Bagaimana cara mencegah kanker payudara?

Kanker payudara adalah jenis kanker yang paling sering ditemukan pada wanita, di mana lebih dari 1,5 juta wanita didiagnosis mengalaminya setiap tahun. Kanker payudara juga menjadi penyebab kematian terbesar di antara wanita penderita kanker.

Menjaga Berat Badan Sehat
Kelebihan berat badan, apalagi yang terjadi setelah dewasa atau menopause, dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker payudara. Hal itu mungkin disebabkan karena, setelah menopause, sebagian besar estrogen dihasilkan dari jaringan lemak

Berarti, semakin banyak jaringan lemak semakin banyak estrogen. Terlalu banyak hormon ini bisa memicu kanker payudara. Orang yang kelebihan berat badan juga cenderung memiliki kadar insulin lebih tinggi, yang dianggap berhubungan dengan kanker payudara.

Aktif Bergerak
Seseorang direkomendasikan untuk melakukan gerakan aerobik sedang, seperti jalan cepat, selama 150 menit per minggu. Porsi olahraga tersebut tidak untuk dilakukan pada satu waktu, tetapi dibagi ke dalam beberapa hari dalam seminggu.

Kamu sebaiknya mengikuti rekomendasi tersebut karena wanita yang aktif bergerak memiliki risiko lebih kecil terkena kanker payudara. Aktif bergerak juga dapat menjadi cara menjaga beratmu tetap dalam rentang normal.

Selain itu, jangan terlalu sering duduk. Studi menunjukkan, wanita yang menghabiskan 6 jam atau lebih duduk tanpa bergerak setiap harinya, 10% lebih berisiko menderita kanker payudara dibanding dengan wanita yang duduk kurang dari 3 jam per hari.

Menerapkan Pola Makan Sehat
Studi menunjukkan bahwa risiko kanker payudara dapat turun hingga 15% pada wanita yang mengikuti pola makan kaya sayur dan buah-buahan.

Sayuran hijau, tomat, paprika, wortel, terong, brokoli, apel, pir, dan stroberi adalah beberapa sayur dan buah yang telah terbukti menurunkan risiko kanker.

Selain itu, kamu juga perlu menerapkan pola makan sehat secara umum, misalnya dengan mulai mengonsumsi biji-bijian utuh (gandum) serta memperbanyak sajian berbahan dasar kedelai (tempe, susu kedelai) dan lemak sehat (salmon, kacang, alpukat).

Sebaliknya, hindari makanan yang dinilai dapat memicu kanker payudara. Sajian tinggi gula, lemak, makanan olahan dan daging merah adalah beberapa santapan yang asupannya perlu dibatasi.

Baca Juga: Bisakah Gejala Awal Kanker Payudara Dirasakan? Cek di Sini

Cukup Tidur
Hidup sehat tidak hanya dilihat dari menu makan dan olahraga, namun juga waktu istirahatmu. Seseorang disarankan untuk tidur sekitar 8 jam setiap malamnya.

Pasalnya, studi menunjukkan bahwa kurang tidur, terpapar cahaya selama malam hari, jadwal kerja di malam hari, dan beragam hal yang dapat mengganggu irama sirkadian (jam biologis tubuh) dapat memicu kanker payudara.

Menyusui
Tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan bayi, menyusui ternyata juga bermanfaat bagi ibu. Studi menunjukkan wanita yang menyusui kurang mungkin menderita kanker payudara dibanding wanita yang tidak menyusui.

Hal tersebut mungkin terjadi karena selama menyusui, siklus ovulasi tidak terjadi, sehingga kadar estrogen dalam tubuh tetap stabil.

Tak hanya itu, usia melahirkan juga merupakan faktor risiko kanker ini. Wanita yang melahirkan di atas usia 30 tahun lebih berisiko terkena kanker payudara.

Menjalani Hidup Sehat Bebas Rokok dan Alkohol
Penelitian menunjukkan bahwa wanita yang mengonsumsi 2 sampai 3 minuman beralkohol setiap harinya memiliki risiko 20% lebih besar terkena kanker payudara daripada wanita yang tidak minum alkohol.

Bila kamu peminum alkohol, ada baiknya membatasi asupan alkohol tidak lebih dari satu minuman per hari atau tidak minum sama sekali. Satu minuman setara dengan satu gelas bir ukuran 350mL atau 150mL wine atau 44mL minuman beralkohol (whisky, vodka, tequila, gin).

Selain itu, berhentilah merokok. Pasalnya, kebiasaan merokok memiliki kaitan dengan kanker payudara, terutama pada wanita usia produktif. Tak hanya itu, merokok juga memicu ragam kanker lain, seperti kanker paru-paru, mulut, dan lainnya.

Menghindari Paparan Radiasi
Wanita disarankan untuk mengurangi frekuensi pemindaian medis seperti X-ray, CT scan, dan PET scan bila tidak dibutuhkan. Pasalnya, meski dapat menolong pada banyak kasus, teknik ini menggunakan dosis radiasi cukup tinggi, yang bisa memicu kanker payudara.

Kanker payudara dapat menyebar secara signifikan dan sering tidak menimbulkan gejala yang berarti. Pada saat terdiagnosis sebagai kanker payudara, pada 5-15% pasien telah terjadi metastasis dan hampir 40 % telah terjadi penyebaran secara regional. Karena pengobatan terkadang memberikan hasil yang baik atau terlambat dalam memberikan terapinya, maka pencegahan merupakan langkah yang diperlukan.

Pencegahan kanker payudara bertujuan untuk menurunkan insidensi kanker payudara yang aman dan secara tidak langsung akan menurunkan angka kematian akibat kanker payudara itu sendiri. Pencegahan yang efektif lebih dipilih daripada menjalani terapi dengan menggunakan radiasi dan agen sitotosik yang meskipun efektif menimbulkan berbagai efek samping. Adapun strategi pencegahan yang dilakukan antara lain berupa :

1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer atau sangat dasar ini ditujukan kepada orang sehat yang belum memiliki faktor risiko dengan memberikan kondisi pada masyarakat yang memungkinkan penyakit tidak berkembang yaitu dengan membiasakan pola hidup sehat sejak dini dan menjauhi faktor risiko changeable (dapat diubah) kejadian kanker payudara. Pencegahan primer yang dapat dilakukan antara lain :

  • Perbanyak konsumsi buah dan sayuran yang banyak mengandung serat dan vitamin C, mineral, klorofil yang bersifat antikarsinogenik dan radioprotektif, serta antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, berbagai zat kimia dan logam berat serta melindungi tubuh dari bahaya radiasi.

  • Perbanyak konsumsi kedelai serta olahannya yang mengandung fitoestrogen yang dapat menurunkan risiko terkena kanker payudara.

  • Hindari makanan yang berkadar lemak tinggi karena dapat meningkatkan berat badan menyebabkan kegemukan atau obesitas yang merupakan faktor risiko kanker payudara.

  • Pengontrolan berat badan dengan berolah raga dan diet seimbang dapat mengurangi risiko terjadinya kanker payudara.

  • Hindari alkohol, rokok, dan stress.

  • Hindari keterpaparan radiasi yang berlebihan. Wanita dan pria yang bekerja di bagian radiasi diusahakan menggunakan alat pelindung diri.

2. Pencegahan Sekunder

Pencegahan yang dilakukan berupa usaha untuk mencegah timbulnya kerusakan lebih lanjut akibat kanker dengan mengidentifikasi kelompok populasi yang berisiko tinggi terhadap kanker. Penanganan yang tepat pada penderita kanker payudara sesuai dengan stadiumnya untuk mengurangi kecacatan, mencegah komplikasi dengan penyakit lain, dan memperpanjang harapan hidup. Pencegahan sekunder dapat berupa deteksi dini, SADARI serta melaksanakan pola hidup sehat untuk mencegah penyakit kanker payudara.

Deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan dengan berbagai cara, yang dapat dilakukakan dengan cara pemeriksaan secara klinis (pemeriksaan fisik) maupun dengan pemeriksaan penunjang. Adapun deteksi dini kanker payudara, yaitu :

  • SADARI

Deteksi dini dengan SADARI dapat menekan angka kematian sebesar 25 – 30% sadari sangat penting dianjurkan kepada masyarakat untuk menerapkannya. Sekitar 90% kanker payudara ditemukan sendiri oleh pasien dan sekitar 5% ditemukan selama pemeriksaan fisik untuk alasan lain.

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) adalah pemeriksaan payudara sendiri untuk dapat menemukan adanya benjolan abnormal. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sendiri tanpa harus pergi ke petugas kesehatan dan tanpa harus mengeluarkan biaya. Pemeriksaan optimum dilakukan pada sekitar 7-14 hari setelah awal siklus menstruasi karena pada masa itu retensi cairan minimal dan payudara dalam keadaan lembut, tidak keras, jika membengkak akan mudah dikenali.

Wanita yang dianjurkan untuk melakukan SADARI adalah pada saat wanita sejak pertama mengalami haid. Adapun tahap-tahap melakukan SADARI, yaitu :

  • Tahap awal, berdirilah di depan cermin, pandanglah kedua payudara.

    Perhatikan kemungkinan adanya perubahan yang tidak biasa seperti cairan dari puting, pengerutan, penarikan atau pengelupasan kulit.

  • Angkatlah kedua tangan ke atas kepala. Perhatikan, apakah ada kelainan. Pada kedua payudara atau puting.

  • Kedua tangan diletakkan di pinggang agak membungkuk ke arah cermin sambil menarik bahu dan siku ke arah depan. Periksa kembali, apakah ada perubahan atau kelainan pada kedua payudara atau puting.

  • Angkatlah lengan kanan, dengan menggunakan 3-4 jari tangan kiri untuk memeriksa payudara kanan secara lembut, hati-hati, dan secara menyeluruh. Dimulai dari bagian tepi sisi luar, tekankan ujung jari tangan membentuk lingkaran-lingkaran kecil dan pindahkan lingkaran itu secara lambat seputar payudara. Secara bertahap lakukan ke arah puting. Pastikan mencakup seluruh payudara. Berikan perhatian khusus di daerah antara payudara dengan ketiak, termasuk bagian ketiak sendiri. Rasakan untuk setiap benjolan yang tidak biasa atau benjolan di bawah kulit.

  • Dengan kedua tangan, pijat puting payudara kanan dan tekan payudara untuk melihat apakah ada cairan atau darah yang keluar dari puting payudara. Lakukan hal yang sama pada payuadara yang kiri.

  • Mengulangi langkah diatas dengan posisi berbaring. Berbaringlah dengan permukaan yang rata, berbaringlah dengan lengan kanan di belakang kepala dan bantal kecil atau lipatan handuk diletakkan di bawah pundak.

    image

Adapun program dari American Cancer Society, yang dalam programnya menganjurkan sebagai berikut :

  • Wanita > 20 tahun melakukan SADARI tiap tiga bulan.

  • Wanita > 35-40 tahun melakukan mammografi

  • Wanita > 35 – 40 tahun melakukan check up pada dokter ahli

  • Wanita > 50 tahun check up rutin/ mammografi setiap tahun

  • Wanita yang mempunyai faktor risiko tinggi (misalnya ada riwayat penderita kanker) pemeriksaan ke dokter lebih rutin dan sering.

  • Mammografi

    Mammografi merupakan proses pemeriksaan payudara manusia menggunakan sinar – X dosis rendah (umumnya berkisar 0,7 mSv). Melalui pemeriksaan Mammografi, angka kematian karena kanker payudara dapat diturunkan sampai dengan 30%. Metode mammografi, sinar X yang dipancarkan sangat kecil, sehingga metode ini relatif aman, dan pelaksanaannya relatif mudah.

    Mammografi merupakan suatu tes yang aman yang bertujuan untuk melihat adanya masalah pada payudara wanita. Mammografi biasanya digunakan untuk melihat bebrapa tipe tumor dan kista, dan telah terbukti dapat mengurangi mortalitas akibat kanker payudara. Beberapa negara telah menyarankan melakukan mammografi rutin (1-5 tahun sekali) bagi wanita yang telah melewati paruh baya sebagai metode screening untuk mendiagnosa kanker payudara sedini mungkin. Adapun jenis dari pemeriksaan dengan mammografi, yaitu :

    1. Mammogram diagnostik dilakukan ketika seorang wanita memiliki gejala- gejala kanker payudara atau terdpat benjolan di payudara dan mammogram ini memakan waktu lebih lama karena gambar yag diambil juga lebih banyak.

    2. Mammogram digital untuk mengambil gambaran elektronik payudara dan menyimpannya langsung di komputer. Penelitian terbaru tidak menunjukkan bahwa gambar digital lebih baik dalam menemukan kanker dibandingkan film sinar X.

  • Pemeriksaan Klinis

    Diawali dengan mewawancarai penderita kanker payudara, pemeriksaan fisik yang dilakukan secara sistematis baik inspeksi ataupun palpasi untuk mengetahui status lokalis kanker payudara. Dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang dengan menggunakan alat-alat tertentu dengan termografi, ultrasonografi, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologis untuk mendiagnosis secara pasti penderita kanker payudara.

  • Penatalaksanaan Medis yang Tepat

    Penatalaksanaan medis tergantung dari stadium kanker didiagnosis yaitu dapat berupa operasi/pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan terapi hormonal (Suyatno., Emir T., 2010).

    1. Operasi (Pembedahan)

    Operasi adaah terapi untuk membuang tumor, memperbaiki komplikasi, dan merekonstruksi efek yang ada. Semakin dini kanker payudara ditemukan kemungkinan sembuh dengan operasi semakin besar. Jenis-jenis operasi yang dilakukan untuk mengobati kanker payudara, antara lain : mastektomi (mengangkat seluruh payudara beserta kankernya), lumpektomi (mengangkat sebagian payudara pada jaringan yang mengandung kanker), dan pengangkatan kelenjar getah bening (KGB) ketiak.
    Ada 2 indikasi melakukan operasi pada penderita kanker, yaitu :

    • Diagnostik untuk memperoleh data patologi yang cepat tentang tumor apakah jinak atau ganas dan untuk memberi petunjuk kepada ahli bedah menentukan sikap tindakan apa yang akan diambil.
    • Terapeutik untuk mengobati penderita kuratif dan paliatif

    2. Radioterapi

    Radioterapi merupakan pengobatan dengan melakukan penyinaran ke daerah yang terserang kanker, dengan tujuan untuk merusak sel-sel kanker. Radioterapi untuk kanker payudara biasanya digunakan sebagai terapi kuratif dengan mempertahankan mamma dan sebagai terapi paliatif (tambahan).

    3. Kemoterapi

    Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair, kapsul atau infus yang bertujuan untuk membunuh sel kanker tidak hanya pada payudara tetapi juga seluruh tubuh. Efek dari kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan saat kemoterapi. Kemoterapi biasanya diberikan 1-2 minggu sesudah operasi. Kemoterapi merupakan pendekatan sistematis untuk membunuh sel-sel kanker yang bertambah banyak (Tagliaferri, M., dkk. 2002)

    4. Terapi Hormon

    Pemberian hormon dilakukan apabila penyakit telah sistemik berupa metastasis jauh. Terapi hormonal biasanya diberikan secara paliatif sebelum kemoterapi. Dimana, masing-masing sel mempunyai 2 jenis reseptor, yaitu (Dewa, I., Gede.2000):

    • Reseptor Hormon Positif

      Reseptor hormon positif yaitu sel kanker yang mempunyai cukup banyak reseptor hormon.

    • Reseptor Hormon Negatif

      Reseptor hormon negatif yaitu sel kanker yang mempuyai sedikit atau tidak ada reseptor hormon.

3. Pencegahan Tersier

Pada pencegahan tertier ini biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita kanker payudara. Dengan penanganan yang tepat penderita kanker payudara sesuai dengan stadium kanker payudara dengan tujuan untuk mengurangi kecacatan dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tertier ini berperan penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita dan mencegah komplikasi penyakit serta meneruskan pengobatan (Manuaba, T. W, 2010).

Untuk mengurangi ketidakmampuan dapat dilakukan Rehabilitasi agar penderita dapat melakukan aktivitasnya kembali. Upaya rehabilitasi dilakukan baik secara fisik, mental, maupun sosial seperti menghilangkan rasa nyeri, harus mendapatkan asupan gizi yang baik, dukunagn moral dari orang-orang terdekat terhadap penderita pasca operasi (National Cancer Institute, 2011).