Bagaiamana Sejarah Masyarakat Jawa?

Asal mula nama “Jawa” dapat dilacak dari kronik berbahasa Sanskerta yang menyebut adanya pulau bernama yavadvip(a) (dvipa berarti “pulau”, dan yava berarti “jelai” atau juga “biji-bijian”). Apakah biji-bijian ini merupakan jewawut (Setaria italica) atau padi)], keduanya telah banyak ditemukan di pulau ini pada masa sebelum masuknya pengaruh India. Boleh jadi, pulau ini memiliki banyak nama sebelumnya, termasuk kemungkinan berasal dari kata jaú yang berarti “jauh”.

Yavadvipa disebut dalam epik asal India, Ramayana. Sugriwa, panglima wanara (manusia kera) dari pasukan Sri Rama, mengirimkan utusannya ke Yavadvip (“Pulau Jawa”) untuk mencari Dewi Shinta. Kemudian berdasarkan kesusastraan India terutama pustaka Tamil, disebut nama Sanskerta yāvaka dvīpa (dvīpa = pulau).

Dugaan lain ialah bahwa kata “Jawa” berasal dari akar kata dalam bahasa Proto-Austronesia, Awa atau Yawa(Mirip dengan kata Awa’i (Awaiki) atau Hawa’i (Hawaiki) yang digunakan di Polynesia, terutama Hawaii) yang berarti “rumah”

Asal kebudayaan Jawa sering dikaitkan dengan mitos atau cerita rakyat yang berkembang sebagai tradisi lisan. Menurut Herusatoto (2003), masyarakat Jawa tidak asing dengan kisah Aji Saka. Aji Saka adalah seorang satria pinandhita yang nama sebenarnya adalah Empu Sengkala, berasal dari Hindustan. Aji Saka merasa terpanggil untuk datang ke Medangkamulan, dimana di tempat itu bertahta seorang raja kanibal bernama Dewatacengkar. Setelah mengalahkan Dewatacengkar dengan adu kesaktian, Aji Saka diangkat menjadi raja menggantikan Dewatacengkar. Penobatan Aji Saka dijadikan pertanda dimulainya tahun Jawa 1 çaka.

Menurut Herusatoto dalam buku Kepustakaan Djawa, khususnya pada bagian akhir kitab Paramoyoga karya Ranggawarsito, tertulis kisah Empu Sengkala. Kisah tersebut bunyinya sebagai berikut:

Hatta setelah sampai pada tahun Hindu dalam zaman Pancamakala, angka 768, tahun Adam angka 8154, tahun surya, atau 5306 tahun bulan, maka Prabu isaka Radja negeri Surati di Hindustan, yakni yang disebut oleh Aji Saka, negaranya diserang musuh. Sang prabu itu disuruh bertapa di sebuah pulau yang masih kosong, terletak disebelah tenggara tanah Hindi. Sang prabu itu berangkatlah ke pulau kosong itu, yakni pulau Jawa. Setibanya di pulau Jawa sang prabu lalu bernama Empu Sengkala.

Kisah Aji Saka juga menandai munculnya abjad Jawa. Abjad Jawa ini diambil dari perkataan Aji Saka saat menjumpai dua orang pengikutnya, Dora dan Sembada yang mati karena sama-sama memegang amanat Aji Saka. Kata-kata itu adalah:

Hana caraka Data sawala Padha jayanya Maga bathanga

Yang artinya:

Ada abdi-abdi yang setia Terlibat dalam perkelahian Mereka sama-sama kuat Dan telah menemui ajalnya

Nama Jawa diambil dari beberapa sumber. Veeth berhasil mengumpulkan sumber-sumber luar negeri yang berasal dari catatan yang ditinggalkan oleh pengembara-pengembara Cina, Arab, India,Yunani dan Belanda (Herusatoto, 2003). Catatan-catatan tersebut antara lain :

  • Catatan pertama, pada abad ke-2 Masehi, diambil dari seorang ahli ilmu bumi (geographer) bangsa Yunani, Claudius Ptolomeus, dari Alexanderia. Ptolomeus menulis cerita tentang pulau Jawa yang disebut Jabadiu.

    Jabadiu dilukiskan sebagai pulau yang subur dan banyak mengandung emas. Ptolomeus menyebut Jabadiu dengan nama lain Jawa dwipa.

  • Catatan Kedua, diambil dari seorang pengembara Cina bernama Fa Hien yang meninggalkan negerinya pada tahun 399 dan mengunjungi 30 kota di India. Fa Hien dalam perjalanannya tahun 414 dari Cylon-Cina diserang badai, dan kehilangan arah. Setelah tiga bulan berlayar, Fa Hien terdampar di sebuah pulau yang menurutnya bernama Je-pho-thie.

    Je-pho-thie diperkirakan adalah dialek Cina untuk menyebut Jawa Dwipa.

  • Catatan ketiga, buku Ilmu Perbintangan karya Arjabhat. Arjhabat menyatakan bahwa, cerita-cerita perjalanan yang dibukukannya pada tahun 815 M, berasal dari pendapat ahli ilmu bumi Arab. Pendapat ilmu bumi dari Arab itu menyebutkan tentang adanya kerajaaan Hindu di Pulau yang bernama Zabejd (pulau Jawa menurut lidah orang Arab).

  • Catatan keempat, pada abad ke-12 Masehi, orang-orang Hindu dari India menyebut Jawa Dwipa. Orang India pada waktu itu menyebut wilayah India dengan nama Jambu Dwipa. Nama Jawa diambil dari nama sebangsa padi-padian yang dikenal dengan nama jewawut.

  • Catatan kelima, Veeth mengutip sejarah Jawa Kuno yang menyatakan bahwa, pada tahun pertama kalender Jawa, Prabu Jayabaya, keturunan kelima Arjuna, telah mendarat di pulau Jawa. Prabu Jayabaya menemukan sejenis padi-padian, makanan pokok rakyat Noeso Kendeng. Prabu Jayabaya mengganti namanya dengan nama Noeso Jowo (Nusa Jawa).

  • Catatan keenam, diambil dari Marco Polo, seorang pedagang dari Venesia yang pada akhir abad ke-13 mengunjungi kepulauan Jawa dan menyebutnya dengan Giava.

  • Catatan ketujuh, diambil dari Ibn Batutah yang dalam perjalanan ke pulau India pada tahun 1343, menyebutkan nama Djawah untuk pulau Sumatra.

  • Catatan kedelapan, di Jawa ditemukan sumber informasi bahwa penggunaan kata Jawa pertama kali ditulis pada tahun 1265 Caka atau 1343 M (Herusatoto, 2003: 48-49).

Pertumbuhan kerajaan di pulau Jawa dapat dilihat dari beberapa berita Cina. Tahun 640 Cina menyebutkan sebuah kerajaan bernama Ho-ling. Dalam tambo dinasti T’ang yang disusun pada abad ke-10 disebutkan bahwa Ho-ling juga disebut Cho-po. Cho-po berarti Jawa maka Ho-ling tentunya adalah nama sebuah kerajaan di Jawa. Letak Ho-ling belum dapt dipastikan tetapi para peneliti berpendapat bahwa Ho-ling terletak di Jawa Tengah (Kartodirjo, 1977).

Menurut Suseno (2001) sejarah Jawa berdasarkan perkembangan kebudayaan dan agama, dapat dibagi dalam beberapa babakan masa: masa prasejarah, masa kerajaan-kerajaan Jawa Tengah pertama, maka kerajaan- kerajaan Jawa Timur Pertama, masa kerajaaan Majapahit, masa kedatangan Islam dan perkembangan selanjutnya. Berikut akan dijelaskan secara singkat masing-masing masa dalam babakan sejarah Jawa dengan menyarikan beberapa sumber.

Masa Prasejarah atau prehistory.


Jaman prehistory dijelaskan berawal pada awal kala es, kira-kira 2 juta tahun yang lalu. Fosil-fosil manusia purba mulai ditemukan di sepanjang sungai Brantas di Jawa Timur. Nenek moyang orang Jawa merupakan manusia tertua di Indonesia, hal ini disimpulkan dari penemuan-penemuan fosil pada situs-situs tertua di dekat desa Trinil, Ngandong dan fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran atau didekat Mojokerto. Nenek moyang orang Jawa ini diperkirakan hidup 1 juta tahun yang lalu. Fosil yang ditengarai menjadi cikal bakal orang Jawa ini disebut Phythecantropus Erectus. Koentjaraningrat, menyebut Phythecantropus Erectus sebagai manusia pemburu yang diperkirakan telah memiliki kebudayaan (Koentjaraningrat, 1984).

Masa kerajaan-kerajaan Jawa Tengah pertama


Menurut Van Niel pada abad VIII M, terlihat perubahan- perubahan besar dalam struktur politik kepulauan Indonesia. Perubahan ini dirangsang oleh hubungan-hubungan religius dan perdagangan dengan daerah Benggala (Suseno, 2001: 23). Ada dua tipe umum kerajaan Hindu-Indonesia Kuno.

  • Pertama, tipe yang mencakup kerajaan-kerajaan pantai yang didasarkan atas perdagangan. Kerajaan pantai berkembang di kota pelabuhan.

  • Kedua yaitu kerajaan Indonesia kuno yang terletak di daerah pedalaman. Kerajaan pedalaman biasanya berada di lembah-lembah dan dataran tinggi yang sangat subur, di antara sungai-sungai dan kompleks-kompleks gunung berapi di Jawa (Koentjaraningrat,1994).

Kerajaan Mataram Hindu merupakan tipe kerajaan pedalaman. Raja Maratam Hindu yang bernama Sanjaya memperluas kedaulatannya ke seluruh Jawa Tengah dan dimungkinkan sampai di sebagian daerah Sumatra dan Bali. Kekuasaan Sanjaya di Jawa jatuh pada pertengahan kedua abad ke-8. Kekuasaan Sanjaya diperkirakan jatuh pada dinasti Syailendra dari Sumatra yang beragama Budha (Tim Lembaga Research Kebudayaan Nasional, 1984). Keberadaan dinasti Sanjaya dan Syailendra di Jawa sebenarnya masih menjadi perdebatan.

Hall berpandangan, dinasti Sanjaya dan Syailendra merupakan penyatuan dari kerajaan Jawa Tengah dan Sriwijaya. Sanjaya dan Syailendra bersatu menjadi satu dinasti yaitu dinasti Syailendra yang memeluk agama Budha Mahayana (Koentjaraningrat, 1994: 43). Satyawati Sulaiman beranggapan ada dua keluarga raja yang memerintah di Jawa, yang satu beragama Hindu dan yang satu lagi beragama Budha (Sulaiman, tanpa tahun: 60). Prasasti Kalasan yang berangka tahun 778 menggambarkan kerja sama antara dua dinasti atau wangsa Syailendra dan Sanjaya (Tim Lembaga Research Kebudayaan Nasional, 1984: 147). Para sarjana sementara ini berpendapat hanya ada satu dinasti saja yang memerintah di Jawa. Abad ke IX M, Jawa tengah kembali menganut agama Siwa. Bangunan terbesar pada masa ini adalah kompleks candi Prambanan. Candi Prambanan memenuhi syarat sebagai candi kerajaan.

Masa kerajaan Jawa Timur pertama


Jawa Tengah pada abad X M mendadak hilang dari peta politik. Pusat politik berpindah ke Jawa Timur. Para sarjana membuat analisa dan hasilnya banyak alasan mungkin dapat terjadi sebagai latar belakangnya. Menurut Van Niel, raja Jawa Timur yang pertama yaitu Mpu Sindok tetap memakai gelar raja Mataram (Suseno, 2001).

Pemerintahan Sindok (929-947) menyusun sebuah kitab suci agama budha yang disebut Sang Hyang Kamahayanikan. Kitab ini berisi ajaran dan ibadah Budha Tantrayana. Mpu Sindok sendiri beragama Hindu, hal ini dapat diketahui dari prasasti-prasasti yang ditinggalkannya (Tim Lembaga Research Kebudayaan Nasional, 1984).

Raja Airlangga memerintah kerajaan Jawa Timur selama bagian pertama abad ke-11. Setelah Airlangga resmi dinobatkan menjadi raja oleh para rokhaniwan Budha, kaum Siwa dan kaum Brahmana pada tahun 1019, ia bergelar Cri Maharaja Rakai Halu Lokeswara Dharmawangswa Airlangga Anantawikramottunggdewa (Asmito, 1988).

Selama masa pemerintahan Airlangga (1028-1042), ia berusaha memakmurkan rakyatnya. Pelabuhan Hujung Galuh yang berada di sungai Brantas diperbaiki. Pelabuhan Kambang Putih di Tuban diberi hak-hak istimewa. Tanggul dibangun untuk mengatasi banjir tahunan yang ditimbulkan oleh sungai Brantas (Tim Lembaga Research Kebudayaan Nasional, 1984).

Pusat kerajaan Airlangga diperkirakan di sebelah kota Kediri sekarang, dengan nama kerajaan Kahuripan. Kesusastraan kakawin yang berbentuk Prosa berkembang pada masa ini (Koentjaraningrat, 1994).

Raja Kediri yang termasyur adalah Raja Jayabaya, ia memerintah antara tahun 1135 sampai 1157. Vlekke menyatakan bahwa jauh setelah masa pemerintahan Jayabaya, yaitu dalam abad XVIII M, Jangka Jayabaya dipergunakan sebagai pemaklum ramalan-ramalan ratu adil yang meramalkan bahwa pulau Jawa akan mengalami masa kekacauan, tetapi kemudian akan dibawa kekebesaran baru oleh Ratu Adil Herucakra (Suseno, 2001).

Raja Kediri terakhir yaitu raja Kertajaya (1200-1222) gagal berusaha menempatkan para pendeta ke bawah kontrol langsung raja. Kerajaan Kediri ini jatuh dan digantikan oleh suatu dinasti Jawa Timur baru yaitu dinasti yang berkedudukan di Singasari (Suseno, 2001). Ken Angrok yang memerintah Singasari tahun 1222-1227 mengangkat dirinya menjadi raja dengan gelar Cri Ranggah Rajasa (artinya yang merampas) sang Amurwabhumi (artinya yang memberi bentuk pada dunia). Dengan demikian Ken Angrok telah mendirikan dinasti baru yang disebut Girindrawamca, artinya keturunan Girindra atau Siwa.

Raja Singasari raja Kertanegara (1268-1292) adalah raja terbesar dari kerajaan Singasari. Masa pemerintahan Kertanegara mengakui dua agama resmi. Kedua agama itu dikepalai oleh Dharmadhayaksa. Kertanegara sendiri adalah penganut agama Budha Mahayana (Asmito, 1988).

Masa Majapahit


Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan yang paling berkuasa di Jawa. Kerajaan Majapahit didirikan tahun 1293 oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya adalah menantu Kertanegara. Raden Wijaya melawan Kediri dengan bantuan tentara Mongol, setelah itu ia meneruskan politik ekspansi Kertanegara.

Raden Wijaya menundukan kerajaan- kerajaan yang memberontak pada Singasari dan terus memperluas wilayahnya. Muskens menjelaskan bahwa dibawah Raja Hayam Wuruk (1350-1389) dan Mahapatih Gajah Mada yang menjabat dari tahun 1331-1364, Majapahit menguasai seluruh tanah Jawa dan Bali. Kekuasan Majapahit diakui oleh kerajaan-kerajaan pesisir terpenting di kepulauan Indonesia. Wilayahnya kekuasaan Majapahit dimulai dari Asia Tenggara di sebelah barat, hingga tempat-tempat pemukiman di Irian Jaya bagian barat (Koentjaraningrat, 1994).

Zoetmoelder (1965) berpendapat bahwa pada masa Majapahit situasi keagamaan Jawa berkembang terus. Perbedaan antara Budhisme dan Siwaistis praktis hilang. Agama resmi di Majapahit merupakan suatu bentuk sinkretisme tantrik yaitu penyatuan agama Siwa-Budha. Sinkretisme ini menganggap semua jalan ke arah penebusan pada prinsipnya sama. Bentuk-bentuk ibadat Siwaistis dan Budhisme berjalan secara berdampingan. Ide-ide Jawa asli seperti penghormatan nenek moyang dan perwujudannya dalam seni arsitektur ikut berkembang (Suseno, 2001).

Hayam Wuruk meninggal Tahun 1401, setelah itu Majapahit terpecah dalam suatu perang saudara. Menurut Tjandrasasmita, berdasarkan Prasasti Jiu yang bertanggal 1486, memperkirakan pada tahun 1478 ada suatu cabang Dinasti Majapahit yang mengambil alih kekuasaan di daerah delta Sungai Brantas. Kerajaan dari cabang dinasti Majapahit ini kemudian memindahkan pusat kerajaan kedaerah pedalaman di Daha. Kerajaaan ini kemudian merongrong kekuasaan Majapahit di Mojokerto (Koentjaringrat, 1994).

Tahun 1475 Majapahit diserang oleh kerajaan Demak yang beragama Islam. Vlekke (1959) menyebutkan bahwa pada permulaan abad XVI M, jejak terakhir Majapahit menghilang dari kegelapan sejarah (Suseno, 2001).

Masa kedatangan Islam


Islam masuk ke Jawa melalui Malaka yaitu suatu negara yang baru muncul di pantai barat jazirah Melayu. Abad ke-14, kekuatan Majapahit sebagai suatu kerajaan yang berdasarkan perdagangan mulai berkurang, maka bagian barat dari rute perdagangan yang melalui Kepulauan Nusantara berhasil dikuasai oleh Malaka.

Pedagang-pedagang Jawa dari kota-kota pelabuhan dagang Gresik, Demak dan Tuban pergi berdagang ke Malaka, dan sebaliknya pedagang-pedagang muslim dari Malaka mengunjungi pulau-pulau Jawa. Kota-kota dagang di pantai utara pulau Jawa yang makmur menjadi kuat pada awal abad ke-15. Syahbandar-syahbandar Islam asing yang berkedudukan di kota-kota pelabuhan mewariskan kedudukannya sebagai syahbandar secara turun temurun. Kedudukan syahbandar berkembang menjadi semacam raja pelabuhan. Para syahbandar menjalin hubungan dengan keluarga kerajaan Majapahit untuk membuat kedudukannya menjadi syah (Koentjaraningrat, 1994).

Masuknya Islam ke Indonesia melalui Gujarat di India. Menurut Zoetmulder (1965), bentuk Islam yang masuk dari Gujarat sangat dipengaruhi oleh sufisme atau mistik Islam. Oleh karena itu agama Islam dapat masuk ke Indonesia tanpa kegoncangan-kegoncangan besar. Agama Islam dapat diterima dan diintegrasikan ke dalam pola budaya, pola sosial dan politik yang sudah ada.

Para kyai dan kaum ulama mempertahankan kebudayaan Hindu Jawa dan ciri mistik ajaran Islam yang dicocokan dengan pandangan dunia Jawa tradisional. Percampuran kepercayaan dan kebudayaan ini melahirkan kebudayaan santri Jawa (Suseno, 2001). Daerah Banten, Jawa Barat pada tahun 1526 telah menganut agama Islam dan berkembang menjadi kerajaan yang kuat. Demak di Jawa Tengah pada tahun 1511 menjadi kesultanan Islam dan menjadi pemegang kekuasaan utama di pesisir Utara Jawa.

Agama Islam telah masuk dan diterima di daerah pedalaman. Keraton-keraton di pedalaman mulai muncul dan mengungguli kesultanan di pesisir. Panembahan Senapati dari Mataram Islam, pada akhir abad XVI M berhasil memperluas pengaruhnya sampai ke Kediri.

Sultan Agung (1613-1645), Raja Mataram Islam yang ketiga berhasil membawa kejayaan Mataram Islam dengan menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan Islam di daerah pesisir sekaligus membendung pengaruh agama Islam. Surabaya sebagai pusat kekuasaan Islam merupakan ancaman bagi keamanan Mataram Islam (Koentjaraningrat, 1994).

Corak Islam yang berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa timur Berbeda, di Jawa Timur Islam yang dianut cenderung murni dan radikal sedang di Jawa Tengah menunjukan tanda-tanda ajaran yang lunak dan kuatnya unsur-unsur tradisi pra Islam yang terselubung.

Mataram Islam terus menyusut kekuasaannya setelah kurangblebih 150 tahun berdiri. Suksesi yang sering terjadi dalam kerajaan mengakibatkan perpecahan dalam keraton sekaligus memberi kesempatan bagi VOC untuk ikut mencampuri urusan keraton. Tahun 1755 kerajan Mataram Islam terpecah menjadi Kasunanan Surakarta di bawah Susuhunan Paku Buwono III dan Kasultanan Yogyakarta dibawah Hamengkubuwono I. Tahun 1756 Pangeran Mangkunegaran merebut sebagian Kasunanan Surakarta untuk dirinya sendiri. Tahun 1813 Kasultanan Yogyakarta terpecah, sebagian kecil menjadi milik Pangeran Paku Alam I. Selama abad ke XVIII M, VOC lama-kelamaan mengambil alih hampir seluruh pulau Jawa.

Kerajaan Mataram Islam pada saat itu hanya memilki kedaulatan yang sangat terbatas. Hingga saat ini keempat keraton masih diduduki oleh keturunan keempat cabang keturunan Sultan Agung (Suseno, 2001).