Bagaimana cara mengatasi kesehatan mental dengan teknologi, kreasi dan industri yang ada di era revolusi industri 4.0?

download

“Tiga modal pertama yang harus disiapkan oleh anak muda untuk masa tuanya, yaitu yang pertama kesehatan, kedua kesehatan dan ketiga kesehatan” Mario Teguh. Dari quotes diatas memberitahukan bahwa kesehatan itu sangat berharga dan sangat penting, baik jasmani maupun rohani atau mental.

Sehat dan sakit merupakan kondisi biopsikososial yang menyatu dalam kehidupan manusia. Pengenalan konsep sehat dan sakit, baik secara fisik maupun psikis merupakan bagian dari pengenalan manusia terhadap kondisi dirinya dan bagaimana penyesuaiannya dengan lingkungan sekitar (Dewi, 2012). Pemahaman akan mental yang sehat tak dapat lepas dari pemahaman mengenai sehat dan sakit secara fisik. Berbagai penelitian telah mengungkapkan adanya hubungan antara kesehatan fisik dan mental individu, dimana pada individu dengan keluhan medis menunjukkan adanya masalah psikis hingga taraf gangguan mental.

Gangguan mental atau gangguan jiwa adalah penyakit yang memengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku penderitanya (Willy, 2019). Kesehatan mental dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan yang meninggalkan dampak yang besar pada kepribadian dan perilaku seseorang (Halodoc, 2019). Penderita gangguan mental juga dapat mengalami gejala pada fisik, misalnya sakit kepala, sakit punggung, dan sakit maag. Stress dan depresi merupakan salah satu faktor penyebab orang mengalami gangguan mental. Hal ini banyak terjadi pada para pekerja. Tuntutan target produksi yang tinggi membuat pekerja merasa terbebani baik secara fisik maupun mental (Muslimah, Caprianingsih, & Djunaedi, 2015). Hal ini menimbulkan beban kerja baik fisik maupun mental pada karyawan, pekerjaan yang monoton dan berlangsung dalam waktu yang lama dapat menimbulkan rasa bosan atau jenuh. Rasa bosan dikategorikan sebagai kelelahan (Eko, 2004). Rasa bosan adalah manifestasi dari reaksi adanya suasana yang monoton (kurang bervariasi). Oleh karena itu, dibutuhkan suatu solusi untuk mengurangi stress maupun depresi yang menjadi salah satu penyebab kesehatan mental dengan inovasi, kreasi dan teknologi yang sedang berkembang.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Eka Viora, SpKJ, mengatakan untuk di Indonesia terdapat sekitar 15,6 juta penduduk yang mengalami depresi (Azizah, 2019). Berikut juga ditampilkan sebuah data dari Kementerian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan pada tahun 2018 mengenai penduduk Indonesia yang berumur lebih dari sama dengan 15 tahun yang mengalami depresi.


Gambar 1. Prevalensi Depresi pada Penduduk Umur Lebih Dari 15 Tahun Menurut Provinsi pada Tahun 2018
Sumber: (Kementerian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018)

Sebuah data juga menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional yang terjadi pada penduduk Indonesia yang berumur lebih dari sama dengan 15 tahun dari tahun 2013 sampai dengan 2018. Riskesdas Kemenkes juga menuturkan prevalensi Gangguan Mental Emosional (GME) sebesar 9,8 persen dari total penduduk berusia lebih dari 15 tahun. Prevalensi ini menunjukkan peningkatan sekitar enam persen dibanding pada 2013.


Gambar 2. Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk Berumur Lebih Dari 15 Tahun Menurut Provinsi pada Tahun 2013-2018
Sumber: (Kementerian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018)

Pada zaman modern ini, banyak manusia yang mengalami depresi, stress, kecemasan, dan kegelisahan. Stress dan depresi yang dibiarkan terlarut dapat membebani pikiran dan mengganggu sistem kekebalan tubuh sehingga menjadi lemah. Depresi merupakan gangguan medis yang memengaruhi perasaan dan pikiran berupa perasaan sedih yang terus menerus dan adanya rasa hilang minat sebelum melakukan suatu aktivitas (Praptikaningtyas, Wahyuni, & Aryani, 2019). Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental utama saat ini, yang mendapat perhatian serius. Di negara-negara berkembang, WHO memprediksikan bahwa depresi akan menjadi salah satu penyakit mental yang banyak dialami dan depresi berat akan menjadi penyebab kedua terbesar kematian setelah penyakit jantung (Lubis, 2009). Orang yang mengalami depresi, umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fugsional, dan gerakan tingkah laku serta kognisi (Rathus, 1991). Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah masyarakat. Berawal dari stress yang tidak diatasi, maka seseorang bisa jatuh ke fase depresi.

Berdasarkan data WHO pada tahun1980, hampir 20%-30% dari pasien rumah sakit di Negara berkembang mengalami gangguan mental emosional seperti depresi. Dalam suatu penelitian di Amerika, 28 dari 32 orang pasien, telah mengalami stress dan kehidupan yang tragis sebelum terserang penyakit. Para dokter di John Hopkin Medical School menemukan bahwa orang-orang yang emosional dan pemurung cenderung menderita penyakit serius seperti kanker, darah tinggi, jantung, dan berumur pendek. Berdasarkan penelitian Katon dan Sullivan pada tahun 1990 diperkirakan 15%-33% orang yang pergi ke dokter, sebenarnya menderita penyakit karena emosional seperti stress, khawatir, ketakutan, frustasi, dan rasa tidak aman sehingga memunculkan berbagai keluhan seperti sariawan, serangan jantung, susah tidur, usus buntu, diabetes, asma, skizofrenia, dan gangguan pencernaan bahkan kanker. Di Indonesia, tinjauan kesehatan rumah tangga yang dilakukan di 11 kota pada tahun 1995 menunjukkan bahwa 185 dari 1000 orang menderita gangguan mental dan 16,2% dari mereka mengalami depresi. Survei yang dilakukan Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (PDSKJ) menyebutkan sekitar 94% masyarakat Indonesia mengidap depresi dari mulai tingkat ringan hingga paling berat (Lubis, 2009).

Pada depresi ringan dan sedang, penderita tidak perlu mendapat perawatan medis. Depresi ringan dan sedang dapat ditangani sendiri dengan berbagai alernatif penanganan dan pencegahan depresi, misalnya pengaturan diet, olahraga dan relaksasi (Lubis, 2009). Berbagai bentuk usaha untuk menghadapi stress oleh manusia, dengan dilatarbelakangi oleh nilai-nilai dan budaya yang melingkupi dirinya. Salah satu diantaranya adalah terapi pijat sebagai salah satu alternatif pilihan untuk mencapai proses teuraputik dari sisi fisik maupun psikis. Beberapa tempat di belahan dunia ini, tradisi terapi pijat merupakan budaya yang masih dipelihara untuk harmonisasi fisik dan psikis manusia. Pijat adalah sebuah seni terkait dengan sentuhan dan manipulasi kelenturan untuk mencapai hasil teuraputik seperti relaksasi mental, kenyamanan dan kesembuhan. Pijat dapat menurunkan rasa nyeri melalui relaksasi otot dan mengendurkan ketegangan-ketegangan fikiran (Ree, Noble, & Pasvogel, 2003).

Untuk membantu mengurangi angka stress dan depresi, dirancang suatu teknologi dengan konsep padu padan modern dan tradisional. Teknologi tersebut bernama Codeudae ( Cold Helmet with Music and Massage ) dengan desain modern. Bentuk teknologi ini menyerupai helm pada umumnya, namun ditambahkan suatu teknologi khusus yang memberikan sensasi dingin pada kepala pada saat dipakai dengan dilengkapi beberapa tombol. Tombol-tombol ini akan menjadi pengaturan pada saat pemakaian, yaitu pemberi sensasi dingin, musik dan refleksi. Refleksi ini berupa pijatan pada kepala yang dapat merelaksasikan nyeri kepala tegang otot yang disebabkan oleh stress yang sering terjadi. Karena, pencetus Tension Type Head (TTH) ini antara lain, kelaparan, dehidrasi, pekerjaan beban yang terlalu berat, dan perubahan pola tidur. Stress dan konflik emosional adalah pemicu tersering TTH. Gangguan emosional berimpliksi sebagai faktor risiko TTH, sedangkan ketegangan mental dan stress adalah faktor-faktor tersering penyebab TTH. Asosiasi positif antara nyeri kepala dan stress terbukti nyata pada penderita TTH (Anurogo, 2014).

Pada era sekarang yaitu era Revolusi Industri 4.0 banyak orang yang mengalami masalah pada kesehatan mental mereka. Hal ini diakibatkan oleh stress yang berkepanjangan dan berakibat depresi. Apabila tidak dicegah maupun ditangani sejak dini dapat berakibat pada kematian. Stress yang sering terjadi ini juga menyebabkan nyeri kepala otot tegang (TTH). Sehingga, dibutuhkan suatu solusi baik mengurangi, mencegah maupun mengatasi kesehatan mental yang melemah.

Codeudae ( Cold Helmet With Music and Massage ) dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu mengurangi stress. Konsep tradisional dengan menampilkan kesan modern diharapkan dapat menjadi solusi akan masalah yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

12 Likes