Apakah yang dimaksud dengan penyesuaian diri ?

Apakah yang dimaksud dengan penyesuaian diri dalam ilmu sosial, beserta aspek-aspek dan kriterianya ?

Menurut Schneiders bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya.

Schneiders juga mendefinisikan penyesuaian diri dapat ditinjau dari 3 sudut pandang, yaitu

  • Penyesuaian diri sebagai bentuk adaptasi (adaptation),
  • Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity),
  • Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery).

Menurut Hurlock menyataan bahwa penyesuaian diri adalah subjek yang mampu menyesuaikan diri kepada umum atau kelompoknya dan orang tersebut memperlihatkan sikap dan perilaku yang menyenangkan, berarti orang tersebut diterima oleh kelompok dan lingkungannya.

Menurut Ali dan Asrori menyatakan bahwa penyesuaian adalah suatu proses yang mencakup respon-respon mental dan perilaku yang diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar atau lingkungan tempat individu berada.

Aspek – Aspek Penyesuaian Diri


Menurut Atwater dalam penyesuaian diri harus dilihat dari tiga aspek yaitu diri kita sendiri, orang lain dan perubahan yang terjadi. Namun pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu: penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial.

Penyesuaian Pribadi

Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya.

Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggungjawab, dongkol. kecewa, atau tidak percaya pada kondisi dirinya.

Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.

Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya gap antara individu dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.

Penyesuaian Sosial

Penyesuaian Sosial adalah Proses dimana setiap individu saling mempengaruhi satu sama lain silih berganti dimana proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari.

Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh sang individu.

Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok.

Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.

Schneiders mengungkapkan bahwa penyesuaian diri yang baik meliputi enam aspek sebagai berikut :

  1. Kontrol terhadap emosi yang berlebihan.

    Aspek ini menekankan kepada adanya kontrol dan ketenangan emosi individu yang memungkinkannya untuk menghadapi permasalahan secara cermat dan dapat menentukan berbagai kemungkinan pemecahan masalah ketika muncul hambatan.

    Bukan berarti tidak ada emosi sama sekali, tetapi lebih kepada kontrol emosi ketika menghadapi situasi tertentu.

  2. Mekanisme pertahanan diri yang minimal.

    Aspek ini menjelaskan pendekatan terhadap permasalahan lebih mengindikasikan respon yang normal dari pada penyelesaian masalah yang memutar melalui serangkaian mekanisme pertahanan diri yang disertai tindakan nyata untuk mengubah suatu kondisi.

    Individu dikategorikan normal jika bersedia mengakui kegagalan yang dialami dan berusaha kembali untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

    Individu dikatakan mengalami gangguan penyesuaian jika individu mengalami kegagalan dan menyatakan bahwa tujuan tersebut tidak berharga untuk dicapai.

  3. Frustrasi personal yang minimal.

    Individu yang mengalami frustrasi ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan tanpa harapan, maka akan sulit bagi individu untuk mengorganisir kemampuan berpikir, perasaan, motivasi dan tingkah laku dalam menghadapi situasi yang menuntut penyelesaian.

  4. Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri.

    Individu memiliki kemampuan berpikir dan melakukan pertimbangan terhadap masalah atau konflik serta kemampuan mengorganisasi pikiran, tingkah laku, dan perasaan untuk memecahkan masalah, dalam kondisi sulit sekalipun menunjukkan penyesuaian yang normal.

    Individu tidak mampu melakukan penyesuaian diri yang baik apabila individu dikuasai oleh emosi yang berlebihan ketika berhadapan dengan situasi yang menimbulkan konflik.

  5. Kemampuan untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman masa lalu.

    Penyesuaian normal yang ditunjukkan individu merupakan proses belajar berkesinambungan dari perkembangan individu sebagai hasil dari kemampuannya mengatasi situasi konflik dan stres.

    Individu dapat menggunakan pengalamannya maupun pengalaman orang lain melalui proses belajar. Individu dapat melakukan analisis mengenai faktor-faktor apa saja yang membantu dan mengganggu penyesuaiannya.

  6. Sikap realistik dan objektif.

    Sikap yang realistik dan objektif bersumber pada pemikiran yang rasional, kemampuan menilai situasi, masalah dan keterbatasan individu sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

Kriteria Penyesuaian Diri


Scheneiders mengemukakan beberapa kriteria penyesuaian yang tergolong baik (well adjustment) ditandai dengan:

  1. Pengetahuan dan tilikan terhadap diri sendiri,
  2. Obyektivitas diri dan penerimaan diri,
  3. Pengendalian diri dan perkembangan diri,
  4. Keutuhan pribadi,
  5. Tujuan dan arah yang jelas,
  6. Perspektif, skala nilai dan filsafat hidup memadai,
  7. Rasa humor,
  8. Rasa tanggung jawab,
  9. Kematangan respon,
  10. Perkembangan kebiasaan yang baik,
  11. Adaptabilitas,
  12. Bebas dari respon-respon yang simptomatis (gejala gangguan mental),
  13. Kecakapan bekerja sama dan menaruh minat kepada orang lain,
  14. Memiliki minat yang besar dalam bekerja dan bermain,
  15. Kepuasan dalam bekerja dan bermain, dan
  16. Orientasi yang menandai terhadap realitas.

Schneiders juga mengungkapkan bahwa individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik (well adjustment person) adalah mereka dengan segala keterbatasannya, kemampuannya serta kepribadiannya telah belajar untuk bereaksi terhadap diri sendiri dan lingkungannya dengan cara efisien, matang, bermanfaat, dan memuaskan.

Maksud dari dapat bereaksi secara efisien, matang, bermanfaat, dan memuaskan adalah sebagai berikut :

  • Efisien artinya bahwa apa yang dilakukan individu tersebut dapat memberikan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan tanpa banyak mengeluarkan energi, tidak membuang waktu banyak, dan sedikit melakukan kesalahan.

  • Matang artinya bahwa individu tersebut dapat memulai dengan melihat dan menilai situasi dengan kritis sebelum bereaksi.

  • Bermanfaat artinya bahwa apa yang dilakukan individu tersebut bertujuan untuk kemanusiaan, berguna dalam lingkungan sosial, dan yang berhubungan dengan Tuhan.

  • Memuaskan artinya bahwa apa yang dilakukan individu tersebut dapat menimbulkan perasaan puas pada dirinya dan membawa dampak yang baik pada dirinya dalam bereaksi selanjutnya. Mereka juga dapat menyelesaikan konflik-konflik mental, frustasi dan kesulitan-kesulitan dalam diri maupun kesulitan yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya serta tidak menunjukkan perilaku yang memperlihatkan gejala menyimpang.

Selain itu, penyesuaian diri bersifat relatif, hal tersebut dikarenakan beberapa hal
berikut :

  1. Penyesuaian diri merupakan kemampuan individu untuk mengubah atau memenuhi banyaknya tuntutan yang ada pada dirinya. Kemampuan ini dapat berbeda-beda pada masing-masing individu sesuai dengan kepribadian dan tahap perkembangannya.

  2. Kualitas penyesuaian diri yang dapat berubah-ubah sesuai dengan situasi masyarakat dan kebudayaan tempat penyesuaian diri dilakukan.

  3. Adanya perbedaan dari masing-masing individu karena pada dasarnya setiap individu memiliki saat-saat yang baik dan buruk dalam melakukan penyesuaian diri, tidak terkecuali bagi individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik (well adjustment) karena terkadang ia pun dapat mengalami situasi yang tidak dapat dihadapi atau diselesaikannya

Schneiders (1964) mendefinisikan penyesuaian diri sebagai proses respon mental dan perilaku yang merupakan usaha individu untuk mengatasi dan menguasai kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, frustasi, dan konflik-konflik agar terdapat keselarasan antara tuntutan dari dalam dirinya dengan tuntutan atau harapan dari lingkungan di tempat ia tinggal.

Menurut Runyon dan Haber (1984) penyesuaian diri merupakan suatu proses yang ditandai dengan seberapa baik Individu mampu menghadapi situasi serta kondisi yang selalu berubah sehingga individu merasa sesuai dengan lingkungan dan mendapatkan kepuasan dalam pemenuhan kebutuhannya.

Penyesuaian diri dalam ilmu jiwa adalah proses dinamika yang bertujuan untuk mengubah perilaku agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara dirinya dengan lingkungan (Fahmy, 1982). Penyesuaian diri merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menyamakan diri dengan harapan kelompok (Siswono, 2007).

Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamika psikologis yang terus menerus mencakup respon mental dan tingkah laku dalam mengatasi kebutuhan dan hambatan dalam diri, agar tercapainya suatu keselarasan atau keharmonian antara kondisi didalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan individu tersebut.

Karakteristik Penyesuaian Diri


Runyon dan Haber (1984) menyebutkan bahwa penyesuaian diri yang dilakukan individu memiliki lima karakteristik sebagai berikut :

  • Persepsi terhadap realita

    Pemahaman individu terhadap realita berbeda-beda, mekipun realita yang dihadapi adalah sama. Meskipun memiliki persepsi yang berbeda dalam menghadapi realita, tetapi individu dengan penyesuain diri yang baik memiliki persepsi yang objektif, yaitu bagaimana orang mengenali konsekuensi dan tingkah lakunya dan mampu bertindak sesuai dengan konseuensi tersebut.

  • Kemampuan untuk beradaptasi dengan tekanan atau stres

    Pada dasarnya setiap individu tidak senang bila mengalami tekanan, umumnya mereka menghindari hal-hal yang menimbulkan tekanan, mereka menyenangi kepenuhan kepuasan pemenuhan kepuasan yang dilakukan segera. Namun individu yang mampu menyesuaikan diri, tidak selalu menghindari tekanan mereka justru belajar untuk mentoleransi tekanan yang dialami dan dapat menunda kepuasan selama diperlukan demi tujuan yang lebih penting.

  • Mempunyai gambaran diri yang positif

    Pandangan individu terhadap dirinya dapat menjadi indikator dari kualitas penyesuain diri yang dimiliki. Hal tersebut mengarah pada apakah individu dapat melihat dirinya secara harmonis atau sebaliknya, dia melihat adanya berbagai konflik yang berkaitan dengan dirinya. Individu yang banyak melihat pertentangan dalam dirinya bisa menjadi indikasi adanya kekurangmampuan dalam penyesuain diri.

  • Kemampuan untuk mengekspresikan emosi dengan baik

    Kemampuan individu untuk mengekspresikan emosi dengan baik merupakan salah satu ciri penyesuaian diri dengan baik. Penyesuaian diri dengan baik ditandai dengan kemampuan individu untuk menyadari dan merasakan emosi yang saat itu serta mampu memberikan reaksi-reaksi emosi sesuai dengan realistis dan tetap dibawah kontrol sesuai situasi. Sebaliknya, penyesuain diri yang buruk ditandai dengan adanya kecenderungan untuk mengekspresikan emosi secara berlebihan.

  • Memiliki hubungan interpersonal yang baik

    Individu dikatakan memiliki hubungan interpersonal yang baik apabila individu mampu menjalin hubungan dengan lingkungan sosial. Kemampuan dalam berinteraksi dengan lingkungan tersebut membuat individu merasa senang karena disukai dan dihormati oleh lingkungan individu tersebut. Individu dengan penyesuaian diri yang baik mampu mencapai tingkat keintiman dalam suatu hubungan sosial.

Seseorang yang mampu menyesuaikan diri, apabila ia memiliki persepsi yang objektif tentang kenyataan hidup, memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan tekanan, memiliki gambaran yang positif melalui penilaian pribadi maupun orang lain dan memiliki hubungan sosial yang baik pada semua orang dilingkunganya.

Setiap orang yang hidup di dunia ini pasti akan mengalami atau menghadapi yang namanya masalah dalam usaha untuk mencapai tujuan hidup yang dikehendaki serta secara terus menerus melakukan penyesuaian diri sebagai proses yang seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi terus menerus terjadi di dalam kehidupannya.

Menurut Runyon dan Harber (1984), penyesuaian diri adalah proses yang berlangsung dalam kehidupan individu, yang merupakan akibat dari situasi dalam kehidupan yang terus berubah, sehingga individu akan mengubah tujuan dalam hidupnya, seiring dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungannya.

Pendapat serupa tentang penyesuaian diri dikemukakan oleh Gunarsa dan Singgih (2012) yang menyebutkan penyesuaian diri merupakan pola aktivitas dan sikap lain yang sesuai dengan keadaan baru yang dibentuk manusia sejak kecil, dimana pola-pola yang dibentuk disebut dengan mekanisme penyesuaian, yaitu individu berusaha untuk memenuhi kebutuhan agar dapat disetujui oleh umum.

Lubis (2009) menyebutkan bahwa penyesuaian diri sebagai kemampuan individu untuk individu bereaksi terhadap adanya tuntutan yang dibebankan kepadanya, mampu mempelajari sikap atau tindakan baru yang memerlukan adanya respon-respon mental, mampu menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik, serta menghasilkan kualitas keselarasan dari dalam diri individu dengan tuntutan lingkungan sehingga individu mendapatkan ketentraman secara internal dengan hubungannya dengan dunia sekitarnya.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri


Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuian diri menurut Chauhan (1978) adalah sebagai berikut:

  • Keadaan fisik
    Keadaan fisik individu merupakan faktor yang dapat memengaruhi penyesuaian diri, karena keadaan sistem-sistem tubuh yang baik merupakan syarat bagi penyesuaian diri yang baik.

  • Jenis kelamin
    Lingkungan memberikan perbedaan perlakuan terhadap pria dan wanita. Pria mendapatkan kebebasan yang lebih aktif, cenderung lebih bebas menentang peraturan, ataupun norma dalam masyarakat, sedangkan wanita lebih banyak mengikuti kebiasaan yang berlaku.

  • Lingkungan
    Keadaan lingkungan sosial dan lingkungan keluarga yang baik, damai, tenteram, penuh penerimaan, dan mampu memberikan perlindungan ke anggota-anggotanya akan melancarkan proses-proses penyesuaian diri.

  • Pendidikan
    Tingkat pendidikan dan intelegensi individu memengaruhi penyesuaian diri. individu yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan memiliki intelegensi yang tinggi cenderung dapat melaksanakan proses penyesuaian diri dengan lancar dibandingkan dengan individu dengan tingkat pendidikan dan intelegensi yang lebih rendah.

  • Kebudayaan
    Kebudayaan merupakan faktor yang membentuk watak dan tingkah laku individu agar dapat menyesuaikan diri dengan baik, atau justru akan membentuk individu yang lebih sulit untuk menyesuaikan diri.

  • Agama
    Faktor agama akan mempengaruhi kelancaran proses penyesuaian diri, sebab agama akan memberikan suasana yang tentram secara psikologis bagi individu, sehingga dapat digunakan untuk mengurangi konflik, frustasi, dan ketegangan psikis lainnya.

  • Psikologis
    Psikologis merupakan faktor paling yang memengaruhi dalam penyesuaian diri, sebab keadaan mental yang sehat merupakan syarat untuk tercapainya penyesuaian diri yang baik. Kelancaran dalam proses perkembangan individu akan menyebabkan adanya kematangan dalam diri individu yang bersangkutan, karena dengan adanya kematangan tersebut menunjukan bahwa individu yang bersangkutan sudah mampu menyelaraskan dorongan-dorongan internalnya dengan tuntutan lingkungan.

Sunarto dan Hartono (2008) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempngaruhi penyesuaian diri adalah sebagai berikut:

  • Kondisi-kondisi fisik termasuk di dalamnya keturunan, konstitusi fisik, susunan saraf, kelenjar, sistem otot, kesehatan, penyakit, dan sebagainya.

  • Perkembangan dan kematangan, khususnya kematangan intelektual, sosial, moral, dan emosional.

  • Penentu psikologis, termasuk di dalamnya pengalaman, belajarnya, pengkondisian, penentuan diri, frustasi, dan konflik.

  • Kondisi lingkungan khususnya keluarga dan sekolah.

  • Penentu kultural, termasuk agama.

Aspek-Aspek Penyesuaian Diri


Menurut Schneiders (1999) dimensi penyesuaian diri dapat dijelaskan sebagai berikut:

Karakteristik penyesuaian diri positif

  • Absence of Excessive Emotionality
    Terhindar dari ekspresi emosi yang berlebihan, merugikan, atau kurang mampu mengontrol diri.

  • Absence of Psychological Mechanism
    Terhindar dari mekanisme-mekanisme psikologis, seperti rasionalisasi, agresi, kompensasi, dan sebagainya.

  • Absence of The Sense of Personal Frustration
    Terhindar dari perasaan frustasi atau perasaan kecewa karena tidak terpenuhinya kebutuhan.

  • Rational Deliberation and Self-Direction
    Memiliki pertimbangan dan pengarahan diri yang rasional, yaitu mampu memecahkan masalah berdasarkan alternatif-alternatif yang telah dipertimbangkan secara matang dan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang di ambil.

  • Ability to Learn
    Mampu belajar, mampu mengembangkan kualitas dirinya, khususnya yang berkaitan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan atau mengatasi masalah sehari-hari.

  • Utilization of Past Experience
    Mampu memanfaatkan pengalaman masa lalu, bercermin ke masa lalu, baik yang terkait dengan keberhasilan, maupun kegagalan untuk mengembangkan kualitas hidup yang lebih baik.

  • Realistic-Objective Attitude
    Bersikap objektif dan realistik, mampu menerima kenyataan hidup yang dihadapi secara wajar, mampu menghindari, merespon situasi, atau masalah secara rasional, tanpa didasari oleh prasangka buruk atau negatif.

Karakteristik penyesuaian diri negatif

  • Defense Reaction
    Dalam reaksi ini individu berusaha untuk mempertahankan dirinya, seolah-olah tidak menghadapi kegagalan. Individu akan selalu berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak mengalami kegagalan.

  • Escape Reaction
    Dalam reaksi ini individu mempunyai penyesuaian diri yang salah, yaitu menunjukkan tingkah laku yang bersifat menyerang untuk menutupi kegagalannya, dimana dalam hal ini individu tidak mau mengakui kegagalannya.

  • Aggressive Reaction
    Individu memiliki penyesuaian diri yang salah. Dalam hal ini individu akan menunjukan hal-hal seperti melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalannya, reaksinya akan nampak dalam hal tingkah laku, yaitu berfantasi seolah-olah tercapai, seperti menjadi banyak tidur, minum-minuman keras, dan regresi (kembali kepada tingkah laku pada tingkat perkembangan yang lebih awal).

Aspek penyesuaian diri menurut Darlega (1978) dapat dijelaskan sebagai berikut ini :

  • Kemampuan untuk menerima kenyataan yang ada

  • Kemampuan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama

  • Kemampuan untuk dapat memilih pekerjaan yang dapat memuaskan dirinya dan sesuai dengan kemampuan dan minat yang dimilikinya

  • Kemampuan untuk bekerja sama dan hidup bersama dengan individu lain dalam suasana menyenangkan

  • Kemampuan untuk mengendalikan luapan emosi, sehingga tidak mudah marah, iri, mengalami ketakutan berlebih, cemas, dan memiliki toleransi yang tinggi

  • Kemampuan untuk menerima diri apa adanya

  • Kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain