Bagaimana Cara Menangani Istri yang Tidak Bisa Mengendalikan Emosi?

emosi

bila ibu yang merasa kurang dapat mengendalikan emosi kepada suami. Penerimaan perasaan ini menjadi aspek penting untuk Ibu bisa melakukan perbaikan diri dalam pengendalian emosi tersebut.

Teruslah untuk mengeksplor dan mengenali setiap emosi yang muncul dalam diri Ibu dalam berbagai situasi. Baik perasaan senang, sedih, marah, kesal, takut, kecewa, dan sebagainya. Terimalah perasaan-perasaan tersebut sebagai bagian dari diri Ibu.

Lakukan Kegiatan Positif
Lakukanlah berbagai aktivitas positif yang dapat membantu Ibu untuk mengatasi emosi yang meledak. Atau paling tidak mengalihkan perasaan yang “mengganggu” relasi Ibu dengan Suami atau orang di sekitar Ibu.

Lakukan kegiatan seperti olahraga (disarankan yoga, jalan pagi/kaki, atau olahraga lain yang Ibu sukai), bernyanyi, main musik, berkumpul bersama teman, bercerita kepada orang yang dapat memberikan masukan positif dan dapat dipercaya. Menulis perasaan Ibu dalam buku diary, dan sebagainya.

Memang cara-cara tersebut tidak langsung bisa menyelesaikan masalah Ibu. Namun bisa membantu meringankan beban perasaan Ibu dan membantu Ibu merasa lebih tenang. Sehingga ibu lebih siap dalam menghadapi permasalahan yang ada.

Berkomunikasi Secara Terbuka Dengan Suami
Dalam hubungan suami-istri, memang sangat dituntut untuk saling memahami. Saya sangat paham mengenai perasaan Ibu ketika suami dirasakan kurang peka terhadap permasalahan atau perasaan kita. Sungguh tidak nyaman rasanya dan sedih sekali pastinya ya Bu.

Di sisi lain, Ibu, ketika suami dirasakan kurang peka terhadap kita, artinya Ibu yang perlu mengajari suami bagaimana cara memahami Ibu. Nah, di sinilah pentingnya komunikasi secara terbuka.

Ketika Ibu merasa kesal, marah, sedih, dan sabagainya, coba Ibu bicarakan secara terbuka kepada suami. Jujur dan tindakan yang Ibu inginkan dari suami secara spesifik, untuk menghindari perbedaan persepsi.
Misalnya: kalau Ibu merasa suami kurang memberi perhatian saat Ibu sedang menceritakan sesuatu, mintalah misalnya, untuk meletakkan handphonenya barang sebentar, atau misalnya Ibu ingin lebih banyak menghabiskan waktu berdua saja, dsb.

Kalau suami menanggapi keterbukaan perasaan Ibu dengan becanda, melucu atau hal-hal yang tidak Ibu inginkan, Ibu boleh mengutarakannya bahwa tindakan suami yang begitu bukan hal yang Ibu inginkan saat ini.
Sangat bisa jadi keterbukaan komunikasi tersebut tidak berjalan mulus sesuai keinginan ibu. Karena memang butuh proses panjang untuk mengubah suatu kebiasaan. Tapi bukan berarti tidak bisa.

Berkomitmen Bersama Suami
Yang sangat penting adalah komitmen ibu dan suami, serta konsistensi untuk terus mencoba untuk saling memahami dan menyesuaikan. Termasuk belajar bagaimana mengutarakan perasaan-perasaan Ibu dengan cara yang lebih dapat diterima suami. Dengan kendali emosi yang lebih baik/tenang tentunya.

Di sisi lain, ibu juga perlu untuk memahami dan menerima cara suami menghadapi “emosi-emosi” Ibu. Yang bisa jadi tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginan ibu. Karena gaya komunikasi tiap-tiap orang berberbeda. Pertahankan pikiran positif terhadap suami ibu.