Apakah Robot akan menggantikan pekerjaan manusia ?

kecerdasan_buatan

(Agus Purnomo Ruminto) #1

Robot

Sekarang zaman semakin maju, teknologi semakin modern. Sudah banyak para ahli membuat suatu robot yang dapat menggantikan pekerjaan manusia dalam bidang apapaun. Apakah benar robot bisa menggantikan manusia dalam segala bidang ? Kalau iya, bagaimana bisa robot tersebut menggantikan manusia ?


(Griselda Anjeli Sirait) #2

Pertama-tama, kita harus mengetahui apa itu robot ?

ROBOT merupakan seperangkat alat mekanik yang diprogram oleh komputer (kecerdasan buatan) dan dikontrol oleh manusia serta dapat melakukan suatu tugas fisik. Untuk bentuknya sendiri, bisa dibentuk seperti manusia tetapi, kebanyakan robot adalah mesin yang dirancang untuk melakukan tugas dengan tidak memperhatikan bagaimana bentuk robot tersebut.


Kemudian, tahap perkembangan dunia robot hingga gantikan peran manusia dibidang pekerjaan.

Mendengar kata “robot”, yang terbayang dalam benak kita adalah karakter robot humanoid ala Hollywood seperti C3PO, R2D2, atau Terminator.

Bukan fenomena baru lagi, robot bahkan telah hadir di tengah manusia selama lebih dari setengah abad. Omron menggambarkan tiga tahap perkembangan hubungan manusia dan mesin, mulai dari awal kemunculannya hingga saat ini bahkan sampai masa depan, sebagai berikut :

  • Tahap 1 : “Replacement” dimana mesin menggantikan peran manusia untuk melakukan pekerjaan yang tidak perlu dilakukan oleh manusia. Dalam sejarah Omron, hal ini tercermin ketika memperkenalkan teknologi otomatisasi pabrik, gerbang tiket otomatis, dan penemuan lainnya.

  • Tahap 2 : "Collaboration” merupakan perkembangan yang terjadi saat ini, di mana manusia dan robot bekerja sama dan melakukan tugas masing-masing untuk meningkatkan produktivitas. Omron dalam hal ini mengembangkan teknologi pencegah kecelakaan (collision-prevention) untuk menciptakan masyarakat yang nyaman berkendara.

  • Tahap 3 : “Harmony” di mana mesin berfungsi meningkatkan kemampuan manusia. Dengan semakin tak terpisahkannya mesin dari kehidupan masyarakat, manusia akan merasakan manfaat mesin dalam mengembangkan potensi mereka. Robot pingpong FORPHEUS Omron merefleksikan bagaimana teknologi dapat membuka berbagai peluang berdasarkan kemampuan yang dimiliki manusia.


Tidak hanya sekadar pekerjaan manusia? Robot bahkan menyimbolkan kerja sama antara manusia.

Perkembangan teknologi, khususnya teknologi robotika semakin pesat tiada tara. Sampai-sampai robot bahkan dapat melakukan hubungan intim sampai seperti pasangan hidup pada beberapa individu. Dr. Jordi Vallverdu mengatakan ratusan akademisi telah melakukan penelitian soal manusia yang bisa lahir dari robot selama lebih dari satu dekade. Proses itu itu disebut ectogenesis dan akan membutuhkan “desain rahim buatan diandalkan” yang memungkinkan kehamilan manusia yang sehat di dalam mesin. Secara teori, teknologi dapat memungkinkan manusia memiliki keluarga dengan robot yang melahirkan anak-anak mereka, mungkin beberapa anak-anak. Namun menurutnya, dunia akan tidak siap untuk teknologi ini karena melanggar akal sehat tentang esensi apa artinya jadi manusia dan kebanyakan agama tidak akan menerimanya.

Dengan kata lain, robot dapat dikatakan sebagai kerja sama antar manusia. Dalam rangka menciptakan lingkungan kerja yang terbaik bagi manusia dan robot, mesin harus mampu untuk merasakan dan merasa manusia dan emosi mereka.



SUMBER :

http://www.omron.asia
https://en.wikipedia.org/wiki/Robot


(anang bagus rahmadi) #3

robot

Dunia secara meluas dianggap sedang berada dalam puncak dari revolusi industri keempat, dengan mesin-mesin yang akan mampu mengerjakan banyak tugas yang saat ini dilakukan oleh manusia, dan mungkin mesin malah lebih baik melakukannya.

Revolusi masa depan yang menjanjikan efisiensi lebih besar dan layanan yang lebih murah, namun juga mengarah pada hilangnya pekerjaan secara besar-besaran.

Kapan mesin bisa melakukan pekerjaan kita ?

Tidak ada jawaban yang pasti namun para peneliti utama dalam bidang kecerdasan buatan atau AI mencoba mencari tahu.

Katja Grace -peneliti di Lembaga Masa Depan Kemanusiaan di Universitas Oxford, Inggris - dan rekan-rekannya di proyek yang diberi nama AI Impacts (atau Dampak AI) melakukan penelitian bersama Lembaga Penelitian Mesin Cerdas. Mereka mensurvei 352 ilmuwan dan menghimpun jawabannya untuk memprediksi berapa lama waktunya bagi mesin untuk bisa mengungguli manusia dalam melaksanakan beragam tugas.
Sejumlah ahli terkemuka di dunia dalam bidang mesin yang bisa belajar termasuk yang mereka hubungi, antara lain Yann LeCun - Direktur Riset AI di Facebook-, Mustafa Suleyman dari perusahaan AI milik Google, dan Zoubin Ghahramani, Direktur laboratorium AI di Uber.

Berita baiknya adalah banyak dari antara kita yang mungkin akan tetap aman untuk bekerja dalam beberapa waktu mendatang. Para peneliti memperkirakan peluangnya adalah sebesar 50% bagi mesin untuk mampu mengambil alih semua pekerjaan manusia dalam waktu 120 tahun.

“Salah satu kejutan besar adalah prediksi yang lambat secara menyeluruh,” kata Grace.

“Saya mengharapkan bahwa dengan proses yang menakjubkan dari mesin yang bisa belajar dalam beberapa waktu belakangan, ditambah lagi dengan fakta bahwa kami hanya berbicara dengan para ahli untuk mesin yang bisa belajar itu, maka perkiraan yang dibuat akan lebih awal.”

Jadi apa maknanya bagi tahun maupun dekade mendatang?

Meningkatkan pengangguran?

Survei memperkirakan bahwa mesin juga bisa melipat baju yang baru dicuci pada tahun 2021. Jadi kalau Anda bekerja di layanan cuci baju, apakah saatnya untuk ke luar? Mungkin tidak juga.

Mesin yang bisa melipat baju sebenarnya sudah ada karena para ahli robot di Universitas California, Berkeley, AS, mengembangkan sebuah robot yang dengan rapi bisa melipat jin dan kaos oblong.

Robot itu memerlukan waktu sekitar 19 menit untuk mengambil, memeriksa, dan melipat satu handuk pada tahun 2010. Namun dua tahun kemudian, robot itu bisa melipat satu jeans dalam waktu lima menit dan satu oblong dalam waktu enam menit lebih.

Yang agaknya lebih mengesankan adalah robot bahkan bisa melakukan tugas membosankan memasangkan kaus kaki dengan benar.

Namun terlepas dari kemajuan ini, diperlukan beberapa waktu lagi sebelum robot bisa menggantikan manusia dalam pekerjaan di bidang itu.

“Saya agak ragu dengan beberapa kerangka waktu yang diberikan untuk tugas yang melibatkan manipulasi fisik,” kata Jeremy Wyatt, guru besar robotik dan kecerdasan buatan di Universitas Birmingham.

“Satu hal adalah melakukannya di laboratorium dan hal yang berbeda bagi robot untuk bisa melakukan pekerjaan yang bisa diandalkan di dunia nyata lebih baik dari manusia.”

Melakukan pekerjaan fisik atas objek-objek di dunia nyata -mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya dalam lingkungan yang berubah dan acak- merupakan tugas yang amat rumit bagi sebuah mesin. Pekerjaan yang tidak melibatkan manipulasi fisik akan lebih mudah diajarkan.

Mobilitas robot - seperti mengemudi mobil dan mengantar barang secara otomatis- saat ini mungkin bisa disamakan dengan tahapan internet pada awal 1990-an dulu.

“Memindahkan barang di dunia mungkin 10 tahun lebih di belakangnya,” kata Profesor Wyatt.

Asisten robot yang baik

Kalau lapangan kerja melipat handuk untuk sementara aman, maka ada alasan bagi sopir truk dan karyawan sektor ritel untuk mempertimbangkan pekerjaannya dalam waktu dua dekade mendatang.

Soalnya para peneliti memperkirakan AI sudah bisa mengendarai truk pada tahun 2027 dan melakukan pekerjaan ritel tahun 2031.

Stereotip karyawan toko ritel -orang yang ramah yang membantu Anda menemukan jin di toko dan memberi komentar bagaimana penampilan Anda dengan jin itu- adalah peran yang membutuhkan kemampuan fisik dan komunikasi yang rumit, jadi mungkin juga masih aman juga untuk saat ini.

Namun semakin banyak orang belanja di internet, dan AI dengan algoritme -semacam proses penghitungan untuk melakukan sesuatu atau memecahkan masalah- mungkin akan menggantikan peran dalam bisnis ritel dalam waktu yang lebih cepat dari yang kita perkirakan, menurut Wyatt.

“Lihat betapa banyaknya transakasi yang kini kita lakukan di internet yang sebagian besar otomatis: proporsinya penting. Dan mereka sudah menggunakan sejumlah AI yang besar.”

Jangan langsung khawatir

Mungkin pekerjaan yang paling berat untuk dikerjakan mesin adalah pekerjaan yang memerlukan manusia yang harus dilatih selama beberapa tahun untuk melakukannya dengan baik. Termasuk di dalamnya adalah pengambilan keputusan yang intuitif, dalam lingkungan fisik yang rumit, atau pemikiran abstrak.

Komputer berjuang untuk semua hal itu.

Para ahli memperkirakan robot tidak akan mengambil alih pekerjaan ahli bedah sampai tahun 2053, dan diperlukan waktu 34 tahun lagi seelum mesin bisa bersaing dengan para ahli matematika untuk menulis di jurnal akademis.

Mereka juga memperkirakan AI bisa menulis novel laris versi koran New York Times pada tahun 2049. Dalam kenyataannya, mesin memang sudah mulai menjejakkan jarinya di bidang ini.

Google sudah melatih AI-nya untuk novel romantis dan naskah berita dalam upaya untuk membantu mereka menulis secara lebih kreatif dan sebuah progam AI yang diberi nama Benjamin bisa menulis naskah film fiksi ilmiah, walaupun sama sekali tak masuk akal.

Ada juga layanan Automated Insights, yang menghasilkan algoritme untuk menyusun naskah berita -termasuk keuangan dan olah raga- yang disesuaikan untuk kantor berita Reuters dan Associated Press.

Adam Smith, pimpinan operasi Automated Insights, mengatakan teknologi mereka ditujukan untuk melengkapi -dan bukan mengganti- keahlian manusia. “Jurnalisme yang otomatis menghasilkan konten yang tidak ada sebelumnya, namun manusia masih dibutuhkan untuk menambah konteks dalam berita itu.”

Jadi berita-berita itu disusun berdasarkan sebuah rumus, dengan informasi yang diambil dari seperangkat data yang amat banyak dan disusun ke dalam ‘cetakan’ yang sudah ada.

Sedang menulis novel laris -yang kaya dengan permainan kata dan pelintiran bertutur yang menarik- mungkin masih memerlukan tiga dekade lagi. Upaya mengunakan mesin untuk bermain dengan bahasa dalam cara yang kreatif biasanya menghasilkan omong kosong.

Tantangannya, kata Wyatt, adalah untuk membuat AI bisa menghasilkan materi yang bisa diterima oleh selera manusia.

“Kita menemukan semua hal yang agak di bawah level kinerja manusia untuk bisa diterima. Misalnya chatbot (program komputer untuk simulasi suara manusia) yang tidak jauh dari tingkat yang dilakukan manusia… namun kita amat peka untuk setiap hal yang tidak sempurna sehingga chatbot sering sekali amat menggelikan.”

Katja Grace yakin bahwa surveinya seharusnya dilihat sebagai pengingat bahwa dunia sedang berada dalam puncak perubahan. “Saya pikir tidak ada tugas yang bisa dilakukan manusia tidak akan bisa dilakukan oleh AI secara teknis.”

Namun dia yakin beberapa peran mungkin tidak akan pernah tergantikan oleh mesin. Pendeta di gereja, misalnya, tidak akan pernah digantikan oleh robot jika jemaat gereja ingin manusia yang melakukan peran itu.

“Masih akan tetap ada tugas yang hanya bisa dilakukan oleh manusia, karena kita peduli dengan manusia,” tegasnya.

Perbaikan otak

Jacobstein juga sadar bahwa banyak orang melihat dominasi robot sebagai mimpi buruk.
“Ada yang bertanya, ‘Bagaimana anda bisa tidur di malam hari mengetahui apa yang akan dilakukan kecerdasan buatan?’ tapi yang membuat saya terjaga di malam hari bukan kecerdasan buatan tapi kebodohan manusia,” kata dia.

Ia yakin satu-satunya cara agar manusia bisa mengikuti perkembangan robot adalah menjadi seperti mereka.

“Otak manusia belum diperbaharui selama 50.000 tahun dan jika laptop atau ponsel pintar anda belum diberi aplikasi tambahan dalam lima tahun, anda pasti khawatir,” tambahnya.
Ia mengatakan bukan tidak mungkin kelak silikon akan ditanam di tengkorak manusia untuk meningkatkan kecerdasan.

Dan itu mungkin satu-satunya cara agar manusia tidak tertinggal dari robot.

: Sumber :