Apakah teknologi membuat kita menjadi semakin pintar atau semakin bodoh?

Teknologi pertama kali dikembangkan untuk membuat pekerjaan manusia menjadi lebih efisien. Perkembangannya yang sangat cepat membuat segala cara kerja di dunia menjadi berubah, misalnya dari kemana-mana naik sepeda kayuh menjadi naik sepeda motor. Bahkan di saat ini, teknologi mampu menyempitkan ruang dan waktu yang ada di dunia, segala macam pekerjaan dapat dilakukan dengan instan. Dilain sisi kehidupan kita semakin mudah karena adanya teknologi-teknologi tersebut, apakah kita benar – benar semakin pintar ataupun semakin bodoh ?

1 Like

Dengan sebuah smartphone di genggaman kita, segala macam pekerjaan-pekerjaan yang menyita waktu dan membutuhkan keahlian khusus dapat kita dapatkan secara instan. Mengambil foto yang bagus dapat kita lakukan secara instan tanpa perlu mengutak-atik pengaturan yang rumit pada kamera sehingga foto jadi lebih pas. Membaca peta ? bahkan smartphone kita dapat memandu kita dengan suara dengan Bahasa yang kita inginkan. Berdasarkan dua contoh yang saya paparkan terbukti teknologi mampu membuat hidup kita menjadi lebih mudah dan membuat pekerjaan kita menjadi lebih efisien.

Memasukkan keterampilan manusia ke dalam mesin, yang disebut “blackboxing” (karena membuat operasi tidak terlihat oleh pengguna) memungkinkan lebih banyak orang untuk menggunakannya, misalnya, melakukan pengukuran tekanan darah tanpa menginvestasikan waktu, sumber daya dan usaha untuk mempelajari keterampilan yang sebelumnya diperlukan untuk digunakan. Produksi massal teknologi “blackbox” memungkinkan penggunaannya secara luas. Smartphone dan monitor tekanan darah otomatis akan jauh kurang efektif jika hanya ribuan orang yang bisa menggunakannya.

Apakah dengan dimudahkannya segala pekerjaan berarti baik untuk kita ? Berdasarkan Nicholas Carr author dari “The Shallows: How the Internet is Changing the Way We Think, Read and Remember” (2010), “It may appear as a technology to help us find information we need and increasingly to connect with others but, it actually functions as an engine of distraction, geared up not to help us find what we need to know or maintain a train of thought, but to distract, dissipate, and frustrate us.” Beliau secara tidak langsung mengungkapkan bahwa dengan segala kemudahan yang ditawarkan oleh berbagai macam teknologi modern yang ada mengalihkan dan merusak kebiasaan ingin tahu seorang manusia sehingga membuat pengetahuan yang dimiliki manusia menjadi lebih dangkal dan pendek.

Inilah masalah sebenarnya, gagasan bahwa teknologi itu sendiri yang membuat kita lebih pintar atau bodoh telah dilihat sebagai kebenaran yang tak dapat dipungkiri. Ini disimpulkan dalam sebuah kata yang hampir tidak dapat dihindari saat kita berbicara tentang cara kita menggunakan teknologi saat ini: dampak, teknologi berdampak pada kita. Hampir semua artikel yang Anda baca tentang penggunaan atau pengaruh internet (atau teknologi lain dalam hal ini) menggunakan metafora ini. Tapi teknologi tidak mempengaruhi kita, setidaknya kecuali kita mengambil sikap yang sangat pasif terhadapnya.

Teknologi tidak membuat kita bodoh atau lebih cerdas, tapi kita bisa memilih untuk lebih pintar dengan memaksimalkan teknologi yang ditawarkan - tapi juga dengan berpikir lebih keras tentang apa yang kita inginkan untuk kita lakukan. Tapi kita perlu mulai berpikir tidak hanya tentang teknologi itu sendiri, tapi juga dari sisi intelektual dan moral yang kita inginkan, karena dua hal inilah yang akan memandu penciptaan teknologi kita.

Secara individual, kita lebih bergantung pada teknologi kita daripada sebelumnya - tapi kita bisa melakukan lebih dari sebelumnya. Secara kolektif, teknologi telah membuat kita lebih cerdas, lebih mampu dan lebih produktif. Tetapi teknologi tidak membuat kita lebih bijak.

Sumber :


Menurut saya hal ini merupakan sesuatu yang relatif. Jadi semuanya bergantung pada masing-masing individu. Apakah mereka mau diperbudak teknologi ? atau sebaliknya, mereka lebih mengembangkan diri dan potensi yang mereka miliki melalui kemajuan teknologi?

Di satu sisi ,memang benar Internet akan memaksa kita lebih sering membaca informasi dengan sepintas saja. Ya , hal ini tidak bisa dipungkiri karena memang terkadang banyak orang melakukan hal itu termasuk diri saya sendiri . Ini juga dikarenakan banyaknya informasi yang ada di Internet. Kita tidak mungkin membaca semuanya satu per satu. Oleh karena itu, justru adanya Internet membuat kita memiliki kemampuan baru yaitu mengolah informasi yang banyak, walau tidak dipungkiri mungkin akan membuat kita kehilangan kemampuan yang lama yaitu fokus dalam membaca informasi.
Para ilmuan menciptakan benda benda canggih yang ada saat ini bukanlah untuk membuat manusia menjadi semakin bodoh melainkan untuk membantu manusia agar lebih mudah untuk menjalani hidup . Hal ini bukan berati manusia harus bergantung kepada teknologi dan membuat manusia malas untuk berpikir .

Teknologi jika ditelaah lebih dalam dapat berarti manusia tidak lagi dibebani untuk mengingat suatu informasi tetapi lebih mengembangkan dalam hal informasi tersebut. Kini data dan informasi sudah banyak tersedia dan dapat dengan mudah diakses, hal ini berarti kesempatan memperoleh pengetahuan kini tidak lagi dimiliki oleh beberapa pihak saja. Seorang rakyat awam sekarang bisa mengakses ilmu sains yang dulu hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu.

Tapi di sisi lain sebelum hadirnya media sosial, kita mendapatkan berita lewat tabloid, koran, atau majalah dengan sumber berita yang kredibel. Kini kehadiran media sosial telah menggantikan semuanya. Sayangnya, sebagian besar berita yang tersebar di media sosial tidak jelas sumber informasinya. Sekarang ini banyak sekali muncul berita hoax dan beberapa kalangan dengan mudah mempercayainya dengan tidak mencari tahu lebih lanjut benar tidaknya informasi yang mereka dapatkan . hal ini juga disebabkan oleh daya analisis manusia yang semakin mengalami penurunan karena kurangnya “curiousity” . Kalau mereka sudah membaca suatu informasi , ya sudah baca saja kemudian dilewatkan tanpa mencari kebenaran dari suatu informasi tersebut. Oleh karena itu, sekarang ini semakin banyak orang yang pandai menyimpulkan suatu persoalan tanpa menelaah lebih lanjut.

Contoh kecilnya google sebagai mesin pencari yang paling populer dan digunakan oleh hampir seluruh pengguna internet yang membutuhkan informasi tentang apa saja di dunia ini tanpa perlu berpikir keras terlebih dahulu untuk mendapatkan suatu informasi . Jadi tinggal klik informasi tentang apa saja dapat diperoleh dalam hitungan detik. Betapa simpelnya hidup ini.

Menurut Evan Risko, Profesor Psikologi Kognitif Universitas Waterloo mengatakan semakin berkembangnya teknologi justru menyebabkan sindrom digital dimensia yang akan membuat anak-anak mengingat cara berhitung yang lebih sukar. Atau lebih mudahnya, mereka malah mencari sesuatu melalui gadget tanpa berusaha membuat otaknya bekerja terlebih dahulu.
Kasus yang sama juga sering ditemukan ketika seseorang ditanyai mengenai pertanyaan yang cukup mudah, mereka langsung mencari jawaban dengan mengetikkannya di mesin pencari tanpa mengutarakan jawaban yang murni berasal dari pemikiran mereka sendiri karena ketidakyakinan yang dimiliki terhadap jawaban mereka .

Tetapi pada dasarnya , semua itu kembali lagi ke tiap-tiap individunya bergantung pada bagaimana mereka memanfaatkan kemajuan teknologi yang tak dapat dihentikan perkembangannya ini . Orang yang memanfaatkan internet sebagai tempat mereka bergantung mungkin bisa dibilang bodoh. Kenapa ? Karena menyia-nyiakan pengetahuan yang tidak terbatas. Tetapi apakah orang yang tidak hafal suatu jalan dan memanfaatkan Google Maps sebagai navigasi bisa dibilang bodoh? So simple as that.

SUMBER :

Kita tau pada era modern saat ini, teknologi sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari hari. Banyak orang yang memanfaatkan teknologi itu untuk membantu menyelesaikan tugas atau sebuah pekerjaan, karena kegunaannya tersebut, banyak orang yang saat ini sampai tidak bisa lepas dari suatu teknologi, bisa dibilang mereka sudah termasuk kecanduan teknologi.
Orang yang kecanduan sebuah teknologi akan merasa frustasi apabila mereka dijauhkan dari sebuah teknologi dalam waktu yang sangat lama, sebab mereka akan merasa tidak akan bisa hidup tanpa adanya sebuah teknologi.

Apakah teknologi tersebut dapat membuat kita pintar, atau dapat membuat kita semakin bodoh?

Memang banyak dampak dari teknologi yang berpengaruh, termasuk pendidikan karakter masyarakat pada masa ini yang cendrung lebih bergantung dengan teknologi. karena kemudahan yang diberikan oleh teknologi pada saat ini, orang menjadi malas, sebab semua sudah tersedia dengan sekali klik, tanpa perlu repot repot lagi.

Meskipun demikian, kalau menurut pendapat pribadi saya mengenai teknologi yang dapat membuat pintar ataupun bodohnya seseorang, tergantung dari seseorang dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Sebab teknologi akan sangat bermanfaat bagi manusia apabila orang tersebut memang memanfaatkan teknologi dengan baik. Begitupula sebaliknya, teknologi akan membuat seseorang menjadi buruk atau bodoh karena kesalahan penggunanya dalam menggunakan teknologi tersebut.
Contoh memanfaatkan teknologi dalam kehidupan sehari hari:

  1. Menggunakannya untuk hal yang berbau positif
    Kita misalkan saja manfaat teknologi dalam dunia pendidikan, karena adanya teknologi sekarang belajar lebih mudah sebab sumber informasi yang dapat diperoleh untuk refrensi media pembelajaran sekarang semakin banyak. Murid dapat belajar tidak hanya melalui buku, melainkan dapat mencari informasi melalui internet dengan berbagai sumber yang berbeda. tidak hanya itu, siswa sekarang dapat belajar dimana saja dan kapan saja, sebab dengan adanya teknologi, siswa tidak perlu membawa buku kemana mana pada saat ingin belajar diluar. Hal tersebut sangan membantu karena sangat efisien tanpa perlu membawa beban yang berlebih.

  2. Memanfaatkan untuk hal yang negatif.
    Penggunaan teknologi yang berbau negatif seperti penyebar kebencian, membuka situs yang tidak diperlukan, atau kasus penipuan yang memanfaatkan teknologi tersebut sangatlah merugikan. Sebab orang orang tersebut hanya mementingkan keinginan pribadi tanpa melihat perasaan sekitar. Memanfaatkan teknologi untuk hal yang salah dapat merugikan orang sekitar, dan karena tindakan buruk tersebutlah yang menjadikan orang menjadi terlihat bodoh. Karena tindakan negatif tersebut juga dapat mempengaruhi perilaku seseorang menjadi pribadi yang buruk, sebab mereka memanfaatkan teknologi dengan cara yang salah.

KESIMPULAN.
Jadi menurut saya pintar disini berarti mereka yang mampu memanfaatkan teknologi dengan baik yang sesuai dengan kebutuhannya, sedangkan bodoh berarti mereka yang salah memanfaatkan teknologi dengan cara yang berbau negatif atau yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain. teknologi dapat membuat pintar ataupun bodohnya seseorang, tergantung dari caranya dalam memanfaatkan teknologi tersebut, apabila digunakan untuk hal yang baik, mereka akan mendapatkan manfaat yang seharusnya, begitupula sebaliknya apabila mereka memanfaatkannya untuk hal negatif, mereka akan mendapatkan sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri.

Referensi:

Definisikan apa maksud pintar disini.
Jika maksud dari semakin ‘pintar’ adalah lebih berwawasan serta memiliki banyak informasi, maka jawabannya iya. Dengan catatan orang tersebut memanfaatkan teknologi dengan sebaik-baiknya.

Jika maksud dari semakin ‘pintar’ diartikan sebagai kemampuan untuk belajar lebih efektif dan efisien, proaktif dan tahu bagaimana menggunakan informasi untuk membuat keputusan, maka jawabannya tidak.

Dengan berkembangnya teknologi terutama teknologi informasi, membuat hidup kita menjadi lebih mudah dan efisien. Contohnya dengan adanya online shop sangat membantu bagi orang yang memiliki kesibukan yang tinggi. Dengan search engine seperti google, informasi menjadi lebih mudah didapatkan. Dengan situs forum diskusi seperti quora dan dictio kita dapat bertanya dan mendapatkan jawaban yang berkualitas serta sudut pandang yang beragam. Dengan aplikasi smartphone yang sangat mudah diakses segala kemudahan kita peroleh. Dari semua itu apakah teknologi informasi ini membuat kita lebih bodoh? Tidak, tapi menjadi lebih malas. Daripada pergi ke perpustakaan untuk mendapat informasi kita lebih memilih untuk mencarinya di internet. Daripada kita bertemu langsung dengan teman-teman kita dapat menghubungi mereka di sosial media. Dan daripada pergi ke toko kita dapat membeli barang secara online. Hal –hal kecil ini yang tanpa kita sadari mengubah kebiasaan dan perilaku kita, sehingga menjadi lebih malas.

Terlepas dari semua itu, bergantung dari kita sendiri bagaimana menyikapi dan memanfaatkan teknologi itu sendiri. Karena dampak positifnya juga sangat banyak. Kita bisa meningkatkan bahkan memiliki skill atau kemampuan yang mungkin pada jaman dahulu sangat tidak mungkin didapatkan.

referensi:
https://www.quora.com/Is-technology-making-us-dumber-or-smarter
https://www.quora.com/What-does-the-label-smart-mean-regarding-technology

teknologii menantang otak kita untuk terus menggali informasi dan mengembangkan setiap informasi yang diperoleh untuk melahirkan kreatifitas baru, atau justeru sebaliknya, menjadikan otak kita semakin malas dan bebal untuk berpikir. Sedikit-sedikit, tanya mesin Google!

Semua pekerjaan ekstra untuk otak kita ini, semestinya membuat kita lebih pintar, sebagaimana adagium; pisau akan semakin tajam bila sering digunakan, dan sebaliknya, akan semakin tumpul ketika jarang digunakan. Begitu pun dengan otak, akan semakin aktif dan berkembang dengan beragam stimulasi yang menantang, sebaliknya, akan semakin tumpul dan kurang produktif dengan berkurangnya atau tidak adanya sama sekali stimulasi yang harus dicerna.

Akankah kecerdasan buatan benar-benar memperbudak kita? Setelah semua, kalkulator elektronik digunakan siswa dan seolah menjadi dewa penolong saat belajar matematika. Kecerdasan buatan mengambil alih banyak pekerjaan manusia.

Kehidupan yang Mudah

Sistem elektronik mungkin akan lebih mudah digunakan. Alih-alih berjuang untuk mengidentifikasi diri kita sendiri, untuk beberapa sistem elektronik melalui password , sistem akan bekerja lebih keras untuk mengidentifikasi kita menggunakan biometrik seperti sidik jari, foto iris, atau bahkan suara hati kita. Semakin banyak teknologi masa depan, hidup menjadi lebih sederhana dan mudah. Apa yang sebelumnya bisa dilakukan oleh manusia, dapat pula dilakukan oleh mesin, bahkan sekali lagi, lebih unggul dari manusia penciptanya.

Hidup yang cenderung mudah, tanpa tantangan pada umumnya menjadikan diri kita stagnan dalam berpikir dan beraktifitas.

jadi, jawabannya ada di diri kita masing-masing, apakah kecanggihan teknologi, khususnya internet, dan lebih khusus lagi mesin pintar, menjadikan kita lebih bodoh atau pintar?