Bagaimana cara mengatasi penyakit dystonia?

Dystonia adalah sebuah kondisi medis yang ditandai dengan adanya gangguan pada pergerakan otot, sehingga akan berkonraksi berulang ulang tanpa sadar.

Pengobatan Dystonia

Dystonia tidak bisa disembuhkan, namun ada beberapa pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi kemunculan gejala dan tingkat keparahannya, yaitu melalui:

  • Suntikan Botox (Botulinum Toxin): Botulinum toxin bekerja dengan cara menghambat senyawa-senyawa penyebab kekakuan/spasme otot sehingga tidak mencapai target otot sasaran. Botulinum toxin diberikan secara suntikan, dan dilakukan langsung pada area yang terkena. Efek suntikan botox akan bertahan selama dua hingga tiga bulan sebelum dilakukan suntikan ulangan. Suntikan botox biasanya diberikan pada dystonia fokal atau dystonia
  • Obat-obatan: Obat-obatan yang diberikan adalah jenis obat yang bekerja untuk menghambat sinyal-sinyal di otak yang merangsang kekakuan otot. Dokter mungkin akan meresepkan beberapa macam obat sesuai dengan kondisi penderita, seperti levodopa (untuk mengontrol gerakan motorik dan bisa juga diberikan pada penderita penyakit Parkinson), obat antikolinergik (untuk menghambat kimia asetilkolin penyebab kejang otot), balcofen (untuk mengontrol kejang dan juga bisa diberikan pada penderita lumpuh otak atau sklerosis ganda), diazepam (untuk menimbulkan efek relaksasi), tetrabenazine (untuk menghambat dopamin), dan clonazepam (untuk mengurangi gejala pergerakan otot yang berlebihan).
  • Fisioterapi: Dokter mungkin juga akan menyarankan untuk melakukan terapi seperti fisioterapi, pijat atau peregangan otot untuk meredakan nyeri otot, terapi bicara, terapi sensorik untuk mengurangi kontraksi otot, hingga latihan pernapasan dan yoga.
  • Operasi: Terdapat dua jenis operasi yang mungkin disarankan dokter jika tidak ada pengobatan yang berhasil, di antaranya adalah operasi stimulasi otak dalam dan operasi denervasi selektif. Dalam operasi stimulasi otak, dokter akan menanamkan elektroda atau baterai pada otak dan menggabungkannya dengan listrik dalam tubuh untuk menghambat gejala dystonia. Sedangkan dalam operasi denervasi selektif, dokter akan memotong saraf penyebab kejang otot untuk menghentikan gejala secara permanen.

Sebelum melakukan terapi atau mengkonsumsi obat-obatan apa pun, pastikan Anda sadar dengan kemungkinan terjadinya efek samping, seperti mengantuk, mual, bingung, kesulitan menelan, penglihatan ganda, perubahan suara, mulut mengering, konstipasi, kesulitan buang air kecil, kesulitan mengingat, hingga kehilangan keseimbangan. Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui efek samping yang mungkin terjadi sesuai dengan kondisi Anda.

Sumber : dystonia