Apakah yang dimaksud dengan Alzheimer?

Alzheimer

Siapa saja yang berisiko terkena penyakit Alzheimer? Dapatkan orang yang berusia muda terkena penyakit Alzheimer? Apakah penyakit Alzheimer bisa disembuhkan?

Alzheimer’s adalah tipe dari demensia yang menyebabkan gangguan memori, berpikir dan tingkah laku. Pada penderita Alzheimer’s, didapatkan gangguan neurotransmitter dan berkurangnya sinaps dan sel otak.

Ada juga beberapa orang berusia 30-an yang telah terdiagnosa Alzheimer’s, meski tidak terlalu banyak. Penyebab onset awal ini belum diketahui pasti.

Faktor risiko Alzheimer’s:

  • usia (60-70 tahun ke atas)
  • ras latin dan afro-amerika
  • riwayat keluarga (bisa disebabkan karena faktor lingkungan dan/atau genetika)
  • gen tertentu
  • cedera kepala
  • gangguan jantung

Saat ini Alzheimer’s belum memiliki obat penyembuh, namun ada obat yang dapat menangani gejalanya. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan obat Alzheimer’s.

Sumber:

Penyakit Alzheimer adalah kelainan pada otak yang menurun fungsinya secara umum. Penurunan fungsi otak yang dimaksud meliputi kemampuan berpikir, mengolah informasi, dan mengingat. Penyakit ini juga berdampak pada kemampuan seseorang dalam berperilaku.

Alzheimer merupakan perkembangan lebih parah dari demensia. Kemungkinannya besar, yaitu sekitar 60-80 persen dari penderita demensia akan berujung pada Alzheimer. Lansia di atas 65 tahun memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang penyakit ini.

Penyakit Alzheimer adalah penyakit degeneratif otak dan penyebab paling umum dari demensia. Hal ini ditandai dengan penurunan memori, bahasa, pemecahan masalah dan keterampilan kognitif lainnya yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Penurunan ini terjadi karena sel-sel saraf (neuron) di bagian otak yang terlibat dalam fungsi kognitif telah rusak dan tidak lagi berfungsi normal.

Pada penyakit Alzheimer, kerusakan saraf akhirnya mempengaruhi bagian otak yang memungkinkan seseorang untuk melaksanakan fungsi tubuh dasar seperti berjalan dan menelan (Alzheimer’s Association, 2015). Pada akhirnya penderita dapat mengalami kematian setelah beberapa tahun karena kemampuan motoriknya sudah tidak berfungsi.

KARAKTERISTIK ALZHEIMER

Penyakit Alzheimer merupakan sebagian besar penyebab umum demensia, menyumbang sekitar 60 persen sampai 80 persen kasus. Kesulitan mengingat percakapan terakhir, nama atau peristiwa sering kali merupakan gejala klinis awal, apatis dan depresi juga gejala sering yang terjadi diawal. Termasuk gangguan komunikasi, disorientasi, kebingungan, penilaian buruk, perubahan perilaku, pada akhirnya kesulitan berbicara, menelan dan berjalan. (Alzheimer’s Association, 2015)

KATEGORI ALZHEIMER

Kategori Alzheimer dapat dibagi menjadi:

  1. Predementia: Pada Alzheimer tingkat ini terjadi gangguan kognitif ringan, defisit memori, serta apatis, apatis.

  2. Demensia onset awal Pada Alzheimer tingkat ini terjadi gangguan bahasa, kosakata, bahasa oral & tulisan, gangguan persepsi, gangguan gerakan, terlihat bodoh, kurang inisiatif untuk melakukan aktivitas.

  3. Dementia moderat Pada Alzheimer tingkat ini terjadi deteriorasi progresif, tidak mampu membaca & menulis, gangguan long-term memory, subtitusi penggunaan kata (parafasia), misidentifikasi, labil, mudah marah, delusi, Inkontinen system urinaria.

  4. Dementia tahap lanjut (advanced) Pada Alzheimer tingkat ini terjadi tidak dapat mengurus diri secara mandiri, kehilangan kemampuan verbal total, agresif, apatis ekstrim, deteriorasi massa otot & mobilitas, kehilangan kemampuan untuk makan.

PENYEBAB ALZHEIMER
Alzheimer merupakan manifestasi penyakit seperti dementia yang berangsur-angsur dapat memburuk hingga menyebabkan kematian. Alzheimer diduga terjadi karena penumpukan protein beta-amyloid yang menyebabkan plak pada jaringan otak. Secara normal, beta-amyloid tidak akan membentuk plak yang dapat menyebabkan gangguan sistem kerja saraf pada otak. Namun, karena terjadi misfolding protein, plak dapat menstimulasi kematian sel saraf. Para ahli percaya bahwa Alzheimer, seperti penyakit kronis umum lainnya, berkembang sebagai akibat dari beberapa faktor. Penyebab ataupun faktor yang menyebabkan seseorang menderita penyakit Alzheimer antara lain sebagai berikut:

  1. Usia Faktor risiko terbesar untuk penyakit Alzheimer adalah usia. Kebanyakan orang dengan penyakit Alzheimer didiagnosis pada usia 65 tahun atau lebih tua. Orang muda kurang dari 65 tahun juga dapat terkena penyakit ini, meskipun hal ini jauh lebih jarang. Sementara usia adalah faktor risiko terbesar.

  2. Riwayat Keluarga Riwayat keluarga dengan keluarga yang memiliki orangtua, saudara atau saudari dengan Alzheimer lebih mungkin untuk mengembangkan penyakit daripada mereka yang tidak memiliki kerabat dengan Alzheimer’s. Faktor keturunan (genetika), bersama faktor lingkungan dan gaya hidup, atau keduanya dapat menjadi penyebabnya.

  3. Pendidikan atau Pekerjaan Beberapa ilmuwan percaya faktor lain dapat berkontribusi atau menjelaskan peningkatan risiko demensia di antara mereka dengan pendidikan yang rendah. Hal ini cenderung memiliki pekerjaan yang kurang melatih rangsangan otak. Selain itu, pencapaian pendidikan yang lebih rendah dapat mencerminkan status sosial ekonomi rendah, yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gizi buruk dan mengurangi kemampuan seseorang untuk membayar biaya perawatan kesehatan atau mendapatkan perawatan yang disarankan.

  4. Traumatic Brain Injury (TBI) Trauma Cedera Otak sedang dan berat meningkatkan risiko perkembangan penyakit Alzheimer. Trauma Cedera Otak adalah gangguan fungsi otak yang normal yang disebabkan oleh pukulan atau tersentak ke kepala atau penetrasi tengkorak oleh benda asing, juga dapat didefinisikan sebagai cedera kepala yang mengakibatkan hilangnya kesadaran. Trauma Cedera Otak dikaitkan dengan dua kali risiko mengembangkan Alzheimer dan demensia lainnya dibandingkan dengan tidak ada cedera kepala.

GEJALA ALZHEIMER
Gejala penyakit Alzheimer bervariasi antara individu. Gejala awal yang paling umum adalah kemampuan mengingat informasi baru secara bertahap memburuk. Berikut ini adalah gejala umum dari Alzheimer:

  1. Hilangnya ingatan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

  2. Sulit dalam memecahkan masalah sederhana.

  3. Kesulitan menyelesaikan tugas-tugas yang akrab di rumah, di tempat kerja atau di waktu luang.

  4. Kebingungan dengan waktu atau tempat.

  5. Masalah pemahaman gambar visual dan hubungan spasial.

  6. Masalah baru dengan kata-kata dalam berbicara atau menulis.

  7. Lupa tempat menyimpan hal-hal dan kehilangan kemampuan untuk menelusuri kembali langkah-langkah.

  8. Penurunan atau penilaian buruk.

  9. Penarikan dari pekerjaan atau kegiatan sosial.

  10. Perubahan suasana hati dan kepribadian, termasuk apatis dan depresi.
    Selama tahap akhir penyakit, pasien mulai kehilangan kemampuan untuk mengontrol fungsi motorik seperti menelan, atau kehilangan kontrol usus dan kandung kemih. Mereka akhirnya kehilangan kemampuan untuk mengenali anggota keluarga dan untuk berbicara. Sebagai penyakit berlangsung itu mulai mempengaruhi emosi dan perilaku seseorang dan mereka mengembangkan gejala seperti agresi, agitasi, depresi, sulit tidur.

LANGKAH PEMERIKSAAN ALZHEIMER
Berikut ini merupakan langkah ataupun tahap pemeriksaan yang dilakukan bagi penderita Alzheimer, meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

  1. Anamnesis Anamnesis merupakan tahap awal dari rangkaian pemeriksaan pemeriksaan pasien, pemeriksaan secara langsung kepada pasien ataupun bersama dengan keluarga atau dengan relasi terdekat. Tujuan anamnesis adalah untuk mendapatkan informasi dan riwayat hidup secara menyeluruh dari dari pasien yang bersangkutan. Hal- hal yang bersangkutan dengan anamnesis yaitu :

    • Identitas pasien Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam rehabilitasi, nomor register dan diagnosis medis.

    • Keluhan utama Penurunan daya ingat, perubahan emosi menjadi sebuah keluhan utama dari pasien ataupun keluarga untuk diberikan sebuah pelayanan kesehatan

    • Riwayat penyakit sekarang Pada tahap ini, pasien mengeluhkan sering lupa dan hilang ingatan dengan hal yang baru saja terjadi. Keluarga mengeluhkan perubahan emosi dan tingkah laku pada pasien saat berada disekitarnya. Hingga pada akhirnya perlu bantuan keluarga untuk melakukan aktifitas keseharian pasien.

    • Riwayat penyakit terdahulu Pengkajian seperti riwayat kesehatan pasien. Seperti penggunaan obat-obatan, penyakit jantung, hipertensi.

    • Riwayat penyakit keluarga Salah satu penyebab juga terdapat dari faktor genetika. Penyakit tersebut dapat diwariskan atau diturunkan pada anggota keluarga dari pasien yang mengidap Alzheimer. Pengkajian kesehatan generasi terdahulu dari keluarga diperlukan untuk melihat komplikasi penyakit dan hal yang mempercepat gerak dari penyakit tersebut.

    • Pengkajian psikososiospiritual Pengkajian untuk menilai nilai emosi, dan perubahan perilaku pasien dalam kehidupan sehari-hari dan perubahan peran pasien dikeluarga serta respon ataupun pengaruhnya didalam keluarga.

  2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan yang meliputi berat badan dan tinggi badan. Selain itu pemerikasaan juga dilakukan pada: suhu, denyut nadi, tekanan darah, tingkat kesadaran.

  3. Pemeriksaan Kognitif dan neuropsikiatrik Pemeriksaan yang sering digunakan untuk evaluasi dan konfirmasi penurunan fungsi kognitif adalah the mini mental status examination (MMSE),yang dapat pula digunakan untuk memantau perjalanan penyakit.

  4. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang juga direkomendasikan adalah CT/MRI kepala, yang mana pemeriksaan tersebut dapat sebagai pendukung lebih jelasnya pemeriksaan pada pasien.

Dr. Alois Alzheimer adalah orang yang pertamakali menemukan penyakit ini maka dari itu penyakit pengecilan otak ini diberi nama ALzheimer. dokter yang merupakan berkebangsaan Jerman ini yang pertama kali menemukan penyakit ini pada tahun 1906.

Dr. Alzheimer memperhatikan adanya perubahan jaringan otak pada wanita yang meninggal akibat gangguan mental yang belum pernah ditemui sebelumnya. Hasil pengamatan dari bedah, Alzheimer mendapati saraf otak tersebut bukan saja mengerut, bahkan dipenuhi dengan sedimen protein yang disebut plak amiloid dan serat yang berbelit-belit neuro fibrillary. Meskipun penyakit ini ditemukan hampir satu abad yang lalu, ia tidak sepopuler penyakit lain, seperti sakit jantung, hipertensi, Sindrom Pernafasen Akut Parah (SARS) dan sebagainya.

Penyebab Alzaimer

Penyakit Alzheimer adalah jenis demensia paling umum yang awalnya ditandai oleh melemahnya daya ingat, hingga gangguan otak dalam melakukan perencanaan, penalaran, persepsi, dan berbahasa. Pada penderita Alzheimer, gejala berkembang secara perlahan-lahan seiring waktu.

Misalnya yang diawali dengan sebatas lupa soal isi percakapan yang baru saja dibincangkan atau lupa dengan nama obyek dan tempat, bisa berkembang menjadi disorientasi dan perubahan perilaku. Perubahan perilaku dalam hal ini seperti menjadi agresif, penuntut, dan mudah curiga terhadap orang lain.

Bahkan jika penyakit Alzheimer sudah mencapai tingkat parah, penderita dapat mengalami halusinasi, masalah dalam berbicara dan berbahasa, serta tidak mampu melakukan aktivitas tanpa dibantu orang lain. Meski penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, para ahli percaya bahwa penyakit Alzheimer pada umumnya terjadi akibat meningkatnya produksi protein dan khususnya penumpukan protein beta-amyloid di dalam otak yang menyebabkan kematian sel saraf.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit Alzheimer, di antaranya adalah pertambahan usia, cidera parah di kepala, riwayat kesehatan keluarga atau genetika, dan gaya hidup. Penyakit Alzheimer rentan diidap oleh orang-orang yang telah berusia di atas 65 tahun dan sebanyak 16 persen diidap oleh mereka yang usianya di atas 80 tahun.

Meski begitu, penyakit yang menjangkiti lebih banyak wanita ketimbang laki-laki ini juga dapat dialami oleh orang-orang yang berusia antara 40 hingga 65 tahun. Diperkirakan sebanyak 5 persen penderita Alzheimer terjadi pada kisaran usia tersebut.

Diagnosis dan pengobatan penyakit Alzheimer

Penderita Alzheimer umumnya hidup sekitar delapan hingga sepuluh tahun setelah gejala muncul, namun ada juga beberapa penderita lainnya yang bisa hidup lebih lama dari itu. Meski penyakit Alzheimer belum ada obatnya, ragam pengobatan yang ada saat ini bertujuan untuk memperlambat perkembangan kondisi serta meredakan gejalanya. Karena itu segera temui dokter jika daya ingat Anda mengalami perubahan atau Anda khawatir mengidap demensia.

Jika penyakit Alzheimer dapat terdiagnosis sejak dini, maka Anda akan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan persiapan serta perencanaan untuk masa depan, dan yang lebih terpenting lagi, Anda akan mendapatkan penanganan lebih cepat yang dapat membantu. Tidak ada tes khusus untuk membuktikan seseorang mengalami Alzheimer.

Dalam mendiagnosis penyakit Alzheimer, dokter akan bertanya seputar masalah dan gejala yang dialami pasien. Tes medis mungkin akan dilakukan untuk memastikan kondisi yang dialami pasien bukan karena penyakit lain. Selain dengan pemberian obat-obatan, penyakit Alzheimer juga dapat ditangani secara psikologis melalui stimulasi kognitif guna memperbaiki ingatan si penderita, memulihkan kemampuannya dalam berbicara maupun dalam memecahkan masalah, serta membantunya hidup semandiri mungkin.

Pencegahan penyakit Alzheimer, Karena penyebab pastinya belum diketahui, sulit untuk mencegah penyakit ini secara pasti. Namun, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mempertahankan kesehatan dan fungsi otak, di antaranya dengan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, tidak merokok, membatasi konsumsi alkohol, serta rutin memeriksakan diri ke dokter seiring pertambahan usia.

Demensia merupakan hilangnya ingatan yang bisa timbul bersama dengan gejala gangguan perilaku maupun psikologis pada seseorang (Ikawati, 2009). Gambaran paling awal berupa hilangnya ingatan mengenai peristiwa yang baru berlangsung. Terganggunya intelektual seseorang dengan demensia secara signifikan memengaruhi aktivitas normal dan hubungan. Mereka juga kehilangan kemampuan untuk mengontrol emosi dan memecahkan sebuah masalah, sehingga bukan tidak mungkin mereka mengalami perubahan kepribadian dan tingkah laku.

Penyebab pertama penderia demensia adalah penaykit Alzheimer (50-60%), Penyakit Alzheimer adalah penyakit degenerative otak dan penyebab paling umum dari demensia. Hal ini ditandai dnegan penurunan memori, bahasa, pemecahan masalah dan keterammpilan kognitif lainnya yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan kagiatan sehari-hari. Penurunan ini terjadi karena sel-sel saraf (neuron) di bagian otak yang terlibat dalam
fungsi kognitif telah rusak dan tidak lagi berfungsi normal.

Penyakit Alzheimer adalah penyakit genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor genetika, tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran factor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat, dimana factor lingkungan hanya sebagai pencetus factor genetika.

Karakteristik Alzheimer

Penyakit Alzheimer merupakan sebagian besar penyabab umum demensia, menyumbang sekitar 60 persen sampai 80 persen kasus. Kesulitan mengingat percakapan terakhir, nama atau peristiwa sering kali merupakan gejala klinis awal, apatis dan depresi juga gejala sering yang terjadi diawal. Termasuk gangguan komunikasi, disorientasi, kebingungan, penilaian buruk, perubahan perilaku, pada akhirnya kesulitan bericara, menelan dan berjalan. (Alzheimer’s Association, 2015).

Penyebab Alzheimer

Alzheimer merupakan manifestasi penyakit seperti dementia yang berangsurangsur dapat memburuk hingga menyebabkan kematian. Alzheimer diduga terjadi karena penumpukan protein beta-amyloid yang menyebabkan plak pada jaringan otak. Secara normal, beta-amyloid tidak akan membentuk plak yang dapat menyebabkan gangguan sistem kerja saraf pada otak. Namun, karena terjadi misfolding protein, plak dapat menstimulasi kematian sel saraf.

Para ahli percaya bahwa Alzheimer, seperti penyakit kronis umum lainnya, berkembang sebagai akibat dari beberapa faktor. Penyebab ataupun faktor yang menyebabkan seseorang menderita penyakit Alzheimer antara lain sebagai berikut:

  1. Usia
    Faktor risiko terbesar untuk penyakit Alzheimer adalah usia. Kebanyakan orang dengan penyakit Alzheimer didiagnosis pada usia 65 tahun atau lebih tua. Orang muda kurang dari 65 tahun juga dapat terkena penyakit ini, meskipun hal ini jauh lebih jarang. Sementara usia adalah faktor risiko terbesar.

  2. Riwayat Keluarga
    Riwayat keluarga dengan keluarga yang memiliki orangtua, saudara atau saudari dengan Alzheimer lebih mungkin untuk mengembangkan penyakit daripada mereka yang tidak memiliki kerabat dengan Alzheimer’s. Faktor keturunan (genetika), bersama faktor lingkungan dan gaya hidup, atau keduanya dapat menjadi penyebabnya.

  3. Pendidikan dan Pekerjaan
    Beberapa ilmuwan percaya faktor lain dapat berkontribusi atau menjelaskan peningkatan risiko demensia di antara mereka dengan pendidikan yang rendah. Hal ini cenderung memiliki pekerjaan yang kurang melatih rangsangan otak. Selain itu, pencapaian pendidikan yang lebih rendah dapat mencerminkan status sosial ekonomi rendah, yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gizi buruk dan mengurangi kemampuan seseorang untuk membayar biaya perawatan kesehatan atau mendapatkan perawatan yang disarankan.

  4. Traumatic Brain Injury (TBI)
    Trauma Cedera Otak sedang dan berat meningkatkan risiko perkembangan penyakit Alzheimer. Trauma Cedera Otak adalah gangguan fungsi otak yang normal yang disebabkan oleh pukulan atau tersentak ke kepala atau penetrasi tengkorak oleh benda asing, juga dapat didefinisikan sebagai cedera kepala yang mengakibatkan hilangnya kesadaran. Trauma Cedera Otak dikaitkan dengan dua kali risiko mengembangkan Alzheimer dan demensia lainnya dibandingkan dengan tidak ada cedera kepala. (Alzheimer’s Association, 2015)

Gejala Alzheimer

Gejala penyakit Alzheimer bervariasi antara individu. Gejala awal yang paling umum adalah kemampuan mengingat informasi baru secara bertahap memburuk. Berikut ini adalah gejala umum dari Alzheimer:

  1. Hilangnya ingatan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

  2. Sulit dalam memecahkan masalah sederhana.

  3. Kesulitan menyelesaikan tugas-tugas yang akrab di rumah, di tempat kerja atau di
    waktu luang.

  4. Kebingungan dengan waktu atau tempat.

  5. Masalah pemahaman gambar visual dan hubungan spasial.

  6. Masalah baru dengan kata-kata dalam berbicara atau menulis.

  7. Lupa tempat menyimpan hal-hal dan kehilangan kemampuan untuk menelusuri
    kembali langkah-langkah.

  8. Penurunan atau penilaian buruk.

  9. Penarikan dari pekerjaan atau kegiatan sosial.

  10. Perubahan suasana hati dan kepribadian, termasuk apatis dan depresi. (Alzheimer’s
    Association, 2015)

Ringkasan

Sodik, M. A., & Nzilibili, S. M. M. (2017). The Role Of Health Promotion And Family Support With Attitude Of Couples Childbearing Age In Following Familym Planning Program In Health. Journal of Global Research in Public Health, 2(2), 82-89.