Bagaimana agar memiliki akhir hidup yang Husnul Khatimah dan pertandanya ?

Husnul Khatimah

Husnul Khatimah merupakan akhir kehidupan yang baik dan dirahmati oleh Allah S.W.T. Banyak mukmin yang mendambakan memiliki akhir yang baik sepert itu. Namun, akhir yang baik yang dianugerahkan Allah bukanlah tanpa sebab.

Dalam pandangan yang lebih awan, mungkin kita dapat mengartikan bahwa su’ul khatimah adalah mati dalam keadaan tidak baik, dan kebalikannya adalah mati dalam keadaan ‘khusnul khatiman’ (mati dalam keadaan baik). Imam Ghazali dalam buku Ihya ‘Ulumuddin, mengatakan bahwa kebanyakan orang shaleh sangat takut dengan su’ul khatimah (mati dalam keadaan tidak beriman) kepada Allah. Setiap orang beriman pasti berkeinginan untuk meninggal dalam keadaan ‘khusnul khatimah’, yaitu meninggal dengaan baik dan dalam keadaan beriman kepada Allah.

Tidak penting kita meninggal di mana dan kapan, yang diinginkan adalah cara meninggal yang khusnul khatimah.

Bentuk dan jenis dari su’ul khatimah yang kita temukan dalam masyarakat banyak dan beraneka ragam. Dan semuanya merupakan bencana yang sangat ditakuti oleh setiap orang yang beriman. Kita memang tidak akan pernah tahu, kapan akan mati, dimana akan mati dan bagaimana cara kita mati? Karena semuanya itu adalah rahasia Allah saja yang mengetahui. Tetapi sebagai orang yang menghendaki khusnul khotimah, maka tidak ada salahnya kita berdo’a kepada Allah agar kelak nanti dimatikan sebagai orang yang khusnul khatimah.

Orang Shaleh Takut Mati dalam Keadaan Su’ul Khatimah?

Imam Ghazali dalam buku Minhajul Abidin menjelaskan bahwa Su’ul Khatimah memiliki dua tingkat, yang keduanya sangat besar bahayanya. Kedua tingkatan tersebut adalah;

  • Hati dan perasaan seseorang ketika sakratul maut segera merenggutnya. Mereka hatinya akan menjadi ragu-ragu dan tidak percaya lagi kepada Allah, sehingga mati dalam keadaan tidak beriman;

  • Seseorang yang ditunggangi oleh kecintaan terhadap urusan duniawi yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan akhirat. Hatinya tenggelam dalam kecintaan terhadap harta dandunia, mereka berpaling dari Allah. Diantara dua tingkatan dari sifat su’ul khatimah diatas, tingkatan yang pertama yang lebih besar bahayanya.

Mati secara su’ul khatimah dapat dialami oleh siapa pun juga, baik orang itu berasal dari kalangan orang awam atau pun orang yang ahli ibadah sekalipun. Orang yang sering melakukan ibadah kepada Allah pun, tidak menjamin diakhir hidupnya ia akan menjadi orang yang khusnul khatimah. Begitu juga sebaliknya orang yang selama hidupnya penuh dengan jalan kesesatan tidak menutup kemungkinan di akhir hidupnya ia akan mendapati mati sebagai orang yang khusnul khatimah.

Jadi soal Su’ul khatimah atau Khusnul khotimah merupakan sebuah rahasia besar yang masih disimpan dengan rapih oleh Allah. Kita sebagai hamba-Nya hanya diminta untuk berikhtiar agar dapat kembali ke rahmat-Nya dengan khusnul khatimah.

Al Faqih dalam kitab Tanbigul Ghafilin menyatakan bahwa barang siapa yang yakin dan mengetahui bahwa kematian pasti akan datang kepadanya, maka ia harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan senantiasa mengerjakan amal-amal yang baik dan menjauhi amal-amal yang buruk, karena seseorang tidak tahu kapan kematian itu akan datang.

Kita tidak bisa menghindari kematian, karena kematian pasti datang. Sebagaimana firman Allah,” Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS Az-Zumar [39]: 30)

Bagaimana agar Mati secara Khusnul Khatimah?

Urusan mati adalah urusan Allah sebagai pemilik kehidupan manusia, Dia yang akan menjadi eksekutor bagi setiap kematian hamba-hamba-Nya. Allah-lah yang telah menetapkan batas-batas dan akhir kehidupan manusia. Hidup, mati, rezeki, jodoh dan amal perbuatan kita semuanya sudah di takdirkan oleh Allah dalam Lauhful Mahfudz. Kita sebagai hamba-Nya tidak punya kuasa untuk memilih dan meminta mati dalam keadaan seperti apa? su’ul khatimah atau khusnul khatimah, itu adalah hak prerogatif Allah.

Walaupun kita tidak punya daya dan upaya untuk menolak apa yang sudah Allah takdirkan atas kematian kita nanti, paling tidak kita harus bisa membaca dan mengetahui serta mengamalkan apa saja amalan-amalan yang bisa menghidarkan kita dari kematian yang su’ul khatimah. Hanya itulah yang dapat kita lakukan sambil tetap berharap dan berdo’a kepada Allah agar dimatikan sebagai orang yang khusnul khatimah.

Rasulullah Saw pernah ditanya oleh seorang Sahabat,

“Ya Rasulullah, ‘orang mukmin mana yang paling utama?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya diantara mereka.” kemudian sahabat bertanya lagi, Orang mukmin mana yang paling cerdik?’ beliau bersabda, ‘ orang yang paling banyak mengingat mati dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk mati.”

Dari Abu Hamid Al Lafaf, ia berkata,

” Barang siapa banyak mengingat mati, maka ia akan dimuliakan dengan tiga hal, yaitu; segera bertobat, tenang dalam mencari rezeki dan semangat dalam beribadah. Dan barang siapa yang melupakan mati, maka ia tidak pernah merasa cukup dalam masalah rezeki dan bermalas-malasan dalam beribadah.”

Jika kita menginginkan mati secara khusnul khatimah, maka tidak ada pilihan lain selain kita harus mempersiapkan diri untuk menanti jadwal kematian kita dengan memperbanyak amal-amal saleh dan menjauhi semua apa yang di larang oleh Allah. Bersegera taubat atas segala dosa-dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat. Manfaatkan sisa waktu hidup dengan berbagai amal kebajikan, jangan kotori lagi dengan hal-hal yang merugikan.

Orang cerdas adalah mereka yang selalu mengingat kematian dan mengiasi diri dengan amal. Tidak sedikitpun waktu yang terlewat dari aktifitas untuk mengisi dengan ibadah kepada Allah.

Tanda-tanda Khusnul Khatimah

Dari Sahl bin Sa’d Al-Sa’idi ra bahwa Rasulullah Saw saw bersabda,

“Sesungguhnya seorang hamba mengerjakan suatu amalan di mana amal tersebut dilihat oleh manusia sebagai amal para penghuni Surga, namun di termasuk penghuni neraka, dan terkadang seseorang beramal suatu amalan yang menurut manusia dia beramal dengan amalan para penghuni neraka namun dia termasuk pernghuni Surga, sesungguhnya semua amal sangat tergantung dengan amal terakhir”.

Ibnu Baththal berkata,

“Dirahasiakannya akhir amal seseorang memliki hikmah yang sangat besar dan sebuah pengaturan taqdir yang sangat tinggi, sebab seandainya manusia mengetahui akhir amalanya maka jika dia termasuk orang yang selamat maka dia akan menjadi sombong dan malas berbuat, dan jika dia termasuk orang yang binasa maka dia akan bertambah sombong; maka perkara tersebut dirahasiakan agar manusia tetap hidup antara takut dan harap”.

Al-Hafiz Abdul Haq Al-Isybily berkata,

“Dan su’ul khatimah, memiliki pintu dan sebab, di antaranya tenggelam dalam merebut, menuntut dan mengkonsentariskan diri kepada harta dunia, berpaling dari mengingat akherat, dan memberanikan diri tenggelam dalam bermaksiat kepada Allah. Sebab bisa jadi seseorang tenggelam dalam sebuah kesalahan atau kemaksiatan, berpaling (dari kebenaran), dikuasai rasa angkuh dan berani dengan dosa, sehingga menguasai dan menawan hati dan akalnya lalu kematian datang menjemputnya dalam kondisinya yang seperti itu”.

Lebih lanjut Al-Hafiz Abdul Haq Al-Isybily mengingatkan bahwa Su’ul khatimah tidak terjadi pada orang yang lahiriyahnya tanpak komitmen dengan agama dan keadaan bathinnya baik. Perkara yang seperti ini tidak pernah terdengar dan diketahui, dan segala puji hanya milik Allah, dia hanya terjadi pada orang yang memiliki aqidah yang rusak, terus tenggelam dalam dosa-dosa besar, memberanikan diri berbuat dosa-dosa besar sehingga bisa jadi dia tenggelam dalam dosa-dosa tersebut lalu mati menjemputnya sebelum bertaubat”.

Oleh karena itu, kita dapat mengetahui berbagai tanda-tanda kematian yang berujung pada khusnul khatimah secara jelas, sebagaimana Rasulullah Saw dalam beberapa hadits meriwayatkan tentang tanda-tanda kematian yang khusnul Khatimah.

  • Mengucapkan Syahadat ketika hendak meninggal, sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘ La ilaha Illallah’ ia akan masuk Surga.”(HR. Al Hakim)

  • Meninggal dengan keringat di dahi, “Meninggalnya seorang mukmin dengan keringat didahi.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

  • Meninggal pada siang atau malam hari jum’at, “Tidak ada seorang Muslim pun yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. AHmad dan At Tirmidzi)

  • Mati Syahid di medan perang, sebagaimana firman Allah dalam kitab-Nya,

    ”Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki, mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman, …” (QS Ali Imran [3]: 169-171)

  • Meninggal karena penyakit Tha’un, meninggal karena sakit perut, tenggelam dan tertimpa reruntuhan, dan meninggal dijalan Allah. Sabda Rasulullah saw, “Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit Tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati tertimpa reruntuhan dan orang yang mati di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Meninggalnya seorang Ibu dengan anak yang masih dalam kandungan. Sabda Rasulullah Saw, “Wanita yang meninggal karena anaknya yang masih dalam kandungan adalah mati syahid, anaknya akan menariknya dengan tali pusernya ke Surga.” (HR. Ahmad dan Ad-Dailami)

  • Meninggal karena mempertahankan hartanya yang akan dirampas oleh orang lain, “Siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya, maka ia syahid.” (HR. Bukhari dan Muslim)