Bagaimana Cara Menjaga Sholat Agar Khusyuk?

Sholat merupakan ibadah umat muslim yang dilakukan lima kali sehari. Sholat adalah cara berkomunikasi antara makhluk dengan Tuhan-Nya.

Shalat merupakan aktivitas hati (jiwa), bukan aktivitas pikiran. Shalat hakikinya merupakan komunikasi batin antara hamba dengan Tuhannya. Apabila hubungan batin (khusyu’) tidak terbangun maka shalat yang dilakukan tidaklah sempurna bahkan sia-sia karena komunikasi batin dengan Tuhan tidak terjalin. Membangun khusyu’ dengan cara konsentrasi, menatap satu titik di tempat sujud, memahami arti bacaan, menghadirkan Allah didalam hati, dan sebagainya ternyata tidaklah mudah, atau sulit bahkan teramat sulit. Menatap titik ditempat sujud memang membantu agar pandangan mata tidak kemana-mana, akan tetapi tidak membantu mencegah pikiran untuk tidak kemana-mana. Demikian pula dengan konsentrasi, mempraktekkan konsentrasi dalam shalat seperti mengarahkan anak panah dari busur menuju sasaran bidik rupanya juga kurang logis.

Karena shalat itu sesungguhnya adalah aktivitas hati (jiwa), bukan aktivitas pikiran. Padahal konsentrasi adalah aktivitas pikiran. Ali bin Abi Thalib menjelaskan,

Khusyu tempatnya ada di hati. Ia adalah perasaan di dalam jiwa yang nampak dari anggota badan dalam bentuk ketenangan dan ketawadhukan. Khusyu merupakan buah dari kokohnya keyakinan di dalam hati terhadap pertemuan dengan Allah.”

Dalam QS Al-baqaroh 45-46 disebutkan, bahwa orang yang khusyu itu adalah orang yang senantiasa yakin akan pertemuannya dengan Allah dan mereka akan kembali kepada-Nya. Keyakinan (akan pertemuannya dengan Allah) adalah sebuah “kesadaran” dengan sepenuh hati yang ada didalam jiwa.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. QS Al-baqaroh 45-46

Khusyu’ adalah kesadaran. Secara sederhana khusyu’ adalah sebuah “kesadaran”. Sehingga shalat yang khusyu’ adalah shalat yang dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa setiap sikap dan gerakan merupakan komunikasi batin dengan Allah SWT. Empat hal untuk mencapai khusyu’, yaitu:

Khusu’ adalah aktivitas hati yang dapat dibangun dengan 3 hal, yang kesemuanya berkaitan dengan kesadaran batin atau jiwa, yaitu: sadar, pasrah, dan nyambung. Karena khusu’ harus berlangsung sepanjang aktivitas shalat, maka kesadaran batin itu harus dipertahankan dan dibangun kembali di setiap sikap dalam rukun shalat, baik berdiri, duduk, ruku’ dan sujud. Aktivitas ini disebut tuma’ninah. Sehingga tuma’ninah sebenarnya merupakan aktivitas untuk membangun kembali kesadaran batin dengan 3 hal itu. Dengan demikian maka untuk mencapai khusyu’ sepanjang shalat dapat dilakukan dengan empat hal, yaitu Sadar, Pasrah, Nyambung, dan Tuma’ninah.

  1. Membangun kesadaran batin (Sadar).
    Membangun kesadaran batin adalah hal yang dilakukan pada aktivitas paling awal dari pelaksanaan shalat. Dalam rukun shalat kesadaran awal ini biasa dikenal sebagai “niat.” Rasulullah bersabda; “Innamal a’maalu bin niyyah”, sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya). Membangun kesadaran atau niat ini bukanlah konsentrasi yang harus dilakukan dengan mengerahkan segenap pikiran, tetapi justru mengosongkan atau melepaskan pikiran dari segala ikatan nafsu dunia, lalu mengelola batin atau jiwa untuk menghadirkan “Aku”.

    “Aku” disitu bukanlah fisik. Tubuh ini bukanlah ‘‘aku’’, sama seperti ketika menyebutkan ‘‘rumahku’’ berarti rumahku bukan ‘‘aku’’. Karena rumah dan aku adalah dua wujud yang berbeda dan terpisah. Begitu pula tubuhku, tanganku, kepalaku. Semuanya terpisah dengan aku. Jadi tubuh kita yang bergerak bukan ‘‘aku’’-nya kita. ‘‘Aku’’ adalah jiwa. Allah berfirman

    ''wahai jiwa yang tenang kembalilah ke Rab-mu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.” (Al-Fajr; 27-28).

    Membangun kesadaran ini cukup memerlukan waktu 1 sampai 3 detik saja, yaitu dengan mengucapkan kalimat, “Aku akan berjumpa dengan Sang Khalik” dalam suasana hati yang tenang. Pengucapkan kalimat itu boleh pula dilakukan secara lisan.

  2. Sikap pasrah
    Setelah mengucapkan “niat”, hal yang dilakukan berikutnya adalah “pasrah”. Dalam pemahaman yang sederhana, pasrah adalah rela. Pasrah merupakan aktivitas untuk mengosongkan atau melepaskan pikiran dari belenggu persoalan duniawi dan merelakan semuanya untuk ditinggalkan, agar “sang aku” mudah bertemu Allah.

    Pasrah dapat dilakukan dengan cara mengendorkan otot-otot seluruh tubuh sehingga tidak ada anggota tubuh yang tegang kecuali kedua kaki yang menopang berat badan. Saat pasrah tanpa disadari mata akan terpejam, kepala akan tertunduk, urat-urat di wajah mengendor, kedua bahu dan kedua tangan akan lemas terkulai. Pada saat inilah perasaan tenang dan damai muncul. Dengan perasaan pasrah maka pikiran akan kosong, tidak ada lagi persoalan yang membebani pikiran, semua telah dilepaskan (direlakan), sehingga menghasilkan perasaan rileks, kemudian jiwa menjadi tenang dan damai.

  3. Nyambung (Shilatun).
    Sayid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran menyebutkan bahwa shalat adalah shilatun (nyambung) dan liqo’ (pertemuan) antara seorang hamba dan Tuhannya. Nyambung (connect/ shilatun) adalah getaran jiwa yang menghubungkan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Nyambung dilakukan setelah tercapai perasaan tenang dan damai akibat dari pasrah, dengan mengucapkan “takbiratul Ihram.”

    Nyambung adalah aktivitas batin dimana sang aku seolah tengah terbang keatas meninggalkan raga yang telah pasrah menuju kehadirat Sang Khalik. Mi’raj disertai dengan ucapan kalimat “takbiratul Ihram.” Saat takbiratul ihram dengan mengucapkan kalimat “Allahu Akbar”, rasakan “sang aku” seolah terbang keatas meninggalkan raga yang telah pasrah menuju kehadirat Sang Khalik. Sang aku terbang keatas, berpisah dengan tubuh dan jiwa ini menyaksikan raga itu bukanlah “aku”. Sengajakan sang aku pergi menuju Allah, menyatu bersama seluruh alam semesta dengan Sang Khalik. Inilah yang oleh para sufi disebut “wahdatul wujud”, yaitu menyatunya jiwa atau ruh yang berasal dari nurullah bersama Sang Khalik sumber nurullah.

    Wahdatul wujud ini dalam khasanah sufi jawa dikenal dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti. Proses “nyambung” ini bagi pemula membutuhkan waktu beberapa saat antara 5 sampai 10 detik, namun setelah terbiasa proses ini bisa berlangsung cukup singkat antara 1 sampai 2 detik saja. Setelah proses nyambung ini dilalui barulah membaca doa-doa wajib (al-fatihah) dan bisa pula ditambah doa sunah (doa iftitah dan ayat al quran).

  4. Tuma’ninah sebagai kesadaran disetiap sikap dalam shalat.
    Tuma’ninah adalah sikap tenang sejenak untuk membangun kesadaran ilahiyah, yang dilakukan di awal pada setiap sikap dalam rukun shalat (berdiri, rukuk, duduk dan sujud). Pada setiap setelah selesai melakukan suatu gerakan shalat, yaitu pada awal setiap sikap tubuh dalam rukun shalat, janganlah langsung membaca bacaan (sunah) shalat tetapi lakukan terlebih dahulu tuma’ninah.

    Pada saat rukuk kita harus mempunyai kesadaran penuh bahwa kita sedang rukuk dalam rangka menyembah Sang Khalik. Pada saat sujud kita juga harus sadar bahwa kita sedang sujud. Demikian pula saat berdiri, duduk dan seterusnya.

    Hakikinya tuma’ninah adalah sarana untuk membangkitkan kesadaran batin dengan cara tenang sejenak untuk melakukan 3 hal yaitu sadar, pasrah, dan nyambung. Di antara kesalahan besar yang terjadi pada sebagian orang yang shalat adalah tidak melaksanakan tuma’ninah ketika shalat. Padahal tuma’ninah adalah salah satu rukun dalam shalat. Jika tidak melakukan tuma’ninah maka shalatnya tidak sah.

Indikator ketidak khusyu’an sholat:

Dua indikator sederhana yang bisa dijadikan sebagai alat kontrol yang menunjukkan shalat yang kita lakukan tidak khusyu’ yaitu,

  • Pertama adalah apabila tubuh kita tidak rileks, urat-urat di wajah tegang, atau kedua bahu kaku. Hal itu mengindikasikan hilangnya kepasrahan karena ada sesuatu yang membebani pikiran.

  • Kedua adalah apabila kita melakukan gerakan dan bacaan shalat secara otomatis tanpa melalui kesadaran jiwa, disebabkan karena rutinitas sehingga hafal seluruh gerakan dan doanya. Hal itu mengindikasikan bahwa shalat yang kita lakukan tanpa tuma’ninah, yang berarti tiadanya kesadaran.

Shalat adalahMi’raj-nya Orang Mukmin. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa

Asshalatu mi’rajul mu’minin”, sesungguhnya shalat itu mi’raj-nya orang mukmin.

Mi’raj adalah naiknya jiwa (nafs) seorang hamba menuju ke hadirat Sang Khalik dengan meninggalkan segala ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia. Jika Nabi Muhammad SAW naik ke langit Sidratul Muntaha (mi’raj) dalam peristiwa Isra Mi’raj untuk bertemu langsung dengan Allah SWT, maka seorang mukmin melakukan mi’raj untuk bertemu dengan Allah SWT melalui sarana shalat. Shalat adalah satu-satunya perintah yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad (tanpa perantara Malaikat Jibril) saat beliau menghadap (mi’raj) kehadirat Allah SWT. Shalat pada hakekatnya adalah sarana mi’raj rohani mukmin untuk menuju kehadirat Allah SWT.

Sumber : http://lonndry.blogspot.co.id/2013/03/tips-agar-mendapatkan-shalat-khusyu_902.html

Menurut bahasa arab, shalat berarti do’a. Kemudian secara istilah yaitu ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan beberapa perbuatan yang dimulai dengan takbir disudahi dengan shalatm dan memenuhi beberapa syarat yang ditentukan. Dan shalat adalah tangga bagi orang-orang beriman dan tempat untuk berkomunikasi kepada Allah, tiada perantara dalam shalat antara hambanya yang mukmin dengan Tuhannya. Dengan shalat akan tampak bekas kecintaan seorang hamba dengan tuhannya, karena tidak ada yang lebih menyenangkan bagi orang (mukmin) yang mencintain melainkan ber-khalwat kepada zat yang dicintainnya, untuk mendapatkan apa yang dimintanya.

Shalat yang bermakna adalah shalat yang khusyu’. Khusyu’ secara etimologi berarti tunduk dan diam/tenang. Secara terminologi khusyu’ adalah ketundukan hati di hadapan Tuhan dengan penuh kepasrahan dan kesadaran akan kehinaan diri. Kekhusyukan hati akan diikuti kekhusyukan seluruh anggota badan. Khusyu’ tempatnya di hati, sedang ekspresi dan indikatornya terlihat pada anggota badan. Orang yang shalatnya tidak mencegahnya dari kemungkaran, tidak akan menemukan jalan khusyu’.

Al-Ghazali (2001) menyatakan bahwa kualitas shalat ditentukan oleh kesadaran hati dimulai pada takbiratul ihram hingga salam . Keadaan batin yang kondusif terhadap penyempurnaan makna shalat, dapat dilakukan dengan enam cara yakni :

  • Kesadaran
  • Pemahaman
  • Pengagungan
  • Kedahsyatan
  • Pengharapan
  • Rasa malu

Enam hal tersebut dijelaskan Hasan el-Qudsy sebagai: (1) kehadiran hati, yaitu kosongnya hati dari segala sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan apa yang dikerjakan atau diucapkan dalam shalat, (2) pemahaman mendalam terhadap apa yang dibaca, (3) pengagungan dan penghormatan kepada Yang disembah, (4) rasa takut yang muncul atas kelalaian yang dilakukan, (5) pengharapan kepada pahala Allah, (6) malu kepada Allah atas kelalaian atau kealpaan yang telah dilakukan.

Beberapa cara meraih shalat khusyuk antara lain dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  • Ma’rifatullah
  • Kesadaran akan kedudukan shalat
  • Mempersiapkan diri untuk shalat
  • Menguasai fikih tata cara shalat
  • Takbiratul ikhram
  • Menghayati doa iftitah
  • Menadaburkan bacaan al-Qur’an
  • Menyadari dan merasakan kehinaan diri di saat ruku’
  • Merasakan kedekatan dengan-Nya saat sujud
  • Memahami dan menghayati makna tasyahud
  • Melakukan dengan sepenuh hati
  • Keyakinan yang kuat
  • Memperbanyak baca al- Qur’an, zikir dan istighfar
  • Introspeksi diri tiada henti
  • Merasakan nikmatnya shalat

Tujuan dan metode shalat ini apabila dicermati terlihat adanya titik temu dengan tujuan logoterapi dalam psikologi eksistensial dan tazkiyatunnafs dalam ilmu tasawuf. Ketiganya sama-sama bertujuan untuk memiliki sikap dan perilaku bersih, suci dan positif, serta bermanfaat atau bermakna dalam kehidupan.

Dengan demikian metode ketiga disiplin ilmu tersebut bisa dipadukan untuk mengefektifkan hasil yang ingin dicapai dari shalat. Objek shalat yang diatur dalam fikih bisa dijadikan objek simbolis untuk dianalisis dan dimaknai, sementara beberapa teori psikologi seperti logoterapi memberi acuan teknik dalam memaknainya secara empirik, dan ajaran-ajaran tasawuf seperti tazkiyatunnafs memberi acuan teknik dalam memaknainya secara ruhaniyah. Shalat dalam ilmu psikologi termasuk salah satu bagian dari religiusitas yang disebut ritual. Dalam hal ini banyak bukti menunjukkan bahwa religiusitas berhubungan positif dengan hal-hal positif dan berhubungan negatif dengan hal-hal negatif.

King dan Ames, menyatakan bahwa penelitian yang menghubungkan religiusitas dan perilaku moral mempunyai hasil yang positif. Agama berfungsi sebagai sumber pengembangan moral karena agama berhubungan positif dengan moral. Selain itu, hasil penelitian Smith, Matthew, Heidi dan Gerrod mendeskripsikan bahwa seseorang yang religius apabila melakukan sesuatu yang tidak pantas mereka merasa bersalah dan malu ketika melakukan perbuatan yang tidak bermoral.

Berdasarkan tata cara meraih shalat khusyu’, maka dirumuskan teknik yang perlu dilakukan dalam melatih muslim untuk meraih hakikat dan tujuan “Mendirikan Shalat” yakni “Mendirikan Kebenaran”. Secara garis besar, teknik tersebut dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:

  1. Tahap Persiapan, meliputi:
    a. Memahami tujuan/tugas hidup manusia
    b. Memahami tujuan shalat
    c. Memahami fikih tatacara thaharah dan shalat
    d. Memahami makna dan hakikat Thaharah (mandi dan wudhu)
    e. Memahami makna dan hakikat bacaan dan gerakan Shalat

  2. Tahap Pelaksanaan

  • Pre-shalat
  1. Melakukan mandi bermakna
  2. Melakukan wudhu bermakna
  • Shalat
  1. Membangun kesadaran, dengan hadirkan hati di Baitullah, meraih ma’rifatullah
  2. Menghayati bacaan dan gerakan shalat dari takbiratul ihram sampai salam
  3. Kerahkan seluruh ruhani, hati, jiwa, rasa, dan raga guna meraih predikat “Ihsan” (beribadah seolah-olah melihat Allah; setidak-tidaknya sangat yakin bahwa Allah senantiasa melihat kita).
  • Pasca-Shalat
  1. Baca wirid dengan menghayati makna bacaan
  2. Merenung, berkaca diri, koreksi diri, berazam memperbaiki diri, menetapkan langkah-langkah meraih predikat manusia beriman, berbakti, mulia, berkarya dan berakhlak mulia.
  3. Tahap Perwujudan: yakni thaharah dan shalat dalam kehidupan dalam bentuk “Bersifat dan berperilaku mulia, berguna bagi diri sendiri dan seluruh makhluk sebagai perwujudan fungsi kehambaan dan kekhalifahan”.

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Munajjid rahimahullah dalam kitab beliau “33 Kiat Mencapai Khusyu’ dalam Shalat” menjelaskan; bahwa untuk mencapai khusyu’ dalam shalat ada beberapa kiat, diantaranya:

  • Mempersiapkan diri sepenuhnya untuk shalat Adapun entuk-bentuk persiapannya yaitu ikut menjawab azan yang dikumandangkan oleh muazin, kemudian diikuti dengan membaca do’a yang disyariatkan, bersiwak karena hal ini akan membersihkan mulut dan menyegarkannya, kemudian memakai pakaian yang baik dan bersih,sebagaimana firman Allah swt:

    Terjemahnya :“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makanlah dan minumlah. Jangan berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.”(Q.S. al-A’raaf: 31)

  • Tuma’ninah
    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Nausyajan, Abu Ja’far ‘al-Suwaidi telah menceritakan kepada kami al-Walid bin Muslim dari al-Auza’idari Yahyabin Abu Kasir dari ‘Abdullah bin Abi Qatadah dari ayahnya berkata: Rasulullah saw bersabda: “Sejelek-jelek manusia yang mencuri adalah orang yang mencuri shalatnya,” para sahabat bertanya: wahai Rasulullah bagaimana seseorang mencuri shalatnya? Rasulullah Shallallahu’ alaihi wasallam bersabda: "Yaitu seorang yang tidak sempurna ruku’ dan sujudnya,

  • Menghayati makna bacaan shalat
    Sikap penghayatan tidak akan terwujud kecuali dengan memahami makna setiap yang dibaca. Dengan memahami maknanya, maka seseorang akan dapat menghayati dan berfikir tentangnya, sehingga mengucurlah air matanya, karena pengaruh makna yang mendalam sampai ke lubuk hatinya.

  • Membaca surat sambil berhenti pada tiap ayat
    Hal ini merupakan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tentang bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membaca al-fatihah, yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Basmalah, kemudian berhenti, kemudian membaca ayat berikutnya lalu berhenti. dan dilakukan seterusnya sampai selesai.