© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana cara mensucikan hati ?

Hati nurani

Hati nurani berasal dari bahasa Latin yaitu Conscientia yang berarti kesadaran, kesadaran moral yang tumbuh di dalam hati manusia dan mempengaruhi tingkah laku seseorang.

Bagaimana cara mensucikan hati?

Hati itu bagaikan kacamata. Kalau kita menggunakan kacamata yang bening, apa yang kita lihat akan tampak apa adanya. Yang putih akan jelas putihnya, yang coklat muda akan jelas warna aslinya. Namun kalau kita menggunakan kacamata hitam, apa yang kita lihat tidak akan sesuai aslinya. Yang putih akan kelihatan abu muda dan warna coklat muda akan menjadi coklat tua. Demikian juga hati, kalau hati jernih, kita akan melihat realita itu apa adanya, sementara kalau hati kita kotor atau hitam kita akan melihat realita itu tidak seperti sebenarnya.

Oleh karena itu, mulia tidaknya seseorang tidak dilihat dari tampilan lahiriahnya tapi dari performa batiniah atau hatinya.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta-harta kamu tapi melihat hati dan perbuatanmu.” (HR. Muslim)

Al Qurtubi berkata, “Ini sebuah hadits agung yang mengandung pengertian tidak diperbolehkannya bersikap terburu-buru dalam menilai baik atau buruknya seseorang hanya karena melihat gambaran lahiriah dari perbuatan taat atau perbuatan menyimpangnya.

Ada kemungkinan dibalik pekerjaan shaleh yang lahiriah itu, ternyata dihatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang menyebabkan perbuatannya tidak sah dan dimurkai Allah SWT. Sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya atau bahkan berbuat maksiat, ternyata dihatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah SWT memaafkannya.

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan lahir itu hanya merupakan tanda-tanda dhanniyyah (yang diperkirakan) bukan qath’iyyah (bukti-bukti yang pasti). Oleh karena itu tidak diperkenankan berlebih-lebihan dalam menyanjung seseorang yang kita saksikan tekun melaksanakan amal saleh, sebagaimana tidak diperbolehkan pula menistakan seorang muslim yang kita pergoki melakukan perbuatan buruk atau maksiat. Demikian Imam Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya.

Rasulullah SAW, bersabda dalam riwayat lain:“Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena hatinya ditutup oleh awan, ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberi ilustrasi yang sangat indah. Hati manusia sesungguhnya bersih atau bersinar, namun suka tertutupi oleh awan kemaksiatan hingga sinarnya menjadi tidak tampak. Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan awan yang menutupi cahaya hati kita. Bagaimana caranya?

  1. Introspeksi Diri
    Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu. (QS 59:18)

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

  2. Perbaiki Diri
    Perbaiki diri dalam bahasa populer disebut taubat. Ini merupaka tindak lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita kan menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah kekurangan-kekurangan tersebut harus kita perbaiki secara bertahap. Alangkah rugi kalau kita hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya. (QS 66:8)

    Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

  3. Tadabbur Al Qur’an
    Tadabbur Al Qur’an artinya menelaah isi al Qur’an, lalu menghayati dan mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk. Nah, di antara pupuk hati adalah tadabbur Qur’an. Allah menyebutkan orang-orang yang tidak mau mentadabburi Qur’an sebagai orang yang tertutup hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka tadabbur Qur’an. (QS 47:24)

    Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?

  4. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh
    Amal shaleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridhoi Allah SWT. Apabila kita ingin memiliki hati yang bening, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau biasa pergi ke majelis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk.
    Rasulullah SAW bersabda,

    “Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Alloh tidak akan bosan sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari)

  5. Mengisi Waktu dengan Dzikir
    Dzikir adalah ingat atau mengingat. Dzikrulloh artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam dzikir. Pertama, Dzikir Lisan artinya ingat kepada Allah dengan melafadzkan ucapan-ucapan dzikir seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha ilallah, dll. Kedua Dzikir Amali artinya dzikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran-ajaran Allah SWT dalam kehidupan. Misalnya jujur dalam bisnis, tekun saat bekerja, dll. Hati akan bening kalau hidup selalu diisi dengan dzikir lisan dan dzikir amali. (QS 2:152)

    Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

  6. Bergaul dengan Orang-orang Shaleh
    Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Karena itu, kebeningan hati erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita. Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah Allah, tekun bekerja, semangat dalam belajar, dll, diharapkan kita akan terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang pendendam, pembohong, pengkhianat, lalai akan ajaran-ajaran Allah SWT, dikhawatirkan kita pun akan terseret arus kemaksiatan tersebut. Karena Allah SWT mengingatkan agar kita bergaul dengan orang-orang shaleh seperti dikemukakan dalam QS 18:28.

    Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

  7. Berbagi dengan Fakir, Miskin, dan Yatim
    Berbagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kebeningan hati, sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang lain.
    Rasulullah SAW bersabda,

    “Abu Hurairah r.a. bercerita bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah SAW tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau SAW menegaskan, “Bila engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah orang-orang miskin dan sayangi anak-anak yatim.” (HR. Ahmad)

  8. Mengingat Mati
    Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk mengurangi kehidupan. Kebeningan hati berkaitan erat dengan kesadaran bahwa suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan menipis dan akhirnya habis. Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan hati dari awan kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah Saw menganjurkan agar sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening.

    “Anas r.a mengatakan Rasulullah SAW bersabda: “Dulu, aku pernah melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang berziarahlah, karena ia dapat melembutkan hati, mencucurkan air mata, dan mengingatkan akan hari akhirat.” (HR. Hakim)

  9. Menghadiri Majelis Ilmu
    Hati itu bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Di antara pupuk hati adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majelis ilmu akan menjadi media pensucian hati. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Allah SWT akan menurunkan rahmat, ketenangan dan barokah pada orang-orang yang mau menghadiri majelis ilmu dengan ikhlas.

    “Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malaikat akan menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah akan menyebutnya pada kumpulan (malaikat) yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

  10. Berdo’a kepada Allah SWT
    Allah SWT berkuasa untuk membolak-balikan hati seseorang. Karena itu sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan dari hati yang busuk dan diberi hati yang hidup dan bening. Menurut Ummu Salamah r.a. do’a yang sering dibaca Rasulullah saat meminta kebeningan hati adalah: Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika. Perhatikan riwayat berikut:

    “Syahr bin Hausyab r.a. mengatakn bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai ibu orang-orang yang beriman, do’a apa yang selalu diucapkan Rasulullah SAW saat berada disampingmu?” Ia menjawab: “Do’a yang banyak diucapakannya ialah “Ya Muqallibal quulub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak balik qalbu, tetapkanlah qalbuku pada agama-Mu).” Ummu Salamah melanjutkan, “aku pernah bertanya juga, “Wahai Rasulullah,alangkah seringnya engkau membaca do’a ini, Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Mensucikan hati dikenal dengan istilah riyadah. Tujuan riyadah adalah untuk menguasai hawa nafsu dalam rangka pembersihan jiwa agar bisa lebih dekat dengan Allah. Tindakan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dalam mengejar kehidupan duniawi merupakan tabir penghalang antara manusia dan Tuhan.

Sebagai usaha untuk mensucikan hati, yang bertujuan untuk menyingkap tabir yang membatasi manusia dengan Tuhan, ahli tasawuf membuat suatu sistem hierarki yang tersusun atas tiga tingkatan, yakni takhalli , tahalli , dan tajali .

  • Takhalli , yakni membersihakan diri dari sifat-sifat tercela, dari maksiat lahir dan maksiat batin. Di antara sifat-sifat tercela yang mengotori jiwa (hati) manusia ialah hasad (dengki), hiqd (rasa mendongkol), su’uzhann (buruk sangka), takabbur (sombong), ‘ujub (membanggakan diri), riya’ (pamer), bukhl (kikir), dan ghadab (pemarah).

    Dalam hal ini Allah berfirman:

    Artinya : Berbahagialah orang yang mensucikan jiwanya dan rugilah orang yang mengotorinya (QS. Asy-Syams 9-10).

    Takhali juga berarti menghindarkan diri dari ketergantungan terhadap kelezatan hidup duniawi. Hal ini akan dapat dicapai dengan jalan menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam segala bentuknya dan berusaha melenyapkan dorongan hawa nafsu.

  • Tahalli , yakni mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji, dengan bersikap taat dan batin terhadap ketentuan-ketentuan Allah.

    Tahalli ini merupakan tahap pengisian jiwa yang telah dikosongkan dengan sifat terpuji, Al-Ghazali menerangkan bahwa bersifat baik atau berakhlak terpuji berarti menghilangkan semua kebiasaan tercela, dan bersamaan dengan itu membiasakan diri dengan sifat-sifat yang baik, mencintai dan melakukannya.

  • Tajalli, yakni terungkapnya nur gaib untuk hati. Dalam hal ini, kaum sufi mendasarkan pendapatnya pada firman Allah:

    Artinya: Allah adalah (pemberi) nur (cahaya) langit dan bumi” (QS. An-Nur: 35)

Dalam upaya riyadah diharuskan menjaga hati dan memperbaikinya, serta mengawasi gerak-gerik hati dengan pengawasan yang sungguh-sungguh. Karena hati adalah anggota tubuh yang paling mengkhawatirkan, pengaruhnya paling kuat, permasalahannya sangat pelik, paling susah dan sulit memperbaikinya serta merawatnya.

Pada dasarnya sifat tercela dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu maksiat lahir dan maksiat batin (penyakit batin).

  • Maksiat lahir yaitu segala sifat tercela yang dikerjakan oleh anggota lahir yaitu: tangan, kaki, telinga, mata, hidung, mulut dan perut.

  • Maksiat batin adalah segala sifat tercela yang diperbuat oleh batin yaitu hati, karena hati merupakan sumber penyakit batin. Maksiat batin sangat berbahaya, karena maksiat batin tidak kelihatan dan apabila kurang diperhatikan, maka akan sangat sukar untuk menghilangkannya, dikarenakan penyakit batin tidak mungkin akan hilang dengan sendirinya, jika tanpa ada usaha dari manusia itu sendiri membersihkannya.

Referensi : Sokhi Huda, Tasawuf Kultural: Fenomena Shalawat Wahidiyah (Yogyakarta: LKIS Pelangi Aksara, 2008).

Salah satu cara menyucikan hati adalah dengan konsep Manajemen Qalbu. Adapun pengertian manajemen qalbu ialah mengelola qalbu supaya potensi positifnya bisa berkembang maksimal mengiringi kemampuan berpikir dan bertindak sehingga sekujur sikapnya menjadi positif, dan potensi negatifnya segera terdeteksi dan dikendalikan sehingga tidak berbuah menjadi tindakan yang negatif. Qalbu yang telah termenej dengan baik akan menjadi qalbu bersih yang akan membuat pikiran semakin jernih dan akan efektif dalam berpikir. Bagaimana bisa mengelola Qalbu menjadi sesuatu yang bisa dibaca, digali, ditata, dan dikembangkan. Dibawah ini akan diuraikan:

1. Mengarahkan Qalbu

Adalah benar bahwa kondisi qalbu itu selalu tidak konsisten. Akan tetapi sebenarnya, kalau mau mempelajari seluk beluk hati, ternyata yang membuat hati tidak konsisten ada dua sebab. Pertama, bisa dari hawa nafsu sebagai faktor dari dalam.

2. Lingkungan atau sistem yang membesarkannya sebagai faktor dari luar

Untuk menyikapi sebab dari dalam, maka kunci untuk membebaskan hati agar bisa konsisten adalah dengan menunda keinginan. Contohnya, ketika menginginkan kekayaan, sah-sah saja setiap manusia ingin bergelimang harta benda. Akan tetapi, yang perlu diyakini adalah untuk apa semua harta itu kelak? Apakah untuk memuaskan hawa nafsu atau untuk menghidupkan orang disekitar lingkungannya. Kalau niat untuk memenuhi keinginan semata, berarti telah salah menempatkan diri di jalan-Nya. Padahal yang mampu membolak-balikkan hati hanyalah Allah. Dengan lain kata, kalau hati tidak konsisten mungkin yang menjadi penyebabnya adalah faktor dari dalam yaitu hawa nafsu. Tingkah laku yang tampak dari seseorang adalah cermin dari kondisi hati pemiliknya. Kalau dia hidup dilingkungan yang kurang kondusif dan tidak pandai menjaga hati, maka hal negatif dari lingkungan itu akan mempengaruhi tingkah lakunya. Sebaliknya, bila sistem kondusif dan mendukung untuk melakukan perbaikan diri, maka hal positif dari lingkungan itu akan mempengaruhi dirinya pula. Tapi tidak hanya itu, kesadaran untuk melakukan perubahan diri ke hal yang positif juga sangat mempengaruhi. Tentu dengan mempunyai niat yang bulat, kuat, kokoh, serta tekad yang besar. Tekad juga harus kita tanamkan dalam diri, tidak hanya sekali atau dua kali saja, tapi terus menerus.Ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengarahkan hati, yaitu:

a. Paksa Hati Untuk Berbuat Taat

Manusia dan jin diciptakan Allah untuk beribadah dan untuk menaati-Nya. Semua ini bukan karena Allah membutuhkan ketaatan makhluk, tetapi semua perintah ini untuk menjadikan manusia terhormat, mulia, dan bisa kembali ke tempat asalnya yaitu surga. Jadi, kalau manusia masuk neraka bukan karena kurangnya karunia Allah, tetapi karena manusia itu sangat gigih untuk menjadi ahli neraka. Hal ini karena banyak maksiat yang dilakukan. Allah Mahatahu bahwa kecendrungan manusia lebih besar kepada hawa nafsu dan kecil sekali kepada ketaatan. Maka kalau mendapat perintah dari Allah dalam bentuk apapun, nafsu akan mencondongkan qalbu untuk tidak melakukannya, bahkan tidak segan-segan untuk mengabaikan. Misalnya perintah shalat, berapa banyak orang mengabaikan perintah ini. Walaupun telah melakukan, tetapi berapa banyak yang tepat waktu, kalau sudah tepat waktu berapa orang yang meninggalkan shalat berjamaah, dan kalau sudah berjamaah berapa orang yang khusyuk. Banyak orang yang menikmati sholat dengan pikiran yang melantur, bahkan banyak hal yang duniawi yang bisa selesai dalam shalat. Yang paling parah lagi, tidak pernah merasa bersalah oleh semua ini.

Tidak masuk akal orang yang ingin masuk surga, tetapi amalan-amalan yang dipilih dan dilakukannya adalah amalan ahli maksiat.

Maka, jika belum bisa ikhlas dan merasa ringan hati untuk taat kepada perintah Allah, paksakanlah diri untuk taat. Mudah-mudahan Allah melihat kegigihan dalam memaksa diri untuk taat, dengan izinnya akan menetapkan hati kepada ketaatan.

b. Kendalikan qalbu

Seorang bertambah dewasa ternyata tidak cukup hanya dengan bertambah umur, ilmu, pangkat, dan kedudukan. Seorang dikatakan dewasa saat dia mampu mengenali hati dan mengendalikannya dengan baik. Inilah sesungguhnya kunci bagi terkuaknya ketenangan batin. Orang yang dilanda amarah, kalau tidak pernah mau mengendalikan suasana hati akan celakalah dibuatnya karena akan menjadi orang yang berlaku aniaya terhadap orang lain. Cara yang efektif untuk mengendalikan suasana hati adalah dengan tidak mengingat-ingat kata-kata yang menyakitkan yang pernah dilontarkan oleh orang lain, baik itu teman maupun saudara. Jangan pula kita sibuk membayangkan raut mukanya yang sedang merah atau sinis ketika dia melontarkan kata-kata menyakitkan itu. Begitu qalbu dan pikiran mulai tergelincir ke dalam perasaan seperti itu, cepat-cepat kendalikan. Alihkan segera suasana qalbu ini dengan cara mengenang sekecil apa pun kebaikan yang pernah dilakukannya. Pendek kata, hal yang hanya boleh diingat-ingat adalah semua kebaikan yang pernah dia lakukan, sambil menghapus semua keburukan yang pernah dia perbuat dari pikiran. Allah sungguh Mahakuasa membolak-balik hati hamba-hamba-Nya. hasil yang amat mengagumkan akan didapati setelah perjuangan untuk mengubah segala sesuatu yang buruk menjadi tampak baik.36Kalau belum mampu melakukan amalan-amalan yang besar, tidakkah lebih baik memelihara amal-amal yang mungkin tampak kecil dan sepele dengan terus menyempurnakannya dan memelihara niat agar senantiasa ikhlas dan benar. Mudah-mudahan dengan kesanggupan menyempurnakan dan memelihara keikhlasan niat di hati tatkala mengerjakan amal-amal kecil tersebut, suatu saat Allah berkenan mengaruniakan kesanggupan untuk tetap ikhlas ketika harus mengerjakan amal-amal yang lebih besar.37Besar atau kecilnya suatu amalan yang dikerjakan dalam hidup ini, apabila didasari oleh qalbu yang ikhlas seraya diiringi niat dan cara yang benar, niscaya akan melahirkan sikap ihsan. Artinya selalu merasakan kehadiran Allah dan akan selalu teringat kepada-Nya dalam setiap gerak-gerik dan setiap denyut nadi. Inilah satu kondisi yang akan membuat hati selalu merasakan kesejukan dan ketentraman. Allah memberi jaminan, Artinya :

“…Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram”