Bagaimana cara melakukan pembebatan atau pembalutan yang baik?

Pembebatan

Pembebatan adalah penutupan suatu bagian tubuh yang cedera dengan bahan tertentu dan dengan tujuan tertentu.

Tujuan dilakukannya Pembebatan antara lain :

  1. Menahan sesuatu seperti :
    • Menahan penutup luka
    • Menahan pita traksi kulit
    • Menahan bidai
    • Menahan bagian tubuh yang cedera dari gerakan dan geseran (sebagai splint)
  2. Melindungi bagian tubuh yg cedera
  3. Mengatasi perdarahan
  4. Mengurangi bengkak

Prinsip – prinsip pembebatan atau pembalutan adalah :

  1. Balutan harus rapat , rapi jangan terlalu erat karena dapat menganggu sirkulasi
  2. Jangan terlalu kendor sehingga mudah bergeser atau lepas
  3. Ujung – ujung jari dibiarkan terbuka untuk megetahui adanya gangguan sirkulasi
  4. Bila ada keluhan balutan terlalu erat hendaknya sedikit dilonggarkan tapi tetap rapat, kemudian evaluasi keadaan sirkulasi

Bagaimana cara melakukan pembebatan atau pembalutan yang baik ?

Prinsip Dasar Pembebatan

Derajat penekanan yang dihasilkan oleh suatu pembebatan sangat penting untuk diperhatikan, penekanan yang diberikan tidak boleh meningkatkan tekanan hidrostatik yang berakibat meningkatkan edema jaringan, juga jangan sampai mengganggu sirkulasi darah di daerah luka dan sekitar luka.

Derajat penekanan tersebut ditentukan oleh interaksi yang kompleks antara empat faktor utama yaitu :

  1. Struktur fisik dan keelastisan dari pembebat.
  2. Ukuran dan bentuk ekstremitas yang akan dibebat.
  3. Keterampilan dan keahlian dari orang yang melakukan pembebatan.
  4. Bentuk semua aktivitas fisik yang dilakukan pasien.

Tekanan dari suatu pembebat merupakan fungsi dari tekanan oleh bahan pembebat, jumlah lapisan pembebat dan diameter dari ekstremitas yang dibebat. Hubungan faktor-faktor ini telah disusun oleh

Hukum Laplace yang menyatakan bahwa

”tekanan dari tiap lapisan pembebat berbanding lurus dengan tekanan pembebat dan berbanding terbalik dengan diameter dari ekstremitas yang dibebat”.

Rumus untuk menghitung tekanan tiap lapis pembebatan (sub-bandage pressure) :

image

n = jumlah lapisan pembebatan

Rumus ini hanya berlaku pada saat awal pembebatan dilakukan karena kebanyakan pembebat kehilangan elastisitas yang signifikan dari tahanan awal sesuai dengan berjalannya waktu.
Hal yang penting dalam pembebatan adalah metode dari pembebatan itu sendiri, karena pada prakteknya pembebatan dilakukan dengan bentuk spiral di mana terjadi overlapping antar pembebat yang menentukan jumlah lapisan yang melingkari titik tertentu pada ekstremitas. Overlap 50 secara efektif menghasilkan tekanan dua lapis, overlap 66 secara efektif menghasilkan tekanan tiga lapisan. Hal ini perlu mendapat perhatian agar tidak terjadi penekanan berlebihan pada suatu titik di daerah pembebatan yang dapat mengakibatkan nekrosis jaringan.

Pentingnya pemilihan lebar pembebat yang tepat.

Pada pembebatan diperlukan pemilihan pembebat yang tepat karena hal ini sangat mempengaruhi besarnya tekanan yang diberikan oleh pembebat pada bagian yang dibebat. Sesuai formula di atas bahwa tekanan tiap lapis pembebatan berbanding lurus dengan tahanan yang diberikan serta berbanding terbalik dengan diameter lokasi pembebatan dan lebar pembebat sehingga semakin lebar pembebat tekanan yang dihasilkan makin kecil.

Pentingnya jumlah lapisan pembebatan yang diberikan.

Pada pembebatan diperlukan penentuan jumlah lapisan pembebat yang tepat karena hal ini sangat mempengarihi besarnya tekanan yang diberikan oleh pembebat pada bagian yang dibebat. Sesuai formula di atas bahwa tekanan tiap lapis pembebatan berbanding lurus dengan tahanan yang diberikan serta berbanding terbalik dengan diameter lokasi pembebatan dan lebar pembebat sehingga semakin banyak lapisan pembebatan yang dilakukan tekanan yang dihasilkan makin besar.

Manfaat Pembebatan (Bandage)

  1. Menopang suatu luka, misalnya tulang yang patah.
  2. Mengimobilisasi suatu luka, misalnya bahu yang keseleo.
  3. Memberikan tekanan, misalnya dengan bebat elastik pada ekstremitas inferior untuk meningkatkan laju darah vena.
  4. Menutup luka, misalnya pada luka setelah operasi abdomen yang luas.
  5. Menopang bidai (dibungkuskan pada bidai).
  6. Memberikan kehangatan, misalnya bandage flanel pada sendi yang rematik.

Tipe-Tipe Pembebat

1) Stretchable Roller Bandage

Pembebat ini biasanya terbuat dari kain, kasa, flanel atau bahan yang elastis. Kebanyakan terbuat dari kasa karena menyerap air dan darah serta tidak mudah longgar. Jenis-jenisnya :

  • Lebar 2.5 cm : digunakan untuk jari-kaki tangan
  • Lebar 5 cm : digunakan untuk leher dan pergelangan tangan
  • Lebar 7.5 cm : digunakan untuk kepala, lengan atas, daerah, fibula dan kaki.
  • Lebar 10 cm : digunakan untuk daerah femur dan pinggul.
  • Lebar 10-15 cm : digunakan untuk dada, abdomen dan punggung.

image
Gambar Roller bandage

2) Triangle Cloth

Pembebat ini berbentuk segitiga terbuat dari kain, masing-masing panjangnya 50-100 cm. Digunakan untuk bagian-bagian tubuh yang berbentuk melingkar atau untuk menyokong bagian tubuh yang terluka. Biasanya dipergunakan untuk luka pada kepala, bahu, dada, tangan, kaki, ataupun menyokong lengan atas.

3) Tie shape

Merupakan triangle cloth yang dilipat berulang kali. Biasanya digunakan untuk membebat mata, semua bagian dari kepala atau wajah, mandibula, lengan atas, kaki, lutut, maupun kaki.

4) Plaster

Pembebat ini digunakan untuk menutup luka, mengimobilisasikan sendi yang cedera, serta mengimobilisasikan tulang yang patah. Biasanya penggunaan plester ini disertai dengan pemberian antiseptic terutama apabila digunakan untuk menutup luka.

5) Steril Gauze (kasa steril)

Digunakan untuk menutup luka yang kecil yang telah diterapi dengan antiseptik, antiradang dan antibiotik.

Putaran Dasar Dalam Pembebatan

1) Putaran Spiral (Spiral Turns)

Digunakan untuk membebat bagian tubuh yang memiliki lingkaran yang sama, misalnya pada lengan atas, bagian dari kaki. Putaran dibuat dengan sudut yang kecil, ± 30 dan setiap putaran menutup 2/3-lebar bandage dari putaran sebelumnya.

image
Gambar Putaran Spiral (Spiral Turns)

2) Putaran Sirkuler (Circular Turns)

Biasanya digunakan untuk mengunci bebat sebelum mulai memutar bebat, mengakhiri pembebatan, dan untuk menutup bagian tubuh yang berbentuk silinder/tabung misalnya pada bagian proksimal dari jari kelima. Biasanya tidak digunakan untuk menutup daerah luka karena menimbulkan ketidaknyamanan. Bebat ditutupkan pada bagian tubuh sehingga setiap putaran akan menutup dengan tepat bagian putaran sebelumnya.

image
Gambar Putaran Sirkuler (Circular Turns)

3). Putaran Spiral terbalik (Spiral Reverse Turns)

Digunakan untuk membebat bagian tubuh dengan bentuk silinder yang panjang kelilingnya tidak sama, misalnya pada tungkai bawah kaki yang berotot. Bebat diarahkan ke atas dengan sudut 30, kemudian letakkan ibu jari dari tangan yang bebas di sudut bagian atas dari bebat. Bebat diputarkan membalik sepanjang 14 cm (6 inch), dan tangan yang membawa bebat diposisikan pronasi, sehingga bebat menekuk di atas bebat tersebut dan lanjutkan putaran seperti sebelumnya.

image
Gambar Putaran Spiral terbalik (Spiral Reverse Turns)

4). Putaran Berulang (Recurrent Turns)

Digunakan untuk menutup bagian bawah dari tubuh misalnya tangan, jari, atau pada bagian tubuh yang diamputasi. Bebat diputar secara sirkuler di bagian proksimal, kemudian ditekuk membalik dan dibawa ke arah sentral menutup semua bagian distal. Kemudian kebagian inferior, dengan dipegang dengan tangan yang lain dan dibawa kembali menutupi bagian distal tapi kali ini menuju ke bagian kanan dari sentral bebat. Putaran kembali dibawa ke arah kiri dari bagian sentral bebat. Pola ini dilanjutkan bergantian ke arah kanan dan kiri, saling tumpang-tindih pada putaran awal dengan 2/3 lebar bebat. Bebat kemudian diakhiri dengan dua putaran sirkuler yang bersatu di sudut lekukan dari bebat.

image
Gambar Putaran Berulang (Recurrent Turns)

5). Putaran seperti angka Delapan (Figure-Eight Turns)

Biasanya digunakan untuk membebat siku, lutut, atau tumit. Bebat diakhiri dengan dua putaran sirkuler menutupi bagian sentral sendi. Kemudian bebat dibawa menuju ke atas persendian, mengelilinginya, dan menuju kebawah persendian, membuat putaran seperti angka delapan. Setiap putaran dilakukan ke atas dan ke bawah dari persendian dengan menutup putaran sebelumnya dengan 2/3 lebar bebat. Lalu diakhiri dengan dua putaran sirkuler di atas persendian.

image
Gambar Putaran Seperti Angka delapan (Figure-Eight Turns)

Prinsip Pembebatan (Bandage)

  1. Memilih bebat berdasarkan jenis bahan, panjang, dan lebarnya.

  2. Bila memungkinkan, menggunakan bebat baru; bebat elastik kadangkala elastisitasnya berkurang setelah digunakan atau dicuci.

  3. Memastikan bahwa kulit pasien di daerah yang terluka bersih dan kering.

  4. Menutup luka sebelum pembebatan dilakukan di daerah yang terluka.

  5. Memeriksa neurovaskuler di bagian distal luka, bila relevan.

  6. Bila diperlukan, pasang bantalan untuk menekan daerah yang terluka.

  7. Mencari asisten bila bagian dari tubuh yang terluka perlu ditopang selama prosedur pembebatan dilakukan.

  8. Meminta pasien memilih posisi senyaman mungkin, dengan bagian yang akan dibebat ditopang pada posisi segaris dengan sendi sedikit flexi, kecuali bila hal ini merupakan kontraindikasi.

  9. Melakukan pembebatan berhadapan dengan bagian tubuh yang akan dibebat (kecuali pada pembebatan kepala dilakukan dari belakang pasien).

  10. Memegang rol bebat dengan rol menghadap ke atas di satu tangan, ujung bebat dipegang tangan yang lain.

  11. Mulai melakukan pembebatan dari bagian distal menuju proximal, dari bagian dengan diameter terkecil menuju diameter yang lebih besar dan dari medial menuju lateral dari bagian tubuh yang terluka. Jangan mulai membebat di daerah yang terluka.

  12. Untuk memperkuat posisi bebat, supaya bebat tidak mudah terlepas/ bergeser, lakukan penguncian ujung bebat sebelum mulai memutar bebat.

image
Gambar Mengunci bebat sebelum memulai memutar

  1. Bila memungkinkan, pembebatan dilakukan searah dengan pengembalian darah vena untuk mencegah pengumpulan darah.

  2. Memutar bebat saling tumpang tindih dengan 2/3 lebar bebat, pasang bebat dengan lembut meskipun sambil menekan.

  3. Menjaga ketegangan dari bebat, hal ini dibantu dengan memastikan bagian bebat yang bukan rol tetap dekat dengan permukaaan tubuh.

  4. Memastikan bebat yang saling tumpang tindih tidak menekuk atau berkerut.

  5. Memastikan bahwa bebat terpasang dengan baik dibagian atas dan bawah daerah yang terluka, namun jari atau ibu jari jangan dibebat supaya dapat mengobservasi neurovaskuler daerah tersebut.

  6. Memotong bebat bila terlalu panjang sisanya; jangan memutar berlebih di akhir pembebatan.

  7. Mengunci atau menutup bagian akhir bebat, dan memastikan pasien tidak akan melukai dirinya. Mengunci bagian akhir bebat bisa dilakukan dengan :

    • Melakukan beberapa kali putaran sirkuler kemudian dijepit dengan pin atau diplester.
    • Menggunakan simpul (gambar di bawah)


Gambar Atas : Mengunci atau menutup bagian akhir bebat; bawah : square knot

Prosedur Pembebatan

  1. Perhatikan hal-hal berikut :
    • Lokasi/ tempat cidera
    • Luka terbuka atau tertutup
    • Perkiraan lebar atau diameter luka
    • Gangguan terhadap pergerakan sendi akibat luka
  2. Pilihlah pembebat yang benar, dan dapat memakai kombinasi lebih dari satu jenis pembebat.
  3. Jika terdapat luka dibersihkan dahulu dengan disinfektan, jika terdapat dislokasi sendi diposisikan seanatomis mungkin.
  4. Tentukan posisi pembebat dengan benar berdasarkan :
    • Pembatasan semua gerakan sendi yang perlu imobilisasi
    • Tidak boleh mengganggu pergerakan sendi yang normal
    • Buatlah pasien senyaman mungkin pada saat pembebatan
    • Jangan sampai mengganggu peredaran darah
    • Pastikan pembebat tidak mudah lepas.

Sumber :

Jarot Subandono, Warsito, Ida Nurwati, Mutmainah, E. Listyaningsih, Isna Qadrijati, Dian Ariningrum, Rieva Ermawan, Tito Sumarwoto, Desy Kurniawati Tandiyo, Anak Agung Alit Kirti, Pembebatan dan pembidaian, Fakultas Kedokteran UNS dan RSU dr Moewardi