Bagaimana Asuhan Gizi pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)?

image

Bagaimana Asuhan Gizi pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)?

Tujuan dari pemberian asuhan gizi gizi pada penyakit paru-paru kronik adalah menjamin pemenuhan kebutuhan gizi pasien terutama energi dan protein. Dan memberikan zat gizi yang dapat bermanfaat dan meringankan kerja saluran pernafasan. Sangat penting menjaga keseimbangan energi dan keseimbangan nitrogen.

Bagaimana mengaturnya?

  • Energi Kalori cukup 20-35 kkal/kgBB/ hari, untuk memenuhi kebutuhan energi dikarenakan peningkatan kinerja pernapasan. Selain itu mengurangi resiko terjadinya malnutrisi yang merupakan faktor penyulit utama. Penurunan BB terjadi karena adanya gejala lemah, dyspnea, dan rasa mual, nafas mulut kronis dan nafsu makan turun. Energi juga diperlukan untuk membantu otot-otot pernapasan beregenerasi. Oleh karena pemberian energi adekuat sesuai dengan intensitas dan frequensi terapi olahraga sangat diperlukan untuk meringankan kerja saluran nafas. Mempertahankan kebutuhan energi yang seimbang diperlukan untuk menjaga protein veisceral maupun protein somatic. Lebih bagus jika dilakukan pengukuran indirect calorimetry sehingga tidak akan terjadi kelebihan zat gizi. Pemberian energi rata rata 140 % dari BMR sangat baik untuk mencegah terjadinya kehilangan protein pada pasien PPOK yang dirawat di RS (American Dietetic Assosiation, 2010).

  • Protein : protein diberikan 1.2 s/d 1.7 g/kg BB/hari. Hal ini diperlukan memenuhi kebutuhan tubuh, memelihara dan mempertahan kekuatan otot pernafasan dan mendukung fungsi immun serta mencegah terjadi wasting pada lean body mass /otot. Keseimbangan ratio protein (15 sd 20% total kalori) dengan lemak (30% sd 45% total kalori) dan CHO 40 s/d 55% total kalori sangat penting untuk menjaga kesesuaian RQ dari penggunaan metabolismnya.

  • Lemak tinggi yaitu 30 s/d 45 dari total energi. Lemak mempunyai nilai RQ rendah yang berarti dalam proses pencernaan memerlukan oksigen sedikit dibanding zat gizi lainnya, lemak merupakan bahan makanan tingi energi dibanding CHO dalam osmolitas dan tidak menyebabkan hiperglikemi. Nilai RQ lemak = 0.7 , protein RQ= 0.8. dan CHO=1. KH rendah: 40-50 dari total energi, karbohidrat meningkatkan pengambilan oksigen dan menghasilkan karbondioksida yang cukup tinggi. Pemberian KH 30-35% dapat menghindari terjadinya sesak dan ketosis.

  • Vitamin dan mineral: Kecukupan vitamin dan mineral juga perlu diperhatikan pada pasien PPOK. Kesehatan saluran nafas sangat dipengaruhi oleh antioksidan. Vitamin antioksidan seperti vitamin C, vitamin A, vitamin E dan betakaroten, perlu diperhatiakn apalagi kalau perokok. Beberapa studi menyatakan bahwa perokok mempunyai kandungan vitamin antioksidan dalam darah rendah. Penelitian lebih lanjut tentang ini nampak perlu dilakukan. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah nilai fosfat dalam darah. Fosfat merupakan salah satu zat gizi yang berperan dalam subtesis adenosine tri phosphate (ATP) dan 2, 3 diphosphoglycerate (DPG) yang kedua ini merupakan bagian kritis dari fungsi pernafasan. Penggunaan obat corticosteroid, diuretic dan bronchodilator berhubungan dengan hipophosphathamia dan berkontribusi terhadap deplesi simpanan phosphate. Serum fosfat sebaiknya tetap dipantau pada pasien dengan gangguan pernapasan dan gagal paru untuk melihat tingkat kecukupannya.

Osteoporosis dan retak tulang adalah hal yang umum pada pasien PPOK tingkat berat. Faktor resiko yang berkaitan dengan osteoporosis adalah kebiasaan seperti merokok, rendahnya nilai estrogen dan testosterone, kekurangan vitamin D, IMT rendah, dan kurang bergerak (Schools, 2003). Berat badan berhubungan erat dengan densitas mineral tulang. Penurunan berat badan dan malnutrisi berhubungan erat dengan patogenesis densitas mineral tulang pada pasien PPOK.

Kalsium dan magnesium dibutuhkan juga untuk memelihara kontraksi dan relaksasi otot pernafasan. Anjuran konsumsi mineral sesuai dengan AKG, khusus untuk kalsium, vitamin D dan vitamin K bisa diatas AKG sebagai contoh kalsium 1200-1500 g/hari dan 400 IU vitamin D karena pada PPOK terjadi defisiensi serum 25-hydroxyvitamin D dan pemberian obat glukortikosteroid pada pasien PPOK dapat mengurangi penyerapan kalsium dan meningkatkan pengeluaran urin, sehingga meningkatkan kadar hormon paratiroid dan peleburan tulang. Pemeriksaan Densitas mineral tulang sebaiknya diukur secara berkala bagi pasien yang menerima obat glukokorticoid >7.5 mg prednisone/perhari. Pasien dengan cor pulmonale ada penahanan cairan perlu pembatasan cairan dan natrium namun harus disesuaikan dengan obat diuretika yang diberikan dan asupan kalium perlu ditingkatkan.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahan makanan yang diberikan adalah bahan makanan yang mudah dicerna, rendah serat dan tidak mengandung gas karena pada pasien ini sering mengalami kembung. Bentuk dan pemberian makanan dapat disesuaikan dengan kondisi pasien bisa oral, enteral, parenteral , maupun gabungannya. Makan porsi kecil tapi sering lebih dari 3x dapat menghindari rasa mual dan begah.

Bagaimana srategi pemberian makannya?

Telah diketahui bahwa penurunan BB dan penurunan IMT pada pasien PPOK berkaitan dengan tingkat kegawatan dan mortalitas. Pemberian makanan adekuat dengan dukungan gizi yang optimal salah satu cara mengatasi masalah diatas. Faktor ynag utama yang perlu dilakukan adalah teliti pada saat melakukan asesmen pada pasien PPOK. Faktor yang perlu digali adalah riwayat gizi, dan identifikasi masalah khusus yang berkaitan dengan gangguan nafsu makan, dan menurunnya asupan zat gizi dan status gizi. Selain itu, melakukan evaluasi obat yang digunakan juga diperlukan untuk mengetahui apakah penggunaan tersebut berkaitan dengan nafsu makan atau status gizi. Beberapa anjuran perlu dilakukan diantaranya istirahat sebelum makan, makan porsi kecil tapi sering dengan makanan yang mempunyai densitas tinggi; rencanakan obat dan penggunaan oksigen sekitar waktu makan. Untuk mencegah aspirasi ada hal-hal yang perlu perhatian diantaranya posisi duduk pada saat makan, gunakan oksigen pada saat waktu makan, makan pelan, kunyah dengan baik, dan bina lingkungan sosial yang menyenangkan sehingga nafsu makan meningkat. Pada keluarga perlu ditekankan untuk membantu meningkatkan asupan oral pasien, meningkatkan nafsu makan dan kurangi aktifitas yang meningkatkan kelelahan. Dibawah ini tabel bagaimana strategi konselingnya jika pasein mengeluh nafsu makan menurun; cepat kenyang/begah; sesak nafas; lemas; kembung; konstipasi; dan xerostomia.
image
image