Bagaimana Cara atau Adab Menuntut Ilmu yang Baik dan Benar menurut Islam agar Ilmu Pengetahuan Berkah?

Belajar adalah suatu kewajiban. Bahkan, dalam islam, menuntut ilmu disetarakan dengan pahala jihad. Tentunya pahala tersebut dapat didapatkan jika kita ikhlas.

Bagaimana cara belajar yang baik dan benar menurut islam agar ilmu pengetahuan berkah ?

2 Likes

Begitu pentingnya sebuah adab dalam Islam memunculkan sebuah pepatah Arab yang menyatakan, “Kemuliaan itu adalah karena adab kesopanan, bukan karena keturunan.”

Lalu Imam Malik juga pernah berkata perihal nasihat ibunya ketika Imam Malik berpamit untuk menuntut ilmu, “Pelajarilah adab darinya, sebelum kau mengambil ilmunya.” Kemudian, Imam Abu Hanifah pun dulu lebih menyukai mempelajari kisah-kisah para ulama dibandingkan menguasai bab fiqih. Imam Abu Hanifah berkata, “Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlak luhur mereka.”

Juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan tentang Islam, termasuk di dalamnya masalah adab. Seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Dia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak yang mulia, baik terhadap dirinya maupun kepada orang lain. Berikut di antara adab-adab yang selayaknya diperhatikan ketika seseorang menuntut ilmu syar’i.

  • Pertama, mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu. Dalam menuntut ilmu kita harus ikhlas karena Allah ta’ala dan seseorang tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika ia tidak ikhlas karena Allah.

    “Padahal mereka tidak disuruh kecuali agar beribadah hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan memurnikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)

  • Kedua, bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu, orang yang rakus terhadap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)

  • Ketiga, rajin berdoa kepada Allah ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah ta’ala dan berlindung kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfaat, karena banyak kaum Muslimin yang justru mempelajari ilmu yang tidak bermanfaat, seperti mempelajari ilmu filsafat, ilmu kalam ilmu hukum sekuler, dan lainnya.

  • Keempat, menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertakwa kepada Allah ta’ala. Seseorang terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat, bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa Allah ta’ala.

  • Kelima, tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu. Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya. Imam Mujahid mengatakan, “Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq)

  • Keenam, mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru. Allah ta’ala berfirman,

    “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. az-Zumar: 17-18)

  • Ketujuh, diam ketika pelajaran disampaikan. Ketika belajar dan mengkaji ilmu syar’i tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang disampaikan, tidak boleh ngobrol. Allah ta’ala berfirman,

    “Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. al-A’raaf: 204)

  • Kesepuluh, mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan. Ketika belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran, poin-poin penting, fawaa-id (faedah dan manfaat) dari ayat, hadis dan perkataan para sahabat serta ulama, atau berbagai dalil bagi suatu permasalahan yang dibawa kan oleh syaikh atau gurunya. Agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap dalam ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr).

  • Kesebelas, mengamalkan ilmu syar’i yang telah dipelajari. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani)

Referensi

https://muslimah.or.id/7216-adab-menuntut-ilmu.html

2 Likes

Kitab Washōyā Al-Abā’ lil Abnā’ karangan Syekh Syakir adalah kitab yang berbicara tentang akhlaq termasuk akhlaq dalam menuntut ilmu yang harus dipedomani oleh orang-orang yang sedang menuntut ilmu. Nasehat-nasehat dalam kitab ini didasarkan pada hadis Rasulullah saw yang berkenaan dengan akhlaq dan etika.

Terdapat enam adab atau cara dalam menuntut ilmu yang baik, antara lain :

  1. Mulailah belajar dengan baik.

    Terdapat dua langkah pokok untuk menyelesaikan target atau tujuan pembelajaran, langkah pertama adalah memulai, yang kedua adalah memulai lagi. Yang pertama itulah yang sulit. Memulai yang pertama ini memerlukan keberanian, tekad yang kuat. Rasa malas yang biasanya hinggap dalam diri anda agar tidak menjadi parasit, hendaknya dihindari, dikurangi dengan memulai aktifitas positif termasuk belajar, dalam banyak hal.

  2. Pilihlah teladan yang baik.
    Dalam setiap bidang ilmu pasti ada sosok yang dapat dijadikan teladan. Terkadang teladan yang baik dapat kita temukan disekitar kita. Yang terpenting adalah, contohlah bagaimana dia berjuang.

    Dengan mengetahui perjuangan tokoh anda dalam berusaha untuk mencapai posisi dia saat ini, akan muncul pula semangat juang dalam diri anda untuk menirunya. Semangat dan kepercayaan anda itulah yang akan memberikan energi dalam usaha belajar anda. Bersikaplah positip dalam pandangan hidup anda, optimis penuh harapan tentang nasib anda sendiri. Janganlah cemas, ragu- ragu karena berarti mematikan kegairahan anda untuk melangkah.

  3. Miliki rasa ingin tahu yang tinggi.
    Pakailah rasa ingin tahu anda untuk memacu kegairahan beajar sepanjang hari. Bertanyalah selau demi kemajuan anda. Jangan menerima keadaan sesuatu begitu saja sebagaimana adanya. Ajukan pertanyaan kepada siapapun yang anda anggap mampu untuk menjelaskan apa yang anda tanyakan, bahkan sering-seringlah bertanya pada diri anda sendiri.

  4. Curahkan perhatian sepenuhnya.
    Hendaknya anda menaruh perhatian sepenuhnya pada hal yang sedang anda pelajari. ?
    Belajar menuntut anda untuk memberikan perhatian penuh atau konsentrasi. Artinya pemusaftan pemikiran terhadap suatu hal dengan mengesampingkan hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan belajar.

  5. Buatlah variasi dalam belajar.
    Apa yang sudah anda lakukan setiap hari sehubungan dengan cara dan waktu belajar akhirnya akan menjenuhkan, jika kita tidak pandai-pandai membuat variasi dari kegiatan yang rutin. Umumnya kebiasaan belajar ditafsirkan membaca dan menghafal, hal ini keliru sama sekali. Anggaplah itu tidak lebih dari sekedar rekreasi dan pengisian waktu luang.

  6. Niat Belajar
    Wajib berniat waktu belajar. Sebab niat itu menjadi pokok dari segala hal, sebagaimana sabda nabi saw : Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu terserah niatnya”.

    Hadits lain berbunyi : ”Banyak amal perbuatan yang berbentuk amal dunia, lalu menjadi amal akhirat yang karena buruk niatnya maka menjadi amal dunia.”

    Di waktu belajar hendaklah berniat mencari ridha Allah swt. kebahagian akhirat, memerangi kebodohan sendiri dan segenap kaum bodoh, mengembangkan agama dan melanggengkan islam sebab kelanggengan islam itu harus diwujudkan dengan ilmu. Zuhud dan taqwapun tidak sah jika tanpa berdasar ilmu.

    Dengan belajar pula, hendaklah diniati untuk mensyukuri kenikmatan akal dan badan yang sehat. Belajar jangan diniatkan untuk mencari pengaruh, kenikmatan dunia ataupun kehormatan di depan sultan dan penguasai-penguasa lain.

  7. Merasakan Kelezatan dan Hikmah Ilmu.
    Siapa saja telah merasakan kelezatan rasa ilmu dan amal, maka semakin kecillah kegemarannya akan harta benda dunia.

  8. Mengagungkan Guru
    Ali ra berkata: “Sayalah menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap menjadi hambanya.”

    Penggalan perkataan Ali ra diatas merupakan kesetiaan dari seorang hamba sahaya kepada yang telah mengajarinya meskipun hanya satu huruf hingga dia rela menyerahkan dirinya.

    Termasuk arti menghormati guru, yaitu jangan berjalan di depannya, duduk di tempatnya, memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan darinya, berbicara macam-macam darinya, dan menanyakan hal-hal yang membosankannya, cukuplah dengan sabar menanti diluar hingga ia sendiri yang keluar dari rumah. Pada pokoknya, adalah melakukan hal-hal yang membuatnya rela, menjauhkan amarahnya dan menjungjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama, sebab orang tidak boleh taat kepada makhluk dalam melakukan perbuatan durhaka kepada Allah Maha Pencipta.

2 Likes

Adab belajar yang baik antara lain :

  1. Bersikaplah sopan dengan temanmu yang engkau pilih untuk belajar. Apabila engkau telah mengerti sebelum dia, maka janganlah membanggakan diri terhadapnya, karena dapat mendahuluinya. Apabila dia berbeda pendapat denganmu dalam memahami suatu masalah, maka dengarkanlah apa yang dikatakannya.

    Barangkali dia telah memahaminya dengan benar dan engkaulah yang salah dalam pemahaman. Hindarilah perdebatan dengan cara yang batil dan jangan membela pendapatmu bilamana keliru. Karena ilmu itu amanat dan siapa yang
    membela kebatilan, dia pun telah menyia-nyiakan amanat Allah.

  2. Perbanyaklah menghafal ilmu, karena kendala ilmu adalah lupa.
    Ketahuilah, bahwa di penghujung tahun engkau akan diuji tentang semua pengetahuanmu. Dan ketika ujian, manusia akan dimuliakan bila dia bisa menjawab dengan baik. Sebaliknya, dia akan dihinakan oleh keluarga dan saudara- sauaranya, bila tidak bisa menjawab dengan baik dan tampak bahwa hasil yang diperolehnya kurang memuaskan.

  3. Jangan sampai hafalanmu itu hanya sekedar menghafal kata-kata tanpa memahami maknanya. Akan tetapi, pusatkan perhatianmu pada pemahaman makna-makna dan penetapannya dalam pikiranmu. Karena ilmu adalah apa yang engkau pahami bukan yang engkau hafalkan.

  4. Jarang sekali seorang pelajar berkumpul dengan sekelompok temannya, melainkan dialog di antara mereka dan berdiskusi mengenai masalah-masalah yang mereka ketahui. Maka, janganlah engkau memotong perkataan pembicara dan jangan tergesa-gesa menjawab sebelum meyakininya serta jangan membantah tentang suatu masalah yang belum pernah engkau ketahui.

    Jangan mendebat tanpa alasan yang benar dan jangan menunjukkan kesombongan terhadap orang yang mendebatmu. Jangan keluar dari topik perdebatan hingga menyalahkan pendapat lawanmu dan jangan menyakitinya dengan perkataan yang menyakitkan serta jangan menjelekkannya bila dia salah mengerti.

  5. Dialog antara para pelajar tentang masalah- masalah ilmiah adalah besar faedahnya. Dialog itu menguatkan pemahaman, melancarkan lisan dan membantu pengungkapan sasaran- sasaran yang dimaksud serta menghasilkan keberanian para pelajar.

    Akan tetapi, hal ini tidak berguna di sisi Allah maupun manusia, kecuali bila akhlakmu lurus, jauh dari perkataan keji, engkau katakan kebenaran walaupun terhadap dirimu dan tidak terpengaruh oleh celaan orang dalam menyatakan kebenaran.

  6. Apabila engkau menghendaki kebaikan atas dirimu, maka ajaklah beberapa orang teman sekolahmu untuk muthala’ah (belajar) bersama, mungkin temanmu dapat menolongmu dalam memahami sesuatu. Bila engkau telah memahami pelajaranmu, jangan kau tinggalkan begitu saja buku pelajaranmu. Tetaplah belajar bersama dengan teman-temanmu seperti engkau sedang menghadapi pelajaran di hadapan para didikmu. Apabila mendapai sebuah masalah dan engkau mengira bahwa engkau telah memahaminya, maka janganlah engkau merasa cukup dengan dugaanmu, hingga engkau tinggalkan kitab dari tanganmu dan menetapkannya untuk dirimu atau temanmu, seakan-akan engkau memberikan pelajaran kepada para pelajar.

Sumber : Kitab Washōyā Al-Abā’ lil Abnā’ oleh Muhammad Syakir bin Ahmad bin Abdil Qodir bin Abdul Waris,

2 Likes