© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana Cara Mendidik Anak yang Hiperaktif?

hiperaktif

Anak hiperaktif atau ADHD merupakan anak dengan aktivitas tinggi dan tidak mau diam. Anak seperti ini cenderung terus bermain, berlarian, tidak mau diam, susah diatur, dan sulit tidur. Butuh kesabaran dan keuletan dari orang tua untuk melatih anak dengan hiperaktif.

Bagaimana cara mendidik anak yang hiperaktif ?

1 Like

Beberapa cara mendidik anak hiperaktif yaitu :

  1. Perhatikan asupan makanan anak
    Anak hiperaktif juga tampak pada anak dengan autis. Makanan yang mempunyai dampak buruk pada anak autis yaitu makanan yang mengandung gluten dan kasein seperti tepung terigu atau susu sapi. Jika kelebihan zat ini pada pola makannya, anak akan menjadi sulit dikendalikan, marah, mengamuk. Kelebihan asupan glukosa juga tidak baik untuk anak hiperaktif.
    Hindari pemberian makanan ringan, tinggi gula, tinggi garam, makanan instan, junk food. Hindari juga penggunaan penyedap makanan, pemanis buatan, makanan yang berkarbohidrat tinggi. Perbanyak asupan makanan dari buuah dan sayuran.

  2. Beritahukan kondisi anak pada lingkungan
    Sifat anak yang hiperaktif seringkali cukup mengganggu jika berada di tempat umum. Beritahukan pada lingkungan tentang kondisi anak, sehingga lingkungan bisa memahami dan membantu memperikan perlakuan yang baik dan merasa lebih nyaman.

  3. Latih anak bersosialisasi
    Bawa anak ke dalam lingkungan sosial yang mampu menerimanya. Ajarkan anak untuk berinteraksi dan memperhatikan orang lain, ajarkan anak untuk berkomunikasi dengan orang lain. Libatkan anak dalam kelompok bermain untuk menumbuhkan kesadarannya akan orang lain.

  4. Berikan perhatian dan kasih saying yang lebih
    Kasih sayang dari orang tua sangatlah utama. Anak hiperaktif perlu diberikan kasih sayang yang lebih agar dia percaya, merasa aman dan nyaman dengan orang tuanya dan mau mendengarkan kata kata orang tuanya.

  5. Berikan jadwal yang tepat
    Beritahukan jadwal harian anak dan latih untuk melaksanakannya dengan rutin. Jangan lakukan perubahan jadwal kegiatan terlalu sering. Modifikasi pada jadwal harian bisa dilakukan jika dibutuhkan. Dengan pemberian jadwal harian ini anak menjadi lebih teratur untuk menggunakan tenaganya. Rutinitas pada jadwal yang ada juga membatasi anak untuk melakukan hal lain yang mungkin tidak sesuai.

  6. Pilih gaya belajar yang tepat
    Pahami kemampuan anak dalam menerima informasi. Apakah anak lebih cepat menerima informasid engan mendengar, membaca, menggambar, atau bermain yang sifatnya motorik. Pahami kemampuan lebih anak dalam hal menerima informasi dan perkuatlah hal tersebut sebagai cara belajar yang efektif. Misalnya jika anak lebih tertarik dengan coretan atau warna, maka gunakan teknik pembelajaran dengan menggambar.

  7. Menggunakan Bahasa sederhana
    Gunakan kata- kata yang sederhana dan perlahan agar mudah dipahami oleh anak. Anak hiperaktif pada autisme, cenderung sulit menerima informasi melalui bentuk kalimat yang panjang. Anak akan bingung dan frustasi dan justru membahayakkan kondisi anak.

  8. Mengenali bakat anak
    Anak dengan hiraktif atau autisme memiliki kecenderungan pertumbuhan kognitif yan glambat dari pada anak normal. Kemampuan berkomunikasi dan proses menerima informasi juga lambat. Namun bukan berarti anak bodoh dan tidak mampu melakukan apapun. Anak autis juga memiliki kelebihan tertentu yang jika dikembangkan akan menjadi kemampuan yang luar biasa.

  9. Perhatikan kesehatan anak
    Anak hiperaktif memungkinkan untuk bermain di tempat tempat kotor yang bisa membuat mereka sakit. Perhatikan kesehatan anak agar hal ini tidak terjadi. Pada saat anak jatuh sakit, dan dengan pikirannya yang sangat aktif hal ini bisa mengakibatkan stres pada anak dan hal tersebut tidak baik. Daripada harus mengadapi situasi demikian, alangkah bagusnya jika orang tuan bisa mencegah anak sakit dengan memperhatikan lingkungan dan menjaga kesehatannya.

  10. Jangan marahi anak atau menghukumnya
    Nada tinggi atau hukuman untuk anak autisme atau hiperaktif akan mematikan kemampuan mereka untuk berkembang. Hati mereka juga akan tersakiti. Pada anak normal, hal semacam ini mungkin hanya sebuah pelajaran yang nantinya tidak terlalu dipikirkan, karena komunikasi antara anak dengan orang tua tidak ada kendala.
    Namun pada anak autis, ketika hati mereka sudah tersakiti atau muncul rasa ketakutan hal ini akan sulit untuk diperbaiki dan akan mengganggu tumbuh kembang mereka.

Perencanaan Treatment

Perencanaan treatment merupakan kegiatan merencanakan program untuk memberikan perlakuan pada anak hiperaktif. Dalam perencanaan ini tercantum masalah anak, hasil assesmen dan diagnosis, riwayat keluarga, perkembangan anak, perilaku yang akan dirubah, kriteria pencapaian, pendekatan, dan metode yang digunakan. Dalam perencanaan program, harus terccantum tentang permasalahan yang dihaapi anak, hasil assesmen dan diagnosis, riwayat keluarga, perkembangan anak, jenis perilaku atau bidang yang akan dirubah, criteria pencapaian, pendekatan dan metode yang akan digunakan, perkiraan waktu dan prosedur pelaksanaannya. (Tin Suharmini, 2005).

Tin Suharmini (2005) mengungkapkan beberapa contoh program perencanaan treatment yang meliputi:

  • Menghilangkan atau menyingkirkan benda yang merangsang anak untuk beralih perhatian

  • Ruangan dicari yang tidak bising

  • Pintu dalam kondisi tertutup

  • Menentuan jenis treatment yang akan dilakukan (direncanakan) untuk mereduksi perilaku hiperaktif

  • Berdasarkan wawancara dengan orangtua dapat dietahui kesukaannya, kelebihan atau hal hal positif yang dimiliki

  • Diberikan reinforcement

  • Sikap tegas dan disiplin terapis

  • Setiap aktifitas yang mendukung tujuan yaitu mengurangi perilaku hiperaktif perlu dinampakkan

Pelaksanaan


Langkah-langkah dalam pelaksanaan treatment yaitu :

  • Pelaksanaan dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.

  • Melakukan monitoring atau melakukan evaluasi perilaku hiperaktif sudah berkurang atau belum dan mencari gangguan yang menghambat perkembangan.

  • Refleksi, yaitu pengungkapan hasil tindakan atau hasil treatment yang telah dilakukan sesuai dengan perencanaan.

  • Tindak lanjut, dari diskusi beberapa pelaksanaan tersebut maka ditentukan perlakuan tindakan untuk memperbaiki pelaksanaan tindakan pertama.

  • Dalam perencanaan treatment dan pelaksanaan treatment banyak melibatkan metode pendekatan yang dapat digunakan untuk mereduksi perilaku anak hiperaktif.

Rosenberg dkk (dalam Ibnu Syamsi,2005) mengungkapkan beberapa pendekatan dalam penanganan perilaku hiperaktif, yaitu:

  1. Byophisic, merupakan pendekatan yang menekankan pada penggunaan obat, diet, atau nutrisi yang dilakukan dengan petunjuk ahli. Ibnu Syamsi (1997:30) juga mengungkapkan bahwa pendekatan ini bertitik tolak bahwa perilaku hiperaktif merupakan suatu penyakit yang memerlukan pengobatan. Biopsycal tersebut meliputi terapi obat dan terapi megavitamin.

  2. Behavioral, yaitu penekatan yang digunakan dengan memberikan ganjaran atau hukuman terhadap perilaku hiperaktif tersebut dengan tepat dan dalam kondisi yang sesuai. Mark dan David (2007) mengungkapkan pendekatan behavioral merupakan pendekatan terdokumentasi dengan jelas sebagai metode yang menguntungkan dalam bidang ini.Keberhasilan yang lebih besar dicapai melalui pendekatan behavioral yang difokuskan pada usaha membangun
    ketrampilan dan penanganan behavioral terhadap perilaku yang bermasalah.

  3. Kognitif – Behavior, pendekatan yang menekankan pada kognitif dan behavior, dimana kognitif mempengaruhi tingkah laku dengan memuatkan meditasi dengan jalan pembelajaran, atau bagaimana proses simbolik internal mempengaruhi tingkah laku.

Tin Suharmini (2005) mengungkapkan bahwa banyak guru yang menghadapi problem perilaku hiperaktif ini dengan cara memarahi, mencaci, memberi hukuman, mengeluh, dan kadang guru cenderung member hukuman badan. Tak jarang juga guru memberi rewardterhadap perilaku yang baik.

Selanjutnya Tin Suharmini juga mengemukakan mengenai contoh penanganan yang dilakukan guru terhadap anak hiperaktif. Guru mempunyai tugas mengajar, karena itu usaha penanganan guru terhadap perilaku hiperaktif selama kegiatan belajar mengajar antara lain :

  • Anak dipilihkan tempat duduk yang sulit keluar masuk. Ruangan pembelajaran harus tenang dan tidak bising. Ruang kedap suara kalau ada lebih bagus.

  • Rangsangan yang berpengaruh meningkatkan perilaku hiperaktif dikurangi atau dihilangkan, sebaliknya rangsangan yang dapat mengurangi perilaku hiperaktif ditingkatkan.

  • Ruangan jangan menggunakan warna yang mencolok, seperti merah, kuning, pink. Warna-warna yang tidak mencolok seperti biru, putih, hijau muda, warna ini akan meningkatkan kesejukan, sehingga dapat membantu usaha mengurangi perilaku hiperaktif.

  • Guru (sekolah) menciptakan suasana yang terstruktur, yaitu tersedianya aturan beserta konsekuensinya. Maksudnya adalah jika anak melakukan pelanggaran maka diberi hukuman dan sebaliknya jika anak melakukan perilaku sesuai aturan maka guru memberi hadiah.

  • Dalam usaha melakukan perbaikan perilaku ini, guru bekerja sama dengan orangtua.

  • Guru memberitahu masalah anak disekolah kepada orangtua dan meminta orangtua tegas dan disiplin kepada anaknya yang hiperaktif.

  • Diajak belajar disiplin. Berdoa sebelum dan sesudah belajar.

  • Guru harus disiplin, bersikap tegas dan mengawasi ketat pada waktu melakukan perbaikan perilaku.

Setiap langkah usaha dalam perbaikan diberikan reinforcement baik positif maupun negatifatau diberikan hadiah dan hukuman.

Tin Suharmini (2005) mengungkapkan tentang metode untuk menangani perilaku hiperaktif pada anak anatara lain :

1. Sensory Integrative Therapy

Merupakan salah satu pendekatan untuk merubah atau mengurangi penyebab disfungsi integrasi sensorik yang merupakan focus hiperaktif.

2. Terapi Musik

Musik dapat digunakan untuk mengurangi perilaku hiperaktif.Musik yang digunakan untuk terapi anak harus disesuaikan dengan kondisi anak. Menurut American Music Therapy Assosiation ( dalam Galih A Veskarisyanti, 2008: 51) mengungkapkan bahwa terapi musik itu semacam terapi yang bersifat terapiutik guna meningkatkan fungsi perilaku, sosial, psikologis, komunikasi, fisik, sensorik motorik, dan kognitif.

3. Terapi Vokasional Sederhana

Terapi ini berisi latihan ketrampilan.Disini yang difokuskan bukan hasil ketrampilan, tapi lebih pada perubahan perilaku dan peningkatan kemampuan seperti pemusatan perhatian, konsentrasi pada tugas, memahami dan menghargai guru yang sedang bicara, dan tidak mengganggu teman.

4. Modifikasi Perilaku

Modifikasi perilaku merupakan fokus dari terapi tingkah laku yang berusaha untuk mengubah perilaku yang tidak dikehendaki dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar sistematis kearah cara-cara yang lebih adaptif.

Metode lain yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku hiperaktif adalah terapi medikamentosa. Terapi medikamentosa yaitu terapi yang dilakukan dengan cara pemberian obat dari dokter. Gejala yang sebaiknya dihilangkan dengan obat adalah hiperaktifitas yang hebat, menyakiti diri sendiri, menyakiti orang lain (agresif), merusak (destrictive), dan gangguan tidur. (Galih A Veskarisyanti,2008).

Selain itu, Galih A Veskarisynti juga menyebutkan metode lain dalam penanganan perilaku anak autis yaitu dengan terapi melalui makanan. Terapi melalui makanan (Diet Therapy) diberikan pada anak autis dengan alergi tertentu. Diet yang sering dilakukan pada anak autis adalah diet gluten dan kasein.

Selain itu, anak autis juga disarankan tidak mengasup makanan yang mengandung gula tinggi. Hal ini berpengaruh pada sifat hiperaktifitas mereka.

Handoyo (dalam Pamuji,2007) terapi perilaku telah dikembangkan untuk mendidik anak dengan kebutuhan khusus, termasuk autisme untuk mengurangi perilaku yang tidak lazim dan menggantikannya dengan perilaku yang diterima dimasyarakat.

Pendapat tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh Prasetyo (2008 ) yang mengungkapkan bahwa salah satu terapi yang penting bagi anak autis adalah terapi perilaku (behavior therapy). Terapi perilaku berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autis, dalam arti perilaku yang berkelebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan ditambahkan.

Siti Arifah (2005) penanganan yang bisa diberikan pada anak untuk mengurangi keagresifan dan hiperaktif anak adalah :

  • Kegiatan yang sesuai dengan bakat dan kesenangan, misal menari, menggambar, berolah raga, menyanyi

  • Memberikan ketrampilan yang disenangi anak misal menggunting, menempel atau potongan gambar.

  • Permainan yang disenangi anak