Bagaimana Cara Melakukan Koreksi Terhadap Orang Lain dengan Baik?

Kenapa kita mengoreksi orang lain? Ini adalah masalah presepsi. Sebagian oreng merasa mereka menjadi orang yang berguna ketika mereka mengoreksi kesalahan orang lain. Disisi lain, sebagian orang menganggap itu perbuatan yang kasar dan tidak ingin melakukannya. Namun ada juga sebagian orang yang dengan sengaja ingin membuat orang lain jelek dimata publik. Jadi, orang yang dikoreksi bisa saja merasa senang maupun marah tergantung dengan sifat yang mereka punya.

Ada beberapa alasan mengapa orang mengoreksi orang lain, antara lain:

  • menjadi berguna dengan cara menemukan kesalahan pada orang lain,
  • mereka merasa bahwa membiarkan sesuatu yang salah bukanlah cara yang benar,
  • membagi kebenaran kepada orang lain,
  • merasa sombong karena lebih pintar dari pada orang lain dan ingin menunjukan kepintarannya,
  • dorongan kompetitif dari dalam diri.

Mengoreksi orang lain sekali atau dua kali bukanlah hal yang buruk. Menemukan kesalahan yang sering dilakukan orang lain bisa menjadi sangat berguna untuk orang itu. Kecuali ketika kita dengan sengaja mencari-cari kesalahan orang lain untuk dikoreksi bisa menjadi hal yang sangat menyebalkan dan menyakitkan. Dalam kasus ini, orang lain bisa menjadi takut jika salah berbuat atau berbicara.

Banyak orang yang suka sekali mengkritik orang lain tanpa memberi solusi yang jelas. Memang benar bahwa menemukan kesalahan jauh lebih mudah daripada membenahi apa yang salah. Kebanyakan juga, kritik yang diberi malah menjatuhkan ketimbang memotivasi orang lain. Disini kita bisa melihat bahwa kemampuan berpikir kritis untuk menemukan kesalahan dan memberikan solusi atas kesalahan tersebut sangat dibutuhkan terutama bagi seorang pemimpin.

Diharapkan seorang pemimpin tidak menyalahkan bawahannya tanpa dasar yang jelas. Seorang pemimpin seharusnya bisa membimbing bawahannya. Tentu saja bawahan anda akan merasa kesal jika pekerjaannya selalu disalahkan tanpa pernah dihargai. Maka dari itu, kemampuan untuk mengoreksi orang lain sangat dibutuhkan.

Lalu, bagaimana cara mengoreksi orang lain dengan benar?

Jika kita ingin mengoreksi seseorang, kita harus mengetahui terlebih dahulu siapa orang yang kita koreksi. Kita harus bisa mengoreksi seseorang tanpa membuat orang itu tersinggung. Sebaliknya, orang lain akan berterima kasih kepada kita karena telah diberi masukan.

Ketika kita mengoreksi orang lain sebaiknya tidak dilakukan di depan orang banyak karena orang akan cenderung mengingat rasa malu ketika salah di depan banyak orang.

3 Likes

Aturan untuk Mengkoreksi Orang Lain menurut Maralee McKee

• Mengkoreksi, walaupun saudara ataupun anak kita, koreksi tidak di depan umum.
Ketika mengoreksi orang yang lebih tua ataupun anak Anda di depan umum, ia akan malu. Ia akan “lebih dari” merasa diberi pembenaran.

• “Um, sebenarnya …” Apapun berikut dua kata tersebut biasanya bukan pertanda baik untuk orang lain.
Berpikir sebelum mengatakan kepada mereka, beri kata yang lebih jelas dibanding menggunakan dua kata tersebut.

• Sebelum mengoreksi orang lain, terutama ketika mengoreksi mereka secara terbuka, tanyakan pada diri Anda pertanyaan ini: Apakah informasi yang saya berikan dengan memperbaiki mereka cukup “baik” untuk mengimbangi rasa malu mereka ? Hanya jika jawabannya adalah ya harus Anda melanjutkan.

• Koreksi yang mengakibatkan orang berterima kasih bukannya membenci Anda.

• Siapa yang lebih memiliki tanggung jawab untuk mengkoreksi ?

• Apa cara terbaik untuk memperbaiki orang lain ?
Hanya katakan hal yang benar. Ketika koreksi tidak terjadi segera karena ada orang lain di sekitar Anda mungkin perlu untuk mengingatkan mereka tentang apa yang mereka katakan itu tidak benar, tetapi jika bagian itu tidak diperlukan, maka lewatkanlah.

2 Likes

Di dalam kehidupan kita sehari hari kita pasti menghadapi situasi atau keadaan dimana teman, saudara, atau rekan kerja kita melakukan kesalahan dan kita ingin mengoreksinya. Tetapi, tak jarang kita segan untuk berbicara karena takut mengatakan hal yang salah dan menyakiti hatinya. Berikut ada beberapa cara yang dapat kita gunakan untuk melakukan koreksi terhadap orang lain dengan baik khususnya di dunia kerja:

  1. Mulai dari hal yang positif
    Sebelum kita langsung mengkoreksi rekan kita yang salah dengan memberitahu kesalahannya dan tidak jarang hal ini menyakiti hatinya, ada baiknya kita melihat effort yang sudah dilakukannya untuk menyelesaikan tugasnya tersebut. Mulai dari menilai hal yang positif itu dahulu lalu memberitahu kesalahannya.

  2. Jangan terdengar otoriter
    Mungkin kita sudah memiliki jabatan yang tinggi dikantor, tetapi bukan berarti kita adalah orang yang selalu benar dan tidak pernah melakukan kesalahan. Menjadi terlalu berwibawa dan konfrontatif dan bersikap megah hanya akan merendahkan rekan kerja anda. Sebaliknya ketika anda melihat rekan anda melakukan kesalahan, beritahu dia dan ajak diskusi bersama.
    Contoh : Saya membaca hal 10 dan ada yang kurang cocok untuk saya. Bagaimana kalo kita melihat sebentar halaman ini dan mendiskusikannya bersama?

  3. Memanfaat Kalimat Pertanyaan yang sesuai
    Dari contoh nomor 2 diatas, dapaat dilihat bahwa dari pertanyaan tersebut keliatan ramah dan friendly. Ungkapan kalimat pertanyaan, dan bukan pernyataan membuatnya jelas bahwa tujuan anda adalah untuk memfasilitasi percakapan yang akhirnya meningkatkan hasil akhir.
    Contoh : Saya melihat bahwa Anda ingin mengajak Tim A untuk melakukan proyek ini. Tapi, apakah Anda sudah sangat yakin mereka dapat menyelesaikannya sampai selesai?

  4. Memberikan Bukti
    Dalam mengoreksi orang lain tidak selalu anda harus menunjukkan bukti kesalahannya. Tetapi ada situasi ketika lebih baik anda memberikannya bukti dan memberikan solusinya jika Anda tahu.
    Contoh : Aku pernah melakukan perhitungan ini sebelumnya beberapa bulan yang lalu. Aku dapat menunjukkan kepadamu nanti siang saat jam istirahat jika kamu mau.

  5. Tawarkan bantuan
    Walaupun setiap orang sudah memiliki job desk nya masing-masing, tetapi ketika rekan kerjamu melakukan kesalahan dan kamu tau bagaimana yang benar, kamu dapat membantunya. Selain memastikan dia tidak melakukan kesalahan lagi, kamu juga keliatan sebagai rekan kerja yang baik.

  6. Gunakan nada yang lembut dan ramah
    Hal ini merupakan yang paling penting dalam orang lain. Karena yang kamu maksudkan dapat berbeda jika kamu menggunakan nada yang salah. Selain itu kamu juga harus menjaga body language kamu seperti menyilangkan tangan Anda didepan rekan kerja kamu yang salah. Berikan nada yang friendly dan optimis kepada rekan kerja kamu ketika kamu mengkritiknya.

Sumber: https://www.themuse.com/advice/6-ways-to-correct-a-coworker-without-coming-off-as-a-condescending-knowitall

2 Likes

Di saat kita sudah bekerja atau di lingkungan kantor, akan ada banyak alasan mengapa koreksi mungkin diperlukan. Kesalahan menulis yang ceroboh akan mungkin menempatkan perusahaan dalam masalah dan menimbulkan kesan kurang memperhatikan detail. Cara mengingatkan sesama rekan kerja tentang kesalahan mereka atau seorang atasan akan menjadi penting. Berikut cara memperbaiki kesalahan yang tidak akan menyinggung sesama rekan kerja menurut Michele Lim :

  1. Perhatikan situasi dan motif. Apa yang menjadi motif untuk memperbaiki orang lain. Jika kesalahan dapat berakhir menyesatkan klien atau manajer senior maka memperbaiki memang perlu dilakukan. Namun, jangan menimbulkan kesan bahwa kita tahu segalanya dan perlu berhati-hati dengan motif orang lain yang tersembunyi. Pastikan kita memiliki kepentingan untuk membantu orang lain sebelum mulai menawarkan koreksi apapun.

  2. Perhatikan apakah koreksi yang diperlukan. Jika saat memeriksa pekerjaan manajer dan melihat beberapa kesalahan ketik,kita akan mengalami kebingungan untuk mengoreksi kesalahan. Karena manajer adalah atasan kita, maka akan lebih baik untuk mengatasinya dengan mengatakan sesuatu seperti, "Oh, hanya ada beberapa kesalahan ketik dalam presentasi; saya juga kadang-kadang salah ketik seperti itu!”.

  3. Jangan pernah mengoreksi seseorang di depan publik. Ketika mengoreksi selalu lakukan dengan yang bersangkutan saja dengan membuatnya terlihat seperti pikiran itu baru terlintas sejenak saja. Hal ini dilakukan agarsesama rekan kerja tidak merasa malu. Satu-satunya waktu yang diperbolehkan untuk mengoreksi seseorang di depan umum adalah jika itu akan menghemat banyak waktu dan menghindari kerumitan nanti. Misalnya, jika Anda sedang rapat dan semua orang berbicara tentang topik yang salah, maka membantu mereka mendapatkan di jalur yang benar akan menghemat banyak waktu-hanya menjadi efektif dan efisien.

  4. Jangan mengoreksi melalui email jika dapat membantu secara langsung. Tatap muka dengan orang itu akan membantu mereka melihat niat kita yang baik untuk mengoreksi kesalahan mereka.

  5. Mulailah mengoreksi dengan menunjukkan kesalahan kita. Mulai dari koreksi dengan, “Saya mungkin salah, tapi …” atau, “Saya mungkin hanya bingung, tapi …” membuat koreksi yang mengikuti lebih enak. Jika Anda berbicara tentang kesalahan Anda sendiri pertama, orang tidak akan menjadi seperti defensif ketika Anda mengatasi mereka.

  6. Sampaikan dengan fakta. Untuk membuktikan hal yang benar, pastikan kita memiliki fakta-fakta yang disiapkan sebelum melakukan koreksi.

  7. Membuat umpan balik sandwich. Caranya dengan melakukan koreksi dengan lembut. Kita mencoba mengapit koreksi antara dua pujian. Namun, jangan digunakan terlalu sering dan ketika kita melakukannya, pastikan pujian tersebut tulus.

  8. Kita harus menerima kenyataan. Bahwa akhirnya, kita harus menyadari bahwa beberapa orang tidak akan menerima koreksi, bahkan jika mereka ditawarkan dengan maksud terbaik. Jika itu yang terjadi, maka tidak perlu memaksa dan membiarkan mereka mencari tahu sendiri.

1 Like

Cara Mengoreksi Orang Lain dengan Baik dan Sopan

Setiap orang pasti melakukan kesalahan, kita hanya memerlukan orang yang tepat untuk mengoreksi dan mengingatkan kita akan kesalahan tersebut, jika Anda ingin mengoreksi orang lain di depan umum, janganlah berbicara dengan berteriak atau nada marah, karena mengoreksi seseorang di publik dengan cara tidak sopan bukan sesuatu yang membanggakan.

Mengoreksi orang lain dengan berbicara yang sopan dan tetap ramah akan lebih membanggakan diri sendiri dan bisa dapat diterima oleh orang tersebut. Seperti " Hei, Tony. Saya melihat kamu menggunakan garpu makan malammu untuk makan salad. Tidak peduli berapa banyak, tetapi mungkin kamu bisa melakukan itu diluar ruangan, jika kamu mau, kamu dapat melihat apa yang saya lakukan" Membantu seseorang menghindari rasa malu lebih terhormat.

Mengoreksi seseorang harus untuk membangunnya menjadi lebih baik. Bersikap baik dan sopan bukan berarti mengoreksi orang lain untuk menunjukkan seberapa sopan Anda untuk membuat orang tersebut mengikuti aturan Anda. Yakinlah bahwa tidak semua orang akan menerima koreksi Anda, jangan tersinggung atau marah bila orang tersebut tidak setuju dengan apa yang Anda katakan, jika orang tersebut ingin belajar dengan cara mereka sendiri biarkanlah.

Apakah sopan mengoreksi orang lain di depan umum?:slight_smile:
Tergantung pada tempatnya, mengoreksi seseorang di depan orang banyak biasanya akan menunjukkan Anda tidak menghormati orang tersebut. Namun, ada kalanya mengoreksi seseorang di depan umum menjadi penting bagi Anda, seperti pada rapat di sebuah perusahaan, jika Anda dapat mengoreksi rekan kerja atau bahkan atasan Anda dengan baik, sopan, lembut dan tulus mengatakannya, itu akan menjadi nilai plus atau poin tersendiri untuk Anda dan akan menyelematkan orang tersebut dari rasa malu.

" Bersikap sopan bukan berarti mengoreksi operilaku orang lain untuk menunjukkan seberapa berbudi kita "

Sumber :how to polltely correct someone

Mengoreksi orang lain dalam pandangan Islam

Kita hidup di zaman dimana banyak orang sengaja atau tidak lebih banyak menghakimi orang lain dengan cara menilai norma dan mengejek karena kesalahan orang tersebut. Dalam islam banyak juga dijelaskan, sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Menilai seseorang merupakan sebuah hal yang menjadi tanggung jawab ketika kita menilai kesalahan orang tersebut. Dalam islam kita diajarkan untuk menilai orang dengan cara yang indah, sebagai contoh kita tidak pernah diperbolehkan untuk berburuk sangka terhadap orang lain, dan masih banyak lagi contoh yang lain. Hal ini juga telah dijelaskan dalam hadist Rosullah SAW yang menceritakan tentang contoh untuk menilai orang lain.

Anas bin Malik berkata, "Ketika kami berada di masjid dengan Rasulullah SAW, suku badui datang dan kencing di masjid. Para sahabat berkata, "Hentikan! Hentikan”.
Tapi, Rasulullah SAW bersabda, "Jangan menyela dia! tinggalkan dia sendirian"
Jadi mereka meninggalkannya sampai dia selesai buang air kecil, maka Rasulullah memanggilnya dan berkata kepadanya, "Di masjid ini, itu tidak baik untuk melakukan hal seperti buang air kecil atau buang air besar. Masjid hanya untuk mengingat Allah, berdoa dan membaca Qur`an. "Lalu Rosulluah SAW memerintahkan seorang laki-laki yang ada di sana untuk membawa seember air dan membuangnya di atas (air kecing), dan ia melakukannya.

Nah, dari cerita hadist di atas bisa kita mabil kesimpulan bahwa menilai orang harus dengan cara yang indah. Karena orang yang kita nilai belum tentu sesuai dengan apa yang kita pikirkan, sehingga hal itu bisa menyebabkan kita terjerumus pada dosa. Selama ini sebagian besar dari kita menilai orang dari kesalahannya, bagaimana sih agar kita bisa menilai orang dengan cara yang indah??

1. Kasih sayang dan cinta
Dengan kasih sayang dan cinta maka kita akan bisa menilai orang lain dengan tenang, bukan dengan emosi. Dan kita bisa memberikan orang lain tersebut arahan yang lebi baik, bukan malah memaki atau memberi penilain buruk terhadap orang tersebut.

2. Memahami orang
Jadi sebelum kita menilai orang lain, sebaiknya kita lebih memahami orang lain tersebut. Karena belum tentu kita tahu kenapa orang tersebut melakukan hal tersebut. Memahami psikolog mereka yang melakukan kesalahan akan lebih sopan dan baik dilakukan daripada kita mengolok atau memarahi mereka. Karena hal baik yang kita lakukan juga akan berdampak baik bagi orang lain

3. Menirukan akhlak Nabi Muhammad SAW
Sebagai umat islam kita disunnahkan untuk mengikuti jejak Rosullah SAW, baik dalam segi ajaran maupun akhlak. Rosullah sudah banyak mengajarkan kita untuk bersikap baik dan sopan dalam menilai orang lain, seperti cerita dalam hadist di atas tadi. Hal tersebut sudah sangat menggambarkan untuk menilai orang lain dengan cara yang baik.

REFERENSI : THE PROPHETIC WAY OF CORRECTING MISTAKES

Mengkoreksi orang lain memang bukan sesuatu yang mudah untuk dierima, walaupun bila ditanya, hampir sebagian besar orang akan mengatakan bahwa mengkoreksi itu diperlukan untuk membangun diri dan memajukan suatu pribadi seseorang. Jarang sekali kita menemukan hal mengenai koreksi itu dibahas, alasannya mungkin karena sesuatu yang tidak disukai itu lebih baik jangan dibahas, disimpan saja di dalam hati.

Bila hanya disimpan saja, maka tidak akan pernah ada perubahan yang terjadi dalam penanganan orang terhadap pengkoreksian. koreksi itu bagus, dapat membangun, dan diperlukan. Seberapa banyak pun kalimat positif yang diontarkan tentang koreksi, tetap saja banyak orang yang tidak suka terhadap yang namanya pengkoreksian diri.

Pernyataan bahwa koreksi itu adalah hal yang positif dapat disetujui, selama koreksi tersebut tidak diajukan kepada seseorang. Ketika ada koreksi yang ditujukan kepada seseorang, mendadak koreksi tersebut berubah menjadi suatu hal yang buruk, menakutkan, dan patut dibasmi keberadaannya. Saya yakin bahwa kita ingin menjadi orang yang menerima koreksi dan dapat memanfaatkannya bagi kemajuan diri dan pekerjaan. Output yang diharapkan dari tulisan ini adalah bagaimana mengelola koreksi yang diterima, kemudian menjadikannya cambuk bagi kemajuan diri dan suatu pekerjaan.

Menurut penelitian Listiani Aslim, MBA., CBA., CMHA. yang membahas tentang koreksi diri, bahwa terdapat 2 hal yang harus diketahui dalam mengkoreksi diri orang lain.

  1. Apa koreksi Itu?
  2. Apakah yang dibangun oleh koreksi itu?

Ada banyak sekali pengertian tentang koreksi tersebut. akan tetapi menurut Listiani Aslim, MBA., CBA., CMHA. secara sederhana koreksi adalah penilaian seseorang terhadap hal diekspresikan dalam bentuk perkataan dan tingkah laku tertentu terhadap objek yang dinilai / objek koreksi. Adapun objek koreksi dibedakn menjadi lima, yaitu:

  1. Seseorang
    Objek sebuah koreksi dapat berupa perseorangan, misalnya atasan kepada seorang bawahan, bawahan kepada rekan kerjanya, seorang teman kepada teman lainnya, dan masih banyak lagi. Pengenaan terhadap objek ini dapat ditujukan kepada orang yang dikenal maupun orang belum dikenal, dapat ditujukan kepada orang yang sudah memiliki hubungan maupun yang tidak mempunyai hubungan apapun.

  2. Sebuah grup atau organisasi
    Objek koreksi lainnya adalah dari seseorang ke grup, dari grup ke seseorang, atau dari grup ke grup lainnya.

  3. Sebuah karya
    Sebuah karya juga dapat menjadi objek koreksi. Misalnya karya seni, sekalipun seni itu subjektif, tetap saja ada kemungkinan koreksi yang akan datang, baik berasal dari orang yang mengerti tentang seni maupun orang yang sama sekali awam tentang seni. Tentu saja dari sudut pandang yang berbeda. Hasil kerja seseorang juga dapat disebut sebagai karya, sebuah presentasi, sebuah pengerjaan proyek, dan sebuah karya masakan yang dapat dikoreksi.

  4. Sebuah perilaku
    Sebuah perilaku juga dapat dijadikan sebagai objek koreksi. Sikap dari seseorang, termasuk cara berkata, cara menempatkan diri, dan cara berpakaian, sangat menarik untuk dijadikan sebagai objek koreksi.

  5. Sebuah hubungan
    Sebuah hubungan, misalnya hubungan kerja, pertemanan, guru-guru, dan anak-orangtua, pada setiap hubungan tersebut memiliki standar masing-masing dan sangat mungkin terdapat koreksi didalamnya. Misalnya hubungan guru-murid. Di dalam benak sang guru, seorang murid seharusnya memiliki standar tertentu dalam menjalin hubungan dengan gurunya dan demikian juga sebaliknya. Ketidaksesuaian standar dalam benak masing-masing pihak itulah yang kemudian menghasilkan koreksi dari salah satu, dengan harapan agar standar mereka dipenuhi.

Setelah mengetahui objek yang dikoreksi maka harus mengetahui pula beberapa tujuan dari koreksi itu sendiri, yaitu:

  1. Menyatakan kesalahan
    Tujuan yang pertama ini adalah yang paling ditakuti atau dibenci. Tidak ada seorang pun yang suka bila dianggap jelek, salah, atau kurang. Tujuan spesifiknya hanya untuk menunjukkan bahwa orang lain lebih jelek atau lebih banyak kekurangannya dibandingkan dengan diri pengkoreksi.

  2. Menyatakan perbandingan
    Penampilan, kinerja, cara, atau gaya, Semuanya dibandingkan dengan sesuatu yang dianggap sejenis, namun memiliki nilai yang lebih baik.

  3. Evaluasi
    Biasanya, tujuannya adalah untuk hasil yang lebih baik di masa yang akan datang, cara penyampaiannya juga berbeda. Ia akan bersedia menunjukkan caranya agar objek kritik itu dapat memperbaiki kekurangan atau kesalahan yang dilakukannya di masa mendatang.

  4. Menyerang pribadi
    Tujuan kritik ini menjadikan kritik menjadi sebagai senjata untuk menyerang pihak lain dan karena adanya rasa tidak suka, dendam, atau iri secara pribadi. Setiap kritik yang disampaikan secara sengaja diucapkan dengan tekanan tertentu agar objek yang menerima kritik merasa malu, direndahkan, dan diremehkan.

  5. Menambah wawasan dan pilihan
    Tujuan koreksi yang kelima ini merupakan tujuan yang terbaik. Seseorang diberikan masukan agar mendapatkan data atau wawasan lebih banyak untuk menjadi bahan yang dapat diolah sesuai dengan kebutuhan sang objek agar performa yang akan datang memiliki lebih banyak pilihan daripada yang sudah ada sebelumnya.

sehingga koreksi yang membangun adalah koreksi yang mengubah lingkaran korban menjadi lingkaran penghargaan. Adapun lingkaran korban dan lingkaran penghargaan seperti pada diagram yang saya gambarkan berikut:

Lingkaran Korban

Lingkaran Penghargaan

jadi dalam mengkoreksi orang lain yang lebih baik mengubahnya menjadi lingkaran penghargaan. mengenal obyek dan tujuannya untuk apa, sehingga kita dapat memberikan koreksi yang baik kepada orang lain.

Mengoreksi Orang Lain jika Melakukan Kesalahan
Kesalahan adalah konsekuensi dalam kehidupan dan kita sebagai manusia, yang membuat kita belajar dan tumbuh menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Kesalahan dapat menjadi katalis untuk meningkatkan diri sendiri dan pengingat ketidaksempurnaan kita sebagai manusia. Meskipun begitu, kita harus tetap menafsirkan bahwa kesalahan bukan berarti sebuah kesempatan, melainkan sebuah musibah. Nabi Muhammad SAW berpendapat bahwa kesalahan adalah momen terbaik untuk belajar, meskipun Nabi mengajarkan para sahabatnya untuk berjuang agar menjadi yang terbaik dan menaklukan kelemahan yang mereka miliki, kesalahan pasti dilakukan bisa saja kesalahan kecil atau besar. Nabi Muhammad SAW mengoreksi kesalahan orang lain dengan kelembutan, empati, dan kreativitas. Nabi memanfaatkan kesalahn sebagai kesempatan untuk membuat orang tersebut menjad lebih baik, bukan untuk membuat mereka semakin terpuruk.
Ini adalah beberapa aspek Nabi Muhammad SAW memperbaiki kesalahan-kesalahan:

  • Memberitahu letak kesalahan
    Karena kesalahan dapat membuat kita gelisah, kita bisa saja mengabaikannya atau berpikir bahwa masalah tersebut bukanlah urusan kita. Tunjukkan letak kesalahan jangan pada tempat keramaian, tetapi secara diam-diam (menemui langsung personal) dengan menyampaikan langsung ke inti masalahnya agar perasaan orang yang bersangkutan tidak terlukai. Atau Nabi melakukkannya tidak dengan kata-kata, tetapi dengan perilaku. Yakni, Nabi hanya menunjukkan perubahan sikap terhadap orang yang melakukan kesalahan, sehingga mereka menyadari bahwa dirinya telah berbuat kesalahan, dan orang tersebut akan sadar diri bahwa telah berbuat sesuatu yang tidak benar.

  • Lemah lembut dalam menghadapinya
    Nabi Muhammad SAW sangat perihatian terhadap orang-orang diseklilingya. Dengan memperhatikan perasaan orang lain, kita dapat mengetuk pintu hati orang lain dengan ucapan yang lembut dan nyaman untuk didengar, dengan kemampuan tersebut kita dapat memberitahu kesalahan dan memberikan solusi apa yang harus dilakukan tanpa harus mengeluarkan energi yang banyak (marah), tetapi dengan cara yang halus tapi bermakna.

  • Dekatkan Diri pada Allah
    Dengan mengingat Allah SWT kita dapat membuat diri kita lebih baik dalam mengambil keputusan, seringkali kita tidak menganggap suatu masalah kecil adalah “masalah” yang serius dan berujung mengabaikannya dan tidak mengetahui apakah kita telah menyakiti perasaan orang lain. Seperti saat kita berbuat salah maka kita akan mendapatkan dosa walaupun dosa kecil, tapi jika dilakukan terus-menerus maka dosa tersebut akan menumpuk layaknya gunung. Jika kita mengingat Allah SWT maka hal tersebut dapat dihindari, karena kita ingat dengan tanggungan dosa kita sendiri, dan tidak akan melakukan kesalahan tersebut berulang kali dan cenderung meminta maaf daripada mengabaikan sebuah kesalahan. Juga kita akan lebih sadar diri dan peduli terhadap sebuah kesalahan, entah itu kesalahan pribadi ataupun orang lain, karena saling mengingatkan satu dengan yang lain.

  • Jangan mencari-cari kesalahan
    Nabi Muhammad SAW melarang gosip, fitnah dan menolak setiap siaran dari kesalahan-kesalahan orang lain. Dia meminta masyarakat untuk tidak melaporkan sesuatu yang negatif tentang para sahabat kepadanya. Nabi menerima kata-kata orang apa adanya, tidak berprasangka buruk. Kita seharusnya menghindari mencari aib orang lain untuk mencari aib yang lebih besar dari orang tersebut.

  • Tegas dalam situasi yang tepat
    Kelembutan itu sesuatu yang indah, tetapi ketegasan kadang-kadang bisa lebih efektif dalam mendorong reformasi pribadi dan penyadaran diri. Jika kesalahan kecil dapat diatasi dengan teguran halus, tidak usah dengan bentakan atau hinaan bahkan hujatan. Dan tegas saat membuat kesalahan yang besar, tegas bisa berupa hukuman atas apa yang telah ia perbuat agar menyadari kesalahannya.

  • Hargai martabat orang lain
    Saat mengoreksi orang lain, kita harus menghargai martabat orang lain. Jangan mengolok-olok atau merendahkan harga diri mereka. Jadilah orang yang solutif yang membangun dan berguna bagi orang lain. Sehingga saat orang lain berbuat suatu kesalahan, dia akan tersadar dan menjadi orang yang lebih baik lagi kedepannya. Jangan malah menghancurkan dan merendahkan martabatnya sehingga menyimpan dendam didalam hatinya.

“Ketika menghakimi orang lain, Anda tidak menentukan nasib mereka. Anda menentukan sendiri.”~ Wayne Dyer

Saya belajar bahwa jika saya menunjukkan pemahaman tentang perasaan dan pikiran orang lain, itu sendiri akan meringankan beban mereka dan melakukan dunia yang baik.

Saya belajar bahwa penerimaan dan pemahaman tidak selalu hal yang sama sebagai persetujuan dan perjanjian.

Kita tidak perlu takut bahwa kita mengkompromikan dilihat atau pengetahuan kita sendiri ketika kita hanya memilih untuk memahami lain. Pada kenyataannya, keterbukaan pemahaman dapat memperkuat pandang kita sendiri.

Kita harus menerima apa yang kita ingin memberikan dan memberikan apa yang kami berharap untuk menerima. Jika kita ingin mendengarkan, maka kita harus mendengarkan orang lain. Jika kita ingin dihargai untuk apa yang kita tahu, maka kami harus menghargai orang lain untuk apa yang mereka ketahui.

Dan jika kita ingin mengampuni dan mengasihi, maka kita harus mengampuni dan mengasihi orang lain.

Akhir-akhir ini saya telah menerapkan keterampilan mendengarkan saya baru dalam percakapan dengan kekasih saya mental sakit. Aku membiarkan diriku untuk berhubungan dengan hal-hal yang sulit ia pengalaman dan bahkan telah mencoba berani jujur ketika aku melihat sedikit diri kepadanya, ketika aku melihat hawa nafsu sama, ketakutan, dan kesalahan.

Yang lucu adalah bahwa oleh mundur saya telah mendapatkan lebih dari kepercayaannya. Dengan tidak berpura-pura untuk memiliki semua jawaban untuk dia, saya telah memperkuat ikatan kita.

Sekarang aku hanya memberinya pendapat saya jika dia meminta untuk itu. Kadang-kadang ini datang setelah mantra panjang dari keheningan, ketika kita hanya sedang bersama-sama. Dan aku cukup jujur untuk mengatakan kepadanya ketika saya tidak memiliki petunjuk bagaimana untuk menjawab pertanyaan.

sumber : http://tinybuddha.com/blog/listen-instead-of-correcting-others-what-we-gain-and-give/