© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana aktivitas Antimikroba pada Bawang Merah?

alium cepa

Bawang merah merupakan herba tahunan dari famili Liliaceae yang banyak tumbuh hampir di seluruh penjuru dunia. Bawang merah termasuk dalam genus Allium yang umbinya sering digunakan sebagai penyedap rasa makanan atau bumbu serta mempunyai berbagai macam khasiat obat (Dharmawibawa et al., 2014). Terlepas dari kegunaannya sebagai bumbu dapur, ternyata bawang merah diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri dan antifungi (Leelarungyub et al., 2006). Bawang merah memiliki kandungan polifenol, flavonoid, flavonol dan tanin yang lebih banyak bila dibandingkan dengan anggota bawang lainnya (Gorinstein et al., 2010). Bagaimana aktivitas antimikroba Bawang merah?

1 Like

Aktivitas antimikroba Bawang Merah


Bawang merah juga mengandung allisin dan alliin yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme, serta pektin yang mampu mengendalikan pertumbuhan bakteri. Bawang merah memiliki senyawa aktif kuersetin yang berpotensi sebagai antibakteri (Jaelani, 2007). Ekstrak etanol bawang merah mempunyai aktivitas antibakteri yang baik terhadap bakteri Gram positif Staphylococcus epidermidis dan Bacillus subtilis (Saenthaweesuk et al . , 2015).

Tidak hanya bagian umbi lapis bawang merah saja, ternyata bagian kulit luar bawang merah yang seringkali dibuang diketahui memiliki aktivitas antimikroba. Hal ini didukung dengan adanya penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa ekstrak atanol dari kulit bawang merah (Allium cepa) memiliki aktivitas terhadap Eschericia coli, Pseudomonas fluoroscens, Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus serta jamur Aspergillus niger, Trichoderma viride, dan Penicillium cyclopium (Skerget et al., 2009; Misna & Khusnul, 2016). Metabolit sekunder yang terkandung pada bagian kulit dari bawang merah di antaranya yaitu alkaloid, flavonoid, terpenoid, saponin, polifenol, dan kuersetin yang memiliki aktivitas sebagai antimikroba (Soemari, 2016; Rahayu et al. , 2015).

  1. Hasil pengujian fitokimia terhadap ekstrak etanol kulit bawang merah :
Metabolit sekunder Hasil Keterangan
Alkaloid - Tidak Terbentuk endapan/kabut putih
Flavonoid + Memberikan warna merah muda sampai kemerahan
Fenolik + Memberikan warna biru sampai kehitaman
Saponin - Tidak ada busa
Steroid - Tidak memberikan warna hijau
Terpenoid + Memberikan warna jingga sampai kemerahan
  1. Hasil pengujian antibakteri terhadap ekstrak etanol kulit bawang merah

    image

  2. Hasil pengujian antijamur terhadap ekstrak etanol kulit bawang merah

    image

Hasil pengujian ekstrak etanol kulit bawang merah terhadap bakteri S. epidermidis, S. aureus, S. thypi dan E. coli menunjukkan adanya aktivitas antibakteri serta aktivitas antijamur terhadap jamur Trichophyton mentagrophytes . Ditunjukkan dengan terbentuknya zona bening di sekeliling kertas cakram yang sudah diberi ekstrak (Gambar 1). Hasil pengukuran diameter hambat ekstrak etanol kulit bawang merah terhadap bakteri S. epidermidis, S. aureus, S. thypi, dan E. coli serta jamur Trichophyton mentagrophytes Hasil pengukuran diameter hambat yang terbentuk menunjukkan bahwa ekstrak etanol dari kulit bawang merah memberikan aktivitas terhadap bakteri uji serta jamur uji.

Berdasarkan pengukuran zona hambatan, dapat dilihat bahwa zona hambat bakteri Gram positif lebih besar bila dibandingkan dengan bakteri Gram negatif. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit bawang merah lebih peka terhadap bakteri Gram positif. Adanya perbedaan aktivitas ini disebabkan karena perbedaan struktur dan komponen penyusun dinding sel bakteri. Lapisan peptidoglikan pada dinding sel bakteri Gram negatif lebih tipis, sedangkan pada bakteri Gram positif lapisan peptidoglikannya lebih tebal. Komponen penyusun dinding sel bakteri Gram negatif lebih kompleks karena memiliki lapisan membran luar tambahan, sehingga akan lebih mudah menembus dinding sel Gram positif dibanding Gram negatif (Allison & Gilbert, 2004).

Secara keseluruhan dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang diberikan, maka semakin besar diameter daerah hambat yang terbentuk. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Pelczar & Chan (1988), bahwa semakin besar konsentrasi senyawa antimikroba yang diujikan, maka aktivitas antimikroba senyawa tersebut semakin besar.

Aktivitas antimikroba yang ditimbulkan oleh ekstrak etanol kulit bawang merah dapat terjadi karena kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid, fenolik dan terpenoid. Flavonoid dapat menghambat pertumbuhan bakteri melalui penghambatan DNA gyrase, sehingga menghambat fungsi membran sitoplasma (Chusnie & Lamb, 2005). Senyawa fenolik juga berpotensi sebagai antibakteri yang menyebabkan lisis komponen seluler serta merusak mekanisme enzimatik sel bakteri (Pelczar & Chan, 1988). Selain itu, terpenoid juga diketahui berperan sebagai antibakteri dengan melibatkan pemecahan membran oleh komponen-komponen lipofilik (Cowan, 1999; Bobbarala, 2012).

Adanya aktivitas antijamur juga dapat terjadi karena adanya kandungan metabolit sekunder yaitu terpenoid. Terpenoid dapat mengganggu permeabilitas membran sel jamur yang mengakibatkan terjadinya kerusakan krista sehingga energi yang dihasilkan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan sel menjadi berkurang, dan pertumbuhan jamur menjadi terhambat. Flavonoid juga dapat menghambat pertumbuhan jamur secara in vitro (Griffin, 1994; Wiryowidagdo, 2007).

Referensi :

  • Octaviani, M., Fadhli, H., & Yuneistya, E. (2019). Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Kulit Bawang Merah (Allium cepa L.) dengan Metode Difusi Cakram. Pharmaceutical Sciences and Research (PSR) , 6 (1), 62-68.
3 Likes