© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apakah yang dimaksud dengan syukur dan apa maknanya?

QS. 'Ibrahim [14] : 5

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”. **Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.

QS. Luqman [31] : 31

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. **Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.

QS. Saba’ [34] : 19

Maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. **Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.

QS. Ash-Shuraa [42] : 33

Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. **Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur,

Apakah yang dimaksud dengan syukur dan apa maknanya?

Kata syukur berasal dari bahasa arab dengan kata dasar “syakara” yang artinya berterima kasih, bentuk masdar dari kalimat ini adalah syukr, syukraan yang artinya rasa terima kasih.

Syukur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai rasa terima kasih kepada Allah swt, dan untunglah (meyatakan perasaan lega, senang dan sebagainya).

Secara bahasa syukur adalah pujian kepada yang telah berbuat baik atas apa yang dilakukan kepadanya.

Syukur adalah kebalikan dari kufur.

Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat, sedangkan hakikat ke-kufur-an adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah.

Menurut istilah syara’, syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah swt dengan disertai ketundukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah swt.

Hakikat Syukur


Imam Ghazali menjelaskan bahwa syukur tersusun atas tiga perkara, yakni:

  1. Ilmu, yaitu pengetahuan tentang nikmat dan pemberinya, serta meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah swt dan yang lain hanya sebagai perantara untuk sampainya nikmat, sehingga akan selalu memuji Allah swt dan tidak akan muncul keinginan memuji yang lain. Sedangkan gerak lidah dalam memuji-Nya hanya sebagai tanda keyakinan.

  2. Hal (kondisi spiritual), yaitu karena pengetahuan dan keyakinan tadi melahirkan jiwa yang tentram. Membuatnya senantiasa senang dan mencintai yang memberi nikmat, dalam bentuk ketundukan, kepatuhan. Men-syukur-i nikmat bukan hanya dengan menyenangi nikmat tersebut melainkan juga dengan mencintai yang memberi nikmat yaitu Allah swt.

  3. Amal perbuatan, ini berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan, yaitu hati yang berkeinginan untuk melakukan kebaikan, lisan yang menampakkan rasa syukur dengan pujian kepada Allah swt dan anggota badan yang menggunakan nikmat-nikmat Allah swt dengan melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.

Al Kharraz yang dikutip oleh Amir An-Najjar mengatakan syukur itu terbagi menjadi tiga bagian yaitu :

  1. Syukur dengan hati adalah mengetahui bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah swt bukan selain dari-Nya.
  2. Syukur dengan lisan adalah dengan mengucapkan al-Hamdulillah dan memuji-Nya.
  3. Syukur dengan jasmani adalah dengan tidak mempergunakan setiap anggota badan dalam kemaksiatan tetapi untuk ketaatan kepada-Nya. Termasuk juga mempergunakan apa yang diberikan oleh Allah swt berupa kenikmatan dunia untuk menambah ketaatan kepada-Nya bukan untuk kebatilan.

Muhammad Quraish Shihab menyebutkan bahwa syukur mencakup tiga sisi, yaitu:

  1. Syukur dengan hati yakni menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh semata-mata karena anugerah dan kemurahan dari ilahi, yang akan mengantarkan diri untuk menerima dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut.10

  2. Syukur dengan lidah yakni mengakui anugerah dengan mengucapkan al-Hamdulillah serta memuji-Nya.

c. Syukur dengan perbuatan yakni memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai tujuan penganugerahannya serta menuntut penerima nikmat untuk merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh Allah swt.

Konsep Dasar Syukur dalam Al-Qur’an dan Hadits


Surat al-Baqarah ayat 152

”Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada- Ku.”

Pada ayat ini, mengandung perintah untuk mengingat Allah swt melalui dzikir, hamdalah, tasbih dan membaca al-Qur’an dengan penuh penghayatan, perenungan, serta pemikiran yang mendalam sehingga menyadari kebesaran, kekuasaan, dan keesaan Allah swt. Menjauhi larangan yang Allah swt tetapkan, sehingga Allah swt akan membuka pintu kebaikan.

Ayat ini juga mengandung perintah untuk ber-syukur kepada Allah swt atas nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan dengan cara mengelola dan memanfaatkan semua nikmat sesuai dengan masing-masing fungsinya, kemudian memanjatkan pujian pada Allah swt dengan lisan dan hati, serta tidak mengingkari semua anugerah tersebut dengan cara mempergunakannya ke jalan yang bertentangan dengan syari’at dan sunatullah.

Ayat ini merupakan peringatan kepada umat manusia agar tidak terperosok seperti umat terdahulu yang telah mengingkari nikmat-nikmat Allah swt dengan tidak menggunakan akal dan indra untuk merenungkan dan memikirkan untuk apa nikmat-nikmat tersebut serta bagaimana cara penggunaaanya, sehingga Allah swt mencabut nikmat tersebut sebagai hukuman dan pelajaran bagi mereka.

Surat Ibrahim ayat 7

“dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka pasti azab-Ku sangat berat’.”

Hadits Riwayat Muslimُ

“Lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, sebab hal itu akan mendidik kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah swt”. (HR. Muslim)

”sungguh mengagumkan keadaan orang mukmin. Keadaan mereka senantiasa mengandung kebaikan. Dan, tidak terjadi yang demikian itu kecuali pada orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Hal itu merupakan kebaikan baginya. Jika tertimpa kesusahan ia bersabar. Hal itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

Manfaat Syukur


Manfaat syukur itu kembali pada orang yang ber-syukur, kebaikan yang ada kembali pada mereka yang ber-syukur, sebagaimana dalam surat An-Naml ayat 40.

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Sayyid Quthb yang dikutip oleh Ahmad Yani, menyatakan empat manfaat ber-syukur, yakni:

  1. Menyucikan Jiwa
    Ber-syukur dapat menjaga kesucian jiwa, sebab menjadikan orang dekat dan terhindar dari sifat buruk, seperti sombong atas apa yang diperolehnya.

  2. Mendorong jiwa untuk beramal saleh
    Ber-syukur yang harus ditunjukkan dengan amal saleh membuat seseorang selalu terdorong untuk memanfaatkan apa yang diperolehnya untuk berbagi kebaikan. Semakin banyak kenikmatan yang diperoleh semakin banyak pula amal saleh yang dilakukan.

  3. Menjadikan orang lain ridha
    Dengan ber-syukur, apa yang diperolehnya akan berguna bagi orang lain dan membuat orang lain ridha kepadanya. Karena menyadari bahwa nikmat yang diperoleh tidak harus dinikmati sendiri tapi juga harus dinikmati oleh orang lain sehingga hubungan dengan orang lain pun menjadi baik.

  4. Memperbaiki dan memperlancar interaksi sosial
    Dalam kehidupan bermasyarakat, hubungan yang baik dan lancar merupakan hal yang amat penting. Hanya orang yang ber-syukur yang bisa melakukan upaya memperbaiki dan memperlancar hubungan sosial karena tidak ingin menikmati sendiri apa yang telah diperolehnya.

Manfaat syukur lainnya, disebutkan oleh Aura Husna sebagai berikut:

  1. Menuntun hati untuk ikhlas
    Karena syukur menuntun kita untuk tetap berbaik sangka pada Allah swt dalam segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini maka syukur mampu menggerakkan hati untuk ikhlas menerima ketetapan Allah swt.

    Ikhlas adalah Keterampilan untuk mengembalikan pikiran dan perasaan pada sumbernya yaitu Allah swt. Keterampilan untuk mengembalikan keinginan, harapan, dan cita-cita kepada Allah swt. Kemampuan untuk mengembalikan kesedihan, kecemasan, ketakutan, dan kekecewaan kepada Allah swt. Menggantungkan sepenuhnya harapan, keinginan, dan cita- cita hanya pada Allah swt, sehingga tetap berbaik sangka pada Allah swt ketika keinginan, harapan, dan cita-cita belum tercapai.

  2. Menumbuhkan optimisme
    Syukur mengandung arti mengenali semua nikmat yang telah Allah swt karuniakan, termasuk didalamnya yakni dengan mengenali potensi-potensi yang Allah swt anugerahkan pada diri kita, yang nantinya akan menumbuhkan optimisme.

  3. Memperbaiki kualitas hidup
    Hasil penelitian yang dilakukan oleh Robert Emmons, menunjukkan bahwa orang yang ber-syukur mengalami perubahan kualitas hidup lebih baik. Sikap-sikap positif seperti semangat hidup, perhatian, kasih sayang, dan daya juang berkembang dengan baik pada mereka yang terbiasa mengungkapkan rasa syukur-nya setiap hari.

    Optimisme adalah keyakinan akan kemampuan diri mengelola potensi yang dimiliki, baik potensi yang ada didalam diri maupun yang ada diluar diri.

    Profesor Robert Emmons (Psikolog dari University of California) pada tahun 1998 melakukan penelitian empiris tentang manfaat ber-syukur bagi kehidupan seseorang dengan metode membandingkan. Membagi para responden dalam dua kelompok besar, kelompok responden pertama diwajibkan menuliskan lima hal yang mendorong mereka untuk ber-syukur setiap hari, sedangkan kelompok responden kedua diwajibkan menulis lima hal yang mendorong mereka untuk berkeluh kesah setiap hari. Setelah tiga pekan, para responden diwawancarai untuk mengetahui perubahan fisik dan psikis yang tumbuh setelah pembiasaan tersebut. Awalnya responden penelitiannya hanya melibatkan para mahasiswa jurusan psikologi kesehatan di universitasnya, namun pada tahun-tahun berikutnya respondennya diperluas ke berbagai ragam kondisi masyarakat yakni kelompok-kelompok responden yang terdiri dari pasien penerima organ cangkok, penderita penyakit otot syaraf, dan kelompok anak kelas lima SD yang sehat. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa syukur yang senantiasa dipupuk dalam diri seseorang akan memberikan dampak positif, salah satunya adalah meningkatnya kualitas hidup seseorang baik secara fisik mapun psikis, diantaranya yaitu kemampuan untuk waspada, senantiasa bersemangat, lebih sabar, ceria, lebih sehat secara fisik, dan memiliki daya hidup yang lebih tinggi.

  4. Membentuk hubungan persahabatan yang lebih baik
    Orang-orang yang hatinya diselimuti oleh rasa syukur lebih mudah berempati, dermawan, dan ringan tangan membantu sesama, sehingga mudah diterima dalam masyarakat karena pada dirinya tersimpan sifat-sifat yang disenangi orang lain, yaitu ringan berbagi, memiliki sifat materialistis yang rendah, tidak mendengki terhadap nikmat orang lain, dan mampu mengesampingkan ego pribadi.

    Empati adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan diri pada posisi orang lain.

  5. Mendatangkan pertolongan Allah swt
    Nikmat Alah swt memang diberikan secara umum kepada seluruh manusia, namun pertolongan Allah swt hanya diberikan kepada hamba- hamba Allah swt yang dikehendaki-Nya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan siapa orang yang berhak mendapatkan pertolongan Allah tersebut,

    Rasulullah saw bersabda:

    “Dan Allah senantiasa memberikan pertolongan kepada hamba-Nya selama ia menolong saudaranya”.

    Dari hadits tersebut, dapat dipahami bahwa jika menolong hamba-Nya maka kita akan ditolong, dengan meringankan beban orang lain maka beban kita akan diringankan. Syukur menggerakkan hati dan pikiran untuk ringan berbuat suatu kebaikan bagi sesama sehingga akan mendatangkan pertolongan dari Allah swt.

Muhammad Syafi’ie el-Bantanie menyebutkan lima manfaat syukur, yakni sebagai berikut:

  1. Menghilangkan kesusahan
    Dalam surat Al-Baqarah ayat 152, diterangkan agar kita selalu ingat kepada Allah swt. Salah satu cara mengingat Allah swt yakni dengan senantiasa ber-syukur kepada-Nya. Jika ingat Allah, Allah swt pun akan ingat kepada kita, maksudnya adalah Allah swt akan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, dan salah satu bentuk rahmat serta karunia Allah swt adalah mengeluarkan kita dari kesulitan dan menunjukkan jalan kemudahan.

  2. Mendatangkan rezeki
    Dengan ber-syukur maka Allah swt akan membukakan pintu rezeki dari segala penjuru.

  3. Menambah rezeki
    Dalam surat Ibrahim ayat 7, disebutkan bahwa Allah swt akan menambah nikmat bagi orang yang ber-syukur.

  4. Mendatangkan kesembuhan
    Orang-orang yang tetap ber-syukur dalam kondisi sakit akan mendapatkan balasan yang luar biasa, yakni Allah swt akan menyembuhkan penyakitnya dan akan memberikan nikmat yang jauh lebih baik dari sebelumnya, seperti halnya dalam kisah nabi Ayub as.

    Kisah nabi ayub as. yang menghadapi ujian dari Allah swt dengan sabar dan tetap ber-syukur meski dalam kondisi sulit sekalipun. Ujian tersebut yakni hilangnya seluruh harta kekayaan beliau, dan meninggalnya semua putra-putri beliau dalam reruntuhan bangunan, serta beliau diberi penyakit kulit yang menjijikkan . Namun nabi Ayub tetap ber- syukur dan kualitas ibadahnya tetap terjaga, beliau beribadah dengan penuh ketaatan dan tetap berprasangka baik pada Allah swt. Kemudian Allah swt menyembuhkan nabi Ayub as dan menganugerahi nabi Ayub as kekayaan dan keturunan seperti sedia kala, bahkan lebih banyak dari sebelumnya.

  5. Mengantar ke surga
    Orang yang senantiasa ber-syukur kepada Allah swt, merasa diri cukup dan puas atas nikmat yang dikaruniakan Allah swt kepadanya, serta tidak iri terhadap apa yang diperoleh orang lain, akan dimudahkan baginya jalan menuju surga, sebagaimana dalam keterangan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, dan Nasa’i.

    Anas bin Malik r.a. menuturkan bahwa suatu hari kami duduk bersama Rasulullah saw, tiba-tiba beliau bersabda

    “sebentar lagi akan datang seorang laki-laki calon penghuni surga”.

    Tidak lama kemudian muncul seorang laki-laki anshar, jenggotnya basah oleh air wudhu dan tangan kirinya menenteng sandal. Esok harinya Rasulullah bersabda lagi

    “sebentar lagi akan datang seorang laki-laki calon penghuni surga”.

    Tidak lama kemudian muncul laki-laki yang kemarin dengan jenggot yang basah oleh air wudhu dan tangan kirinya menenteng sandal. Pada hari ketiga, Rasulullah saw kembali bersabda

    “sebentar lagi akan datang seorang laki-laki calon penghuni surga”.

    Dan laki-laki yang kemarin kembali muncul di hadapan kami. Begitu Rasulullah saw bangkit dari tempat duduknya, Abdullah bin Umar yang merasa penasaran membuntuti laki-laki yang disebut oleh Rasulullah saw sebagai calon penghuni surga. Ketika sampai di rumah laki-laki itu, Abdullah bin Umar berkata “Bolehkah aku menginap di rumah mu selama tiga hari karena saya sedang berselisih dengan ayahku.” Laki-laki itu menjawab dengan ramah, “oh, silahkan”.

    Selama tiga hari menginap di rumah laki-laki itu, Abdullah bin Umar memperhatikan perilaku laki-laki itu dengan cermat. Ia menuturkan bahwa selama tiga hari menginap di rumahnya, aku tidak pernah melihat dia bangun malam untuk shalat. Hanya saja setiap kali bangun tidur, ia selalu menyebut nama Allah swt dan ber-takbir sampai waktu subuh tiba. Aku juga hanya mendengar perkataan yang baik yang keluar dari mulutnya.

    Ketika waktu tiga hari telah habis, aku bertanya kepadanya “wahai hamba Allah, sebenarnya aku tidak sedang berselisih dengan ayahku. Aku mendengar Rasulullah saw bersabda ‘sebentar lagi akan datang calon penghuni surga’. Beliau mengulangnya sampai tiga kali selama tiga hari, dan ternyata laki-laki itu adalah kamu. Karena itu, aku merasa penasaran. Aku mengikutimu dan menginap di rumah mu untuk mengetahui amal apa yang kau lakukan, sehingga membuatmu termasuk calon penghuni surga. Akan tetapi, aku tidak melihat hal yang istimewa dari ibadahmu. Ceritakanlah apa yang kau lakukan sehingga Rasulullah saw bersabda demikian?”.

    “Tidak ada ibadahku yang istimewa sebagaimana yang tuan saksikan sendiri. Itulah ibadahku sehari-hari.”. Ketika Abdullah bin Umar hendak meninggalkannya, laki-laki itu berkata “Hanya saja aku tidak pernah menipu dan hianat terhadap seorang muslim, dan aku tidak pernah iri hati dan dengki atas karunia yang Allah swt berikan kepada orang lain.” ”Inilah yang menyebabkan kamu menjadi calon penghuni surga” jawab Abdullah bin Umar.

Cara Menyatakan Syukur


Menurut Abu Bakar Abdullah bin Muhammad, berikut cara-cara menyatakan syukur:31

  1. Ber-tasbih
  2. Ber-dzikir
    Ber-dzikir merupakan sebagian dari cara ber-syukur. Abdullah bin Salam menyatakan bahwa nabi Musa as pernah bertanya pada Allah swt: “Ya Allah, syukur manakah yang patut dilakukan untuk Mu? Maka Allah berfirman: ‘Bukankah lidahmu senantiasa basah karena ber-dzikir kepada- Ku?”.
  3. Ucapan Hamdalah dan Istighfar
  4. Berdoa
    Rasulullah saw bersabda: “Doa yang paling utama ialah La ilaha illallah, sedangkan dzikir yang paling utama adalah Alhamdulillah”.
  5. Melalui anggota badan

Aura Husna menjelaskan bahwa cara-cara yang dapat dilakukan untuk ber-syukur meliputi tiga hal:

  1. Hati
    Merasa puas atau senang terhadap apa yang menjadi ketetapan Allah swt. Menyadari dengan sepenuh hati bahwa semua nikmat, kesenangan, dan segala sesuatu yang diperoleh semata-mata karena kemurahan dari Allah swt. Hati yang ber-syukur akan melahirkan jiwa yang qana’ah33.

  2. Anggota Tubuh
    Adanya tindak lanjut dari amalan hati yang nampak pada gerakan anggota tubuh sebagai bukti nyata dari rasa syukur. Namun tidak semua gerak anggota badan merupakan bentuk dari syukur, terdapat beberapa syarat gerak anggota tubuh yang menjadi bukti amal syukur, yakni:

    • Memanfaatkan anugerah yang telah diperoleh sesuai dengan maksud dan tujuan Allah swt menganugerahkan nikmat tersebut.
    • Melakukan amalan dengan penuh ketundukan dan rasa harap amalan itu akan diterima oleh Allah swt. Melakukan amalan dengan sepenuh hati dan bersunguh-sungguh.
    • Amal dari anggota tubuh harus sesuai dengan aturan syariat Allah swt.

    Perwujudan syukur tidak hanya dalam bentuk ibadah vertikal kepada Allah swt, melainkan ibadah horizontal kepada sesama manusia. Amal syukur yang dilakukan oleh anggota tubuh ini memiliki dimensi sosial, misalnya: sedekah dalam bentuk materi dan non materi.

  3. Lisan
    Syukur dalam bentuk gerak lisan yakni dengan cara mengucapkan lafadz hamdalah dan memuji Allah swt serta tidak mengeluh terhadap nikmat yang tidak sesuai dengan kehendak diri sendiri.

Penghalang Syukur


Aura Husna menyebutkan adanya lima hal yang menjadikan penghalang syukur, yakni sebagai berikut:

  1. Hati yang sempit
    Hati yang sempit adalah hati yang disetir oleh hawa nafsu yang selalu mendewakan materi dan dipenuhi perasaan-perasaan negatif. Maka, bila kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan maksud keinginan hati akan muncul rasa kecewa, marah, bahkan meragukan keadilan Allah swt, sehingga rasa syukur semakin tertekan dan semakin berat untuk berkembang.

  2. Mudah mengeluh
    Keluhan cenderung akan melahirkan pikiran-pikiran dan sifat-sifat negatif dalam diri seseorang yang nantiya akan menjadi penghalang bagi dirinya untuk ber-syukur.

  3. Memandang remeh terhadap nikmat Allah swt
    Meremehkan nikmat yang telah dianugerahkan Allah swt akan menjadikan penghalang tumbuhnya rasa syukur pada diri seseorang.

  4. Enggan berbagi
    Sifat enggan berbagi atau kikir merupakan mental yang selalu merasa bahwa apa yang dimiliki masih sedikit sehingga ketika dibagikan kepada sesama akan muncul kekhawatiran tindakan tersebut akan menjatuhkan dirinya pada kemiskinan.

  5. Mudah putus asa
    Mudah putus asa ketika menjalani proses perjuangan, membuat seseorang jadi enggan ber-syukur karena menjadikan rintangan serta penghalang sebagai kambing hitam untuk sebuah kegagalan, dan akhirnya berhenti berjuang dan menyalahkan nasib atas kegagalan yang diterima.

Terdapat tiga penghalang syukur yang disebutkan oleh Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, yakni sebagai berikut:

  1. Cinta dunia
    Cinta dunia akan membuat diri kita akan selalu merasa kurang dan tidak puas pada apa yang dimiliki dan menjadikan serakah serta lupa diri, lupa untuk ber-syukur dengan apa yang dimiliki.

  2. Bakhil
    Orang yang bakhil akan menahan hartanya dan enggan mendermakan hartanya. Bakhil akan menjauhkan seseorang dari sikap syukur, bahkan mendatangkan azab Allah di dunia dan di akhirat, sebagaimana dijelaskan dalam surat Ali Imron ayat 180.

  3. Hasud
    Sifat Hasud merupakan cerminan rasa tidak puas terhadap apa yang telah dikaruniakan Allah, karena itu hasud menjauhkan seseorang dari syukur.

    Hasud yaitu iri terhadap nikmat yang diperoleh orang lain dan berusaha untuk menghilangkan nikmat itu dari orang tersebut.

Referensi :
  • Amir An-Najar, Psikoterapi Sufistik dalam Kehidupan Modern, Terj. Ija Suntana, (Bandung: PT. Mizan Publika, 2004)
  • Muhammad Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 1996)
  • Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, Dahsyatnya Syukur, (Jakarta: Qultum Media, 2009),
  • Aura Husna (Neti Suriana), Kaya dengan Bersyukur: Menemukan Makna Sejati Bahagia dan Sejahtera dengan Mensyukuri Nikmat Allah, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2013)
  • Imam Ghazali, Taubat, Sabar dan Syukur, Terj. Nur Hichkmah. R. H. A Suminto, (Jakarta: PT. Tintamas Indonesia, Cet. VI, 1983)
  • Amir An-najjar, Ilmu Jiwa dalam Tasawwuf Studi Komparatif dengan Ilmu Jiwa Kontemporer, Terj. Hasan Abrori, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2001)

Kata kunci dari syukur adalah suka berterima kasih, tahu diri, tidak mau sombong, dan tidak boleh lupa Tuhan. Bagi seorang Muslim, kunci syukur itu adalah ingat Allah. Kita ada karena Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Di sinilah, syukur seringkali disamakan dengan ungkapan rasa “terima kasih” dan segala pujian hanya untuk Allah semata. Semakin sering bersyukur dan berterima kasih, kita akan semakin baik, tenteram dan bahagia.

M. Quraish Shihab dalam buku, Wawasan al-Qur’an menjelaskan bahwa kosa kata “syukur” berasal dari bahasa al-Qur’an yang tertulis dalam bahasa Arab. Kata syukur adalah bentuk mashdar dari kata kerja syakara–yasykuru–syukran–wa syukuran–wa syukranan. Kata kerja ini berakar dengan huruf-huruf syin, kaf, dan ra’.

M. Quraish Shihab mencatat bahwa dalam al-Quran, kata “syukur” dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak enam puluh empat kali. Lebih lanjut, M. Quraish Shihab mengutip pandangan Ahmad Ibnu Faris dalam bukunya Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar dari kata tersebut yaitu:

  • Pertama, pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh.
  • Kedua, kepenuhan dan kelebatan.
  • Ketiga, sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit).
  • Keempat, pernikahan, atau alat kelamin.

Dalam konteks ini, Quraish Shihab menafsirkan bahwa kedua makna terakhir tersebut dapat dikembalikan dasar pengertiannya kepada kedua makna terdahulu. Makna ketiga, ungkapnya, sejalan dengan makna pertama yang mengambarkan kepuasan dengan yang sedikit sekalipun, sedang makna keempat dengan makna kedua, karena dengan pernikahan (alat kelamin) dapat melahirkan banyak anak.

Makna-makna dasar tersebut, diungkap Quraish Shihab, dapat juga diartikan sebagai penyebab dan dampaknya sehingga kata “syukur” mengisyaratkan, “Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit maka ia akan memeroleh banyak, lebat dan subur.”

Mengutip pandangan Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang pakar bahasa al-Qur’an dan penulis buku Al-Mufradat fi Gharib Al- Quran yang fenomenal, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata “syukur” mengandung arti “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.” Lebih lanjut, kata ini menurut ulama berasal dari kata “syakara” yang berarti “membuka” sehingga ia merupakan lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup (salah satu artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.

Dalam konteks ini, al-Qur’an telah menginformasikan perlunya bersikap terbuka dalam kehidupan sebagai bentuk rasa syukur. Secara jelas, redaksi pengakuan syukur dari Nabi Sulaiman yang diabadikan al-Qur’an:

“Ini adalah sebagian anugerah Tuhan-Ku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur” (QS An-Naml: 40).

Sementara itu, perlunya sikap terbuka termaktub dalam ayat ini:

“Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebut” (QS. Adh-Dhuha: 11).

Dalam hal ini, Nabi Muhammad Saw pun bersabda:

“Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya”.

Tafsir Kontekstual Konsep Syukur dalam al-Qur’an


Memahami syukur secara kontekstual kini diperlukan untuk mengaplikasikan konsep syukur yang lebih mudah dan bermakna sesuai tantangan zaman. Dalam konteks ini, tafsir kontekstual sebagai metode dalam memecah masalah kekinian (problem solver). Praktisnya, ketika tidak ditemukan sumber rujukan hukum yang jelas dalam al-Qur’an dan hadis, penafsiran menjadi jalan utama menuju kemaslahatan dan kemanfaatan. Dari sini, tafsir kontekstual juga membidik pada arah baru dalam studi al-Qur’an yang relevan dalam menjawab semangat dan tantangan zaman.

Dalam bahasan syukur ini, kata syukur di dalam berbagai bentuknya ditemukan di dalam berbagai ayat dan surat di dalam al Qur’an. Beberapa diantaranya adalah kata “syukuran”yang disebutkan sebanyak dua kali, yakni pada QS. Al-Furqan: 62 dan QS. Al-Insan: 9.

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. QS. Al-Furqan: 62

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. QS. Al-Insan: 9

Ayat syukur ini seringkali ditafsirkan bahwa kata syukuran tersebut digunakan ketika Allah Swt. menggambarkan bahwa Allah yang telah menciptakan malam dan siang silih berganti. Keadaan silih berganti itu menjadi pelajaran bagi orang- orang yang ingin mengambil pelajaran dan ingin bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.

Di dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir berpendapat bahwa Allah Yang Mahasuci menjadikan malam dan siang silih berganti dan kejar-mengejar, yang kesemuanya itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang hendaknya direnungkan dan diperhatikan oleh orang-orang yang ingat kepada-Nya atau yang hendak bersyukur kepada-Nya.

Kedua, kata “syukuran”yang terdapat dalam S. Al-Insan: 9 digunakan oleh Allah ketika menggambarkan pernyataan orang-orang yang berbuat kebajikan serta telah memberi makan kepada orang-orang fakir dan miskin yang tiada lain yang mereka harapkan kecuali keridaan Allah Swt; dan mereka tidak akan pernah mengharapkan dari mereka yang diberi itu balasan serta ucapan terimakasih atas pemberian itu.

M. Quraish Shihab menguraikan bahwa Ali bin Abi Talib dan istrinya, Fatimah putri Rasulullah Saw memberikan makanan yang mereka rencanakan menjadi makanan berbuka puasa kepada tiga orang yang membutuhkan dan ketika itu mereka membaca ayat di atas. Karena itu, dari sini dipahami bahwa manusia yang meneladani Allah di dalam sifat-sifat-Nya dan mencapai peringkat terpuji adalah yang memberi tanpa menanti syukur alias tidak mengharap balasan dari yang diberi atau ucapan terimakasih.

Selain itu, ada kata “syakara” yang berlawanan dengan kata “kafara”. Hal ini diungkap di dalam al-Qur’an surat Ibrahim: 7. Dalam konteks ini, “syakara” sebagai asal mula kata syukur diartikan sebagai upaya “menampakkan nikmat”. Sementara“kafara” yang juga disebut kufur adalah “menyembunyikan nikmat”. Ditafsirkan bahwa menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya. Di samping itu, berarti juga menyebut-nyebut nikmat serta pemberinya dengan lidah (S. Adh-Dhuha: 11) dan S. Al-Baqarah: 152.

Intinya, para mufasir menjelaskan bahwa ayat yang disebut terakhir ini mengandung perintah untuk mengingat Allah tanpa melupakan, patuh kepada-Nya tanpa menodai dengan kedurhakaan. Syukur yang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya.

Di dalam kaitan ini, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa syukur mencakup tiga sisi.

  • Pertama, syukur dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah.
  • Kedua, syukur dengan lidah, yakni dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya.
  • Ketiga, syukur dengan perbuatan, yakni dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Lebih dari itu, al-Qur’an ternyata juga memerintahkan umat Islam untuk bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya (S. Al-Baqarah:152 dan S. Luqman: 12).22 Itu sebabnya kita diajarkan oleh Allah untuk mengucapkan “Alhamdulillah”, yang berarti arti “segala puji hanya untuk Allah”. Namun, ini bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah.

Misalnya, al-Qur’an secara tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua orang tua yang menjadi perantara kehadiran kita di pentas dunia ini (QS. Luqman: 14).

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. QS. Luqman: 14

Selain kata syukur, di dalam al-Qur’an ditemukan juga kata syakur. Kata syakur ini disebut sebanyak sepuluh kali, tiga di antaranya merupakan sifat Allah dan sisanya menjadi sifat manusia. Al-Ghazali mengartikan syakur sebagai sifat Allah adalah Ia yang memberi balasan banyak terhadap pelaku kebaikan atau ketaatan yang sedikit; Ia yang menganugerahkan kenikmatan yang tidak terbatas waktunya untuk amalan-amalan yang terhitung dengan hari-hari tertentu yang terbatas.

Dalam hal ini, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa ada juga hamba-hamba Allah yang syakur, walau tidak banyak, sebagaimana firman- Nya di dalam QS. Saba’: 13.

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. QS. Saba’: 13

Dari sini, tentu saja makna dan kapasitas syakur hamba (manusia) berbeda dengan sifat yang disandang Allah. Manusia yang bersyukur kepada manusia/makhluk lain adalah ia yang memuji kebaikan serta membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik atau lebih banyak dari apa yang telah dilakukan oleh yang disyukurinya itu. Syukur yang demikian dapat juga merupakan bagian dari syukur kepada Allah.

Sebab, berdasarkan hadis Nabi Saw,

Wa-man lam yasykur an-nas lam yasykur Allah; Siapa yang tidak mensyukuri manusia maka ia tidak mensyukuri Allah”. (HR. Abu Daud dan At-Turmudzi).

Hadis ini dapat dimaknai bahwa siapa yang tidak pandai berterimakasih (bersyukur) atas kebaikan manusia maka ia pun tidak akan pandai mensyukuri Allah karena kebaikan orang lain yang diterimanya itu bersumber juga dari Allah.

Dari penjelasan di atas, penafsiran ayat-ayat syukur yang tersebar dalam al-Qur’an menginspirasi pelakunya untuk menafsirkan secara kontekstual agar tidak terjebak pada pemahaman yang sempit dan kaku. Syukur sudah seyogianya ditafsiri lebih bermakna dan bermanfaat secara pribadi, sosial, spiritual dan profesional.

  • Secara pribadi, penafsiran syukur membuat pelakunya semakin saleh di mata Allah. Secara sosial membuat orang semakin peduli dan peka atas masalah sosial yang ada.
  • Secara spiritual, ayat syukur membuat kita semakin suka mengucapkan kalimat Allah dalam rangka beriman kepada-Nya.
  • Secara profesional, syukur dapat ditafsirkan sesuai dengan kerja dan kinerja masing-masing demi kesuksesan hidupnya.

Manfaat dan Kedahsyatan Syukur

Apa manfaat syukur dalam hidup kita?

Ternyata, syukur itu memiliki kedahsyatan, kekuatan dan keutamaan yang luar biasa di mata manusia sekaligus di hadapan Allah yang Maha Kuasa. Banyak data dan fakta menarik yang mengungkapkan, menyebutkan dan menjelaskan tentang bukti nyata efek positif bila kita mau bersyukur kepada Allah.

Karena kedahsyatannya yang luar biasa, syukur itu membuat setan- iblis tidak senang. Bahkan, setan-iblis berjanji akan selalu menggoda setiap manusia yang mau bersyukur kepada Allah, melalui berbagai cara dan arah mata angin. Seperti diungkap dalam al-Qur’an, setan-iblis selalu berusaha menggoda setiap manusia untuk tidak boleh bersyukur kepada Allah dari sisi kanan-kiri, depan dan belakang.

Pertanyaannya kenapa setan-iblis menggoda dari semua arah itu? Jawabannya tidak lain karena setan-iblis adalah musuh Allah. Dalam al- Qur’an, Allah telah menghukum dan memastikan setan-iblis di akhirat nanti akan dimasukkan ke dalam neraka. Oleh karena itu, setan-iblis ingin mengajak manusia yang bisa digodanya untuk bersama-sama memusuhi Allah agar kelak sama-sama menemaninya masuk ke dalam neraka jahanam. Iblis berkata:

“Karena Engkau (Allah Swt) telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al A’raf: 16–17).

Apa kira-kira makna semua arah tersebut?

Dipilihnya arah menggoda manusia dari sisi muka-depan diartikan bahwa manusia akan digoda oleh setan-iblis agar tidak mau memikirkan nasib akhiratnya sehingga manusia lupa diri untuk selalu berbuat baik, beriman, berislam dan berihsan sebagai bekal di kehidupan berikutnya. Sisi belakang dimaknai sebagai upaya untuk menggoda setiap manusia agar selalu memikirkan kehidupan dunianya saja. Sementara godaan dari sisi kanan dipahami sebagai upaya menggoda manusia agar tidak mengakui kebenaran dalam ajaran Islam, al-Qur’an dan kebenaran kerasulan para nabi. Lalu, godaan dari sisi kiri dapat dimengerti sebagai upaya setan-iblis untuk mendukung manusia yang mau berbuat keburukan, kemaksiatan, kemungkaran dan hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Hal yang menarik, setan-iblis tidak mau dan mungkin tidak mampu menggoda manusia yang bersyukur kepada Allah dari sisi atas dan bawah. Alasannya sebab sisi atas diartikan bahwa manusia biasanya selalu ingat Allah dengan penuh ketulusan dan kemantaban. Demikian juga, sisi bawah dipahami bahwa manusia yang mau melihat ke bawah biasanya ingat asalnya dan akan kembalinya, yaitu tanah. Di sini, artinya manusia ingat kematian dan tentu saja ingat Allah yang Maha Pencipta. Saat seseorang betul-betul ingat Allah, saat itulah setan-iblis sudah tidak bisa menggodanya.

Maka, tidak heran bila orang bersyukur selalu berusaha untuk sujud sebagai tanda syukur. Ada juga tanda orang syukur selain dengan sujud, juga dengan cara melihat ke atas dengan memanjatkan doa-doa kepada Allah. Dalam konteks inilah, diinformasikan bahwa Nabi Muhammad Saw selalu memikirkan bagaimana nasib umatnya nanti yang diharapkan semua bisa masuk surga Allah dengan cara mau terus menerus syukur di saat susah maupun senang. Nabi Muhammad Saw juga memberikan warisan doa khusus sebagai anjuran untuk kita semua supaya kita selalu diberkati Allah untuk menjadi orang yang suka bersyukur.

Warisan doa syukur dari Nabi Muhammad tersebut bisa ditemukan dalam al-Qur’an. Inti bunyi doa tersebut adalah:

Allahumma a’inni ’ala dzikrika wa syukrika wa husni ’ibadatik; Ya Allah, bantulah aku untuk selalu berzikir kepada-Mu, selalu bersyukur kepada-Mu dan perbaikilah ibadahku kepadaMu”.

Ada kisah menarik tentang syukur yang dibahas dalam al-Qur’an. Kisah-kisah syukur tersebut telah dipraktikkan oleh para nabi. Dimulai dari Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Isa, Nabi Musa, Nabi Sulaiman hingga Nabi Muhammad Saw.

Keteladanan syukur para nabi yang patut direnungkan, misalnya dari kisah Nabi Sulaiman. Kisah ini bisa ditemukan dalam al-Qur’an. Dikatakan bahwa Nabi Sulaiman pernah ditanya apa kunci kemuliaan dan kesuksesan hidupnya. Nabi Sulaiman menjawab,

Hadza min fadzli Rabbi”. Artinya semua kesuksesan dan kemuliaan ini dari Tuhanku, yaitu Allah Swt.

Jawaban Nabi Sulaiman tersebut menunjukkan kepada kita bahwa di balik kesuksesan setiap manusia ada campur tangan Allah yang tidak boleh dilupakan. Pengakuan diri semacam ini sangat diperlukan. Oleh karena itu, Nabi Sulaiman selalu mendapat tambahan kenikmatan dan limpahan kesuksesan hingga akhir hayatnya.

Hal ini berbeda dengan Qorun dan Firaun yang memusuhi dakwah para Nabi. Alkisah, Qorun dan Firaun adalah dua sosok dalam sejarah umat manusia yang awalnya tidak terlalu sukses menjadi orang sukses dalam bidangnya masing-masing. Bisa dikatakan, Qorun adalah sosok yang sukses dalam bidang ekonomi pada zamannya. Kesuksesan ekonominya menjadikan dia terkenal sebagai orang kaya raya. Berbeda tapi sama ditunjukkan oleh Firaun. Bila Qorun sukses dalam bidang ekonomi, Firaun lebih sukses dalam bidang politik. Firaun memiliki kekuasaan di mana-mana. Kedua sosok orang yang bernama Qorun dan Firaun ini dikisahkan walaupun ia sukses, tapi ia sayang sungguh disayang lupa diri hingga lupa pada tuhannya, yaitu Allah.

Qorun dan Firaun pernah mendapat ujian pertanyaan apa rahasia dan kunci suksesnya?

Jawaban Qorun dan Firaun adalah kuncinya ada pada dirinya sendiri dan tidak ada pengaruh dan campur tangan Tuhannya, yakni Allah. Ekspresi jawaban Qorun dan Firaun yang terindikasi bahwa Qorun dan Firaun tidak bersyukur alias kufur semacam itulah hingga pada akhir kisah hidupnya ia sama-sama ditenggelamkan dan dilaknat oleh Allah. Qorun beserta harta dan istananya ditenggelamkan ke dalam tanah. Sementara Firaun ditenggelamkan ke dalam lautan. Namun masih sedikit beruntung, jasad Firaun masih ditemukan dengan kekuasaan Allah sebagai pelajaran penting bagi setiap manusia agar tidak lupa diri dan tidak lupa pada Tuhannya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam konteks ini, hal ihwal syukur betul-betul menjadi perhatian Allah. Oleh karena itu kita perlu juga memperhatikannya. Dinyatakan bahwa Allah menjanjikan hadiah tambahan kepada siapa saja yang mau bersyukur. Hadiah atau rewards tersebut akan diberikan sekaligus dilipatkan dan ditambahkan bagi hamba dan makhluk-Nya yang mau terus menerus bersyukur atas apa yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang belum terjadi.

Di sini, syukur bukanlah kata benda mati. Syukur juga bukan kata sifat saja. Tapi, syukur merupakan kata kerja yang perlu bukti tindakan nyata hingga akhir hayat kita. Secara lisan, praktik syukur bisa dibuktikan dengan mengucapkan kata-kata yang baik sekaligus pujian hanya untuk Allah. Dalam tindakan, syukur ditandai dengan upaya sungguh-sungguh untuk memanfaatkan apa saja yang bisa kita lakukan untuk kemanfaatan dan kemaslahatan semua.

Lebih lanjut, syukur secara bahasa dimaknai sebagai upaya membuka dan mengakui diri. Mengakui apa yang kini diperoleh dan dirasakan semua dari Allah, oleh Allah dan pada akhirnya untuk Allah. Ungkapan alhamdulillah yang berarti segala puji untuk Allah merupakan ekspresi kejujuran. Semakin sering kita mengucap alhamdulillah, sebetulnya kita melatih diri dalam bersikap jujur dalam hubungannya dengan Allah. Hal ini berbeda ketika kita jarang atau belum mengucapkan alhamdulillah. Bisa saja, kita lupa alias kurang menyadari betapa pentingnya kita mengungkap dan mengucap syukur alhamdulillah sebagai ekspresi kejujuran lahiriah dan batiniah sebagai ciptaan sekaligus hamba Allah yang Maha Pengasih.

Coba renungkan beberapa hasil penelitian tentang pengaruh ekspresi syukur yang dipraktikkan seseorang terhadap kesuksesan kehidupannya sehari-hari.

  • Pertama, syukur bisa membawa prestasi belajarnya anak sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi anak yang berprestasi dalam sekolah bisa dilihat dari aktivitasnya di dunia maya dalam media sosialnya.

    Rata-rata ditemukan bahwa anak yang berprestasi di sekolah di berbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia, yang menggunakan jejaring sosial, misalnya Facebook, ternyata menuliskan statusnya dengan kata-kata positif dan ungkapan syukur dapat membuat anak tersebut lebih berprestasi dan lebih cepat dewasa dalam berpikir dan belajarnya. Hal ini berbeda dengan anak sekolah yang selalu menulis di Facebook-nya dengan keluhan, kegalauan dan kata-kata negatif lainnya.

    Ternyata, siswa tersebut lebih banyak kurang berprestasi. Jadi, patut direnungkan bagi kita semua dalam berkomunikasi hendaknya berusaha mengekspresikan diri secara positif. Ungkapan positif lahir dari perasaan, pikiran dan memengaruhi tindakan kita.Ungkapan dan perkataan kita termasuk dari doa. Oleh karena itu, berkata yang baik, kita sama saja dengan berdoa yang baik untuk diri dan semuanya.

  • Kedua, syukur membuat kita bahagia. Semakin kita sering berekspresi syukur maka semakin kita bahagia. Dalam konteks inilah, Syukur bisa membuat kita senyum. Senyum tersebut membuat kita menjadi lebih bahagia. Kisah kasih syukur terungkap dalam al-Qur’an surat Luqman ayat 12, yaitu:

    “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” al-Qur’an surat Luqman ayat 12

    Ayat tersebut menegaskan bahwa syukur yang kita lakukan membawa keberuntungan pada diri kita sendiri. Secara ilmiah, ada yang mengungkap salah satu kedahsyatan kalimat syukur bisa dibuktikan dari rahasia air. Hasil penelitian Dr. Masaru Emoto, seorang ilmuwan asal Jepang, melihat efek positif syukur melalui media air. Dijelaskan, ketika sebuah air diberi ucapan kalimat syukur, terima kasih maka molekul airnya membentuk sebuah kristal-kristal yang indah dan mempesona.

    Ini ibarat kita bercermin dengan air. Bila kita senyum, aura air memancarkan pesona yang indah. Bila kita mencoba marah, air akan memantulkan wajah yang kurang mempesona yang bisa saja membuat kita ingin melempari air itu dengan batu dengan harapan berubah. Padahal seharusnya, diri kita dan hati pikiran kita yang perlu dirubah sehingga muka kita menjadi lebih berseri dan bahagia. Kita tentu mafhum, tubuh manusia ada 75% terdiri dari air, otak 74,5% air, darah 82% air, tulang yang keras pun mengandung 22% air. Oleh karena itu, betapa dahsyatnya tubuh manusia ketika setiap detiknya, menitnya dan jamnya selalu dihiasi dengan kalimat syukur alhamdulilah. Tentu, aura bahagia selalu memancar dan terasa bagi siapa saja yang berinteraksi dengan kita semua.

    Hasil penelitian tentang syukur juga pernah dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Emotion, edisi Juni 2008 dengan judul, Beyond Reciprocity: Gratitude and Relationships in Everyday Life. Dalam artikel ilmiah tersebut, para ilmuwan yang dipimpin oleh S.B. Alqoe dkk. asal University of Virginia, Amerika Serikat, meneliti peran sikap bersyukur atau berterima kasih yang muncul secara alamiah dalam perkumpulan mahasiswa di perguruan tinggi selama acara “pekan pemberian hadiah” dari anggota lama kepada anggota baru.

    Para anggota baru mencatat tanggapan atas manfaat yang mereka dapatkan selama pekan tersebut. Di akhir pekan itu, dan satu bulan kemudian, anggota lama dan anggota baru menilai keadaan persahabatan dan hubungan di antara mereka.

    Kesimpulan risetnya adalah rasa terimakasih atas pemberian hadiah berpeluang memicu terbentuknya dan terpeliharanya persahabatan di antara mereka. Dalam konteks inilah, rasa terima kasih antarsesama manusia bagian dari syukur manusia kepada Tuhannya.

  • Ketiga, syukur membuat kita kaya. Di sini Anda boleh bertanya bagaimana cara menjadi orang kaya dan melipatgandakan rezeki? Bila Anda ingin jawaban terbaik, silakan renungkan salah satu firman Allah dalam ayat al-Qur’an:

    ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(QS. Ibrahim:7).

    Ayat tersebut menegaskan bahwa bila Anda semua ingin sukses, bahagia, kaya dan banyak rezeki maka bersyukurlah. Sebaliknya, bila tidak mau bersyukur maka Anda tentu harus siap gagal dan siap mendapat petaka dan bencana. Oleh karena itu, jalan terbaik yang perlu ditempuh adalah bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Di sini, dapat dipahami bahwa bersyukur merupakan jalan pertama dan utama yang perlu dilakukan setiap anak manusia yang ingin sukses dan dilipatkan rezeki dan nikmatnya.

    Ayat syukur tersebut betul-betul membawa kita pada kondisi sukses lahir batin. Hati kita tidak terasa terbebani karena perasaan dan pikiran kita mengakui bahwa yang saat ini kita miliki atau yang belum kita miliki merupakan kenikmatan dari Allah.

    Dalam buku Dahsyatnya Syukur, Syafii Al-Bantanie menerangkan secara lugas, betapa syukur memberikan pengaruh besar bagi pelakunya. Tidak hanya dimudahkan dari segala kesulitan, tapi juga mendatangkan dan menambah rezeki, mendatangkan kesembuhan dan mengantar ke surga. Intinya, ia mengungkap bahwa syukur memiliki hikmah yang besar. Di dalamnya terkandung keutamaan-keutamaan yang akan diperoleh oleh pelakunya. Syukur merupakan energi yang dahsyat untuk menggapai kesuksesan dan kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.

    Ippho Santosa dalam buku 13 Wasiat Terlarang menyatakan bahwa syukur adalah bagian penting dalam otak kanan. Selain terkait dengan otak kanan, syukur juga terkait erat dengan rezeki dan kesuksesan.

    Oleh karena itu, sudah sewajarnya bila kita mengucapkan rasa syukur dengan setulus-tulusnya. Bila kita ingin sekali-kali coba menghitung kenikmatan yang diterima maka sudah barang tentu kita tidak mungkin dapat menghitungnya secara rinci dan pasti. Karena hal itu telah ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an surat An-Nahl ayat 18:

    “Dan jika engkau menghitung-hitung nikmat Allah, maka engkau tidak akan dapat menghitung jumlahnya”.

    Oleh karena itu, sebagai manusia yang tidak bisa menghitung banyaknya jumlah dan kualitas nikmat yang telah diterima maka bersyukur kepada Allah yang Maha Luar biasa merupakan pilihan sekaligus solusi terbaik selama-lamanya. Sebab, kita selalu diingatkan oleh Allah dengan pertanyaan dalam al-Qur’an yaitu:

    Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban” yang berarti, “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”.

    Pertanyaan sekaligus pernyataan, “Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban” tersebut adalah ayat dalam Surah Ar-Rahman yang ditulis berulang-ulang sebanyak 31 kali. Ayat ini diletakkan di setiap akhir ayat dalam surah Ar-Rahman yang menjelaskan sekaligus menegaskan bahwa nikmat yang diberikan oleh Allah kepada semua manusia dan mahkluknya sungguh luar biasa banyaknya dan perlu disyukuri dengan sepenuh hati
    perasaan dan akal pikiran.

Implementasi Syukur dalam Perspektif al-Qur’an

Ahmad Hadi Yasin menegaskan bahwa bersyukur adalah kewajiban setiap hamba kepada Dzat Sang Pemberi nikmat, Allah Swt. Orang yang mengingkarinya berarti ia telah mengufuri nikmat-Nya. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang sangat banyak tersebut? Jawaban singkatnya adalah mulailah dari diri Anda sendiri. Latihlah “otot syukur” Anda setiap waktu semaksimal dan semampunya. Bersyukur di sini berarti memfokuskan pikiran dan perasaan pada hal-hal yang baik dalam hidup. Ketika kita bersyukur, sebetulnya endorfin (hormon yang membuat rasa senang dan bahagia) akan terus mengalir lebih lancar dalam tubuh.

Dalam mensyukuri nikmat Allah, kita diberikan keteladanan oleh Rasulullah Saw sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

”Jika Rasulullah Saw melaksanakan salat, ia berdiri (lama sekali) sampai kedua kaki (telapak) nya pecah-pecah. Aisyah ra bertanya: Wahai Rasulullah, kenapa engkau berbuat seperti ini padahal dosamu yang terdahulu dan yang akan datang telah diampuni? Lalu ia menjawab: Wahai Aisyah, apakah aku tidak ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur” (HR. Muslim).

Jawaban Rasulullah tersebut menjelaskan bahwa rasa syukur bisa dilakukan dengan cara salat yang khusuk dan berkualitas diiringi dengan kuantitas waktu sebagaimana dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Saw. Lantas masih adakah cara yang lain? Jelas ada yaitu dengan sujud syukur.

Sujud syukur merupakan perilaku sujud sebanyak satu kali yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dan dilakukan saat mendapat nikmat/anugerah baru atau terhindari dari musibah. Sujud syukur kadangkala juga dilakukan secara praktis dari posisi berdiri langsung bersimpuh mencium tanah sebagai simbol atau tanda syukur kepada Allah Swt.

Nabi Muhammad Saw pernah melakukan sujud syukur ketika mendapatkan kabar gembira. Sebagaimana diriwayatkan bahwa:

“Dari Abu Bakrah r.a. dari Nabi Muhammad Saw bahwa apabila ia mendapatkan suatu perkara yang menyenangkan maka ia bersimpuh sujud sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah”.

Dalam hadis yang lain, kondisi bahagia membuat Nabi Muhammad Saw kembali melakukan sujud syukur kepada Allah. Dijelaskan bahwa

“Dari Al-Barra bin ‘Azib r.a. bahwa Nabi Saw mengutus ‘Ali ke Yaman, kemudian ia (perawi) menyebutkan hadis, berkata: Kemudian Ali menulis surat tentang keislaman mereka maka ktika Rasulullah Saw membaca surat itu, beliau tersungkur sujud sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta’ala atas hal tersebut”.

Lebih dari itu, tata cara bersyukur kepada Allah tentu saja tidak hanya dengan sujud syukur dan salat, lebih dari itu kita juga bisa melakukan ibadah apa saja yang diperintahkan oleh Allah, baik berupa amal ibadah mahdhah (khusus) dalam rangka berhubungan baik dengan Allah sebagaimana termaktub dalam rukun Islam, maupun juga ibadah ghairu mahdhah (umum) dalam hubungannya dengan sesama manusia dan alam semesta. Di sini, bersyukur tentu saja juga bisa diekspresikan dengan caraberupaya semaksimal kita untuk menjauhi apa saja yang dilarang oleh Allah (amar makruf nahi munkar).

Secara praktis, ekspresi syukur dapat diwujudkan dengan memanfaatkan segala apa yang kita miliki untuk kebaikan-kebaikan bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan orang di sekitar kita. Mata kita untuk melihat yang baik-baik sekaligus membaca dan memahami ayat- ayat kekuasaan Allah. Kaki digunakan untuk berjalan menuju kebaikan. Telinga untuk mendengar yang baik. Hati untuk merasakan, menghayati dan mensyukuri nikmat-Nya.

Tidak hanya itu, nikmat sehat yang kita rasakan, misalnya juga bisa kita manfaatkan untuk bekerja dan beribadah dengan sungguh-sungguh. Nikmat harta yang kita punya, bisa kita manfaatkan untuk saling berbagi, berinfak dan beramal jariyah untuk tabungan dan investasi akhirat nanti. Nikmat iman yang kita hayati perlu terus kita syukuri dengan cara berdoa dan berusaha terus menerus berupaya mengamalkan ajaran Islam dengan ikhlas lillahi ta’ala.
Secara khusus, doa terkait syukur yang disebut dalam al-Qur’an dan bisa kita baca setiap saat, yaitu:

Rabbi aw zi’niy an asykura ni’matakallatiy an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa adkhilniy birahmatika fiy ‘ibadikashshaalihiin…”. Artinya: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (Q.S. An-Naml: 19).

Ada lagi doa syukur yang hampir sama, tapi lebih komplit redaksi dan maknanya, yaitu:

Rabbi aw zi’niy an asykura ni’matakallatiy an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlihliy fii dzurriyyatiy inniy tubtu ilayka wa inniy minal Muslimiin…”. Artinya: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Al-Ahqaf: 15).

Tidak hanya itu, Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad Saw yang perlu kita ikuti terkait dengan kewajiban untuk mendirikan salat dan berkurban (fashally lirabbika wanhar). Asep S Muhtadi dalam tulisannya Kurban Mendidik Bersyukur menjelaskan bahwa salat dan kurban dalam ayat ini merupakan wujud syukur manusia atas nikmat Allah. Dalam shalat, menurut Muhtadi, kita bersyukur karena Allah telah menganugerahkan banyak nikmat. Sedangkan kurban, ungkapnya, seperti diilustrasikan dalam ayat di atas merupakan simbolisasi rasa syukur dengan cara mengorbankan sebagian harta yang dimiliki untuk kemudian dibagikan sesuai ketentuan syariat.

Di sini, disadari bahwa masih banyak lagi tata cara dalam mensyukuri nikmat Allah yang bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Prinsipnya kita perlu terus menerus berupaya ingat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sumber :

Choirul Mahfud, THE POWER OF SYUKUR : Tafsir Kontekstual Konsep Syukur dalam al-Qur’an, Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Surabaya

Kata syukur berasal dari bahasa arab dengan kata dasar “syakara” yang artinya berterima kasih, bentuk masdar dari kalimat ini adalah syukr, syukraan yang artinya rasa terima kasih.

Syukur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai rasa terima kasih kepada Allah swt, dan untunglah (meyatakan perasaan lega, senang dan sebagainya).
Secara bahasa syukur adalah pujian kepada yang telah berbuat baik atas apa yang dilakukan kepadanya. Syukur adalah kebalikan dari kufur.

Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat, sedangkan hakikat ke-kufur-an adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah.

Menurut istilah syara’, syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah swt dengan disertai ketundukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah swt.

Menurut sebagian ulama, Syukur berasal dari kata “syakara”, yang artinya membuka atau menampakkan. Jadi, hakikat syukur adalah menampakkan nikmat Allah swt yang dikaruniakan padanya, baik dengan cara menyebut nikmat tersebut atau dengan cara mempergunakannya di jalan yang dikehendaki oleh Alah swt.6

Hakikat Syukur

Imam Ghazali menjelaskan bahwa syukur tersusun atas tiga perkara, yakni:

  • Ilmu, yaitu pengetahuan tentang nikmat dan pemberinya, serta meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah swt dan yang lain hanya sebagai perantara untuk sampainya nikmat, sehingga akan selalu memuji Allah swt dan tidak akan muncul keinginan memuji yang lain. Sedangkan gerak lidah dalam memuji-Nya hanya sebagai tanda keyakinan.

  • Hal (kondisi spiritual), yaitu karena pengetahuan dan keyakinan tadi melahirkan jiwa yang tentram. Membuatnya senantiasa senang dan mencintai yang memberi nikmat, dalam bentuk ketundukan, kepatuhan. Men-syukur-i nikmat bukan hanya dengan menyenangi nikmat tersebut melainkan juga dengan mencintai yang memberi nikmat yaitu Allah swt.

  • Amal perbuatan, ini berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan, yaitu hati yang berkeinginan untuk melakukan kebaikan, lisan yang menampakkan rasa syukur dengan pujian kepada Allah swt dan anggota badan yang menggunakan nikmat-nikmat Allah swt dengan melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.

Al Kharraz yang dikutip oleh Amir An-Najjar mengatakan syukur itu terbagi menjadi tiga bagian yaitu:

  • Syukur dengan hati adalah mengetahui bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah swt bukan selain dari-Nya.

  • Syukur dengan lisan adalah dengan mengucapkan al-Hamdulillah dan memuji-Nya.

  • Syukur dengan jasmani adalah dengan tidak mempergunakan setiap anggota badan dalam kemaksiatan tetapi untuk ketaatan kepada-Nya. Termasuk juga mempergunakan apa yang diberikan oleh Allah swt berupa kenikmatan dunia untuk menambah ketaatan kepada-Nya bukan untuk kebatilan.

Muhammad Quraish Shihab menyebutkan bahwa syukur mencakup tiga sisi, yaitu:9

  • Syukur dengan hati yakni menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh semata-mata karena anugerah dan kemurahan dari ilahi, yang akan mengantarkan diri untuk menerima dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut.

  • Syukur dengan lidah yakni mengakui anugerah dengan mengucapkan al-Hamdulillah serta memuji-Nya.

  • Syukur dengan perbuatan yakni memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai tujuan penganugerahannya serta menuntut penerima nikmat untuk merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh Allah swt.12

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hakikat syukur adalah mempergunakan nikmat yang dikaruniakan Allah swt untuk berbuat ketaatan kepada Allah swt guna mendekatkan diri kepada Allah swt.

Konsep Dasar Syukur dalam Al-Qur’an dan Hadits

”Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada- Ku.” Surat al-Baqarah ayat 152

Pada ayat ini, mengandung perintah untuk mengingat Allah swt melalui dzikir, hamdalah, tasbih dan membaca al-Qur’an dengan penuh penghayatan, perenungan, serta pemikiran yang mendalam sehingga menyadari kebesaran, kekuasaan, dan keesaan Allah swt. Menjauhi larangan yang Allah swt tetapkan, sehingga Allah swt akan membuka pintu kebaikan.

Ayat ini juga mengandung perintah untuk ber-syukur kepada Allah swt atas nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan dengan cara mengelola dan memanfaatkan semua nikmat sesuai dengan masing-masing fungsinya, kemudian memanjatkan pujian pada Allah swt dengan lisan dan hati, serta tidak mengingkari semua anugerah tersebut dengan cara mempergunakannya ke jalan yang bertentangan dengan syari’at dan sunatullah.

Ayat ini merupakan peringatan kepada umat manusia agar tidak terperosok seperti umat terdahulu yang telah mengingkari nikmat-nikmat Allah swt dengan tidak menggunakan akal dan indra untuk merenungkan dan memikirkan untuk apa nikmat-nikmat tersebut serta bagaimana cara penggunaaanya, sehingga Allah swt mencabut nikmat tersebut sebagai hukuman dan pelajaran bagi mereka.

“dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka pasti azab-Ku sangat berat’.” Surat Ibrahim ayat 7

Hadits Riwayat Muslim

“Lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, sebab hal itu akan mendidik kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah swt”. (HR. Muslim)

”sungguh mengagumkan keadaan orang mukmin. Keadaan mereka senantiasa mengandung kebaikan. Dan, tidak terjadi yang demikian itu kecuali pada orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Hal itu merupakan kebaikan baginya. Jika tertimpa kesusahan ia bersabar. Hal itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

Referensi :
  • Ida Fitri Shobihah, “Dinamika Syukur pada Ulama Yogyakarta”, (Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga, 2013).
  • Amir An-Najar, Psikoterapi Sufistik dalam Kehidupan Modern, Terj. Ija Suntana, (Bandung: PT. Mizan Publika, 2004).
  • Muhammad Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 1996).
  • Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, Dahsyatnya Syukur, (Jakarta: Qultum Media, 2009).
  • Aura Husna (Neti Suriana), Kaya dengan Bersyukur: Menemukan Makna Sejati Bahagia dan Sejahtera dengan Mensyukuri Nikmat Allah, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2013).
  • Imam Ghazali, Taubat, Sabar dan Syukur, Terj. Nur Hichkmah. R. H. A Suminto, (Jakarta: PT. Tintamas Indonesia, Cet. VI, 1983).
  • Amir An-najjar, Ilmu Jiwa dalam Tasawwuf Studi Komparatif dengan Ilmu Jiwa Kontemporer, Terj. Hasan Abrori, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2001).
  • Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maraghi, Terj. Anshori Umar Sitanggal. Hery Noer Aly. Bahrun Abu bakar, (Semarang: CV. Toha Putra, Cet. II, 1993)

Makna syukur

  1. huruf syin ش ini bermakna suatu rasa yang sangat lemah tidak berdaya kuasa (ini huruf intinya)

  2. huruf kaf ك ini bermakna sebuah kemuliaan

  3. huruf ro ر ini bermakna Allah

Jadi syukur itu ==> Suatu rasa bahwa dirimu sangat lemah tidak berdaya kuasa dihadapan kemuliaan Allah.

Dengan demikian syukur itu ada padamu, apabila dalam hatimu merasa " hina, bodoh, lemah, faqir dst" dihadapan kemuliaan Allah…

:man_with_turban:‍♂Abah FK