© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana Adab Pencari Ilmu yang Baik?

Ilmu adalah sesuatu yang sangat luas. Untuk mendapatkan sebuah ilmu, manusia harus memperhatikan adab-adabnya. Bagaimana adab pencari ilmu yang baik ?

Kitab Adab al-Ālim wa al-Muta’allim membahas tentang menuntut ilmu yang baik. Berikut macam-macam adab bagi pencari ilmu, antara lain:

  • Adab bagi Pencari Ilmu (pelajar)
    Adab yang harus dimiliki bagi seorang pencari ilmu (pelajar) dalam kitab Adāb al-Ālim wa al-Muta’allim ada sepuluh macam, yaitu sebagai berikut:
  1. Sebelum mengawali proses mencari ilmu, seorang pelajar hendaknya membersihkan hati terlebih dahulu dari berbagai macam kotoran dan penyakit hati.
  2. Membangun niat yang luhur.
  3. Menyegerakan diri dan tidak menunda-nunda waktu dalam mencari ilmu pengetahuan.
  4. Rela, sabar, dan menerima keterbatasan (keprihatinan) dalam masa-masa pencarian ilmu, baik menyangkut makanan, pakaian, dan lain sebagainya.
  5. Membagi dan memanfaatkan waktu serta tidak menyia- nyiakannya.
  6. Tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan.
  7. Bersikap wara‟ (waspada) dan berhati-hati dalam setiap tindakan
  8. Tidak mengonsumsi jenis-jenis makanan yang dapat menyebabkan akal seseorang menjadi tumpul serta melemahkan kekuatan organ-organ tubuh.
  9. Tidak terlalu lama tidur yakni selama itu tidak membawa dampak negatif bagi kesehatan jasmani maupun rohaninya.
  10. Menjauhkan diri dari pergaulan yang tidak baik. Lebih- lebih dengan lawan jenis.
    Sedangkan menurut al-Ghazali dalam kitabnya Ikhya Ulumuddin, bahwasanya seorang pencari ilmu harus mendahulukan penyucian jiwa daripada akhlak yang hina dan sifat-sifat tercela karena ilmu merupakan ibadah hati, shalatnya jiwa, dan pendekatan batin kepada Allah dan mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia karena ikatan-ikatan itu hanya menyibukkan dan memalingkan.
  • Adab Belajar bagi Pencari Ilmu (pelajar)
    Di dalam belajar, hendaknya seorang pencari ilmu (pelajar) memerhatikan tiga belas adab atau etika sebagai berikut :
  1. Sebelum memelajari ilmu-ilmu yang lain, hendaknya memelajari empat macam ilmu yang hukumnya fardhu a’in terlebih dahulu, yaitu:
  • Ilmu tentang Zat al-Aliyah (pengetahuan tentang Allah)
  • Ilmu sifat (pengetahuan tentang sifat-sifat Allah)
  • Ilmu fiqh (pengetahuan tentang ibadah (ketaatan) dan hukum-hukum Allah)
  • Ilmu yang berkaitan dengan ahwal (perilaku), maqamat (tahap-tahap ketaatan dalam beribadah kepada Allah), dan masalah- masalah nafsiyah (spiritual).
  1. Mempelajari kitab suci al-Qur‟an.
  2. Khusus untuk pelajar pemula, hendaknya ia menjauhi pembahasan-pembahasan yang di dalamnya banyak terdapat pertentangan (khilafiyat) di kalangan ulama, karena hal itu akan membingungkan pikirannya.
  3. Apabila memunyai niat menghafalkan suatu teks/bacaan, sebaiknya seorang murid melakukan tashih (memastikan kebenaran teks tersebut) terlebih dahulu kepada salah seorang guru atau orang yang lebih memahami bacaan tersebut.
  4. Tidak menunda-nunda waktu dalam memelajari setiap cabang ilmu pengetahuan, lebih-lebih pengetahuan tentang hadits Rasulullah SAW.
  5. Apabila murid telah benar-benar menguasai pembahasan- pembahasan yang ringan/mudah, hendaknya ia melanjutkannya dengan pembahasan-pembahasan yang lebih kompleks, luas, dan terinci.
    Menurut al-Ghazali seorang pelajar tidak disarankan untuk sekaligus menekuni bermacam-macam cabang ilmu melainkan memerhatikan urutan-urutannya dan memulai dari yang paling penting dan hendaknya tidak memasuki sebuah cabang ilmu kecuali jika telah menguasai cabang ilmu yang sebelumnya, karena ilmu- ilmu itu tersusun rapi secara berurutan.
  6. Aktif menghadiri halaqah yang disampaikan oleh guru.
  7. Mengucapkan salam kepada jamaah setiap kali memasuki
    halaqah.
  8. Seorang pelajar hendaknya tidak menanyakan kepada gurunya tentang hal-hal yang tidak patut ditanyakan.
  9. Bersabar dalam menunggu giliran dalam bertanya kepada guru ketika banyak orang lain yang juga akan bertanya.
  10. Duduk dengan sopan santun di hadapan guru.
  11. Tekun serta istiqomah dalam memelajari setiap kitab.
  12. Membantu mendukung keberhasilan teman-teman sesama pelajar dalam meraih ilmu pengetahuan.

Dalam islam, adab menuntut ilmu bagi seorang pelajar atau santri ada empat yaitu:

  • Adab terhadap guru
  • Adab terhadap diri sendiri
  • Adab terhadap teman
  • Adab terhadap pelajarannya.

Begitu sangat pentingnya dalam mempelajari sebuah adab, sehingga para salaf terdahulu menyamakan perhatian mereka antara adab dan menuntut ilmu.

Al-imam Ibnu qoyyim Al-Jauziyah berkata : ‘ Adab seseorang merupakan alamat kebahagiaan dan kesuksesannya. Dan sedikitnya adab adalah alamat kesengsaraan dan kebinasaannya, maka tidaklah kebaikan dunia dan akhirat itu diperoleh seperti dengan cara adab dan tidaklah sebab terhalangnya kebaikan dunia dan akhirat semisal dengan sebab sedikitnya adab.

Muhammad bin sirrin berkata : *“Dahulu mereka para salaf belajar adab seperti mempelajari ilmu.”Bahkan sebagian mereka mendahulukan belajar adab sebelum mempelajari ilmu. Malik bin anas berkata kepada seorang pemuda quraisy: “Wahai anak saudaraku belajarlah adab sebelum belajar ilmu.” Syaikh Sholeh Al-Ushaimi berkata: “Sesungguhnya kebanyakan penuntut ilmu pada zaman ini terhalang dari ilmu adalah dengan sebab menyia-nyiakan adab.” ( Khulashoh Ta’dhimul iImi: 30 ).

1. Sucikan Hati

Poin pertama adalah sucikan hati, artinya orang yang menuntut ilmu harus mengawalinya dengan membersihkan hati dari segala penyakit hati dan maksiat kepada Allah SWT. Sebab ilmu adalah cahaya, sedangkan cahaya Allah tidak akan mungkin diberikan kepada hambanya yang suka berbuat maksiat. Jika hati dan diri kita masih kotor, maka akan sulit menerima dan memahami ilmu.

2. Berniat Karena Allah SWT

Menuntut ilmu merupakan salah satu ibadah yang di wajibkan. Dikatakan dalam sebuah hadist bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Begitu pentingnya ilmu, sehingga dalam mencari ilmu niatkanlah karena ibadah lillahita’ala, agar memperoleh keberkahan dari ilmu yang didapat.

3. Bersungguh-Sungguh

Dalam mencari ilmu, hendaklah bersungguh-sungguh dan karena niat yang baik, bersungguh-sungguh, diiringi dengan doa, itulah yang wajib dimiliki oleh para penuntut ilmu, sehingga dapat menguasai ilmu yang diperoleh. Karena menguasai ilmu dengan hanya sebatas tahu itu berbeda.

4. Banyak Berdo’a

Doa merupakan senjata mukmin. Doa adalah kunci dari sebuah kesuksesan. Jika belajar yang merupakan salah satu bentuk usaha dari mencari ilmu, jika tidak diimbangi dengan doa maka akan sia-sia. Jadi perbanyaklah do’a sebelum belajar, agar diberikan kepahaman dan kemudahan.

5. Sabar dan Ikhlas

Mencari atau menuntut ilmu adalah sebuah perjuangan, sama halnya dengan jihad fii sabilillah untuk memerangi kebodohan. Sehingga bersabarlah dalam mencari ilmu dan ikhlaslah dalam melakukannya.

Kemuliaan menuntut ilmu itu akan berubah menjadi amalan yang rendah jika hilang keikhlasannya, bahkan Rasulullallah bersabda yang artinya:”Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat wanginya surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad).

6. Tawadhu

Selanjutnya adalah tawadhu’ yaitu sopan atau tidak sombong. Jangan sombong dengan apa yang sudah di dapatkan. Sifat rendah hati adalah sifatnya orang yang berilmu dan beriman. Bagi orang yang menuntut ilmu hendaknya berpegang teguh pada sifat tawadhu dan mencegah sifat ujub, merasa bangga dengan ilmu yang diberikan Allah SWT kepadanya.

7. Jelas Sumber Ilmunya

Saat ini, masih banyak sekali orang yang berilmu tapi tidak tawadhu, sombong dan merasa dirinya paling benar. Mudah mencaci dan menyalahkan orang yang menurutnya salah. Karena ia hanya belajar melalui media, youtube, instagram, facebook, dan lain sebagainya. Belajar di media tersebut tidak masalah, namun harus jelas sumbernya.

Orang yang menuntut ilmu tentu harus diimbangi dengan faktanya, mendatangi sumber ilmunya secara langsung. Misalnya langsung mendatangi majlis ilmu, belajar di pondok pesantren salaf, belajar langsgung dengan kyai dan ustadz yang paham dengan bidangnya. Belajar pendidikan formal di sekolah-sekolah yang telah disediakan oleh pemerintah, dls. Ulama dahulu mengatakan, “Ilmu (agama) itu didatangi bukan ilmu yang mendatangi.”

8. Memuliakan dan Menghormati Gurunya

Pada poin ini sangatlah penting bagi seorang santri atau penuntut ilmu untuk memuliakan dan menghormati gurunya. Ini merupakan salah satu adab yang harus diutamakan. Untuk memperoleh kemudahan dan keberkahan ilmu itu melalui gurunya.

Imam al-Syafi’i rahimahullah mengatakan dalam syairnya, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru, sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.” Meskipun guru memiliki sifat yang keras maupun melakukan kesalahan, seorang santri atau murid harus tetap ta’dzim, sopan, dan berakhlak baik serta mendoakan kebaikan untuknya.

9. Makan dan Minum Secukupnya

Sebagaimana nasehat dari Sahnun seorang ulama, bahwa “Ilmu tidak akan diperoleh bagi orang yang makan hingga kekenyangan.” Jadi seorang yang mencari ilmu hendaknya jangan makan terlalu kenyang, karena hal tersebut dapat mematikan hati.

Imam Syafi’i berkata, :”Aku tidak pernah merasa kenyang sejak enam belas tahun silam. Karena kekenyangan itu membebani badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, membuat kantuk, dan melemahkan orang tersebut dari beribadah.”

Lukman Al-Hakim berwasiat kepada putranya, ia berkata:”Wahai anakku, jika perut telah terisi penuh pikiran akan tertidur, hikmah akan berhenti mengalir dan badan akan lumpuh dari beribadah.”

Adab Belajar


Pencarian pengetahuan tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan. Karena jika itu dilakukan, pencarian ilmu menjadi aktivitas yang sia-sia karena tidak menghasilkan apa-apa. Kalau pun mampu menguasi ilmu, ilmu tersebut tidak akan memberinya kemanfaatan. Ilmu hanya sekedar wacana, ilmu menjadi fashion yang diperbincangkan dari mulut ke mulut, ilmu tidak menjadi berguna sama sekali.

Tidak untuk perkembangan peradaban, tidak untuk kesejahteraan manusia, apalagi mengubah dunia. Ilmu tidak mampu menolong pemiliknya untuk semakin mendekat kepada tuhan. Justru sebaliknya, ilmu demikian bisa menjadi petaka. Oleh sebab itu penulisan kitab Ta‟lîm al-Muta‟allim bermula dari kegundahan pengarangnya, yaitu Syaikh Az-Zarnûjî, saat melihat banyaknya para pencari ilmu pada masanya yang gagal memperoleh apa yang mereka cari atau di antara mereka yang mendapatkan ilmu, tetapi ternyata tidak bisa mendapatkan manfaat dan buahnya ilmu, yaitu dapat mengamalkan dan menyebarkan ilmu yang diperolehnya.

Menurut Az-Zarnûjî hal tersebut bisa terjadi karena mereka salah jalan dalam mencari ilmu dan setiap orang yang salah jalan pastinya akan tersesat dan tidak sampai pada tujuannya. Mereka tidak tahu akhlak dan syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam mencari ilmu sehingga mereka tidak mendapatkan ilmu pengetahuan sebagaimana yang mereka harapakan.

Belajar sebagai sarana untuk memperoleh ilmu, haruslah melalui jalan dan persyaratan yang benar. Karena jalan yang benar dan persyaratan yang terpenuhi dalam belajar adalah kunci untuk mencapai keberhasilan belajar. Maka dari itu dalam kitab Ta‟lîm al-Muta‟allim Az-Zarnûjî lebih memfokuskan pembahasannya pada jalan atau persyaratan (metode) yang harus ditempuh guna memperoleh keberhasilan belajar. Oleh karena itu sudah sepantasnya bagi para pencari ilmu harus mengetahui dan memahami syarat- syarat yang harus dipenuhi dalam mencari ilmu agar apa yang mereka harapkan bisa tercapai, yaitu mendapakan ilmu yang bermanfaat dan bisa mengamalkannya.

Melihat kenyataan tersebut, terbesit dalam diri Az-Zarnûjî untuk menyusun sebuah kitab yang diberi nama Ta‟lîm al-Muta‟allim untuk membantu para pencari ilmu agar mereka mengetahui syarat-syarat yang harus mereka penuhi sebagai penuntut ilmu. Harapan dari penulis, kitab tersebut dapat membantu mengarahkan para penuntut ilmu melalui petunjuk- petunjuk praktis, seperti bagaimana memilih ilmu, guru dan teman, waktu- waktu yang ideal untuk belajar, bagaimana metode belajar yang baik dan sebaginya.

Kitab yang beliau tulis bukan semata-mata hasil renungan spekulatif belaka, melainkan melalui penelitian terlebih dahulu terhadap para ulama sebelumnya yang dianggapnya telah berhasil yang banyak beliau kisahkan di dalamnya.

Menurut Az-Zarnûjî akhlak belajar meliputi: Bagimana berniat dalam belajar, bagaimana memilih ilmu, guru, teman, dan ketabahan di dalam belajar, kemudian bagaimana penghormatan terhadap ilmu dan ulama, bagaimana keseriusan, ketekunan, dan minat dalam belajar, permulaan belajar, tata tertib belajar, tawakal dalam belajar, dan wara‟ dalam belajar.30 Itu semua adalah akhlak dan norma-norma serta tata urut belajar menurut Az- Zarnûjî yang dijelaskan dalam kitabnya Ta‟lîm al-Muta‟allim .

Dari batasan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak belajar adalah suatu proses dalam mendapatkan dan menerapkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan, sehingga ilmu itu bermanfaat bagi kehidupannya, lingkungannya dan bangsanya. Yang merupakan pola belajar yang didasarkan pada niat yang tulus dan ikhlas yang disesuaikan dengan minat dan bakatnya, yang disampaikan oleh guru yang cerdas dan profesional dan teman-teman sebaya yang saling mendukung dalam proses belajar demi tercapainya tujuan belajar. Adapun penjelasannya sebagai berikut ;

  1. Niat saat belajar

    Menurut Az-Zarnûjî dalam kitab Ta‟lîm -nya menyatakan bahwa belajar harus diniati untuk mencari ridha Allah, mengharap kebahagiaan di akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan dari segenap orang-orang bodoh, menghidupkan agama dan melestarikan agama. Dan dalam menuntut ilmu hendaklah diniatkan juga untuk mensyukuri atas
    karunia akal dan kebugaran badan, hendaklah tidak diniati untuk mencari popularitas, tidak untuk kekayaan, juga tidak diniati untuk mencari jabatan dan semacamnya.

    Menurut Az-Zarnûjî, seyogyanya bagi para pencari ilmu harus berpikir dengan serius, supaya ilmu yang mereka cari tidaklah sia-sia. Jangan sampai ilmu yang ia peroleh digunakan untuk tujuan duniawi yang hina.

    Dari pendapat beliau di atas, Az-Zarnûjî sangat mengecam bagi para penuntut ilmu yang hanya bertujuan untuk keduniawiaan belaka. Beliau lebih menekankan pada tujuan ukhrawi karena pada hakikatnya dunia adalah tempat singgah singgah sementara dalam perjalanan menuju akhirat.

    Namun demikian, Az-Zarnûjî memperbolehkan mencari jabatan dengan pendidikannya dengan syarat hanya untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran, menegakkan kebenaran dan mengagungkan agama bukan untuk kepentingan hawa nafsunya.

    Pendapat Az-Zarnûjî di atas sejalan dengan pendapat para pakar pendidikan Islam lainnya. Misalnya Muhammad Athiyah al-Abrasyi, mencari ilmu hendaknya mengorientasikan belajarnya dalam rangka memperbaiki dan menghiasi jiwanya dengan sifat-sifat yang mulia, dekat kepada Allah, dan bukan belajar dalam rangka membangga-banggakan diri.

    Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah membentuk insan kamil, manusia yang sempurna, yaitu manusia yang dewasa jasmani dan rohaninya, baik secara intelektual, moral, sosial dan sebagainya. Akan tetapi jika dilihat secara kondisional di zaman sekarang ini, sepertinya jauh dari yang diharapkan oleh para ahli pendidikan Islam tersebut. Karena kebanyakan para pencari ilmu lebih mengutamakan kepentingan pribadi yang bersifat duniawi. Hal ini sulit untuk dipungkiri, karena kebanyakan dari mereka sudah terkontaminasi oleh gemerlap kehidupan dunia. Seperti kekayaan, kehormatan, kedudukan dan sebagainya.

    Pandangan ini tidak berarti menafikan orang-orang yang secara ikhlas mencari ilmu. Akan tetapi jika dianalogikan maka tepatnya seperti ungkapan mencari jarum dalam tumpukan jerami‖. Karena sangat sulit membedakan mana yang mencari ilmu secara ikhlas dan mana yang mencari ilmu karena kepentingan dunia.

    Akan tetapi kesulitan membedakan mana pencari ilmu yang ikhlas dan mana yang mencari ilmu karena kepentingan dunia sedikit teringankan dengan adanya komentar Imam Nawawi dalam kitabnya at-Tibyân fi adabi Hamalatil Qur’an menyebutkan riwayat dari Zinnun al-Misri (salah satu ulama shufi) bahwa ada tiga ciri tentang ikhlas :

    • Mensejajarkan pujian dan celaan dari kalangan umum.
    • Tidak melihat amal yang dia lakukan pada segala amalnya.
    • Mencari pahala untuk diakhirat.

    Maka dari itulah betapa pentingnya pendidikan Islam, yaitu membentuk pribadi yang sempurna yang tidak hanya bertujuan untuk kebahagian di dunia saja akan tetapi bahagia dunia dan akhirat. Jangan sampai pendidikan Islam yang mulia ini yang berorientasi untuk kebahagian akhirat kita nodai dengan hal-hal yang bersifat keduniawian yang hina.

  2. Memilih ilmu, guru dan teman

    • Memilih ilmu

      Dalam Ta‟lîm al-Muta‟allim sebagaimana karya ulama‘ salaf lainnya, Az-Zarnûjî menempatkan ilmu dalam skala prioritas paling utama, sebab eksistensinya sangat menentukan pola pandang hidup, corak berpikir, sikap dan prilaku seseorang. Beragamnya ilmu pengetahuan yang berkembang, menuntut seorang pelajar harus berhati-hati dalam memilih dan memilah mana di antara buku- buku bacaan ilmiah yang bisa mengantarkannya ke jalan yang lebih positif dan berpikir dengan benar terutama bila menyangkut teologis.

      Penuntut ilmu hendaklah memilih yang terbagus dari setiap bidang ilmu-ilmu yang terbagus adalah ilmu pengetahuan yang subtansi maupun illaborasinya jelas, tidak debatable dan tidak konroversial. Hal ini penting dinyatakan karena di sini kita sedang berbicara mengenai proses belajar atau Thuruqut Ta‘allum-, memilih ilmu apa yang diperlukan dalam urusan agama di saat ini, kemudian apa yang diperlukan di waktu nanti.

      Dalam memilih ilmu (mentukan pilihan bidang studi/jurusan) para santri/siswa harus memilih ilmu/bidang studi yang paling baik atau paling cocok dengan dirinya.39 Suatu bidang ilmu yang dikaji akan sangat menarik dan menantang bagi mereka yang menyenanginya dan yang merasa cocok dengan bidang ilmu itu, sehingga motivasi berprestasi dari santri/siswa akan mendorongnya untuk tekun belajar, keseriusan dalam mengerjakan tugas-tugas, serta kedisiplinan yang tinggi dalam mengikuti seluruh proses belajar yang mengajar, bahkan proses itu tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah/kampus ataupun pondok saja. Proses itu akan menjadi sumber kekuatan di manapun dan kapanpun, sehingga dalam konteks ini proses belajar mengajar tidak lagi mengenal tempat dan waktu, karena setiap saat dimana saja para santri/siswa dapat terjadi proses belajar mengajar.

      Dalam kaitannya dengan memilih ilmu, Az-Zarnuji menganjurkan supaya mempelajari ilmu tauhid terlebih dahulu, kemudian ilmu-ilmu lama (karangan ulama salaf) dan menghindari ilmu-ilmu baru.

      Ilmu-ilmu lama atau kuna adalah ilmu yang diajarkan oleh nabi Muhammad Saw. Sedang ilmu baru adalah ilmu-ilmu yang lahir setelah periode tersebut, semacam ilmu perdebatan dan peramalan nasib. Batasan seperti ini tentu dimaksudkan dalam konteks mempelajari agama, karena dalam belajar ilmu agama memang diperlukan kemurnian atau akurasi ilmu dan faliditas informasinya, sedang akurasi dan faliditas ini bias diperoleh dari sumber asalnya (Nabi) dan generasi terdekat setelahnya (Sahabat dan Tabi‘in). belajar ilmu agama tidak boleh gegabah, sebab akan berakibat nilai-nilai agama terdistorsi dengan pemaksaan logika, sehingga ajarannya tidak murni lagi.

      Belajar adalah kewajiban setiap insan laki-laki dan perempuan. Semenjak dilahirkan hingga akhir hayatnya, orang muslim menurut Az-Zarnūji, tidak diwajibkan menuntut segala cabang ilmu pengetahuan, tetapi diwajibkan menuntut ilmu al-Hal. Orang muslim juga diwajibkan menuntut ilmu yang selalu diperlukan setiap saat. Karena orang muslim diwajibkan menunaikan ibadah sholat, puasa dan haji, maka ia diwajibkan menuntut ilmu yang berkaitan dengan kewajiban tersebut. Sebab apa yang menjadi perantara perbuatan wajib, wajib pula bagi muslim mempelajari ilmu-ilmu tersebut.

      Wajib bagi muslim mempelajari ilmu-ilmu perdagangan jikalau mereka berdagang. Misalnya bagaimana cara menyingkiri hal-hal yang haram, makruh dan syubhat. Setiap orang yang mengerjakan muamalah, wajib mengetahui ilmu- ilmu tentang bagaimana cara menyingkiri haram yang mungkin terjadi dalam muamalah tersebut. Termasuk yang wajib diketahui oleh setiap muslim pula, adalah ilmu gerak hati (ahwal al-qalb) seperti tawakkal, ridla, inabah, taqwa dan rendah hati.

    • Memilih Guru

      Adapun karakter guru yang bisa dijadikan pendidik bagi murid menurut Az-Zarnuji akan dibahas lebih terinci lagi pada bab karakter guru pendidikan agama islam.

    • Memilih Teman

      Selain peran guru, adalah peran lingkungan teman relasi juga tak kalah besaranya dalam membentuk karakter berpikir, pandangan hidup dan perilaku seorang pelajar.Dalam kaitannya dengan hal ini menurut Az-Zarnuji sebaiknya memilih teman yang rajin belajar, bersifat wara‘ dan berwatak itiqamah (lurus) dan mudah paham (tanggap). Hindarilah orang yang malas, penganggur, pembual, suka berbuat onar dan suka memfitnah. Hal ini dianggap sangat penting oleh Az-Zarnûjî dikarenakan banyak orang yang baik-baik berubah menjadi rusak disebabkan oleh kesalahan mereka dalam memilih teman.

      Anak yang tumbuh di dalam keluarga yang menyimpang, belajar di lingkungan yang sesat dan bergaul dengan masyarakat yang rusak, maka anak akan menyerap kerusakan itu, terdidik dengan akhlak yang paling buruk, di samping menerima dasar-dasar kekufuran dan kesesatan. Kemudian dia akan beralih dari kebahagian kepada kesengsaraan, dari keimanan kepada kemurtadan dan dari Islam kepada kekufuran. Jika semua ini telah terjadi, maka sangat sulit mengembalikan anak kepada kebenaran, keimanan dan jalan mendapakan hidayah.

      Dari paparan yang telah disebutkan, kita dapat memahami bahwa sepantasnya seorang pencari ilmu memilih ilmu yang akan dipelajari terlebih dahulu dengan melihat kadar kemampuan dirinya dalam belajar, memilih guru yang sesuai dengan ilmu yang ditekuninya dan memilih teman yang dapat mendorong dirinya untuk terus meningkatkan kemampuan belajarnya.

      Akan tetapi pada kenyataannya hal tersebut bertolak belakang jika dilihat pada saat ini, yaitu banyak pencari ilmu yang hanya mencari ilmu semaunya saja tanpa melihat kadar kemampuannya. Hal inilah yang banyak menyebabkan kejenuhan yang menghantarkan kepada pemberhentian proses belajar tersebut.

      Hal lain yang bertolak belakang juga adalah proses pemilihan guru dan teman. Tidak sedikit pencari ilmu yang pencarian ilmunya terhambat karena ketidaktepatan memilih guru yang mengajarkan pelajaran yang dia tekuni dan memilih teman yang tepat dalam proses belajarnya. Kedua hal ini jika tidak tepat dalam penempatannya, maka akan menghambat perkembangan keilmuan si pencari ilmu.

  3. Menghormati ilmu dan ahli ilmu

    Dalam melaksanakan pendidikan Islam, peranan guru sangat penting sekali, artinya guru memiliki tanggung jawab untuk menentukan arah pendidikan tersebut. Itulah sebabnya Islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang berilmu.
    Bukan pelajar sejati kalau tidak menghormati jasa pahlawannya dan setiap pelajar sejati tentu selalu mendambakan dirinya bisa menyerap pelajaran dengan mudah. Untuk mendapatkannya, seorang pelajar harus menghormati ilmu dan mencintainya. Dengan kecintaannya terhadap ilmu maka akan menjadi sumber segala inspirasi yang sangat potensial membantu daya berpikir.

    Di antara menghormati ilmu, menurut Az-Zarnuji adalah sebagai berikut :

    Di antara menghormati ilmu adalah memuliakan kitab, seorang pelajar (santri) sebaiknya tidak memegang kitab kecuali dalam keadaan suci dari hadas…hal ini disebabkan ilmu adalah cahay dan wudu juga cahaya. Dengan demikian cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudu.

Referensi :
  • Yusuf al-Qardawi, Metode dan Etika Pengembangan Ilmu Perspektif Sunnah , penerjemah: Kamaluddin A. Marzuki, (Bandung: CV Rosda, 1989)
  • Abi ‗Isa Muhammad Ibn ‗Isa Ibn Saurah, Sunan at-Tirmidzi al-Jami‟ al-Shahih , (Beirut: Dar el-Marefah, 2002),
  • Az-Zarnuji, Pedoman Belajar Bagi Penuntut Ilmu (Terjemah Ta‟lim al-muta‟allim) , Penerjemah: Muhammadun Thaifuri, (Surabaya:Menara Suci 2008),
  • Imam Nawawi, At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur‟an. (Software Maktabah Syamilah), Al-Bab Ar-rabi‘ Fi Adabi Muallimil Qur‘an Wa Muta‘allimihi
  • Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam , penerjemah: Syamsuddin at.al ., (Yogyakarta; Titian Ilahi Press, 1996),