan cameraman harus saling berkoordinasi selama dalam peliputan berita. Dengan cara ini memungkinkan seorang cameraman dapat memahami gagasan reporter, begitu juga sebaliknya reporter dapat memahami rangkaian gambar yang diambil oleh cameraman untuk sajian berita visualnya. Hampir semua program televisi memerlukan kerja sama atau team work. Tanpa adanya team work, mustahil suatu program akan berhasil.
Keselarasan ataupun sinkronisasi tersebut juga dibutuhkan dalam menampilkan soundbite.

Soundbite harus berisikan informasi penting sebagai fakta original dengan menampilkan shot (gambar) sosok orang yang diambil soundbite-nya tersebut. Keselarasan antara gambar dan narasi akan memberikan daya tarik serta memudahkan pengertian bagi pemirsa televisi.

Referensi :

  • Ashadi Siregar, Bagaimana Meliput dan Menulis Berita Untuk Media Massa, (Yogyakarta: Kanisius, 1998).
  • Septiawan Santana Kurnia, Jurnalistik Investigasi, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004).