Bagaimana biografi Abu Ubaidah bin Al-Jarrah?

Andaikan Abu Ubaidah masih hidup pada waktu Umar hendak meninggal dunia, bisa jadi yang diangkat sebagai khalifah pengganti Umar adalah Abu Ubaidah. Bagaimana tidak, sebab Abu Ubaidah adalah Al Amin di tengah umat Islam dan beliau adalah orang yang dipilih oleh Abu Bakar ketika terjadi peristiwa Saqifah Bani Sa’idah di mana sebelum Abu Bakar di baia dan secara bulat dipilih oleh para sahabat yang hadir, ia mengusulkan Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai khalifah.

Abu Ubaidah bernama ‘Amir. Lengkapnya, Amir bin Abdillah bin Al Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Hannabih bin Al Harits bin Fihr bin Malik bin Kinanah bin Khuzaimah. Beliau berasal dari Bani Fihri. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada sosok Fihr bin Malik, laki-laki yang disandarkan kepada nama Quraisy.

Abu Ubaidah termasuk salah seorang sahabat yang masuk Islam di tahun-tahun pertama berkembangnya Islam. Beliau pernah hijrah ke Habasyah pada tahun kelima dari tahun kenabian. Akan tetapi, beliau tidak lama di sana dan akhirnya pulang kembali ke Mekkah. Ketika turun perintah hijrah ke Madinah, beliau kembali berhijrah. Oleh Rasulullah, Abu Ubaidah disebut sebagai Al Amin umat Islam ini. Maksudnya, orang kepercayaan umat ini.

Beliau ikut serta dalam perang-perang yang diikuti oleh Rasulullah (al ghazwah). Dalam sejumlah ekspedisi militer, Rasulullah bahkan pernah menunjuk Abu Ubaidah sebagai pemimpin pasukan. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Abu Ubaidah diangkat sebagai salah seorang panglima pasukan yang diturunkan di wilayah Romawi. Ketika menggempur Romawi di daerah Yarmuk, Abu Ubaidah memimpin pasukan inti. Waktu itu, yang menjadi panglima tertinggi adalah Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu.

Sudah sejak Abu Bakar sebagai khalifah, Umar merekomendasikan Abu Ubaidah sebagai pemimpin tertinggi pasukan. Karena itu, bisa dimaklumi, jika Umar segera menunjuk Abu Ubaidah untuk memegang posisi ketika baru diangkat sebagai khalifah setelah Abu Bakar wafat. Di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah, kaum muslimin melebarkan kekuasaannya di wilayah Romawi. Dan puncaknya adalah ketika kaum muslimin berhasil merebut Masjidil Aqsha dari tangan orang-orang Nasrani. Abu Ubaidah akhirnya lebih dikenal umat sebagai penakluk Damaskus. Beliau berkedudukan di sana dan mendapatkan kepercayaan dari Umar untuk menjadi gubernur wilayah Syam.

Dalam kedudukan di Syam itulah, Allah menakdirkan Abu Ubaidah harus meninggalkan dunia setelah terserang penyakit tha’un Amwas. Penyakit thaun ini adalah penyakit lepra. Waktu itu, beliau berumur 58 tahun dan peristiwa tha’un itu sendiri terjadi pada tahun ke-18 H.

Amwas adalah salah satu tempat yang terletak antara Ramlah dan Baitul Maqdis yang saat itu masuk dalam wilayah Syam. Wabah tersebut menelan korban ribuan jiwa yang ada di sana. Selain Abu Ubaidah, terdapat sahabat-sahabat Rasulullah lain yang meninggal akibat terjangkit wabah ini. Di antar mereka terdapat Mu’adz bin Jabbar r.a