Apakah toxic relationship selalu buruk?

Dalam banyak kejadian dihidup saya, banyak orang yang di dalam toxic relationship merasa tidak bahagia. Akan tetapi saya baru mengetahui ada pasangan yang merasa bahagia di dalam hubungan yang jika kita lihat itu sudah termasuk toxic relationship. Lalu, saya juga pernah mendengar bahwa bisa saja mereka yang di dalam hubungan toxic relationship itu kebutuhannya terpenuhi seperti suka dikekang karena merasa diperhatikan atau suka dipukul karena masokis.

Jadi apakah menurut Youdics toxic relationship itu selalu buruk?

1 Like

Menurutku iya dan tidak ada gunanya bertahan dalam toxic relationship. Toxic relationship adalah kondisi saat hubungan tersebut membuat salah satu pihak merasa tertekan, direndahkan, diserang, dsb yang dapat menganggu mental ataupun fisik.

Toxic relationship yang terjadi secara konsisten dan berlangsung terus menerus dapat menguras tenaga seseorang hingga melukai diri seseorang selayaknya racun yang masuk ke dalam tubuh. Segera cari cara untuk keluar bila terjebak dalam toxic relationship karena hubungan ini selain akan merampas kebahagiaan kita juga akan mengganggu kesehatan.

1 Like

Setuju dengan @larasatifarumi , yang namanya hubungan harusnya saling memberikan kebahagiaan, jika salah satu saja yang diuntungkan, berarti di dalam hubungan tersebut ada satu pihak yang dirugikan. Relationship yang baik tidak akan menjadikan orang di dalam hubungan tersebut menjadi tertekan. Hubungan toxic tidak hanya dalam kasus percintaan saja, namun juga dalam pertemanan, keluarga, pekerjaan, dll. Ketika menjalin hubungan pasti kita mengharapkan adanya hubungan yang sehat, namun tidak dapat dipungkiri, banyak sekali kasus bahwa ada orang yang bertahan di hubungan toxic dengan alasan sudah terlanjur “cinta” sehingga bagaimanapun dia diperlakukan, tidak akan membuatnya mundur dan tetap bertahan. Menurutku kita tidak bisa hanya mengandalkan perasaan saja tapi kita juga harus realistis dan bisa berpikir jernih. Solusinya, kita harus tegas dan segera mengambil keputusan agar dapat keluar dari lingkungan yang toxic tersebut. Dan jadikan pelajaran agar tidak terjebak dalam toxic relationship

Setuju sekali. Toxic relationship sesuai dengan sebutannya “toxic”, yang artinya racun. Mungkin terkadang kita tidak sadar akan hal itu namun diam-diam toxic relationship itu sendiri merenggut kesejahteraan dan kesehatan mental kita. Tidak ada toxic relationship yang baik, mungkin kita hanya terbutakan oleh rasa sayang yang berlebih sehingga kita bertahan.

Sebaiknya hindari toxic relationship dengan siapapun baik keluarga ataupun orang tua, setidaknya perbaiki dulu kalau sudah tidak bisa yaa dihindari. Komunikasi berperan penting dalam hal ini. Katakanlah sebagai sepasang kekasih,sudah sewajarnya untuk saling menyayangi, bukan untuk menyakiti satu sama lain. “If we love each other,why do we hurt each other?” -bukan quotes dilan

Menurutku toxic relationship selalu buruk, sesuai namanya toxic yang berarti racun mengacu hal negatif. Jika seseorang berada di dalam area toxic relationship sebaiknya segera keluar dan berusaha menjalin pertemanan yang beratmosfer positif. Lingkungan akan sangat berpengaruh pada kepribadian seseorang. Aku pernah denger statement kurang lebih seperti ini “masa depan dipengaruhi oleh teman-teman terdekat kita”, karena menurutku juga lingkungan pertemanan terdekat itulah dapat mempengaruhi dan membentuk pola pikir kita.

Secara keseluruhan memang toxic relationship itu merupakan pola hubungan yang tidak sehat bagi kedua pihak pasangan. Semua alasan buruknya toxic relationship juga udah disebutin secara lengkap sama Youdics di atas. Tapi disini aku mencoba buat lihat dari sudut pandang yang lainnya: Bagaimana kalo pasangan tersebut malah merasa nyaman dalam sebuah hubungan yang toxic?

Pernyataan ini memang terlihat bodoh kalau dari sudut pandang orang lain, tapi kenyataannya benar-benar ada yang merasakan seperti itu dan aku pun pernah menemui kasusnya di orang yang aku kenal. Menurutku, kasus seperti ini tidak berbeda jauh dari gejala ketergantungan yang dirasakan oleh pengguna narkoba. Mereka sudah tau bahwa dua hal tesebut kurang baik buat mereka tapi mereka masih sangat membutuhkannya. Lebih lanjut lagi, menurutku kasus ini juga tidak berbeda jauh dengan seorang istri yang tidak mau melaporkan suaminya yang melakukan KDRT. Alasan adanya pasangan yang nyaman di hubungan yang toxic adalah:

  1. Hubungan yang toxic justru dapat memenuhi kebutuhan pasangan
  2. Percaya bahwa pasangannya masih mencintainya
  3. Merasa tidak dapat hidup tanpa adanya dia (ketergantungan)
  4. Menganggap kalo dirinya yang bersalah
  5. Berharap dan percaya bahwa hubungan ini akan membaik

Jadi kesimpulannya, aku memang setuju bahwa toxic relationship merupakan sebuah pola hubungan yang kurang baik bagi kedua belah pihak pasangan. Namun, hubungan yang toxic dapat menyebabkan suatu fenomena ketergantungan yang tidak jauh berbeda dengan orang yang kecanduan narkoba. Jika sudah seperti itu, akan sangat sulit untuk lepas dari kondisi itu. Bisa saja dibutuhkan bantuan orang lain atau bahkan para profesional untuk menyadarkannya. Karena cepat atau lambat, hubungan yang toxic dapat semakin bersifat semakin merusak.

Sumber

Nabila, K. (2021, 30 Juni). 5 Alasan Perempuan Tetap Bertahan dalam Pernikahan Penuh KDRT. Diakses pada 27 Juli 2021, dari Kenapa Perempuan Tetap Bertahan dalam Pernikahan yang KDRT? | Popmama.com.

Putri, F. S. (2018, 13 Juli). Kenapa perempuan bertahan dalam hubungan yang mengandung kekerasan?. Diakses pada 27 Juli 2021, dari Kenapa perempuan bertahan dalam hubungan yang mengandung kekerasan? - BBC News Indonesia.

Jelas sangat buruk. Seseorang yang berada dalam toxic relationship memperoleh emosi negative dari pasangannya yang berupa hubungan yang bersifat satu arah, perasaan tidak amaan, merasa terkekang, atau sering berantem. Toxic relationship ini diartikan sebagai suatu hubungan yang mencemari harga diri, kebahagiaan, dan pikiran. Sehingga tidak jarang orang yang mengalaminya memperoleh konflik batin dalam dirinya. Konflik batin ini mengarah pada amarah, depresi, atau kecemasan sehingga membuat mereka kesulitan untuk hidup produktif dan sehat (Julianto, et all., 2020).

Seseorang yang menjalankan hubungan ini biasanya mereka tidak sadar bahwa hubungannya berada dalam toxic relationship. Hal ini karena pada awalnya mereka mewajarkan hal-hal buruk seperti contohnya kata-kata kasar yang dilontarkan oleh pasangan mereka, atau perasaan cemburu secara berlebih yang ditimbulkan oleh pasangan mereka, proteksi yang berlebihan dan banyak hal lainnya. Padahal, jika hal tersebut dibiarkan maka akan menjadi toxic. Hubungan yang toxic dapat berupa kekerasan fisik, kekerasan emosional dan kekerasan seksual.

Namun, seseorang yang berada dalam hubungan toxic cenderung sulit untuk keluar. Hal itu dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah Stockholm syndrome yang terjadi pada wanita dewasa awal yang bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa korban kekerasan tersebut memiliki distorsi kognitif tertentu yang akhirnya menyebabkan korban sulit untuk melepaskan diri dari pelaku dan memilih untuk mempertahankan hubungan tersebut (Sambhara dan Cahyanti, 2013).

Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa toxic relationship berdampak buruk bagi yang mengalaminya, bahkan juga dapat merugikan orang lain.

Summary

Sambhara, Dila Widya. Cahyanti, Ika Yuniar. 2013. Tahapan Pengambilan Keputusan untuk Meninggalkan Hubungan Pacaran dengan Kekerasan pada Perempuan Dewasa Awal Ditinjau dari Stages of Change. 02(02)

Julianto, Very. Rara A., Cahayani. Sukmawati, Shinta. Aji, Eka Saputra Restu. 2020. Hubungan antara Harapan dan Harga Diri Terhadap Kebahagiaan pada Orang yang Mengalami Toxic Relationship dengan Kesehatan Psikologis. 8(1): 103-115

Dilihat dari sudut manapun toxic relationship ini adalah tindakan yang buruk. Berada di dalam hubungan yang toxic akan merusak mental secara perlahan. Tapi yang perlu kita ingat jika kita sudah membahas sebuah perasaan, hal yang buruk dan membahayakan diri tidak akan terasa bagi orang yang sedang dibutakan oleh cinta. Kita semua yang tidak terlibat/ tidak memiliki perasaan pada seseorang yang berada di dalam toxic relationship beranggapan bahwa perilaku atau tindakan yang dilakukan salah satu pihak itu adalah tindakan yang toxic, tapi bagi pasangannya itu belum tentu tindakan yang toxic. atau lebih parahnya, orang itu tau kalau pasangannya toxic tapi ia selalu memaklumi dengan dalih “dia itu sebenernya baik, cuma lagi emosi aja”.

Tapi berdasarkan pengalamanku, aku memiliki banyak teman yang terjebak dalam toxic relationship.

dan kejadiannya serupa dengan yang dijelaskan kak vita ini, hal ini bisa terjadi karena salah satunya disebabkan oleh ia tidak mendapatkan perhatian berlebih (dikekang) di hubungan yang ia jalani sebelumnya. Yang kita lihat ini adalah sebuah kekangan, ruang lingkup pertemanannya sangat dibatasi, semua sosial media diawasi sampai tidak ada privacy sedikitpun, bahkan keputusan dalam hidupnya diatur oleh pasangannya ini. Sudah jelas ini adalah toxic relationship yang buruk, tapi namanya orang jatuh cinta ia beranggapan bahwa pasangannya ini sayang dan tidak ingin ia masuk kedalam pergaulan yang salah. Haha cukup menguras tenaga bukan jika terus mendengarkan cerita dari hubungan yang tidak sehat ini, tapi sebagai teman jangan pernah berhenti untuk mengingatkan. Barangkali ada satu atau dua kalimat yang bisa ia terima dan ia cerna sebagai pembelajaran nantinya :relaxed:

Menurut aku yang namanya toxic ya udah pasti buruk. Tidak perlu bertahan dalam hubungan yang toxic karena ya bagi aku tidak ada manfaatnya. Mungkin ada orang yang bilang atau merasa bahwa di dalam hubungan tersebut tetep ada manfaatnya, tetapi aku yakin sisi ruginya pasti lebih banyak. Toxic relationship bisa membahayakan diri sendri dan juga orang disekitar, karena secara tidak sadar orang yang berada dalam hubungan yang toxic, kesehatan fisik dan mentalnya dapat terganggu.

Toxic relationship atau hubungan beracun adalah istilah untuk menggambarkan suatu hubungan tidak sehat yang dapat berdampak buruk bagi keadaan fisik maupun mental seseorang. Hubungan ini ngga cuma terjadi pada sepasang kekasih, tapi juga dalam lingkungan teman dan bahkan keluarga. Seperti yang kita tahu bahwa arti dari toxic adalah racun, jadi jika hubungan sudah masuk kedalam kategori toxic menurut ku itu memang buruk. Lalu untuk kasus pasangan yang menjalani toxic relationship itu bahagia, sebenarnya jika di gali lebih dalam pasti tidak bahagia. Karena aku pun ada teman yang seperti itu, menurut ku mereka sebenarnya tidak bahagia berada di dalam hubungan toxic tersebut, mereka hanya mengulur waktu untuk tetap bertahan karena sudah terikat di dalam hubungan tersebut.

Tentunya toxic relationship sangat amat dan akan selalu buruk, apapun alasannya. Mereka yang masih berada dalam hubungan tersebut pasti dipenuhi dengan ketakutan dan kecemasan. Hal tersebut pastinya sangat berdampak negatif pada kesehatan mereka, bukan hanya mental tapi fisik juga. Banyak penelitian yang telah menunjukkan bahwa tingkat stres berdampak negatif terhadap kesehatan. Stres dapat meningkatkan hampir setiap masalah kesehatan seperti otak, tiroid, kekebalan tubuh, dan masalah berat badan. Menurut penelitian Whitewall II, mereka yang berada dalam toxic relationship berisiko lebih besar terkena masalah jantung, termasuk kematian akibat serangan jantung dan stroke, dibandingkan mereka yang berada dalam healthy relationship. Jadi tidak ada satupun hal baik dari toxic relationship.

Referensi

https://drwillcole.com/mindful-living/the-science-behind-how-toxic-relationships-affect-your-health