Bagaimana cara mengatasi trauma bencana alam ?

trauma

(Debrilla Ivanadya Pang) #1

Trauma berkaitan erat dengan pengalaman yang dilalui seseorang yang bersifat psikis hingga memberikan dampak yang negatif pada dirinya untuk sekarang dan masa depan. Pengalaman kadang tidak selamanya membawa dampak positif, adakalanya pengalaman pahit dan buruk juga dapat menimpa seseorang baik itu yang disengaja ataupun tidak disengaja.

Bagaimana cara mengatasi trauma bencana alam ?


(Ayyara Yuan Nisaka) #3

Beberapa cara yang dilakukan dalam upaya penanganan dampak sosial psikologis korban
bencana alam antara lain:

  • Advokasi, yaitu melindungi dan mengupayakan kepastian mengenai pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi secara layak dan memadai.

  • Intervensi keluarga. Keluarga-keluarga pengungsi yang kehilangan kepala keluarganya perlu mendapatkan pelayanan khusus karena (barangkali) seorang istri atau ibu harus mengambil alih tanggung jawab sebagai kepala keluarga sekaligus pencari nafkah. Pengertian, dukungan dan partisipasi semua anggota keluarga sangat dibutuhkan. Agar masa transisi peran tersebut dapat dilaksanakan dengan baik diperlukan dukungan dari berbagai pihak sehingga fungsi keluarga dapat pulih kembali dan stabilisasi peran keluarga dapat dicapai.

  • Terapi kritis. Tidak sedikit masyarakat yang menolak untuk direlokasi, tidak puas dan merasa tidak berdaya dengan situasi dan kondisi baru yang berbeda dengan keseharian mereka sebelumnya. Perasaan-perasaan tersebut seringkali menimbulkan gangguan psikis, seperti kecemasan dan insomnia, stres, frustrasi dan selalu ada kemungkinan timbul aksi sosial atau konflik. Layanan ini diberikan kepada individu-individu yang mengalami stress atau trauma karena kejadian bencana itu sendiri, karena kehilangan harta benda atau karena kehilangan anggota keluarganya.

    Terapi yang dilakukan antara lain pengungkapan perasaan-perasaan negatif yang dilanjutkan dengan pembelajaran sederhana mengenai cara membangun perasaan perasaan yang positif dan bekerja bersama-sama dengan kelompok untuk menginventarisasi hal-hal positif yang dapat dilakukan di daerah yang baru dan menyusun rencana kegiatannya.

  • Membangun partisipasi. Pengungsi perlu dilibatkan dalam berbagai kegiatan di barak-barak pengungsian (dapur umum, latihan keterampilan dan kegiatan lain) untuk mengalihkan perasaan-perasaan kontra produktif, dan dalam menyusun rencana recovery.

  • Mediasi dan fasilitasi relokasi dengan penyuluhan terhadap masyarakat di daerah tujuan yang baru agar dapat menerima kehadiran para pengungsi yang direlokasi ke daerah mereka.

Selain langkah-langkah tersebut dukungan sosial dari keluarga atau sesama pengungsi sangat membantu korban untuk bisa menyesuaikan diri terhadap kondisi yang dialami saat ini. Pengungsi yang mengalami gangguan penyesuaian diri biasanya mengalami insomnia, hipertensi dan psikosomatis. Hal ini ditunjukkan dengan keinginan untuk segera pulang ke rumah, tidak betah tinggal di pos pengungsian, tidak mau makan dan tidak mau bicara. Untuk kasus yang berat, biasanya mereka mengalami ketakutan secara terus menerus, sering menangis, dan mengalami halusinasi. Mereka kebanyakan juga mengalami insomnia, tidak tenang dan cemas secara berlebihan.

Penanganan masalah sosial psikologis pengungsi pada dasarnya untuk membantu manusia yang sedang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi diri dan keluarganya, karena adanya faktor penghambat seperti terjadinya bencana sehingga harus mengungsi di tempat yang dianggap aman. Oleh karena itu dalam memberikan pelayanan sosial atau intervensi harus menggunakan pendekatan kemanusiaan agar tidak menyinggung perasaan orang-orang yang diberi pelayanan.