© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apakah pengaruh emosi terhadap keputusan yang kita ambil?

sobernation.com

Pertama tama mari kita bahas dulu apa yang dimaksud dengan emosi. Emosi adalah suatu perasaan yang besar terhadap sesuatu, baik itu suatu kejadian atau seseorang.

Emosi tidak dapat disamakan dengan marah sebab pada dasarnya marah merupakan salah satu contoh dari meluapkan emosi atau perasaan. Selain marah emosi juga dapat berupa senang, sedih, takut dan lain sebagainya.

Kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan.
Banyak orang yang melihat baik buruknya seseorang dari cara dia menahan amarahnya. Karena itu kita dituntut agar mampu mengontrol emosi kita.

Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengatur emosi kita.

Pertama, alangkah baiknya kita mencoba untuk rileks terlebih dahulu, biasanya agar kita dapat rileks kita dapat mencoba untuk menarik napas panjang untuk beberapa saat. Apabila tetap tidak bisa tenang coba untuk mengalihkan pikiran anda kepada hal yang menurut anda menyenangkan. Dari 2 hal tersebut biasanya kita sudah cukup tenang.

Setelah kita cukup tenang coba cari tahu apa yang membuat emosi kita meluap tadi serta jangan lupa untuk mengoreksi diri kita sendiri juga agar tidak menyalahkan orang lain yang menjadi penyebabnya.

Jangan lupa juga apabila kita sudah mengetahui penyebabnya maka alangkah baiknya kita renungkan hal tersebut agar tidak terulang kembali dan jika kita tetap tidak bisa menemukan solusinya maka lebih baik jika kita bercerita kepada sahabat maupun teman agar dibantu untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Usahakan kita tidak meminta saran dari 1 teman agar dapat menyimpulkan lebih baik. Dan jika kita tidak bisa tenang, maka coba untuk menghindari hal-hal yang membuat emosi kita naik untuk sementara waktu.

Anda juga harus berusaha untuk selalu berfikir logis agar emosi tidak terus menerus meluap. Apabila tetap ingin meluapkan emosi, kita harus berusaha untuk diam (mengambil posisi lebih rendah) setelah itu coba untuk berdoa dan ambillah air wudhu atau mencuci muka bisa juga kita mandi.

Banyak orang yang bertanya kenapa kita harus mengontrol emosi kita. Padahal hal tersebut sudah jelas bahwa jika kita bisa mengontrol emosi kita maka kita juga dapat mengatur tindakan serta keputusan kita.

Berikut adalah beberapa jenis emosi dalam mengambil keputusan.

:diamonds: Apathy atau biasa disebut ketidakpedulian.

Tindakan atau keputusan yang seseorang ambil didasari atas rasa tidak peduli terhadap segala sesuatu orang biasa menyebut ini dengan kerja asal-asalan. Tentu saja hal ini sangat tidak baik karena hasil yang dihasilkan pekerjaan atau tindakan yang dia lakukan tidak terlalu bagus.

Bahkan lebih buruknya lagi ketidakpedulian ini juga dapat membuat seseorang jadi suka menunda suatu pekerjaan, bahkan mungkin juga membuat seseorang tidak mengerjakan tugas atau pekerjaannya.

:diamonds: Grief atau biasa disebut kesedihan.

Perasaan sedih atau kecewa sering dialami saat seseorang gagal mencapai target diinginkan. Biasanya orang yang sedih atau kecewa akan lebih banyak berdiam diri serta malas melakukan segala sesuatu. Hal ini membuat orang tersebut gagal mencapai potensi terbaiknya.

:diamonds: Fear atau ketakutan.

Hal ini biasa terjadi jika suatu masalah telah mendekati batas waktu penyelesainnya. Bisa juga saat sumber daya untuk menyelesaikan masalah kurang.

Apabila seseorang dalam kondisi ketakutan, akan membuat orang tersebut menjadi tidak dapat berfikir jernih. Sehingga banyak keputusan yang dibuat menjadi lebih beresiko.

:diamonds: Anger atau kemarahan.

Tentu saja keputusan yang diambil seseorang saat dalam keadaan marah bisa berpotensi menyakiti salah satu pihak atau lebih, Keputusan yang diambil dalam keadaan marah biasanya diambil dengan pikiran yang tertutup dan hanya menggunakan perasaan saja.

Keputusan tersebut tidak diambil dengan menggunakan akal sehat yang melalui pertimbangan yang matang. Sehingga biasanya hanya malah memperkeruh keadaan yang ada.

:diamonds: Acceptance (penerimaan).

Sikap yang siap menerima segala kemungkinan yang terjadi biasanya muncul setelah usaha terbaik dilakukan. Inilah bedanya antara acceptance dengan apathy.

Pada situasi dimana emosi untuk menerima (acceptance) telah terbentuk, biasanya emosi-emosi lainnya seperti kesedihan, ketakutan, keserakahan, kesombongan, dan kemarahan mulai mereda atau bahkan hilang sama sekali.

Karena itu, sang pengambil keputusan akan lebih jernih berpikir dan bersikap lebih tenang sehingga bisa melihat peluang-peluang yang sebelumnya tidak diperhitungkan. Karena itu, keputusan yang dibuat dengan dasar acceptance biasanya akan berujung pada sesuatu yang baik.

:diamonds: Peace (kedamaian).

Keinginan untuk menciptakan atau mencapai kedamaian merupakan emosi yang sangat baik karena biasanya emosi yang satu ini tidak mengandung kepentingan pribadi tetapi lebih mengutamakan kepentingan orang lain.

Dengan landasan emosi yang demikian, maka seorang pengambil keputusan akan bersikap sangat arif dan obyektif sehingga mampu menggali semua kemungkinan terbaik yang bisa dilakukan. Hasilnya, tentu saja keputusan yang berbuah manis bagi dirinya dan orang lain.

Mungkin bagi sebagian orang untuk menerapkan hal tersebut cukup sulit lantaran banyak yang tidak tau contoh yang pantas untuk ditiru itu siapa. Padahal didalam ISLAM kita sudah diberikan contoh yang sangat mudah untuk dicontoh yakni nabi Muhammad saw.

Dari beliau kita dapat mencontoh segala perilakunya. Akan tetapi jika susah kita tidak perlu mencontohnya seratus persen kita lebih baik mencoba mendekati beliau.

Normative models of decision making typically identify four fundamental skills:

  1. Belief assessment involves judging the likelihood of outcomes,
  2. Value assessment involves evaluating outcomes,
  3. Integration involves combining beliefs and values in making decisions,
  4. Metacognition means knowing the extent of one’s abilities.
    Thus, these models judge the quality of a decision by its process rather than by its outcome, although it is assumed that a person who uses better decision processes will be more likely to experience good decision outcomes. Bruine de Bruin, Parker, dan Fischhoff (2007:h.939)

Sehingga kompetensi pengambilan keputusan dalam seseorang adalah bagaimana dia dalam memilih suatu alternatif terbaik dari berbagai macam alternatif yang tersedia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, dengan menguasai berbagai keterampilan dasar, model, metode, dan teknik yang tepat dan efisien sesuai dengan lingkungan situasi keputusan.

Kecerdasan emosional yang terkait dengan pengambilan keputusan mencakup 6 faktor, yaitu:

  • Well-Being, yang terdiri dari Self-Esteem, Trait Optimism, Trait Happiness;
  • Self-Control, yang terdiri dari Emotion Regulation, Stress Management, Low Impulsiveness;
  • Emotionality, yang terdiri dari Emotion Perception, Emotion Expression, Trait Empathy, Relationships;
  • Sociability, yang terdiri dari Assertiveness, Social Awareness, Emotion Management;
  • Adaptability;
  • Self-Motivation.

####1. Well-Being

Well Being adalah suatu kondisi di mana seseorang melakukan penilaian terhadap hidupnya sehari-hari yang meliputi reaksi emosional terhadap suatu peristiwa dan evaluasi sadar yang dilaporkan baik pada saat suatu peristiwa terjadi atau secara global setelah waktu yang lama.

Well being terdiri dari :

  • Self-Esteem (harga diri), skala harga diri mengukur keseluruhan evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri. Skor tinggi dimiliki oleh orang yang berpandangan positif terhadap diri dan prestasi mereka sendiri.
  • Trait Optimism (sifat optimis), seperti kebahagiaan, skala ini dihubungkan dengan kesejahteraan, memandang ke depan sekalipun pada satu jalan.
  • Trait Happiness (sifat kebahagiaan), skala ini mengenai kondisi emosi yang menyenangkan, terutama langsung mengarah pada sesuatu yang terjadi saat ini dibandingkan dengan kepuasan hidup masa lalu atau masa depan.

####2. Self-Control

Self control is a influence over, and regulation of ,his physical, behavioural, and psychological processes—in other word, the set of processes that constitute his self" (Calhoun & Accolella 1990)

Self control merupakan suatu kecakapan individu dalam kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya serta kemampuan untuk mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku. Hal tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi untuk menampilkan diri dalam mengendalikan perilaku, kecenderungan untuk menarik perhatian, keinginan untuk mengubah perilaku. Hal tersebut dilakukan agar sesuai dengan tuntutan orang lain, menyenangkan orang lain, selalu konform dengan orang lain, menutup perasaannya.

Self control terdiri dari :

  • Emotion Regulation (pengaturan emosi), skala ini mengukur bagaimana seseorang mengontrol perasaan dan kondisi emosinya dalam jangka yang pendek, sedang, dan jangka panjang.
  • Stress Management (stress manajemen), skor tinggi pada skala ini dapat menangani tekanan dengan santai dan efektif, karena mereka sukses mengembangkan coping mechanisms.
  • Low Impulsiveness (daya dorong yang rendah), skala ini mengukur sebagian besar ketidakberfungsian daripada keberfungsian daya dorong. Daya dorong yang rendah membutuhkan pemikiran sebelum bertindak dan membayangkan dengan cermat sebelum pengambilan keputusan.

####3. Emotionality

Emosi dilukiskan dan dijelaskan secara berbeda oleh psikolog yang berbeda, namun semua sepakat bahwa emosi adalah bentuk yang kompleks dari organisme, yang melibatkan perubahan fisik dari karakter yang luas dalam bernafas, denyut nadi, produksi kelenjar dsb dan, dari sudut mental, adalah suatu keadaan senang atau cemas, yang ditandai dengan adanya perasaan yang kuat, dan biasanya dorongan menuju bentuk nyata dari suatu tingkah laku.

Emotionality terdiri dari :

  • Emotion Perception (persepsi atau pemahaman emosi), skala ini mengukur pemahaman emosi dalam diri sendiri dan orang lain. Skor tinggi pada skala ini jelas mengenai apa yang mereka rasakan dan mampu memahami ekspresi emosi orang lain.
  • Emotion Expression (ekspresi emosi), skor tinggi pada skala ini dimaksudkan untuk orang-orang yang mampu mengkomunikasikan perasaan mereka dengan lancar kepada orang lain.
  • Trait Empathy (sifat empati), skala ini mengukur aspek ‘perspectivetaking’ dari empati, yaitu melihat dunia dari sudut pandang orang lain.
  • Relationships (hubungan), skala ini sebagian besar mengenai hubungan seseorang, meliputi sahabat, teman, dan keluarga.

####4.Sociability

Sociability merupakan keramahan atau kesukaan bergaul. Sehingga secara garis besar, sociability merupakan kemampuan seseorang dalam bermasyarakat dan bersosial.

Sociability terdiri dari :

  • Assertiveness (ketegasan), seseorang dengan skor tinggi pada skala ini ialah yang jujur dan berterus terang. Mereka tahu bagaimana meminta untuk sesuatu, memberikan dan menerima pujian, dan menghadapi hal lain jika diperlukan.
  • Social Awareness (kesadaran sosial), skor tinggi dalam skala ini ialah bagi mereka yang memiliki keterampilan sosial yang sempurna, peka, mudah menyesuaikan diri, dan lekas mengerti. Mereka bagus dalam bernegosiasi, membuat kesepakatan, dan mempengaruhi orang lain.
  • Emotion Management (manajemen emosi), skala ini mengenai kemampuan seseorang memahami dan mengatur kondisi emosi orang lain. Skor tinggi pada skala ini ialah orang yang dapat mempengaruhi perasaan orang lain.

####5. Adaptability (penyesuaian)

Skor tinggi dari adaptability ialah bagi mereka yang fleksibel pada pekerjaan dan hidup mereka. Mereka mau dan mampu beradaptasi dengan lingkungan dan kondisi yang baru.

####6. Self-Motivation (motivasi diri),

orang-orang dengan skor tinggi pada skala ini dipandu oleh kebutuhan untuk menghasilkan pekerjaan dengan kualitas yang tinggi. Mereka cenderung tekun dan gigih.