Bagaimana cara efektif yang digunakan para expert untuk melatih keterampilan mereka?


Hampir bisa dipastikan, semua orang ingin menjadi ahli di bidang yang ia tekuni saat ini. Namun nyatanya hanya tidak banyak orang yang dapat mencapai level tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah, cara apa yang digunakan para ahli untuk mencapai keahlian tersebut?

Hal yang sama pernah ditanyakan kemudian diteliti oleh Angela Duckworth. Hasil penelitian tentang bagaimana cara para expert melatih keterampilannya hingga mencapai level mereka sekarang, ia jabarkan dalam bukunya yang berjudul Grit.


Saat ini kita sering mendengar aturan sepuluh ribu jam yang menjadi prasyarat untuk seseorang mencapai taraf pakar. Sepuluh ribu jam yang dimaksud adalah akumulasi waktu yang diperlukan seseorang untuk menekuni suatu bidang. Berarti apabila seseorang menghabiskan 10 jam sehari, tanpa libur, untuk menekuni bidangnya, maka ia akan membutuhkan sekitar tiga tahun untuk menjadi seorang pakar.

Dibalik masifnya kepercayaan tentang aturan ini, Anders Ericsson, seorang psikolog yang meneliti para pakar dunia, menemukan fakta bahwa pengalaman tidak selalu menghasilkan keunggulan. Beberapa pakar yang Ericsson teliti, ternyata mencapai level pakar sebelum mengakumulasi 10.000 jam, dengan melakukan apa yang disebut sebagai latihan terencana.

Latihan terencana menerapkan prinsip utama kaizen, yaitu perbaikan yang kontinyu. Para pakar selalu memiliki keinginan kuat untuk melakukan perbaikan dan peningkatan level keahlian. Mereka tidak menatap ke belakang dengan ketidakpuasan, melainkan menatap ke depan dengan keinginan untuk tumbuh.

Latihan terencana sederhanya adalah latihan untuk memperbaiki kelemahan tertentu. Hal ini menjadi pembeda karena kebanyakan orang melakukan latihan tanpa target.

Pertama, latihan ini dimulai dengan menetapkan tujuan yang terentang, lalu membidik aspek sempit dari keseluruhan performa untuk memperbaiki kelemahan tertentu dan dengan sengaja mencari tantangan yang belum dihadapi.

Pada setiap latihan, saya berusaha untuk mengalahkan diri saya sendiri
-Rowdy Gaines

Kedua, para pakar berlatih dengan perhatian penuh dan upaya besar untuk mencapai tujuan terentang tersebut. Selanjutnya dengan segera mereka meminta umpan balik mengenai seberapa bagus kinerja mereka. Para pakar lebih tertarik mengetahui kesalahan apa yang mereka lakukan untuk memperbaikinya daripada mengetahui apa yang sudah mereka lakukan dengan benar.

Dari umpan balik tadi akan didapatkan informasi mengenai kelemahan yang kemudian dijadikan fokus untuk latihan berikutnya. Dengan kata lain, latihan pertama adalah ujian pendahuluan yang diperlukan untuk mendiagnosis kelemahan sebelum melakukan latihan terencana yang lebih ditargetkan dan efisien. Kunci latihan terencana adalah fokus pada kelemahan khusus dan melatihnya berulang kali. Satu per satu perbaikan halus berujung pada hasil yang menakjubkan.

Inti dari latihan terencana: Cita-cita terentang yang dijabarkan dengan jelas, konsentrasi dan upaya penuh, umpan balik yang bersifat segera dan informatif, pengulangan dengan perenungan dan perbaikan

Latihan terencana terbukti membawa kemajuan yang lebih progresif, karena pada dasarnya yang diperlukan bukan latihan yang melelahkan, melainkan juga latihan dengan tujuan yang dipikirkan dengan cermat, yang berkualitas tinggi, dalam beberapa jam sehari.

Di balik performa tanpa beban yang ditampilkan, terdapat latihan yang sarat kesalahan, penuh upaya,menantang, tidak terlihat oleh orang lain, dan tidak direkam

Alasan mengapa tidak banyak orang yang melakukan latihan semacam ini adalah kebanyakan orang keberatan untuk belajar dari kesalahan atau kegagalan, sementara dalam latihan terencana, setiap sesi akan penuh dengan evaluasi. Ini juga merupakan alasan mengapa anak-anak belajar lebih cepat. Penelitian Elena Bodrova dan Deborah Leong, yang mempelajari cara anak-anak belajar, menemukan bahwa anak-anak tidak keberatan belajar dari kesalahan karena tidak mendapatkan penghakiman dari kesalahan. Hal yang membuat kita tidak belajar dari kesalahan adalah rasa takut akan kegagalan dan lingkungan yang memberitahu bahwa kegagalan itu buruk.

Saran terakhir, untuk mendapatkan hasil maksimal dari latihan terencana, jadikan hal ini sebagai kebiasaan. Bila seseorang mempunyai kebiasaan berlatih pada waktu dan tempat yang sama setiap hari, ia hampir tidak perlu berpikir tentang memulai sesuatu. Sebaliknya sesuatu akan sulit dilakukan dengan kontinyu bila segala sesuatunya harus dipikirkan lagi dari awal ketika hendak memulai.

Untuk mencapai keahlian di suatu bidang, para ahli sering mengikuti beberapa prinsip dan strategi tertentu. Beberapa hal yang dapat membantu mencapai tingkat keahlian melibatkan dedikasi, latihan berkelanjutan, dan pendekatan yang terfokus. Selain itu, ada banyak sumber seperti jurnal dan buku yang membahas topik ini.

Beberapa prinsip umum yang dapat membantu mencapai keahlian termasuk fokus pada latihan yang terarah, pemahaman yang mendalam tentang bidang tersebut, dan terus-menerus memperbarui pengetahuan. Sumber daya tertulis seperti buku dan jurnal sering kali menjadi panduan berharga.

Buku “Outliers” karya Malcolm Gladwell membahas tentang konsep 10.000 jam, yang menyatakan bahwa dibutuhkan waktu sekitar 10.000 jam praktik untuk mencapai tingkat keahlian yang luar biasa. Ini memberikan landasan untuk pemahaman bahwa konsistensi dalam latihan adalah kunci.

Jurnal ilmiah seperti “The Journal of Expertise” dan “Expertise and Expert Performance” menyajikan penelitian dan analisis mendalam tentang faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan keahlian. Artikel-artikel ini dapat memberikan wawasan tentang proses dan strategi yang digunakan oleh ahli dalam berbagai bidang.

Namun, penting juga untuk memahami bahwa keahlian tidak hanya melibatkan latihan fisik atau pemahaman teoritis. Empati, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis juga merupakan aspek penting dalam mencapai tingkat keahlian yang tinggi.

Para ahli sering berfokus pada penerapan pengetahuan mereka dalam situasi dunia nyata. Mereka mencari tantangan dan berusaha terus-menerus meningkatkan keterampilan mereka dengan belajar dari pengalaman. Jurnal seperti “The Harvard Business Review” sering kali menampilkan studi kasus dan artikel tentang bagaimana ahli dalam berbagai bidang menghadapi dan mengatasi tantangan.

Selain itu, mentorship juga dapat memainkan peran kunci dalam pengembangan keahlian. Para ahli sering mencari mentor yang dapat memberikan panduan dan arahan berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Ini dapat mempercepat proses pembelajaran dan membantu mengatasi hambatan yang mungkin dihadapi.

Penting juga untuk tetap terbuka terhadap perkembangan baru dalam bidang tersebut. Kecepatan perubahan teknologi dan pengetahuan memerlukan para ahli untuk terus belajar dan beradaptasi. Membaca artikel ilmiah terbaru, menghadiri konferensi, dan terlibat dalam komunitas profesional adalah cara-cara untuk tetap terhubung dengan perkembangan terkini.

Dalam rangka mencapai keahlian, penting untuk memiliki visi jangka panjang dan rencana yang terorganisir. Membuat tujuan yang spesifik, mengukur kemajuan secara berkala, dan menyesuaikan pendekatan jika diperlukan merupakan strategi yang efektif dalam mencapai keahlian di bidang tertentu.

Dengan demikian, melalui dedikasi, latihan berkelanjutan, mentorship, dan keterbukaan terhadap perkembangan baru, para ahli dapat memandu diri mereka sendiri menuju tingkat keahlian yang diinginkan. Berbagai sumber seperti buku dan jurnal ilmiah memberikan panduan yang berharga dalam proses ini, memberikan wawasan mendalam tentang strategi yang dapat digunakan dalam perjalanan mencapai keahlian.