Apakah yang dimaksud Farmakokinetika (Pharmacokinetics)?

Farmakokinetika adalah cabang ilmu dari farmakologi yang mempelajari tentang perjalanan obat mulai sejak diminum hingga keluar melalui organ ekskresi di tubuh manusia. Umumnya sejumlah fase yang dilalui ketika obat masuk ke dalam tubuh dan memulai kontak dengan organ tubuh terbagi menjadi: Proses aliran tersebut di mulai dari penyerapan (absorpsi), lalu tersebar melalui ke seluruh jaringan tubuh melalui darah (distribusi), selanjutnya dimetabolisi dalam organ-organ tertentu terutama hati (biotransformasi), lalu sisa atau hasil metabolisme ini dikeluarkan dari tubuh dengan ekskresi (eliminiasi) dan selanjutnya disingkat menjadi ADME. Selain itu, farmakokinetika juga mempelajari berbagai fakor yang mempengaruhi efektivitas obat.

Sebenarnya terdapat fase liberasi yaitu peleburan zat aktif obat ketika memasuki tubuh, namun beberapa sumber menyebutkan proses liberasi tergabung dalam absorpsi. Lain lagi menyebutkan bahwa fase distribusi, metabolisasi, dan ekskresi digabung menjadi satu nama fase: disposisi. Selain itu, terdapat pendapat bahwa ada fase lainnya yang memasukan aspek toksikologis yang dikenal dengan ADME-Tox atau ADMET.

Fase penyaluran zat aktif obat-obatan ini merupakan subjek dari interaksi psiko-kimia antara obat dan organ tubuh, yang dapat diekspresikan secara matematis.[3] Dengan demikian, studi farmakokinetika menggunakan perhitungan matematika untuk memprediksi kelakuan obat dalam proses penyerapan dalam tubuh.

Apakah yang dimaksud Farmakokinetika (Pharmacokinetics) ?

Farmakokinetika adalah ilmu yang khusus mempelajari perubahan – perubahan konsentrasi dari obat dan metabolitnya di dalam darah dan jaringan sebagai fungsi dari waktu sebagai hasil dari proses yang dilakukan tubuh terhadap obat, yaitu resorpsi, transpor, biotransformasi (metabolisme), distribusi dan ekskresi (Hoan Tjay, 2008).

Farmakokinetika menggunakan model matematika untuk menguraikan proses – proses resorpsi, distribusi, biotransformasi, dan ekskresi, dan memperkirakan besarnya kadar obat dalam plasma sebagai fungsi dari besarnya dosis, interval pemberian dan waktu.

Pada skema dibawah ini digambarkan proses – proses farmakokinetik yang dapat dialami obat selama perjalanannya di dalam tubuh:


Gambar Perjalanan obat di dalam tubuh dengan proses – proses farmakokinetika yang dialaminya

Sistem Transpor


Setelah obat masuk dalam tubuh, kita harus mempertimbangkan bagaimana obat akan diedarkan keseluruh tubuh. Misalnya apakah partikel obat akan berikatan dengan serum protein ataukah beredar bebas. Sistem transportasi meliputi pergerakan obat dari peredaran darah ke jaringan, organ dan bagian lain dari tubuh dimana obat akan berpengaruh.

Untuk mentransfer obat ke tempat yang tepat di dalam tubuh, zat aktif diolah menjadi suatu bentuk khusus. Molekul zat kimia obat dapat melintasi membran semipermeabel berdasarkan adanya perbedaan konsentrasi. Pada proses ini beberapa mekanisme transpor memegang peranan, yaitu secara pasif (dengan cara filtrasi dan atau difusi) atau secara aktif (tidak tergantung konsentrasi obat).

Resorpsi


Umumnya penyerapan obat dari usus ke dalam sirkulasi berlangsung melalui filtrasi, difusi atau transpor aktif. Zat hidrofil yang melarut dalam cairan ekstra-sel diserap dengan mudah, sedangkan zat – zat yang sukar melarut lebih lambat diresorpsi.

Kecepatan resorpsi terutama tergantung pada bentuk pemberian obat, cara pemberiannya dan sifat fisiko-kimiawinya. Dengan cara apa obat akan diberikan kepada pasien, apakah dengan diminum langsung, disuntik, intramuscularly, dihirup, ataukah lewat kulit akan mempengaruhi dalam menentukan proses absorpsi. Selain itu juga harus dipertimbangkan apakah obat yang diberikan akan mengalami proses perubahan fisik atau kimiawi ketika dimasukkan dalam tubuh. Sebagai contoh, apakah obat berbentuk padat sehingga harus dihancurkan terlebih dahulu ataukah berbentuk cairan.

Cara pemberian berdasarkan efek yang diinginkan, yaitu efek sistemis (di seluruh tubuh) atau efek lokal (setempat). Untuk mendapatkan efek sistemik dapat diberikan dengan cara, yaitu oral, sublingual (obat ditempatkan dibawah lidah), injeksi, implantasi subkutan (memasukkan obat ke bawah kulit), dan rektal. Sedangkan untuk mendapatkan efek lokal dapat diberikan dengan cara, yaitu intrasal, intra-okuler dan intra-aurikuler, inhalasi, intravaginal, dan kulit (berupa salep, krem, atau lotion).

Resorpsi dari usus ke dalam sirkulasi berlangsung cepat bila obat diberikan dalam bentuk terlarut (obat cairan, sirop atau obat tetes). Sedangkan obat padat (tablet, kapsul atau serbuk) akan lebih lambat diresorpsi, hal ini dikarenakan obat padat harus dipecah dahulu dan zat aktifnya perlu dilarutkan dalam cairan lambung-usus. Dalam proses tersebut, kecepatan larut partikel obat berperan penting; semakin halus semakin cepat larutnya dan resorpsi obat.

Oleh karena itu, pemberian secara injeksi intravena menghasilkan efek yang tercepat, karena obat langsung masuk ke dalam sirkulasi. Efek lebih lambat lagi diperoleh dengan injeksi intramuskuler (i.m.) karena obat harus melewati banyak membran sel sebelum tiba dalam peredaran darah besar.

Untuk obat yang diberikan secara oral akan diresorpsi dari saluran lambung-usus. Kebanyakan obat bersifat asam atau basa organik lemah mengalami disosiasi menjadi ion dalam larutan. Besarnya ionisasi untuk setiap zat berbeda dan tergantung dari konstanta disosiasinya dan derajat asam lingkungan sekitarnya. Lebih sedikit obat terdisosiasi, lebih lancar pula penyerapannya.

Untuk obat yang bersifat asam lemah, hanya akan sedikit terurai menjadi ion dalam lingkungan asam kuat di dalam lambung, sehingga resorpsinya sangat baik di lambung. Sebaliknya, basa lemah terionisasi dengan baik pada pH lambung sehingga hanya sedikit diresorpsi. Sedangkan pada usus halus zat yang bersifat basa lemah paling mudah diserap. Pada usus besar terkandung sangat sedikit air untuk melarutkan obat yang belum terlarut dalam usus halus. Selain itu juga tidak terdapat jonjot mukosa dan transpor aktif yang menyebabkan obat yang diserap secara aktif sebaiknya tidak diberikan secara rektal dan suppositoria sebaiknya digunakan ketika rektum dalam keadaan kosong.

image

Biotransformasi


Pada dasarnya setiap obat merupakan zat asing yang tidak diinginkan bagi tubuh, karena obat dapat merusak sel dan mengganggu fungsinya. Oleh karena itu, tubuh akan berusaha untuk merombak zat asing ini menjadi metabolit yang tidak aktif lagi dan sekaligus bersifat lebih hidrofil agar memudahkan proses ekskresinya oleh ginjal. Dengan demikian reaksi - reaksi metabolisme dalam hati dan beberapa organ lain (paru – paru, ginjal, dinding usus dan juga di dalam darah) disebut biotransformasi. Persentase obat yang secara utuh mencapai sirkulasi umum untuk melakukan kerjanya disebut bio- availability.

Metabolisme berlangsung melalui kerja yang dilakukan katalis protein yang disebut enzim. Metabolisme obat seringkali berlangsung pada liver, walaupun ada juga beberapa enzim pada darah. Enzim liver yang terlibat dalam metabolisme obat termasuk dalam keluarga epoxide hydratase dan cytochrome P450 enzim liver mengkatalisasi modifikasi kimiawi pada obat, lalu mengoksidasinya dan membuatnya lebih mudah dikeluarkan.

Kecepatan biotransformasi umumnya bertambah bila konsentrasi obat meningkat. Hal ini akan terus berlaku hingga seluruh molekul enzim yang melakukan pengubahan ditempati terus menerus oleh molekul obat sehingga kecepatan biotransformasi menjadi konstan. Faktor lain yang mempengaruhi adalah fungsi hati, usia, faktor genetis dan juga interaksi dengan penggunaan bersama obat lain.

Distribusi


Obat yang telah melalui hati bersamaan dengan metabolitnya disebarkan secara merata ke seluruh jaringan tubuh, khususnya melalui peredaran darah. Seringkali distribusi obat tidak merata akibat beberapa gangguan, yaitu adanya rintangan, terikatnya obat pada protein darah atau jaringan dan lemak. Bagian obat yang mengalami pengikatan protein darah akan hilang aktivitas farmakologinya dan menjadi inaktif, tetapi tidak mengalami proses biotransformasi dan ekskresi.

Pengikatan protein ini dapat dianggap suatu cara untuk menyimpan obat, karena bagian yang terikat tidak dirombak atau diekskresi. Pada umumnya, ketika konsentrasi obat bebas menurun, ikatan obat-protein akan pecah dan obat terlepas kembali, hingga kadar obat bebas hampir tidak berubah.

Ekskresi


Ekskresi adalah proses mengeluarkan obat atau metabolitnya dari tubuh, terutama dilakukan oleh ginjal melalui air seni. Ginjal akan menyaring darah dan membuang obat dan sisa metabolisme. Mekanisme ekskresi obat yang dilakukan oleh ginjal yakni filtrasi glomeruli (pasif) dan transpor aktif untuk zat – zat tertentu.

Walaupun sebagian obat tidak masuk ke peredaran darah untuk bisa memberikan efek pada penyakit yang diderita, tapi sebagian sisanya akan tetap dikeluarkan secara bertahap dari peredaran darah oleh proses yang dinamakan elimination. Proses eliminasi sebagian besar disebabkan oleh ginjal, tetapi metabolisme juga mempengaruhi.

Obat bisa juga dikeluarkan dari liver di bile. Bile adalah suatu substansi yang dibutuhkan dalam pengolahan lemak, yang dihasilkan oleh liver, disimpan di gallblader, dan dikirimkan ke intestin kecil. Cara lain, yaitu melalui kulit bersama keringat, paru – paru melalui pernafasan, empedu oleh hati, air susu ibu pada ibu menyusui dan juga usus. Contoh ekskresi melalui pernafasan adalah pada tes kadar alkohol pada pengendara kendaraan bermotor. Pada usus, zat – zat yang tidak atau tak lengkap diresorpsi dikeluarkan melalui tinja.