Apakah yang anda ketahui tentang peristiwa Pertempuran merah putih Manado ?

Peristiwa merah putih di Manado

Peristiwa merah putih di Manado tidak lepas dari kejadian bersejarah pada bulan Juli tahun 1944 dimana pada waktu itu Jepang mengalami kekalahan telak melawan pasukan Sekutu ketika mereka bertempur di atas lautan Pasifik. Kekalahan mereka ini membuat mereka mundur untuk memperkuat kubu pertahanan mereka di pulau Sulawesi dan di daerah Maluku Utara.

Apakah yang anda ketahui tentang peristiwa Pertempuran merah putih Manado ?

Selain terjadi di pulau Jawa pertempuran pasca kemerdekaan juga terjadi di pulau Sulawesi yang terkenal dengan sebutan peristiwa merah putih di Manado.

Kejadian ini menjadi rentetan peristiwa penting awal kemerdekaan Indonesia. Terlepas dari peristiwa sejarah di wilayah tersebut sebelum kemerdekaan latar belakang perjuangan yang melibatkan rakyat Manado, Tomohon, dan Minahasa ini bermula setelah Jepang secara resmi mengakui kekalahannya atas pasukan Sekutu. Sebagaimana wilayah lain di Indonesia, Sulawesi yang sebelumnya diduduki tentara Jepang nantinya akan diambil alih oleh pasukan Sekutu, akan tetapi pada tanggal 21 Agustus 1945 tentara Jepang yang ada di tempat tersebut telah menyerahkan wilayah Sulawesi pada E.H.W Palengkahu yang merupakan pembesar dari Barisan Pemuda Nasional Indonesia (BPNI).

Setelah peristiwa penyerahan tersebut BPNI secara sembunyi-sembunyi melakukan kerjasama dengan Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) untuk merebut kekuasaan dari tangan penjajah. Padahal sebagaimana kita ketahui bersama KNIL merupakan barisan bersenjata yang dibentuk oleh Belanda, namun pada masa tersebut anggota KNIL yang awalnya bertindak atas kepentingan Belanda telah menyadari dan berpihak pada tanah air mereka untuk melawan penjajah.

Pada tanggal 14 Februari 1946, para pejuang yang tergabung dalam Pasukan KNIL kompi VII dan dikomandoi oleh Ch. Ch. Taulu melakukan penyerbuan dan merebut kekuasaan di Manado, Tomohon, dan Minahasa dari tangan Belanda.

Dalam pertempuran ini, para pejabat Belanda dan sekitar 600 pasukannya berhasil ditawan. Selanjutnya, pada tanggal 16 Februari 1946, muncul selebaran yang mengumumkan bahwa Manado telah berada dibawah kekuasaan bangsa Indonesia.

Untuk memperkuat posisi Republik Indonesia di Manado, para pejuang membentuk pasukan keamanan dan menamainya sebagai Pasukan Pemuda Indonesia. Pasukan ini dipimpin oleh Mayor Wuisan. Selanjutnya, Bendera Merah Putih berkibar di atas langit Minahasa hampir selama satu bulan. Di lain pihak, Dr. Sam Ratulangi ditunjuk sebagai Gubemur Sulawesi dan ditugasi untuk menjaga keamanan dan memperjuangkan kedaulatan rakyat Sulawesi.

Kemudian, Ia membentuk Badan Perjuangan Pusat Keselamatan Rakyat. Dr. Sam Ratulangi juga membuat petisi yang ditandatangani oleh 540 masyarakat Sulawesi. Petisi tersebut menyatakan bahwa seluruh rakyat Sulawesi tidak dapat dipisahkan dari Republik Indonesia.

Namun, setelah kekalahannya Belanda menambah pasukannya di wilayah Minahasa pada tanggal 14 Ferbuari. Hal ini menyebabkan peperangan berdarah yang terjadi antara rakyat Sulawesi khususnya wilayah Minahasa melawan Belanda. Dalam pertempuran ini, bbanyak korban yang berjatuhan. Kemudian, pada tanggal 16 Februari 1946 De Vries, petinggi KNIL dan Dr. Sam Ratulangie ditawan oleh Belanda.

Sumber : http://kakakpintar.com/pertempuran-merah-putih-minahasa-puputan-margarana-westerling-di-makassar/