Apakah toxic parents benar-benar ada? Kalau iya, bagaimana cara menyikapinya?

Terlepas dari kewajiban sebagai orang tua yang harus dijalankan ketika sudah memiliki anak, orang tua juga manusia biasa yang punya segudang kelemahan. Kelemahan-kelemahan itu tidak bisa selamanya ditutupi dari anak dan seringkali juga berdampak pada anak. Kelemahan ini bisa datang dari karakter bawaan pribadi, dampak pengalaman masa lalu ataupun juga kondisi yang sedang dihadapi saat ini. Belakangan saat istilah toxic parents mencuat seiring dengan banyaknya curhatan anak tentang orang tuanya di media sosial, saya jadi berpikir, apakah istilah itu benar-benar layak untuk digunakan? Dan kalau toxic parents benar-benar ada bagaimana cara menyikapinya?

3 Likes

Istilah “toxic” sendiri sebenarnya tidak pandang bulu.
Toxic parents, toxic siblings, toxic friends, siapapun itu bisa saja disebut “toxic”.
Namun, toxic ini bukanlah suatu fakta, melainkan suatu opini.
Kebenarannya adalah sesuatu yang relatif.
Jadi kalau ditanya layak atau tidak, jawabannya bergantung pada sudut pandang kita masing-masing.

Untuk menghadapinya ortu yang “toxic”, coba kenali lagi sifat mereka: mengapa mereka bersikap seperti itu, apa tujuan mereka. Mungkin setelah berasumsi, boleh tanyakan ke mereka secara langsung dan sesopan mungkin agar kita tau jawaban dari mereka.

Jika memang terlalu sulit bagi mereka untuk berubah, tak apa. Anggap itu sebagai kekurangan mereka. Kita yang memiliki prinsip yang lebih baik, seharusnya sadar dan justru bisa mengisi kekurangan itu.

Lagipula hidup ini bukan tentang tua-muda dan tidak selamanya tentang ortu-anak.
Siapapun yang tau tentang yang "baik" dan yang "buruk" boleh saling mengingatkan.

Also remember that you don’t have to close your mouth just because you’re young.

3 Likes

Toxic adalah istilah untuk seseorang yang “beracun” atau sifat pribadi yang suka menyusahkan dan merugikan orang lain, baik itu secara fisik ataupun emosional. Lalu, apakah orang tua apa bisa dikatakan sebagai ”toxic parent” ? Apakah orang tua yang sudah membesarkan kita dapat menyakiti sang anak ?

Jawabannya sangat memungkinkan bahwa orang tua bisa dikatakan sebagai ”Toxic parent” karena orang tua juga manusia, yang memiliki kelemahan dan keterbatasan, orang tua bukanlah sosok yang sempurna. Bahkan orang tua yang bertujuan untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya, masih bisa dikatakan sebagai toxic parent karena pola asuh atau treatment yang diberikan pada sang anak ini secara tidak langsung menyakiti hati anak atau memberi dampak buruk pada psikologis anak.

Biasanya hal ini terjadi pada kasus orang tua yang suka membanding-bandingkan anaknya dengan orang lain. Orang tua sering memunculkan figur eksternal untuk memberi contoh figur/sosok yang diharapkan. Misalnya dengan perkataan yang seperti ini

“Coba lihat si Marsya, dia rajin belajar makanya dia selalu dapat ranking 1. Kamu kok nggak bisa sama kayak dia?”

Perkataan seperti ini mungkin orang tua lontarkan utuk mendorong sang anak agar lebih baik, atau sebagai motivasi dia untuk belajar lebih giat. Namun sudahkan orang tua menanyakan terkait progress yang sudah sang anak lakukan ? Bisa saja sang anak bukannya tidak giat belajar, tetapi dia memang sulit memahami materi dengan cepat, atau dia butuh sosok untuk mendampingi dia belajar dalam memahami materi pelajaran sekolah. Ternyata bisa saja, orang tua tidak pernah memperhatikan bagaimana anaknya belajar. Karena orang tua cenderung hanya menanyakan hasil, tidak pernah mengapresiasi sebuah proses.

Mengkritik anak sudah seharusnya diiringi dengan apresiasi yang positif. Sehingga anak tidak merasa bahwasannya dia sedang disudutkan, melainkan dia merasa didukung oleh orang di sekitarnya.

2 Likes

Saya agak setuju dengan statment ini. tetapi, dilain sisi juga kurang setuju. Saya setuju dengan statement :

Lagipula hidup ini bukan tentang tua-muda dan tidak selamanya tentang ortu-anak.
Siapapun yang tau tentang yang “baik” dan yang “buruk” boleh saling mengingatkan.

Memang tidak dipungkiri kalau baik dan buruk boleh saling mengingatkan. Tetapi, dalam kasus yang sedang dibicarakan di sini adalah perihal orang tua yang memang jelas menjadi “toxic”. Bukan bermaksud melawan, tetapi beberapa karakteristik orang tua menjadi agen pereduksi atau perusak karakteristik maupun harapan dan mimpi kita. Uniknya, kejadian toxic sering terjadi pada masa seorang anak menginjak masa remaja atau dewasa.

Kita tidak dapat memungkiri kalau zaman makin berubah sehingga pola kebudayaan yang tercipta juga berbeda. Semisal, pada zaman orang tua kita remaja, seorang wanita tidak baik keluar malam-malam. Tetapi, pada zaman ini, wanita keluar malam-malam bukan berarti meurujuk pada konotasi negatif seperti zaman lalu. Dan, permasalahannya adalah orang tua kita mengecam kasus seperti ini padahal apa yang dilakukan tidak merujuk ke perlakuan pada zaman lalu. Hipotesis yang bisa diambil adalah orang tua masih “membanggakan” budaya masa lalu seakan kebenaran itu harus terwariskan. Kebenaran tidak pernah mencapai titik absolut! Kebenaran adalah relatif! Dan, orang tua harus tahu bahwa kebenaran itu relatif!

Memang dalam beberapa kasus yang kita ketahui bahwa anak-anak benar-beanr melakukan kesalahan. tetapi, dalam beberapa hal yang bersifat relatif masih bisa menjadi pertimbangan antara anak dan orang tua. Cara menyikapi yang terbaik adalah dengan sering-sering melakukan diskusi antara anak dengan orang tua agar tahu celah-celah yang harus diperbaiki agar tidak merugikan kedua pihak, baik mimpi seorang anak dan harapan seorang orang tua.

2 Likes

Betul sekali jadi menurut saya toxic itu adalah sebuah opini yangmana tiap individu memiliki pengertian yang berbeda-beda. Sebelum kita merasa dilingkungan yang toxic mungkin alangkah baiknya melihat apakah diri kita juga toxic? karena bisa jadi diri kita adalah salah satu yang toxic di mata orang lain.

Saya rasa tidak ada toxic parents yang ada adalah setiap orang tua memiliki cara mendidik masing-masing. Yang terpenting sih kita sebagai anak dapat mengambil yang baik dan tidak meniru yang buruk dari orang tua. Ibarat kata didikan orang tua jadikan pengalaman untuk diri agar kedepannya kita bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

Mungkin saja jika ada sikap orang tua yang kita rasa kurang pas, terus gimana sih sikap kita?

Yang paling penting adalah jangan sampai melawan orang tua, seburuk apapun orang tua kita. Bicaralah dengan nada yang tenang karena jika api bertemu api akan semakin menjadi-jadi. Pada intinya jangan beroppini ketika dalam posisi emosi, karena itu tidak akan menyelesaikan melainkan malah akan memperkeruh suasana.

2 Likes