© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana cara agar sembuh dari segala penyakit hati?

Hati

Bagaimana cara agar sembuh dari segala penyakit hati?

Kotoran yang menutupi hati itu adalah perbuatan maksiat atau perbuatan tercela. Karena itu kita harus berusaha membersihkan kotoran yang menutupi kejernihan hati kita. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membersihkan Hati :

1. Lakukan introspeksi diri

Melihat ke dalam diri sendiri itu perlu untuk mengukur seberapa jauh hati kita telah tertutupi oleh noda-noda atau kotoran tersebut. Ingatlah bagaimana diri kita sehari-hari. Apakah kita lebih banyak merasa iri dengki, tidak tahu cara menghindari sifat hasad dan cara menghindari perilaku fitnah atau bisa menjalani hidup dengan cara membuat hati ikhlas dan cara bersikap sabar menghadapi berbagai permasalahan hidup sehari-hari. Kita bisa mencoba mencari apa saja penyakit hati kita yang pernah atau masih kita rasakan sehari-hari serta apa kekurangan dan kelemahan diri kita.

2. Memperbaiki diri atau bertaubat

Ketika kita sudah bisa mengetahui apa saja penyakit yang membuat hati kita kotor, maka untuk mulai membersihkannya bisa kita lakukan cara menjaga kesehatan hati dengan bertaubat. Artinya kita meminta ampun atas dosa yang telah kita lakukan berkaitan dengan penyakit hati kita dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Bertaubat mungkin tidak akan bisa dilakukan sekaligus, namun lebih baik dilakukan secara bertahap.

3. Jangan lewatkan shalat lima waktu

Menjalani shalat lima waktu tanpa terlewat sangat penting untuk tetap menjaga hati kita tetap bersih dan jauh dari penyakit hati. Rajin beribadah wajib akan meningkatkan keimanan kita sehingga tidak mudah terpengaruh dengan berbagai sifat tercela dan pikiran buruk, karena kita yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi umatNya. Dengan keimanan yang teguh kita dapat menemukan cara menenangkan hati dan pikiran ketika menghadapi masalah dan mudah mencari cara menghadapi masalah yang berat agar beban pikiran tidak mengotori hati.

4. Lakukan Ibadah Sunah

Selain shalat lima waktu yang merupakan ibadah wajib, banyak sekali ibadah tambahan yang bisa kita lakukan untuk menaikkan kadar keimanan kita. Diantaranya adalah shalat malam seperti tahajud dan istikharah. Pelajarilah cara shalat malam yang benar agar ibadah yang dilakukan dapat menjadi khusyu dan diterima oleh Allah SWT.

5. Membaca Al Qur’an

Rajin membaca Al Qur’an juga bisa meningkatkan pertahanan hati kita dari serangan berbagai macam penyakit hati. Tidak hanya membaca, tetapi juga mengerti isinya dan berusaha mengamalkannya dalam hidup sehari-hari. Untuk itu kita memerlukan bimbingan seseorang yang lebih mengerti tentang isi Al Qur’an. Bergabung dalam suatu kelompok kajian atau pengajian akan menjadi hal yang baik.

6. Melakukan Dzikir

Dzikir artinya mengingat Allah SWT dalam keadaan yang bagaimanapun. Ada dua macam dzikir yaitu dzikir lisan artinya mengingat Allah dengan perkataan lafal dzikir seperti Subhanallah, Astagfirullah, Alhamdulillah dan lain-lain. Satu lagi dzikir amali yaitu mengamalkan dzikir dalam perbuatan sehari-hari dengan mengingat ajaran Allah dalam berbagai kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Rutin melakukan dzikir artinya kita bisa menemukan cara menghilangkan sifat sombong dan cara menghilangkan sifat egois dalam diri kita sehingga tidak menjadi penyakit hati.

7. Menjaga amal shaleh

Segala perbuatan dan amal yang diridhoi Allah SWT adalah yang disebut sebagai amal saleh. Dengan menjaga diri kita tetap melakukan perbuatan yang dianjurkan dan memiliki nilai pahala yang besar, maka kita akan dapat menemukan cara merubah sifat menjadi lebih baik dan cara merubah kepribadian yang masih sering terkena penyakit hati menjadi seseorang yang hatinya lebih bersih. Contohnya dengan berbagi kepada anak yatim serta fakir miskin dan keluarga atau kerabat terdekat dengan ikhlas agar kita bisa turut merasakan penderitaan dan kekurangan orang lain.

8. Meningkatkan kesabaran terhadap perkataan orang

Kita bisa memiliki hati yang berpenyakit juga karena tidak bisa menjadi seorang yang sabar ketika menanggapi perkataan orang lain yang bertujuan memojokkan atau menjelekkan diri kita. Perkataan orang yang buruk akan diri kita memang akan memancing keburukan yang keluar dalam hati kita. Karena itu kita harus bisa bersikap wajar ketika menemui hal semacam ini agar perasaan buruk dalam hati tidak berkelanjutan dan mengetahui cara menjadi pribadi yang baik.

9. Bergaul dengan orang shaleh

Dengan siapa kita bergaul juga menentukan pengaruh apa yang masuk ke dalam diri kita. Jika kita membiasakan diri untuk bergaul dengan orang-orang yang shaleh tentunya kita juga akan terbawa dengan sifat baik mereka dan memiliki ciri-ciri orang baik hati. Sebaliknya jika terbiasa bergaul di lingkungan orang yang bermaksiat maka akan sulit bagi kita untuk membersihkan hati dengan benar.

10. Mengingat keterbatasan manusia

Walaupun diberi berbagai kelebihan oleh Allah, manusia tetap mempunyai keterbatasan diri. Yang membatasi manusia adalah umur. Usia kita yang singkat ini hanya memberi waktu yang singkat pula untuk beribadah dan menebus segala dosa serta kesalahan yang pernah dilakukan. Tujuan hidup menurut Islam adalah untuk beribadah kepada Allah SWT, Karena itu sebaiknya tidak membuang waktu dengan berbagai macam sikap yang buruk yang bisa mengotori hati kita.

Perilaku kita sehari-hari merupakan cerminan dari kondisi hati kita. Jika perilaku kita baik dan benar, itu tandanya kita memiliki hati yang bersih dan bening, tidak dikotori dengan berbagai macam penyakit hati. Namun jika sehari-hari kita berperilaku yang kurang baik, maka dapat dengan mudah dikatakan bahwa hati kita kurang jernih dan tertutupi dengan kotoran atau penyakit. Sehingga amal yang kita lakukan pun bisa menjadi sia-sia atau ternoda dengan kondisi hati yang tidak bersih. Karena itulah usahakan untuk selalu menjaga kondisi hati agar bersih.

Di dalam sebuah hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Tiap-tiap penyakit itu ada obatnya , begitu pula dengan penyakit rohani. Ada beberapa metode yang dapat dilakukan untuk mengobati penyakit rohani, di antaranya yaitu:

  • Sadar dan bermuhasabah (introspeksi diri). Sadar yaitu mengerti dan menghayati. Apabila kita sudah mengerti, maka kita tidak akan mau mengerjakan yang buruk. Dengan demikian untuk penyembuhan penyakit rohani, pengertian dan penghayatan kepada yang baik harus diperbanyak. Salah satu caranya adalah dengan shalat. Seperti yang telah kita ketahui bahwa shalat dapat menjauhkan kita dari perbuatan yang keji dan munkar. Sehingga ketika seseorang melakukan shalat dengan khusyu’ dan penuh penghayatan kepada Allah, maka orang tersebut akan semakin dekat dengan Allah dan ia akan dijauhkan dari segala macam penyakit rohani dan perbuatan buruk. Allah SWT. berfirman:

    “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu, apabila mengenai mereka gangguan setan, mereka ingat dan mereka sadar”. (Al-A’raf: 201).

    Selain itu, kita juga harus selalu bermuhasabah atau melakukan evaluasi diri. Setelah kita selesai melakukan suatu perbuatan, hendaknya kita langsung mengintrospeksi diri kita sendiri agar kita mengetahui perbuatan apa saja yang telah kita lakukan, baik yang berkaitan dengan diri sendiri ataupun orang lain. Di dalam sebuah hadits disebutkan:

    ”Orang yang pintar ialah orang yang selalu mengoreksi dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati dan orang yang lemah ialah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah” . (H.R. At-Tirmidzi).

  • Selalu waspada atau mawas diri terhadap penyakit rohani. Mawas diri adalah selalu memandang diri sendiri dalam setiap gerak-geriknya, baik gerak-gerik jasmani ataupun gerak-gerik batin.

  • Taubat. Semua manusia pasti pernah mengalami penyakit rohani karena manusia adalah makhluk yang lemah dan mudah terpengaruh. Oleh karena itu, ketika penyakit rohani itu menyerang kita, maka hendaknya kita segera bertaubat kepada Allah dengan sebaik- baiknya taubat.

  • Memperbaiki iman dan memperbanyak amal shaleh. Orang yang selalu memperbaiki imannya dan melakukan amal shaleh, ia pasti akan dijauhkan oleh Allah dari penyakit rohani. Selain itu, dengan memperbanyak iman dan amal saleh akan membuat rohani kita menjadi sehat. Di dalam Al- Qur’an dijelaskan:

    “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik”. (Ar-Ra’du: 29).

  • Menghiasi diri dengan budi pekerti yang baik. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwasanya penyakit rohani akan menimbulkan perilaku yang buruk sehingga obat untuk menyembuhkannya adalah dengan mengembalikan prilaku buruk tersebut kepada perilaku yang baik sehingga hal tersebut akan menyehatkan rohani.

Menurut Ibnu Taimiyah hati memerlukan pendidikan, maka ia akan tumbuh dan bertambah sampai sempurna dan murni, sebagaimana badan membutuhkan perawatan dengan makanan yang bergizi baginya. Hati akan bersih dengan menciptakan apa yang bermanfaat baginya dan menolak yang membahayakannya. Sama halnya dengan tanaman, ia akan tumbuh dengan makanan.

Hati yang kotor harus segera dibersihkan, sebab menurut Komaruddin Hidayat, hati yang tercemari akibat perbuatan-perbuatan kotor yang kita lakukan akan memadamkan pijarnya, sehingga tidak lagi punya daya menyinari. Karena itu, hati harus selalu kita bersihkan dari dosa; jangan menunggu sampai ia berkarat, sehingga dosanya semakin sulit dihapus, dan lama kelamaan dosa-dosa itu kita anggap sebagai kebaikan.

Sebagaimana disinggung dalam ayat QS Fâthir [35]: 8:

…Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)?

Demikian juga hati yang hanya cenderung kepada kejahatan harus segera diperbaiki. Mahmud Shubhi menjelaskan, tak ada perbuatan yang dilakukan anggota tubuh kecuali atas tanda-tanda dari hati. Karena itu, hatilah yang harus diperbaiki, diluruskan, dan dilakukan penilaian atasnya. Hadis Nabi menyatakan,

“Allah tidak memandang bentuk kalian, melainkan memandang hati dan perbuatan kalian.”

Upaya pendidikan hati itu dilakukan agar manusia mampu menjaga fitrahnya. Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa

“Allah telah memberi fitrah manusia hanya untuk mencintai dan menyembah Allah. Jika fitrah itu terjaga dengan baik, maka hati akan ma‟rifat kepada Allah, mencintai-Nya, dan hanya menyembah kepada-Nya”.

Bisa ditambahkan bahwa ia juga akan melahirkan akhlak yang baik. Pendidikan hati itu harus dilakukan agar hati yang kotor menjadi bersih dan hati yang keras menjadi lembut, serta hati yang lemah menjadi kokoh. Imam Khomeini menjelaskan bahwa semua watak dan sikap jiwa bisa diperbaiki selagi jiwa itu masih hidup di alam gerak dan perubahan yang tunduk pada dimensi waktu dan pembaruan serta memiliki materi dan potensi.

Hamka bahkan berpandangan bahwa membersihkan hati dan mensucikan hubungan dengan Tuhan merupakan sebuah kewajiban seorang muslim yang pertama dan utama. Setelah kepercayaan itu terhunjam dengan teguh dalam hati sanubari, dan telah dapat pula diamalkan dan dikerjakan, haruslah ditebarkan pula kepada yang lain. Seorang muslim tidak senang hatinya kalau hanya dia sendiri saja yang tahu, padahal orang lain berenang dalam kesesatan dan kegelapan.

Hamka berpendapat bahwa seorang muslim ialah orang yang bercita-cita menjadi “al-insânul kâmil”, manusia sempurna. Muslim artinya orang yang menyediakan dirinya menuruti jalan yang utama.

Adakah manusia sempurna?

Menurut Hamka, Ada! Yaitu manusia yang insyaf akan kekurangan lalu berusaha mencapai kesempurnaan, itulah manusia yang sempurna.

Dr Husain Haikal Pasya, seorang intelektual Islam di Mesir, yang telah berkecimpung di dalam suasana berfikir kebendaan mempergunakan rasio dengan sebebas-bebasnya, di hari mulai tuanya ia merasa bahwasanya hidup kebendaan perlu diimbangi dengan keruhanian. Maka pergilah ia mengerjakan rukun Islam kelima (haji) ke Makkah dan keluarlah bukunya yang terkenal “Fî Manzilil Wahyi” (Di Tempat Wahyu Diturunkan). Di pasal yang akhir dari buku itu ditulisnyalah tentang perlunya bagi nilai hidup manusia mengimbangi hidup kebendaan dengan hidup keruhanian.

Pendidikan hati termasuk ke dalam bagian ruhani manusia. Kutipan di atas mendukung pentingnya manusia menjaga hatinya. Hamka menegaskan bahwa kalau bukan keteguhan hatinya manusia mempelajari dan mengamalkan hidup ruhani itu agaknya akan pudarlah cahaya kemurnian jiwa dari alam ini. Hidup dalam keruhanian ialah ikhtiar mengalahkan gangguan-gangguan hawa nafsu, sehingga tercapai kemajuan yang sempurna, yang dinamai oleh Shufi Abdul Karim Jailani, “insan kamil”.

Metode apa saja yang perlu dilakukan sebagai bentuk pendidikan hati (tarbiyatul-qulûb) itu? Paling tidak, ada tiga hal yang bisa kita lakukan agar hati tetap terjaga kebersihannya, sehingga ia akan mudah menerima bisikan suara Ilahi dan menolak setiap bisikan hawa nafsu dan setan. Yaitu: memahami Al-Quran, memikirkan alam, dan zikir.

Beberapa cara yang dapat dilakukan agar dapat menjaga dan menyembuhkan hati adalah

MEMAHAMI AL-QURAN


“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci? QS Muhammad [47]: 24

Dalam pandangan Hamka, hati yang telah tertutup dan terkunci memang sukar buat membukanya. Selama hati itu tidak juga diperkenalkan dengan isi Al-Quran, kunci-kunci itu tidak akan terbuka, malah akan tertutup terus.

Seorang muslim harus terbiasa membaca, merenungkan dan memahami ayat-ayat Al-Quran. Al-Quran bukan sekedar bacaan biasa, ia bisa memberi petunjuk kepada hati yang sedang bimbang, sebagai obat bagi hati yang sakit, dan bisa mengurai fikiran yang kusut. Disebutkan pula dalam QS Al-Zumar [39]: 23,

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.”.

Mahmud Yunus menjelaskan bahwa apabila orang mukmin membaca ayat-ayat yang berisi siksa, tegak bulu romanya, takut kepada Allah, tetapi apabila dibacanya ayat-ayat yang berisi kabar gembira dan pahala, lunak lembut hatinya dan hilang ketakutan yang telah dideritanya.

Orang-orang itulah yang dibukakan hatinya menerima kebenaran, condong hatinya ke jalan yang lurus, merdu didengarnya suara Al-Quran dan masuk ke dalam jiwanya.
Ayat-ayat tentang siksa itu membuat orang mukmin takut, karena memikirkan nasibnya di masa hidup setelah mati. Ia merasa amal-amal baiknya belum seberapa banyaknya, dan yang sedikit itu pun apakah Tuhan berkenan menerimanya atau tidak. Tapi ketika mendengar nama Tuhan, orang mukmin tenang hatinya, karena Dia-lah satu-satunya tempat berlindung dan memohon pertolongan baginya; ingat pula ia akan Rahmân dan Rahîm-Nya Allah itu. Harapannya semoga Tuhan berkenan memohonkan maaf atas segala kekhilafannya.

MEMIKIRKAN ALAM,


“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”. (QS Qaff [50]: 37).

Buku Terjemah Al-Quran versi Depag RI menerjemahkan kata qalbun pada ayat di atas dengan akal. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menerjemahkannya dengan hati. Bisa jadi dua-duanya benar. Yang berpendapat qalbun di sini akal, karena yang dimaksud adalah hati yang memiliki fungsi berfikir yang sama dengan fungsi akal.

Menurut Hamka, orang yang merasa ada hati, orang itulah yang disebut berfikir. Ada hati, artinya adalah ada inti fikiran dan ada akal budi. Sangatlah tercela orang yang ada hati tetapi tidak berjalan fikirannya, ada mata tetapi tidak melihat dan ada telinga tetapi tidak mendengar.

Manusia yang cerdas adalah manusia yang penglihatan, pendengaran, dan hatinya, mampu menangkap pesan-pesan di balik alam ini. Cara kerjanya adalah mata dan telinga menyampaikan informasi yang ditangkapnya dari alam ke hati, dan hati mencernanya menjadi sebuah cara berpikir (paradigma) dan ilmu. Singkatnya, hati yang bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari apa yang dilihat dan didengarnya dari alam ini.

Disebutkan pula dalam QS Al-A‟râf [7]: 179,

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Hati yang digunakan untuk berfikir dan memahami akan menjadikan pemiliknya menjadi manusia sejati dan mengangkat derajatnya di sisi Tuhan. Jika tidak, maka manusia tidak ubahnya seperti binatang, bahkan lebih rendah, sebab hati itu tidak bisa menarik hikmah dan manfaat dari fakta- fakta yang dibawa oleh mata dan telinganya.

ZIKIR


Zikir bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Ahzâb [33]: 41,

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya”;

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan pengelihatan menjadi goncang. QS Al-Nûr [24]: 37

Ali bin Thalhah menerima ajaran dari Ibnu Abbas tentang maksud dari ayat ini, bahwa Allah bila menurunkan suatu yang wajib kepada hamba-Nya selalu ada batas waktunya, dan diberi kelapangan seketika ada uzur yang menimpa. Tetapi zikir tidak ada uzurnya. Zikir itu tidak diberi batas waktu. Tidak diberi uzur seseorang buat meninggalkan zikir.

Zikir yang dilakukan dengan terus-menerus akan menjadi sikap batin.

Firman Allah dalam QS „Âli „Imrân [3]: 191:

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Hamka menjelaskan bahwa tanamkanlah dalam hati sendiri cinta kepada-Nya dengan lebih dulu menyebut nama yang mulia itu, mudah-mudahan mulut mendidik hati, yang dinamai orang “sugesti”, mempengaruhi batin sendiri. Itulah yang disebut “zikir”.

Zikir bukan sekedar aktifitas mengingat nama Allah, tapi harus dilanjutkan dengan memikirkan keagungan setiap ciptaan-Nya yang tersebar di bumi dan di langit. Memang, pada mulanya zikir itu diucapkan lewat mulut, tapi lama-kelamaan ia akan menjadi sikap batin. Artinya, batin itu akan selalu berhubungan dengan Tuhan, di mana pun dan kapan pun.

Menurut M. Arifin Ilham, hal utama yang harus dilakukan manusia adalah mensucikan hati dan jiwa (tazkiyatun nafs). Sarana dalam tazkiyatun nafs ini adalah zikir kepada Allah. Seseorang memerlukan waktu yang panjang untuk dapat menjalani kehidupan spiritual (ruhani).

Untuk mencapai sesuatu tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba, melainkan melalui proses tahap demi tahap. Arifin menyebutkan lima tahap.

  • Pertama, mendidik aspek lahir dengan ketaatan, kebaikan, dan hal-hal positif.
  • Kedua, taubat.
  • Ketiga, mengendalikan batin dari ego dan nafsu rendah.
  • Keempat, menjalankan prinsip-prinsip kehidupan Islam. Seperti ikhlas, istiqamah, syukur, sabar, tawakkal, dermawan, penyayang, jujur, amanah, zuhud dan tauhid.
  • Kelima, tahap dimana hati dan fitrah telah menjadi suci dan bersih.

Selalu mengingat Allah Swt… atau zikir merupakan tanda iman yang kuat, seperti firman Allah dalam QS Al-Ra’d [13]: 28,

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

Hamka menjelaskan bahwa ketentaraman hati adalah pokok kesehatan ruhani dan jasmani. Ragu dan gelisah adalah pangkal segala penyakit… Puncak segala penyakit hati adalah kufur akan nikmat Allah.

Zakiah Daradjat berpendapat bahwa psikoterapi islami hendaknya selalu membawa klien untuk ingat kepada Allah, dalam keadaan bagaimana pun ia selalu ingat kepada-Nya. Bila ia mengalami kesusahan, sifat Allah yang teringat olehnya adalah Allah Maha Penolong, Maha Penyayang dan Mahakuasa. Bila ia mendapat rahmat dan kesenangan, hatinya bersyukur kepada Allah dan lisannya mengucapkan hamdallah. Dia tidak akan congkak dan keluar dari yang dilarang Allah.

Orang yang selalu berzikir kepada Allah menandakan imannya kuat. Orang semacam ini akan hidup bahagia, terhindar dari kesempitan hidup. Apa pun keadaan yang menimpanya, sehat maupun sakit, untung maupun rugi, akan ditempuhnya dengan penuh kesabaran dan kesyukuran. Allah Swt… memerintahkan shalat agar manusia selalu mengingat-Nya, seperti firman-Nya dalam QS Thâ Hâ [20]: 14,

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”.

Adanya perintah mengerjakan sembahyang ialah supaya ingat kepada Allah itu tetap ada. Orang beriman harus mengerjakan salat lima waktu agar hatinya terbiasa mengingat Allah Swt. Jika tidak, Allah akan jauh dari hatinya, sehingga mudah bagi hawa nafsu dan setan untuk menjerumuskannya ke jalan yang salah.

Salat tidak sekedar supaya kita ingat Allah Swt., tapi juga untuk doa atau memohon kepada-Nya. Menurut Shihab, shalat berintikan doa, bahkan itulah arti harfiahnya. Doa adalah keinginan yang dimohonkan kepada Allah Swt. Jika Anda berdoa atau memohon, maka Anda harus merasaka kelemahan dan kebutuhan Anda di hadapan siapa yang kepadanya Anda bermohon. Hal ini harus dibuktikan dalam ucapan dan sikap. Kalau demikian, wajarkah manusia bermuka dua (riya’) ketika menghadap Allah? Yang demikian ini tidak menghayati shalatnya lagi lalai dari tujuannya.cxviii
Dalam mengingat Allah Swt… itu hendaknya manusia merasa rendah dan lemah, tidak sombong, di hadapan-Nya. Firman Allah QS Al-Hadîd [57]: 16

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”,

Kamal Muhammad Isa mengatakan bahwa insan yang saleh adalah insan yang beriman, memiliki akidah, dan hatinya tidak pernah lalai dari mengingat Tuhannya.

Iman itu harus dibuktikan dengan hati yang selalu tertuju kepada Allah, sekaligus menyadari kekuasaan dan kebesaran-Nya, dan menganggap diri sangat membutuhkan pertolongan dan kasih-sayang-Nya.

Zikir juga mampu menjadi penyelamat manusia dari rayuan setan, seperti tersebut dalam QS Al-A’râf [7]: 201:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”.

Wahid Abdussalam Bali menulis bahwa setan tidak akan masuk kecuali pada orang yang hatinya kosong dari zikir, ketakwaan, keikhlasan dan keyakinan. Pada orang yang demikian, ketika setan memasukkan bisikkannya, ia mendapatkan tempat yang kosong, sehingga bisikannya itu tetap tinggal di dalamnya, demikian sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair:

Aku didatangi oleh nafsunya
Lalu membentur hati yang kosong sehingga tetap tinggal.

Setiap manusia akan digoda setan. Orang yang selalu berzikir, ketika datang bisikan setan kepadanya, akan segera mengingat Tuhannya-karena memang demikianlah kebiasaanya, sehingga ia menolaknya. Tapi orang yang jarang berzikir, akan tidak mudah mengingat Tuhannya pada saat setan membujuknya.

M. Utsman Najati menjelaskan bahwa pengulangan mengingat Allah akan membentuk suatu kebiasaan pada seseorang berzikir dan bertasbih kepada-Nya. Sekiranya kebiasaan ini menjadi tetap dan stabil dalam perilakunya, maka Allah akan selalu hadir dalam kalbu mereka dan dalam setiap saat dari denyut-denyut kehidupannya, dan semua itu keluar darinya tanpa usaha keras serta sulit.

Mengenai bagaimana kedudukan orang yang selalu berzikir dengan yang tidak dilukiskan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari:

“Perumpamaan orang yang berzikir dengan orang yang tidak berzikir, adalah seperti orang hidup dengan orang mati.”

Itulah sebabnya Rasulullah mengajarkan kepada beberapa sahabatnya doa yang akan dibaca untuk memperkuat hati dan agar dibukakan dan dimudahkan Tuhan dalam mengingat Dia. Yaitu:

“Ya Tuhan! Bantulah aku atas melakukan zikir (ingat kepada engkau) dan bersyukur kepada engkau dan melakukan sebaik-baik iabadah kepada Engkau.”

Ketiga metode pendidikan hati tersebut harus selalu dijalankan oleh manusia. Dengan demikian insya Allah manusia akan mampu menjalankan fungsi mata, telinga dan hatinya dengan baik, seperti firman Allah dalam QS Al-Nahl [16]: 78,

Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Manusia sering berbuat salah karena sering lupa akibat atau balasan yang akan menimpanya di kehidupan setelah mati.

Sumber : Jejen Musfah, Hati dalam tafsir Al-azhar Hamka, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengatasi Penyakit Qalbu

a. Menyiasati Kegundahan Qalbu

Sesuatu yang paling banyak menyita pikiran, waktu, dan tenaga. Akibatnya mengurangi kemampuan akal dan merusak ibadah, itulah perasaan cemas. Cemas terhadap sesuatu yang belum terjadi yang berkaitan dengan urusan duniawi. Perasaan cemas tidak akan membuahkan penyelesaian, membuat qalbu semakin sengsara, dan bertambah menderita.

b. Meredam Gelisah Qalbu

Allah lebih dekat dari pada urat leher, karena Allahlah yang telah menciptakan dan mengurus urat leher semua manusia. Oleh sebab itu idak ada yang luput dari pandangan-Nya. Mutlak, pasti segala-galanya disaksikan dan diketahui dengan jelas oleh-Nya. Maka, jangan heran jika orang yang mendapat keberuntungan yang besar di dunia ini bukanlah orang yang diberi dunia. Melainkan, orang yang dibukakan hatinya sehingga selalu merasakan kedekatan, keagungan, kehebatan, dan keperkasaan-Nya.

c. Mengelola Qalbu Memupus Dendam

Suatu kelumrahan bagi manusia apabila disakiti dia akan sakit hati lalu berujung pada dendam, Tetapi dendam bukanlah hal yang baik. Islam mengajarkan untuk berbuat baik kepada orang yang berbuat dzalim. Memang pahit rasanya, jika harus berbuat baik kepada orang yang dzalim. Akan tetapi akan lebih pahit lagi jika orang dzalim itu tidak berubah atau bertambah dzalim.