Apakah terdapat hal yang harus dihindari ketika memulai sebuah proses MVP?

net-compress-image

Sebelum memulai suatu kegiatan perancangan sistem atau pembuatan produk, biasanya terdapat hal-hal yang harus dihindari. Apakah pada proses MVP juga terdapat hal-hal yang harus dihindari?

Ada beberapa hal yang perlu diketahui pada proses MVP untuk memastikan produk yang dikembangkan sesuai dengan harapan pasar. Namun, pengetahuan tersebut tidak menjamin bahwa produk akan berhasil. Kegagalan merupakan hal yang umum, bahkan ada sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap kekalahan MVP. Namun, tidak sedikit juga faktor yang mempengaruhi keberhasilan MVP.

Tiga poin berikut memiliki dampak besar pada hasil proyek MVP dan harus dihindari dengan segala cara :

  1. Memperkerjakan Tim yang Salah
    Jika anda tidak memiliki keterampilan teknis dalam mengembangkan, meluncurkan, dan mendukung MVP anda secara efektif atau anda kekurangan tenaga kerja, sebaiknya anda segera mencari mitra di bidang teknologi yang mampu memberikan semua aspek teknis yang diperlukan untuk kesuksesan MVP anda.

    Namun ketika suatu organisasi / perusahaan melakukan outsourcing, mereka selalu melakukan kesalahan yang sama, yaitu memilih opsi termurah dan tidak menyewa tim layanan secara lengkap. MVP bukan hanya sekedar aplikasi, melainkan pondasi bisnis. Oleh sebab itu, untuk menghasilkan produk yang berkualitas maka dibutuhkan opsi terbaik dengan tim layanan yang lengkap agar produk yang dihasilkan dapat lebih maksimal.

    Meskipun waktu pengembangan MVP hanya sekitar tiga hingga empat bulan, tetap diperlukan kerja sama dari seluruh tim agar pengembangan MVP berjalan mulus dan lacar. Oleh sebab itu, MVP tidak hanya dibangun oleh tim pengembang dan desainer grafis. MVP juga memerlukan keterlibatan dari divisi lain, seperti desainer UI/UX, pengembang dan penguji Q&A, manajer proyek, dan sysadmin.

  2. Melewatkan Tahap Perencanaan dan Prototype
    Fase perencanaan dan perancangan prototype sangat penting dalam keberhasilan MVP, meskipun membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk menyelesaikannya.

    • The Planning Phase
      Fase perencanaan MVP dibagi menjadi 2 tahap. Tahap pertama adalah mengidentifikasi target pengguna, menganalisis pasar, mengumpulkan dana, membuat daftar fitur, dan menemukan mitra teknologi. Sedangkan tahap kedua mulai berfokus pada melibatkan mitra teknologi, meletakkan pondasi, meminimalkan resiko, dan menghapus ambiguitas.

    • Needs and Requirements Analysis
      Pada fase ini, mitra teknologi mulai melakukan analisis kebutuhan dan persyaratan untuk memahami visi organisasi, kebutuhan pengguna, dan tujuan MVP. Output dari fase ini berupa dokumen yang berisi semua persyaratan yang dibutuhkan selama tahap komunikasi dan diskusi teknis, serta menjelaskan tujuan proyek.

    • Research and Development
      Fase ini bertujuan untuk menggambarkan peran pengguna akhir dan menyajikan bagan alur yang memetakan struktur keseluruhan aplikasi serta perjalanan pengguna.

    • Scope of MVP
      Pada fase ini, mitra teknologi akan membuat beberapa alternatif dalam pengembangan MVP dengan mempertimbangkan kompleksitas MVP. Setelah alternatif dipilih, mitra teknologi akan mendefinisikan fitur dan memberikan perkiraan waktu pengembangan untuk setiap tugas dan komponen.

    • Prototype
      Fase prototyping lebih dari sekedar membuat MVP terlihat cantik, melainkan mengubah aplikasi menjadi lebih interaktif bagi pengguna awal, menampilkannya kepada investor, dan menyiapkannya untuk pengembangan.

  3. Memilih Metode Pengembangan yang Salah
    Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk membuat MVP. Namun sebagian besar organisasi / perusahaan menggunakan metode Agile dan Waterfall. Jika dibandingkan, metode Agile jauh lebih unggul daripada metode Waterfall. Tidak hanya dalam tingkat keberhasilan, tetapi juga dalam kemampuan untuk memberikan perangkat lunak yang berkualitas tinggi dan bekerja dalam jangka waktu yang diinginkan.

    Area lain dari proses pengembangan yang terkait dengan pengembangan perangkat lunak adalah metode pembayaran. Organisasi / perusahaan yang membangun perangkat lunak menggunakan metode Agile umumnya menawarkan layanan mereka berdasarkan model tarif per jam, sedangkan mereka yang menggunakan metode Waterfall biasanya menawarkan layanan berdasarkan model penawaran tetap.

    Meskipun metode pembayaran tidak berdampak besar bagi keberhasilan atau kegagalan sebuah proyek MVP, namun metode tersebut dapat menghancurkan hubungan antara klien dan tim pengembang, sehingga dapat menyebabkan proyek mengalami kegagalan secara keseluruhan.

https://clearcode.cc/blog/what-to-avoid-minimum-viable-product/