Bagaimana cara menggantikan kasih sayang yang tidak didapatkan di rumah?

Kata teman saya, kasih sayang itu ibarat nutrisi buat kehidupan seseorang. Ada nutrisi-nutrisi yang pokok, ada juga yang sifatnya suplemen. Nutrisi pokok idealnya didapatkan dari rumah, sementara suplemennya bisa didapatkan dari hal-hal lain. Tapi nggak semua orang beruntung mendapatkan “nutrisi pokok” yang ia butuhkan dari rumah. Menurutmu, bagaimana cara anak yang tidak mendapatkan kasih sayang di rumah untuk tetap bisa memenuhi kebutuhannya akan afeksi tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain?

2 Likes

Setiap manusia itu berhak dicintai dan berhak mendapatkan kasih sayang. Salah satu orang yang pasti mencintai kita adalah orang tua bahkan mereka menjadi orang pertama yang mencintai kita bahkan sebelum kita ada di dunia. Namun tidak semua anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapat kasih sayang dari orang tua atau keluarga. Entah karena orangtuanya yang telah tiada, atau ketika bertempat tinggal jauh dari orangtua, dan alasan-alasan lain.

Saya sepakat, kasih sayang bagaikan nutrisi pokok yang seharusnya dipenuhi agar menenangkan batin dan agar kita dapat merasakan kebahagiaan. Kasih sayang sebenarnya sifatnya universal, bisa didapatkan dari siapapun dan hal apapun. Bentuk kepedulian temanmu kepadamu juga termasuk bagian dari kasih sayang antar sesama. Entah itu berbentuk perbuatan tolong menolong, dukungan atau support, atauu bahkan do’a semua adalah bentuk dari kasih sayang. Bahkan kita sendiri bisa memberi kasih sayang kepada diri sendiri, dengan melakukan sesuatu yang membuat kita bahagia.

2 Likes

Hmm saya masih kurang paham sih akan arti kasih sayang yang dimaksudkan, karena menurut saya setiap orang tua dan keluarga memiliki cara menuangkan rasa sayang yang berbeda-beda. Ada yang mungkin dari luar terlihat cuek tapi sebenarnya didalamnya sangat care, entah jika kita sakit, kesusahan, sedih dll. Orang tua dan keluarga akan menjadi garis terdepan untuk melindungi anggota keluarganya.

Terkadang tiap orang berbeda dalam menerima sebuah perlakuan, ia sangat disayang tapi penerimaannya berbeda, malah ia merasa tidak disayang. Hal tersebut yang menurut saya menjadi problemnya, karena itu tadi CARA yang berbeda.

Tapi toh jika memang ada yang benar-benar sampai saat ini belum bisa merasakan hangatnya rumah menurut saya ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan :

  1. Lebih mendekatkan diri dengan orang rumah, hal ini bisa dilakukan dengan banyak cara, misalnya mulailah obrolan dan kemudian berdiskusi bersama dan kegiatan lainnya yang dapat mengakrabkan dengan keluarga.
  2. Mencoba berbicara pelan-pelan dengan keluarga terkait perasaan yang dirasakan, karena komunikasi merupakan hal yang sangat penting
  3. Menyayangi dan peduli dengan diri sendiri bahwa dirimu ini berarti, kemudian baru menyayangi orang lain
  4. Coba diskusi dengan orang lain yang menurutmu dekat dan bisa diajak diskusi
  5. Kendalikan diri dengan problem yang ada jangan sampai menyakiti diri sendiri
1 Like

Pertanyaan ini mengingatkan saya pada seorang teman dekat yang (berdasarkan ceritanya) tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarganya. Masalah ini sangat berdampak bagi kesehatan mental teman saya. Namun, semakin saya mempelajari cerita-ceritanya, saya mendapati bahwa sebetulnya keluarganya menyayangi dia, namun caranya tidak sesuai dengan bahasa cintanya. Mungkin ini sama seperti yang dikatakan oleh kak @Diah_Atika_Sari tadi.

Menurut Dr. Chapman dalam bukunya The Five Love Languages, terdapat lima bahasa cinta primer yang mungkin dimiliki oleh seseorang. Lima itu terdiri dari :

  1. Words of affirmation
  2. Quality time
  3. Physical Touch
  4. Act of services
  5. Receiving gift

Bahasa cinta ini adalah cara seseorang untuk mengekspresikan dan menerima cinta atau kasih sayang. Tidak semua orang mengkomunikasikan cinta atau kasih sayang kepada orang lain dengan cara yang sama. Setiap orang memiliki preferensi individunya. Masalahnya, perbedaan bahasa cinta ini kalau tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan cinta yang diberikan tidak tersampaikan dengan baik ke orang lain atau bahkan menimbulkan kesalahpahaman.

Misalnya bahasa cinta seseorang adalah kalimat penguatan (word of affirmation), sementara bahasa cinta partnernya adalah act of services. Saat seseorang ini menghadapi sebuah masalah, partnernya membantunya menyelesaikan permasalah dengan tindakan sebagai bentuk kasih sayangnya. Bisa jadi meskipun si partner sudah menunjukkan bentuk supportnya tapi bisa jadi orang tadi tidak merasa tercukupi karena ia tidak mendapatkan kalimat penguatan yang dia butuhkan dari si partner. Nah, hal-hal semacam ini seringkali menimbulkan kerenggangan dalam hubungan karena masing-masing orang merasa tidak dipahami oleh satu sama lain.

Mengenai pertanyaan di atas, saya sebetulnya agak tidak setuju dengan kalimat menggantikan kasih sayang yang tidak didapatkan di rumah. Kasih sayang di rumah, selama masih bisa diusahakan, harusnya dibangun dan dipelihara, bukan digantikan. Kalau permasalahannya adalah perbedaan love language tadi, solusinya kembali lagi ke komunikasi yang baik. Saat masing-masing pihak mau saling mendengarkan dan memahami, saya rasa perbedaan bahasa cinta ini seharusnya tidak lagi menjadi masalah.

Meskipun pahit, perlu diakui bahwa faktanya memang tidak semua rumah adalah rumah. Ada orang yang terpaksa bertumbuh di lingkungan keluarga yang tidak kondusif dan harus merasakan dampak negatifnya dalam perkembangan mental dan emosional. Saya kira kalau dampak negatif tersebut berpengaruh signifikan dalam kehidupan seseorang, ada baiknya ia mengkonsultasikan hal tersebut pada profesional agar ia mendapatkan jalan keluar dari permasalahanya.

Tapi tentang pemenuhan kasih sayang, sebetulnya sumber kasih sayang itu bukan cuma dari keluarga. Dari perspektif spiritual, Tuhan memberikan kasih sayang tidak melalui satu jalan saja. Kita bisa menemukan banyak kasih sayang di sekitar kita, mungkin dari orang-orang dekat seperti sahabat, dari alam, atau bahkan dari dalam diri kita sendiri. Kalau mau dipikirkan lebih dalam lagi, kasih sayang yang diberikan Tuhan dalam hidup kita meliputi semua hal, sampai pada hal terkecil yang lebih sering kita abaikan, misalnya kita bisa menikmati udara segar di pagi hari, bisa menggerakkan setiap sendi kita, bisa berpikir, bisa merasa, dan lain sebagainya. Dalam ujian yang dihadapi seseorang sekalipun, itu juga merupakan bentuk kasih sayang dari Tuhan agar seseorang bisa belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saat seseorang menyadari tentang hal ini, meskipun dia tidak beruntung untuk mendapatkan kasih sayang dari rumah, ia tetap bisa bersyukur karena ternyata Tuhan tetap memberinya semesta kasih sayang yang luar biasa luasnya.