© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaiman konsep online ridesharing Uber dapat begitu mendunia ?

uber

Uber adalah perusahaan transportasi berbasis aplikasi dengan tingkat pertumbuhan yang fenomenal mengalahkan prestasi facebook. Perusahaan taksi Uber diawali pada bulan maret tahun 2009. Sedangkan di Indonesia sendiri, Uber diluncurkan pada bulan agustus tahun 2014 silam.

Bagaimana Uber dapat memulai konsep online ride-sharing dan menjadi trendsetter dalam dunia transportasi online yang sudah dikenal hampir diseluruh dunia?

1 Like

Perusahaan ride sharing yang bermarkas di San Francisco, California ini didirikan oleh Garett Camp dan Travis Kalanick. Kedua pribadi ini bisa dikatakan bukan pemain baru dalam industri internet. Garett Camp adalah pendiri StumbleUpon (social media) sedangkan Travis Kalanick adalah pendiri Red Swoosh (peer-to-peer file sharing). Awal mula ide pendirian Uber Taxi ini berasal dari kisah Garett dan Travis ketika menghadiri sebuah konferensi tahun 2008 di kota Paris. Mereka sangat kesulitan untuk menemukan Taxi, dan karena situasi itulah muncul sebuah gagasan untuk membuat aplikasi yang dapat memudahkan orang mendapatkan taxi dengan mudah ketika menekan tombol di smartphone

Uber adalah penyedia platform layanan jasa antar jemput online, berniat memperkuat posisinya di pasar Indonesia. Perusahaan asal Amerika tersebut kini sudah berada di Indonesia selama 14 bulan. Dalam kiprahnya selama 1 tahun lebih ini, perusahaan penyedia platform tersebut telah berhasil mendapatkan lebih dari 10.000 pengemudi yang bekerja sama di tiga kota besar di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung, dan Bali. Di regional Asia Tenggara sendiri, Karun Arya, Juru Bicara Uber untuk Asia Selatan, India, dan Asia Tenggara, menerangkan bahwa Singapura, Filipina, Malaysia dan Indonesia memiliki jumlah pengguna Uber yang terbanyak.

Konsep ridesharing
Program Software yang disediakan sangat membantu para konsumen dalam memberikan informasi tentang jarak tempuh ke lokasi tujuan, perkiraan tarif biaya, pembayaran ongkos taxi dengan kartu kredit dan melihat profil driver Uber taxi terdekat yang sedang posisi standby dan dapat dihubungi.
Perbedaaan utama dari Uber ini adalah pada sistem Cashless nya. Penumpang mendaftarkan kartu kredit nya saat mendownload aplikasi Uber. Jadi Penumpang tidak membawa uang sepeserpun dan supirpun tidak menerima uang kecuali tip jika berkenan. Kartu kredit juga tidak perlu digesek ke mesin EDC karena semua sudah terintegrasi ke akun. Copy tagihan dikirim melalui aplikasi dan email. Rute perjalanan pun jelas. Sistem komplain Uber juga sangat responsive, bahkan pada beberapa kasus pelanggan bisa meminta pengembalian uang.

Manfaat sistem “Ridesharing” Uber
Dalam hal ini Uber ikut berpartisipasi mengurangi kemacetan dengan memberikan solusi. Uber menawarkan antar jemput penumpang dengan konsep berkendaraan bersama (ridesharing). Ada tiga jenis kendaraan tersedia, UberPOOL, UberX, dan UberXL. Perbedaan diantara dua lainnya, UberPOOL menggunakan konsep berkendaraan bersama. Sangat cocok bagi orang yang menggunakan Uber dengan pemesanan maksimal dua orang.

Misalnya ketika akan berangkat kesuatu tempat sendirian, lebih baik jika menggunakan UberPOOL, sehingga kursi kosong lainnya bisa dipakai dengan penumpang yang lain, penumpang tidak dijemput dilokasi yang sama melainkan akan diturunkan dengan tujuan yang sama atau se arah. Keuntungannya bagi pemesan, harganya akan lebih terjangkau karena biaya perjalanan akan ditanggung berdua. Secara tidak langsung juga kita dapat mengurangi kemacetan, polusi udara, juga menghemat bahan bakar. Selain itu, meningkatkan interaksi sosial. Penumpang bisa menghemat 65% dari biaya dan 38% dari waktu perjalanan dengan menggunakan aplikasi Uber dibandingkan saat menggunakan kendaraan pribadi

Referensi :

Ada dua hal yang perlu di sorot di sini. Pertama, kesalahan perusahaan taksi tradisional yang membuat pasarnya dengan mudah terebut oleh Uber. Akar masalahnya ada pada keengganan industri taksi dalam mengadopsi perubahan pada model bisnis mereka sendiri.

Ketika kita kembali pada beberapa tahun ke belakang, kita dapat melihat beberapa perusahaan dan industri besar yang sukses selalu memiliki satu aspek yang sama: creatingdan reacting to disruption. Simpelnya, berinovasi.

Memasuki era ekonomi yang baru seperti saat ini, berbagai model bisnis baru yang berbasis pada teknologi dan internet mulai bermunculan, dan beruntungnya hal tersebut mampu memenuhi kebutuhan kita sebagai konsumen.

Sehingga tidak bisa dipungkiri, apa yang mereka ciptakan membuat kita mulai terbiasakan dengan cara-cara baru yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya: kehidupan yang serba mudah dan cepat.
Namun, dampaknya bagi beberapa industri yang masih bertahan dengan model bisnis lama, justru ini masalah serius bagi mereka.

Seperti yang dikatakan salah satu milarder asal London, Richard Branson , “The moment somebody creates something that’s better value for the customer, you just have to accept it.”
Aspek kedua adalah kelebihan Uber yang bisa kita pelajari. Bagaimana model bisnis baru yang diterapkan Uber di era yang semuanya serba terhubung dengan internet seperti saat ini lebih bisa diterima oleh masyarakat kebanyakan, baik lokal maupun global.

Berikut 11 pelajaran dari Uber:

  1. Uber “bermain” dalam strategi supply dan demand.
    Saat permintaan tinggi, seperti pada malam tahun baru, para pengemudi Uber banyak yang memilih tidak menerima order penumpang di waktu-waktu ramai, kalaupun para pengemudi menerima order untuk mengantar penumpang, Uber menerapkan harga yang bervariasi demi menghindari lonjakan penumpang yang tidak terkendali.

  2. Strategi platform “two-sides” yang menghubungkan antara pembeli dan penjual.
    Faktanya, banyak perusahaan yang sering menerapkan hanya dari satu sisi saja atau “one-side”. Teori ini mempredeksi kesepakatan dari masing-masing pihak tergantung pada dua hal: sensitivitas harga dan seberapa baik benefit bagi keduanya. Diferensiasi harga yang diterapkan Uber merupakan hal yang tepat.

  3. Uber telah membawa warna baru dalam cara kita melakukan sesuatu, khususnya dalam pasar taksi.
    Dari sebuah aplikasi smartphone, hingga pengemudi “freelance”, dengan sistem rating, dan sistem pembayaran yang cashless, Uber telah menunjukkan bahwa ide-ide kreatif mampu mengisi kebutuhan pelanggan dapat merevolusi sesuatu yang sederhana seperti harga. Uber juga layaknya taksi dengan sistem argo, bedanya semua pesanan dan pembayaran yang dilakukan penumpang di layani secara khusus oleh Uber, bukan oleh pengemudi seperti taksi argo pada umumnya.

  4. Hasil penilaian risiko yang dilakukan oleh lembaga riset: layanan penyedia taksi tradisional dengan model bisnis lama memiliki risiko yang lebih besar dalam hal biaya operasional daripada model bisnis taksi Uber. Uber dengan model bisnis baru ternyata memiliki resiko lebih rendah, karena mereka menerapkan sistem biaya dan pendapatan dalam skala bersama-sama (two side). Ilustrasinya, jika banyak orang ingin menggunakan taksi, maka akan banyak pula pengemudi Uber yang muncul, namun jika tak seorangpun ingin naik taksi maka tidak ada pengemudi yang dibayar oleh Uber.

  5. Memanfaatkan teknologi dalam model bisnis dapat menciptakan pasar
    Uber adalah software untuk layanan jasa taksi. Anda dapat melihat secara real time dimana taksi yang anda pesan berada. Uber adalah platform big data yang dikombinasikan dengan aplikasi mobile.

  6. Uber telah menunjukkan bahwa era mobile bukan lagi masa depan, tapi sudah dimulai
    Kini orang selalu menggunakan smartphone dan tablet sepanjang waktu, namun perusahaan masih belum melihat pentingnya pengembangan aplikasi pada proses bisnis mereka.

  7. Fokus pada layanan
    Selama ini, mungkin banyak waktu dihabiskan untuk menunggu taksi datang, atau naik taksi dengan pengemudi yang enggan menghidupkan AC, atau sikap pengemudi yang kurang berkenan.

  8. Umpan balik dari pelanggan adalah hal penting.
    Menerima setiap umpan balik atau feedback dari pelanggan dengan baik adalah cara Uber untuk tumbuh dan berkembang. Karena umpan balik pelangganlah yang membantu Uber dalam membuat sistem yang saling terintegrasi dan juga menciptakan loyalitas pelanggan. Hal tersebut mencerminkan sebuah model bisnis “customer-centric” karena adanya pergeseran pola pikir dalam pengalaman dan layanan pelanggan.

  9. Pemasaran mencerminkan produk Uber dalam menyediakan layanan dengan harga premium.
    Hal ini ditujukan untuk pelanggan yang bisa dibilang tech-savvy atau ‘penggila teknologi’ yang menyadari pentingnya waktu, dan bersedia menghabiskan beberapa dolar demi kenyamanan. Kampanye pemasaran Uber ini telah difokuskan pada aspek yang sama dari produk. Ibaratnya, di saat Anda menginginkan es krim di musim panas, Uber memberikan sebuah truk eskrim yang berada tepat di depan rumah Anda.

  10. Manfaatkan era sharing.
    Saat ini semua orang senang berbagi dan menghubungkan pengalaman mereka melalui media sosial. Itu juga yang dimanfaatkan Uber dalam pengembangan aplikasinya. Mereka menyediakan fitur bagi pengguna untuk berbagi pengalaman dengan pengguna lainnya.

  11. Think global, act local
    Seiring dengan segala sesuatu yang dilakukan Uber dengan baik, mereka juga menunjukkan bahwa aplikasi mobile dan media sosial adalah salah satu kunci kesuksesan bisnis untuk saat ini dan masa depan dalam hubungannya dengan market global.

Uber bisa dikatakan sukses memperkenalkan model bisnis baru, dengan mengombinasikan teknologi dan model bisnis yang inovatif. Bagi pelanggan, menggunakan aplikasi Uber juga berarti mempertimbangkan kemudahan dibanding menggunakan taksi tradisional. Bagi beberapa industri, memasuki era teknologi dan internet seperti sekarang, mengubah pola piker dan cara-cara yang mereka lakukan mungkin menjadi pilihan yang tepat dibanding bertahan dengan cara-cara lama.

Referensi :

Uber adalah salah satu jenis layanan taxi dimana sebagai solusi pagi calon penumpang dan para pengemudi taxi pada saat itu. Seperti yang diketahui, bahwa syarat untuk dapaat mennjadi supir taxi di San Fransico waktu itu sangatlah susah, pengemudi taxi haruslah membayar uang sewa pertahunnya dan harus mempunyai lisensi mengemudi terlebih dahulu. Disinilah uber hadir dan memberikan solusi tersebut dimana berbasiskan layanan aplikasi yang dapat diakses di Andorid, Ios dan windows phone, dimana mungkin masyarakat Indonesia bisa mengetahui cara kerjanya seperti GO-JEK, dimana cara kerja service aplikasi ini sama dengan aplikasi GO-JEK.

Cara pembayaran yang ditawarkan di UBER sendiri adalah melalui pembayaran creedit card yang langsung ditujukan kepada account bank dari driver UBER itu sendiri. Selain itu, UBER menawarkan beberapa layanan yaitu salah satunya adalah UBERPOOL, atau lebih dikenal dengan ride-sharing. Ride-sharing disini adalah memberikan keuntungan bagi calon penumpang yang akan menggunakannya dengan berbagi perjalanan dengan orang lain yang memiliki tujuan yang sama atau searah, sehingga penumpang dapat mengehemat biaya yang mereka keluarkan karena dapat berabagi dengan penumpang lainnya.

Seperti yang sudah tertera pada website UBER sendiri bahwa konsep dari UBERPOOL ini adalah :

  • Penumpang dapat berbagi perjalanan dengan orang lain yang mempunyai arah tujuan yang sejalan
  • Mendapatkan layanan yang nyaman dengan mobil yang layak
  • Hanya mendapatkan maksimal 2 tempat duduk untuk sekali request.
    Akan tetapi apabila penumpang menginginkan lebih dari 2 tempat duduk, maka UBER memberikan alternatif UBERX, UBERXL yang memiliki kapasitas ride-sharing yang lebih besar.

Kesuksesan yang didapatkan oleh UBER sasngatlah fantastis, terhitung dari 2014 silam, 100 juta orang telah yang menggunakan applikasi UBER, 20% nya telah menggunakan UBERPOOL. Namun, untuk San Francicso sendiri, UBERPOOL telah meraih angka 40%.

Namun, apakah yang membuat UBER menjadi yang nomor 1 sebagai service app ridesharing, karena jika kita lihat banyak aplikasi layanan yang serupa seperti Lyth yang menawarkan produk layanan yang sama.

  1. Driving down the price

    Brian Tolkin, salah satu pencetus UberPool mengatakan bahwa Uber selalu membuat hal yang diinginkan pelanggan, dan mereka menyadari bahwa sebagian besar penumpang yang menggunakan uber mmpunyai tempat tujuan yang sama. Oleh karena itu UberPool disini hadir.

  2. Early Adopters

    Uber adalah yang pertama yang menyadari harus adanya kehadiran taksi online di San Francisco, dengan layanan yang ada saat ini membuat uber lebih dikenal terlebih dahulu oleh orang – orang dan dijadikan patokan atau pembanding dengan kompetitor Uber yang lainnya.

  3. Word of Mouth

    Seketika beberapa orang telah menggunakan Uber dan menikmati layanan yang diberikan serta merasa puas, maka secara tidak langsung orang yang menggunakan jasa uber ini akan mengemukakan atau menyampaikan perihal tersebut ke berabagai orang, apalagi sekarang sedang maraknya jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dsb.

  4. Price Surging

    Kota – kota besar seperti San Francisco, Jakarta dsb sangatlah rawan terhadap macet apalagi pada jam pulang kantor, hal ini membuat taksi – taksi yang ada susah dicari, namun dengan adanya uber kapanpun dan dimanapun calon penumpang dapat memesannya, walaupun harga yang akan ditarik akan tinggi. Namun hal ini sudah diantisipasi oleh uber ketika penumpang hendak memesan driver, karena sistem di uber apabila terdapat permintaan yang tinggi maka harga juga akan naik.


Kesimpulan :

Uber adalah salah satu jenis layanan yang memapu merubah gaya lama masyarakat dalam menggunakan taksi dan memanfaatkan layanan teknologi yang berkembang saat ini. Uber ride-sharing yang dikonsep oleh uber sendiri menjadi booming karena uber lah yang pertama mencetuskan layanan tersebut, sehingga masyarakat lebih mengenal uber, serta hal ini dapat dijadikan option lain untuk penumpang yang ingin menghemat biaya mereka namun tetap mendapatkan layanan yang sama.

sumber :

Uber, perusahaan asal Amerika yang menghubungkan pengemudi dengan pengendara atau penumpang dengan menggunakan aplikasinya, merupakan startup dengan pendanaan terbesar di dunia yang memiliki nilai valuasi sebesat USD 40 miliar (Rp 492 triliun). Uber secara total telah mendapatkan pendanaan sebesar USD 2,7 miliar (Rp 33 triliun) selama lima tahun beroperasi.

Sebagai informasi dan perbandingan, posisi untuk rekor pendanaan terbesar sempat dipegang oleh Facebook yakni sebesar USD 1 miliar (Rp 12,3 triliun) pada tahun 2011. Selain itu, terdapat AirBnb, marketplace rental kamar, mengisi posisi ketiga dengan jumlah pendanaan sebesar USD 450 juta (Rp 5,6 triliun). Sedangkan Uber sendiri pada tahun ini telah mengumumkan dua kali ronde pendanaan, yang masing-masing memiliki nilai sebesar USD 1,2 miliar (Rp 14,8 triliun).

Awalnya, Garret Camp (Founder Uber) ingin memecahkan permasalahan yang menurutnya cukup krusial di San Fransisco, yakni betapa sulitnya mendapatkan taksi. Menurut artikel yang pernah saya baca, mengendarai taksi di San Francisco bisa menjadi pengalaman yang cukup membuat frustrasi. Bagi setiap orang yang sangat membutuhkan taksi, ada beberapa sopir dalam kasus tertentu yang sama sekali tidak menginginkan penumpang. Sistem taksi San Francisco bisa digambarkan sebagai pasar yang tidak efisien —artinya mereka hanya melakukan pekerjaan dengan pembeli yang cocok dengan penjual (supir taksi). Akhirnya, sekitar bulan Juli, 2010, Uber merilis aplikasinya pertama kali di San Fransisco. Dan hasilnya, di tahun 2012, sebanyak 2000 driver bermitra dengan Uber, dan semakin meningkat hingga tahun 2017 Uber memiliki 7 juta driver yang tersebar di seluruh dunia.

Melihat dari luar biasa perkembangan Uber, ada beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam kesuksesannya dalam men-drive masyarakat dunia untuk menggunakan aplikasi Uber, dan kesuksesan Uber sendiri. Berikut hasil uraiannya:

1. Value yang ditawarkan Uber.

Visi perusahaan Uber sendiri adalah:

Transportation to be as reliable as running water for everyone, in every city in the world.

Sangat jelas bahwa Uber menciptakan value bagi siapa saja yang ingin pergi dari tempat A ke tempat B dalam sebuah kota. Saat Uber pertama kali rilis, segmen pelanggan atau sasaran awal Uber adalah mereka para eksekutif muda. Namun, saat ini, Uber telah menjadi ‘kata kerja’ (layaknya Google –googling) di banyak kota, yang jelas menandakan bahwa Uber telah perlahan memperluas penawarannya dengan memberikan value pada kelompok masyarakat yang lebih luas, tidak hanya pada segmen eksekutif muda lagi. Bagi pelanggan, Uber telah menyediakan alternatif dimana sistem transportasi terdahulu (taksi konvensional) menjadi disfungsional di banyak kota.

Perbandingan sederhana antara taksi konvesional dengan Uber memberi wawasan tentang proposisi value bagi pelanggan. Alih-alih menyerang dengan langkah yang spesifik dalam arus transaksi, Uber berusaha mengambil pandangan yang lebih holistik atau menyeluruh dengan menyediakan tawaran-tawaran yang sarat akan value bagi mitra maupun penumpangnya, seperti:

  • Search (mencari driver yang bersedia melakukan perjalanan dengan harga yang terjangkau)
  • Book (Ketersediaan permintaan yang pasti)
  • Pay (cashless drive)
  • Review yang dapat meningkatkan kepercayaan penumpang (lain) terhadap driver

Hal yang mendasari Uber dalam menyediakan value bagi semua segmen pelanggan adalah reliablitias. Seseorang yang benar-benar menginginkan tumpangan bisa mendapatkannya dengan hanya men-tap smartphone-nya. Kemampuan Uber untuk memberikan pilihan yang diinginkan kepada pelanggan setiap saat dan kemudian memenuhi permintaan tersebut dalam ETA (Esimated Time Arrival) 10 menit dan lebih rendah telah menjadi salah satu kunci kesuksesan Uber.

Di sisi penumpang, Uber dapat memberikan beberapa value, antara lain:

  • Tumpangan yang ‘eksklusif’ dnegan harga yang terjangkau
  • Kenyamanan
  • Ketersediaan driver untuk memenuhi permintaan penumpang
  • Kepastian akan mendapat tumpangan
  • Tracking mobil pesanan
  • Waktu tunggu yang relatif sebentar utnuk mendapatkan tumpangan atau driver
  • Cashless ride

Sedangkan di sisi pengemudi, Uber menawarkan berbagai value, antara lain:

  • Pendapatan tambahan meningkat
  • Fleksibilitas dalam memilih jam kerja
  • Upah per jam yang lebih tinggi dari rata-rata

Dari kombinasi beberapa komponen diatas yang diberikan pada mitra dan pelanggannya, Uber dapat menguasai dunia dengan memiliki perusahaan taksi terbesar didunia tanpa memiliki taksi.

Sumber:

Uber Technologies Inc. adalah perusahaan ridesharing, pengiriman makanan, dan jaringan transportasi peer-to-peer yang berkantor pusat di San Francisco, California, dengan operasi di 633 kota di seluruh dunia. Platformnya dapat diakses melalui situs web dan aplikasi selulernya.

Uber telah menjadi pelopor dalam sharing economy, sampai-sampai berbagai perubahan dalam industri ini disebut sebagai “Uberisation”.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan uber begitu sukses dan menjadi trendsetter ataupun pionir dalam dunia ride sharing.

  1. Uber mengakomodir kebutuhan yang nyata di masyarakat
    Dengan berbagai kekurangan dalam hal menggunakan layanan taksi konvensional, Uber menyelesaikan masalah tersebut dengan demokratisasi layanan taksi, dimana layanan transportasi yang disediakan uber tidak terikat pada peraturan seperti halnya taksi konvensional. Hal ini dapat memberikan ruang bagi Uber untuk berinovasi, salah satunya biaya.

  2. Uber mengadopsi teknologi sebagai inti bisnisnya
    pada tahun 2010, Uber memulai hanya dengan tiga buah mobil di New York. kemudian Uber memanfaatkan Twitter untuk mengumumkan lowongan pekerjaan pada posisi product manager. Uber memiliki potensi untuk menjadi layanan yang bagus, namun posisi Uber termasuk unik karena fokus bisnisnya benar-benar pada teknologi.

  3. Uber menggunakan trik marketing yang unik
    Trik marketing yang dijalankan Uber benar-benar mencuri perhatian masyarakat. Strategi digital marketing mereka berfokus untuk meningkatkan brand awareness sehingga iklan-iklannya tergolong nyentrik dan mendorong orang-orang untuk segera membagikannya ke teman, keluarga, ataupun sosial media mereka masing-masing.

  4. Uber benar-benar memaksimalkan user base nya
    Seiring pengguna yang semakin bertambah, Uber memanfaatkan strategi rekomendasi, dalam hal ini dalam fitur “rekomendasikan teman”. Cara ini terbukti sangat membantu menggenjot pertumbuhan user semakin masif karena jika setiap rekomendasi dari existing user diterima user baru, maka mereka berdua akan mendapatkan diskon langsung dari Uber.

  5. Uber sangat memanfaatkan efek sosial media
    Uber menggenjot permintaan dari rumor sosial media. Jika rumor tersebut menjadi viral, maka semakin tinggi pula demand atau permintaan layanan uber saat itu.

Hal-hal diatas kemudian mulai diikuti oleh berbagai perusahaan lain, yang juga melihat potensi dari layanan ride-sharing. Sehingga berbagai kota di penjuru dunia yang belum dimasuki uber pun dapat membuat perusahaan ride-sharing sendiri dengan konsep sama seperti Uber.

Sumber:

  1. http://www.evonomie.net/2016/06/21/case-study/top-5-reasons-ubers-success/
  2. https://en.wikipedia.org/wiki/Uber
  3. https://blog.smile.io/how-ubers-referral-program-drives-radical-growth