© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apakah yang dimaksud dengan Moral ?

Moral (Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi.

Apakah yang dimaksud Moral ?

Kata “moral” dari segi etimologis, mempunyai arti adat istiadat, kelakuan, tabiat, watak, akhlak.

Menurut Kohlberg moral adalah bagian dari penalaran moral (moral reasoning), sehingga iapun menamakannya dengan penalaran moral (moral reasoning).

Bermoral artinya, mempunyai pertimbangan baik buruk, berakhlak mulia. Piaget (tt) mendefinisikan moral sebagai dorongan kuat yang baik serta patuh terhadap peraturan-peraturan yang diikuti dengan tanggung jawab yang obyektif dan berkaitan erat dengan peraturan- peraturan yang sudah pasti.

Norma moral adalah norma untuk mengukur betul salahnya suatu tindakan manusia sebagai manusia, bukan untuk mengukur betul salahnya tindakan manusia yang berkaitan dengan kecakapan atau keterampilannya dalam suatu pekerjaan tertentu. Moral berkaitan dengan nilai, norma dan tata aturan yang berakar pada pengendalian dari dalam diri sendiri (self control).

Sedangkan kata moral sendiri berasal dari kata mores dalam bahasa latin yang berarti tata cara dalam kehidupan, adat istiadat, kebiasaan. Tingkah laku yang bermoral menurut Gunarsa ialah tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai tata cara/adat yang ada dalam suatu kelompok Nilai-nilai adat ini mungkin berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Bahkan di dalam suatu masyarakat mungkin terdapat bermacam-macam batasan mengenai nilai-nilai moral. Hal ini banyak dipengaruhi oleh faktor- faktor kebudayaan suatu kelompok sosial atau masyarakat (Mardiya, 2010).

Perilaku moral adalah perilaku yang mengikuti kode moral kelompok masyarakat tertentu. Moral dalam hal ini berarti adat kebiasaan atau tradisi. Perilaku tidak bermoral berarti perilaku yang gagal mematuhi harapan kelompok sosial tersebut. Ketidakpatuhan ini bukan karena ketidakmampuan memahami harapan kelompok tersebut, tetapi lebih disebabkan oleh ketidaksetujuan terhadap harapan kelompok sosial tersebut, atau karena kurang merasa wajib untuk mematuhinya.

Perilaku di luar kesadaran moral adalah perilaku yang menyimpang dari harapan kelompok sosial yang lebih disebabkan oleh ketidakmampuan yang bersangkutan dalam memahami harapan kelompok sosial.

Pemikiran moral seseorang, terutama ditentukan kematangan kapasitas kognitifnya (pengetahuan) sedangkan di sisi lain, lingkungan sosial merupakan pemasok materi mentah yang akan diolah oleh kognitif orang tersebut secara aktif. Piaget dan Kohlberg

Moral berasal dari kata mores yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat. Dewey mengatakan bahwa moral sebagai hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai susila. Moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar. Sehingga kata moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia (Budiningsih, 2008 : 24).

Moral merupakan penjabaran nilai, tapi tidak seoperasional etika

Menurut Daradjat, moral adalah tata cara, adat istiadat, kebiasaan, akhlak, kelakuan, kesusilaan, berupa nilai yang sebenarnya bagi manuisa yang sesuai dengan ukuran-ukuran (nilai-nilai) masyarakat, yang ditimbulkan dari hati dan bukan paksaan dari luar yang disertai pula oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (tindakan tersebut).

Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah.

Identitas Moral

Aquino dan Reed mendefinisikan identitas moral sebagai konsepsi diri yang dianugerahi oleh sifat-sifat moral tertentu (misalnya, peduli,kasih sayang, adil, ramah, dermawan, suka menolong, pekerja keras, jujur, baik hati). Sifat-sifat ini kemudian berfungsi untuk mengerakkan identitas moral seseorang ketika menilai arti penting diri dari sifat-sifat ini pada instrumen identitas moral. Analisis faktor instrumen ini mengungkapkan dua faktor : faktor simbolisasi (sejauh mana ciri-ciri ini tercermin dalam tindakan publik seseorang), dan faktor internalisasi (sejauh mana sifat-sifat moral ini sangat penting bagi konsep diri seseorang).

Menurut Blasi, identitas moral tidak jauh dari model diri tindakan moralnya. Misalnya, jika pertimbangan moral sangat penting untutk diri esensial (the essential self), maka integritas diri (self integrity) akan bergantung pada apakah seseorang konsisten diri (self consistent) dalam tindakan. Kegagalan dalam bertindak dengan cara yang konsistem diri pada apa yang sentral, esensial, dan penting bagi identitas moral sseorang beresiko pada pengkhianatan diri (self betrayal).

Menurut penjelasan Aquino dan Reed, identitas moral merupakan dimensi perbedaan individu. Identitas moral mungkin hanya salah satu dari beberapa identitas sosial yang dihargai seseorang, dan ada perbedaan mengenai arti penting moralitas dalam definisi diri seseorang. Selain itu mereka menganggap bahwa identitas moral merupakan mekanisme kunci untuk menerjemahkan penilaian dan cita-cita moral ke dalam tindakan.

Kemudian menurut Hart, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan identitas moral. Tercatat ada lima faktor, disusun menjadi dua kolom pengaruh. Kolom pertama terdiri dari (1) karakteristik watak yang melekat dan (2) karakteristik sosial yang berubah secara perlahan dan mungkin diluar kendali kehendak anak yang sedang berkembang.

Kolom kedua pengaruh meliputi (3) pertimbangan dan sikap moral, (4) rasa dri (termasuk komitmen terhadap cita-cita),dan (5) peluang untuk tindakan moral.

Faktor-faktor ini lebih dekat dengan kendali kehendak agen, dan lebih memberikan kelenturan dan keluwesan dalam pembentukan identitas moral.

Penalaran Moral

Perkembangan moral berpengaruh pada penalaran moral, seperti yang diungkapkan oleh Piaget, yang membedakan dua jenis penalaran moral, masing-masing memiliki pemahaman yang berbeda akan rasa hormat, keadilan, dan hukuman :

  1. Moralistas heteronom. Awalnya moralitas didasarkan pada rasa hormat sepihak otoritas dan aturan-aturan yang mereka terapkan. Dari perspektif heteronom, keadilan dipahami sebagai kepatuhan pada otoritas dan kesesuaian dengan aturan suci mereka, konsekuensi dipahami sebagai kerusakan nyata tujuan, yang lebih relevan daripada niat, hukuman penebusan adalah cara yang disukai untuk memperbaiki perilaku.

  2. Moralitas otonom. Dari perspetif otonom, moralitas didasarkan pada saling menghormati, ketimbal balikkan, dan kesetaraan di antara rekan-rekan sebaya. Keadilan dipahami sebagai kerja sama dan pertukaran timbal balik yang disepakati bersama. Tujuan dipahami sebagai berhubungan niat dan konsekuensi dapat ditangkap secara bersamaan, hukum timbal balik lebih disukai.

Unsur-unsur Moralitas

Unsur moralitas yang juga merupakan tujuan bagi pendidikan moral, menurut Durkheim, terdapat tiga unsur moralitas, yaitu :

  1. Semangat disiplin. Disiplin meliputi tindakan yang konsisten dan peri laku yang dapat diandalkan, menghormati norma-norma sosial, dan arti otoritas. Disiplin membebaskan kita dari kebutuhan untuk merancang setiap solusi untuk setiap situasi dari awal. Hanya dengan menetapkan batas-batas, anak-anak dapat dibebaskan dari frustasi yang tak bisa dihindari dari tidak pernah berhenti berusaha.

  2. Keterikatan pada kelompok sosial dan semangat altruisme. Unit perilaku moral dan pendidikan moral adalah kelompok atau masyarakat. Moralirtas bagi Durkheim, merupakan kegiatan sosial atau interpersonal. Tindakan mementingkan diri sendiri atau egois tidak pernah dianggap sebagai moral oleh Durkheim. Kita adalah makhluk yang bermoral hanya karena kita adalah makhluk sosial. Dengan demikian, moralitas mengharuskan kita terikat pada atau terhubung dengan kelompok. Hanya ketika seorang anak secara sistematis dibiasakan pada warisan budaya masyarakatnya, anak dapat mewujudkan arti identitas sosial dan altruisme.

  3. Otonomi atau penentuan nasib sendiri. Esensi ketiga dari moralitas adalah otonomi. Masyarakat merupakan otoritas tertinggi bagi anak, tetapi apakah akan mengikuti aturan masyarakat harus dipilih secara bebas. Perilaku yang dikendalikan bukanlah perilaku yang baik, meskipun dua elemen pertama, yakni semangat disiplin dan keterikatan pada kelompok sosial menekankan kualitas pemaksaan hubungan sosial.

Durkheim membedakan otonomi dari ketundukan. Otonomi memerlukan keputusan pribadi, mengetahui sepenuhnya akan konsekuensi dari berbagai tindakan yang berbeda, setia pada masyarakatnya dan melakukan tugasnya. Individu menjadi makhluk moral ketika mereka menjadi sadar akan keterlibatan mereka dalam masyarakat yang di situ mereka ingin mengikatkan kewajibannya.

Ciri-ciri Nilai Moral

Menurut K. Bertens, (2007) bahwa nilai-nilai moral mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  • Berkaitan dengan tanggung jawab kita
    Nilai moral berkaitan dengan pribadi manusia. Tapi hal yang sama dapat dikatakan juga tentang nilai-nilai lain. Yang khusus menandai moral ialah bahwa nilai ini berkaitan dengan pribadi manusia yang bertanggung jawab. Nilai-nilai moral mengakibatkan bahwa seseorang bersalah atau tidak bersalah, karena ia bertanggung jawab. Suatu nilai moral hanya bisa diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang bersangkutan.

  • Berkaitan dengan hati nurani
    Semua nilai minta untuk diakui dan diwujudkan. Nilai selalu mengandung semacam undangan atau imbauan. Tapi pada nilai moral ini lebih mendesak dan lebih serius. Mewujudkan nilai-nilai moral merupakan “imbauan” dari hati nurani. Salah satu ciri khas nilai moral adalah bahwa hanya nilai ini menimbulkan “suara” dari hati nurani yang menuduh kita bila meremehkan atau menentang nilai-nilai moral dan memuji kita bila mewujudkan nilai-nilai moral.

  • Mewajibkan
    Kewajiban absolut yang melekat pada nilai-nilai moral berasal dari kenyataan bahwa nilai-nilai ini berlaku bagi manusia sebagai manusia. Kewajiban absolut yang melekat pada nilai-nilai moral berasal dari kenyataan bahwa nilai-nilai ini menyangkut manusia sebagai manusia. Karena itu kewajiban moral tidak datang dari luar, tidak ditentukan oleh instansi lain, tapi berakar dalam kemanusiaan kita sendiri.

  • Bersifat Formal
    Nilai moral tidak merupakan suatu jenis nilai yang bisa ditempatkan begitu saja di samping jenis-jenis nilai lainnya. Biarpun nilai-nilai moral merupakan nilai-nilai tertinggi yang baru dihayati di atas semua nialai lain, namun itu tidak berarti bahwa nilai-nilai ini menduduki jenjang teratas dalam suatu hierarki nilai-nilai. Tidak ada nilai-nilai moral yang “murni”, terlepas dari nilai-nilai lain. Hal itulah yang kita maksudkan dengan mengatakan bahwa nilai moral bersifat formal.